Bima, Oh, Bima (Biru Malam)

ka bimaMALAM itu saya harus naik kereta api Bima dari Cirebon ke Yogya. Dengan gagah saya menolak tawaran kawan untuk pulang saja ke Jakarta naik mobilnya yang mewah ber-AC dan pulang ke Yogya keesokan harinya dengan pesawat Garuda, yang cuma makan waktu kurang lebih lima puluh menit. Dengan Bima, perjalanan ke Yogya akan ditempuh dalam waktu enam jam. Itu pun kalau tidak terlambat, kata kawan saya itu. Sekali lagi dengan gagah ditambah dengan senyuman penuh kepastian, saya tolak bujukan kawan saya itu. Dalam hati saya ngunandikå,

“Ah, … dia tidak tahu bagaimana nikmat dan romantisnya naik kereta api Bima itu.”

Dahulu, pada waktu saya sinêngkakaké ing ngaluhur, diorbitkan ke atas menjadi priyagung yang disebut direktur jenderal, boleh dikata saya puas naik Bima. Lha, bagaimana tidak ?! Garuda sedang sakit-sakitan dan melarat-melaratnya. Pesawat hanya Corvair dan Dakota. Keberangkatannya pun tidak menentu. Padahal saya harus banyak meninjau daerah-daerah di Jawa Tengah dan Jawa Timur. Lha, kalau tergantung Garuda ‘kan cilåkå ! Maka Bima adalah pilihan satu-satunya.

Ketika itu gerbong-gerbong Bima masih baru kinyis-kinyis, bikinan Jerman Timur. Bisa disulap menjadi kompartemen tidur yang nyaman sekali. Untuk kelas utama bahkan ada bak tempat cuci muka lengkap dengan handuk putih bersih, sabun dan air hangat. Lagu-lagu yang diputar pun juga pas. Ketika meninggalkan Jakarta, lagunya ‘Jali-Jali’. Menjelang masuk Surabaya, lagunya ‘Surabaya’, yang dilantunkan oleh Dara Puspita. Menggugah dan menyuruh penumpang untuk bersiap-siap. Dan suara announcer, penyiar, wanita yang merdu dan canggih penguasaan bahasa Indonesia dan Inggrisnya, sewaktu-waktu akan terdengar memberikan keterangan-keterangan yang diperlukan. Setiap berhenti di satu kota tujuan, pintu kompartemen pun akan diketok dan pramugari atau pramugara dengan sopannya memberi tahu kita bahwa kota tujuan kita sudah dekat. Pada waktu tengah malam begitu kadang-kadang saya terbangun, gorden jendela saya buka, pohon-pohon dan rumah-rumah kelihatan berlari dalam keremangan malam. Suara lokomotif di rel yang terawat baik itu mendesau merdu.

Saat-saat begitu benar-benar terasa suasana adem, tenteram, aman dan memberi makna yang romantis kepada nama kereta api yang biru malam itu. Ah, … dengan nostalgia seperti itulah saya bersiap-siap menaiki Bima dari Cirebon ke Yogya.

Waktu suara jès-jès-jès disel Bima itu terlihat memasuki stasiun Cirebon, eh, hati ini berdegup, lho. Kayak menunggu kedatangan pacar yang sudah lama tidak ketemu malam itu. Saya segera berlari mencari kompartemen saya. ‘Biru Malam, Biru Malam ! Ini aku datang, bukakan kompartemenmu. Aku siap mendobrakmu, mengoyakmu, menidurimu, membuka gordenmu, menatap bintang-bintangmu, mendengar desau diselmu, suara pramugarimu … dear passengers… Semua, semua milikmu yang mengagumkan itu.’ Lho, pintunya yang mana, sih ? Lho, pramugari dan pramugara yang siap berdiri di tangga menunjukkan kompartemen kita di mana, sih ?

Sesudah lora-lari ke sana ke mari, mencoba mencari pintu yang terbuka, akhirnya saya temukan juga satu pintu yang agak terbuka. Dengan susah payah saya masuk ke gerbong tempat duduk yang umpêl-umpêlan diduduki segala macam orang. Sebagian malah sudah bersiap-siap tidur dengan menggelar koran di lantai.

Wah, hampir tidak percaya saya ! Masak iya ini Bima-ku yang indah dan romantis itu ? Jangan-jangan saya keliru sêpur trutuk yang di setiap stasiun berhenti setengah hingga satu jam itu. Melihat gelagatnya kok mèmpêr betul dengan sêpur begitu. Orang jualan pun sudah berlompatan masuk dan dengan semangat kompetisi yang dahsyat. Kacang-kacang, dodol-dodol, nasi bungkus-nasi bungkus dan entah apa lagi.

Akhirnya saya temukan gerbong dan kursi tempat duduk saya yang ternyata berada di sudut dekat pintu dan WC. Waktu akhirnya Bima itu berlari, hilang sudah harapanku yang sudah saya setel sesuai dengan nostalgiaku. WC itu, pintunya terbuka terus dan baunya pesing bin pesing. Pintu yang ada di bordes, masya Allah, sêparo sudah jebol dan diganti, ditambal dengan potongan bambu. Mungkin insinyur yang mengawasi perbaikan pintu dan gerbong kereta api itu punya hobi membuat kandang ayam.

Tidak ada malam yang biru atau biru yang malam. Bahkan rasanya bintang-bintang, cuwilan bulan, pepohonan dan rumah-rumah pun ikut solider dengan pintu bordes yang berwajah kandang ayam itu. Tidak tampak apa pun. Maka, malam itu dengan AC yang tidak jalan, keringat yang berliter-liter, baju yang basah kèplèh, saya mencoba tidur. Tentu saja tidak bisa.

