Linggardjati

gedung linggarjatiKARENA urusan saya di Cirebon bisa selesai hanya dalam waktu dua jam saja, saya diajak oleh tuan rumah untuk bertamasya ke Linggardjati. Saya menerima ajakan itu dengan senang hati. Kereta api Bima ke Surabaya lewat Yogya baru akan datang pukul setengah delapan malam. Jadi masih ada tujuh jam untuk mengisi waktu dan Linggardjati memang tempat historis yang sudah sangat lama ingin saya kunjungi.

Kami sengaja lewat jalan memutar gunung Cerme, lewat Majalengka dan Kuningan. Jalan berkelok-kelok, naik dan turun, sawah-sawah, kebun-kebun dan desa-desa yang agaknya tidak sepadat desa-desa Jawa Tengah. Tetapi semua panorama yang indah dan mendebarkan hati itu hanya sebentar saja tergores bagaikan kartu bergambar.

Kemudian pemandangan mengabur dan berganti ke Yogya pada tahun-tahun revolusi. Pada waktu itu saya baru duduk di kelas satu SMA, kira-kira baru berumur 14-15 tahun. Suasana Yogya sebagai ibukota revolusi selalu hangat, revolusioner, emosional dan selalu siap untuk bergerak menuju perkembangan yang entah bagaimana jadinya. Setidaknya itulah persepsi saya tentang suasana waktu itu.

Kami di sekolah boleh dikatakan hanya lima puluh persen belajar. Selebihnya kami pakai untuk bermacam-macam aktivitas. Berangkat ke front, pulang dari front, mencatut beras, barang lux dari garis perbatasan. Di sekolah, di antara pelajaran, kami berdebat tentang revolusi, tentang nasib republik