Untunglah (kapan sih, orang Indonesia tidak untung ?) Bima masuk stasiun Tugu hampir tepat waktu. Saya lihat Mr. Rigen dengan mata yang sudah sipit tetapi merah, menunggu di pintu keluar stasiun. Begitu menghirup segarnya udara subuh atau hampir subuh di Yogya, saya langsung merasa kêpingin sarapan subuh dengan nasi gudeg.

“Mr. Rigen, kita langsung ke gudeg Bu Mul dan wédang jahé Bu Amat dulu !”

“Lho, ini jam setengah tiga pagi, Pak. Mau dhahar sarapan ?”

“Ha, iya. Lapêr dan kêmropok, jéé !

Kêmropok pripun ? Wong naik sêpur Bima yang dahsyat kok kêmropok ?

“Sudahlah. Nanti kalau kita sudah di gudeg Bu Mul dak critani.”

Dan kemudian sembari makan gudeg Bu Mul yang sesungguhnya rådå sangit tetapi pada malam itu terasa nikmat sekali, saya melapor kepada dirjen saya yang bernama Mr. Rigen. Saya melaporkan tentang bagaimana saya kêtulå-tulå, terlunta-lunta, disia-sia oleh kereta api Bima. Sehabis cerita, saya tatap muka Mr. Rigen yang sedang asyik me-ngêlamuti paha ayamnya. Saya tunggu dengan sabar sampai sisa-sisa daging di pinggiran balung itu habis ludes.

Dan Mr. Rigen tampaknya sadar betul kalau boss-nya sesungguhnya sedang mendambakan komentarnya. Sesudah selesai makan dia minta kobokan. Dicucinya jari jemarinya yang belepot daging dan santên. Kemudian di-sruput-nya teh jahenya. Baru kemudian mulai ngomong dengan ngglêgês. Wah, cilåkå. Kalau tokoh Pracimantoro sudah menyusun bibirnya dengan glêgêsan begitu, pertanda gawat, nih.

Ngètên lho, Pak. Begini lho, Pak. Bapak itu sering membingungkan saya.”

“Lho, membingungkan bagaimana ?”

“Kadang-kadang jaan saya terheran-heran betul. Wong Bapak itu menurut saya tidak pernah kekurangan paringan rahmat Gusti Allah, lho. Lha, kadang-kadang kok masih belum mensyukuri itu semua. Lha, wong baru diêngkuk-êngkuk dan diciprati bau pesing kereta api Bima begitu saja kok bolehnya dukå dan sambat ngaru-årå kayak sudah mau dibuang ke Nusakambangan.”

Hussy, dhapurmu, Geenn, Gen ! Lha, menurut kamu, apa hak kita rakyat Indonesia tidak disepelekan sama PJKA. Karcis itu kita bayar, Gen. Dijanjikan pakai AC. Dan dulu Bima itu pernah bagus sekali melayani rakyat. Lha, sekarang kok merosot ora karu-karuan itu terus piyé ?!

“Lho, ning yang namanya rakyat itu ‘kan ya sênêng saja to naik sêpur itu ? Buktinya rakyat itu masih sênêng naik sêpur begitu kok, Pak.”

Wéé … lha, Gen. Kowe itu mau saya critani tentang hak kamu yang dikentuti kok malah nrimo, lho ?”

Ha, ênggih nrimo to, Pak. Sudah bagus ada kereta api buat kita semua yang masih jalan. Coba kalau Bima itu tidak jalan, terus Bapak mau pulang dari Cirebon naik apa, hayoo ?”

Saya tidak berani meneruskan percakapan lagi. Mr. Rigen sudah mengejawantahkan dirinya jadi rakyat Mataram sejati. Terus mau diajak demokrasi dan keterbukaan yang bagaimana kalau dia sudah begitu ?
Eh, … omong-omong tentang keterbukaan, ada empat syaratnya. Satu …..

Yogyakarta, 1 Agustus 1989

*) gambar dari kaskus.co.id

Iklan

One comment

  1. ” Pintu yang ada di bordes, masya Allah, sêparo sudah jebol dan diganti, ditambal dengan potongan bambu. Mungkin insinyur yang mengawasi perbaikan pintu dan gerbong kereta api itu punya hobi membuat kandang ayam.” ha,ha,ha ngakak

    Disukai oleh 1 orang

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

akar rumput

tulisan ala kadarnya refleksi kehidupan dari akar rumput

My not–so–Secret Journal

thoughts, feelings, desires, passion, and some rambling!

PAUS ANTARTIKA

Kita akan bertahan!™

The BroNeo

cerita biasa dari orang biasa

Munajat Sang Pendamba

Tuhanku, gemintang langit-Mu telah tenggelam, Semua mata makhluk-Mu telah tertidur, tapi pintu-Mu terbuka lebar buat pemohon kasih-Mu. Aku datang menghadap-Mu memohon ampunan-Mu, Kasihi daku . . . .

ZeDeen

Rumahku Katanya Sih Surgaku : tentang perjalanan hidup lelaki kecil dan bahteranya

jendelakusam

"Pendar mata Sebuah catatan tolol, tentang perjalanan kehidupan dan segala macam penghidupannya"

lagilagi81.wordpress.com/

KEBAHAGIAAN HIDUP BUKAN SEKEDAR DARI AGAMA

Counting Down

The journey of my life...

Catatan Dahlan Iskan

dahlaniskan.wordpress.com

%d blogger menyukai ini: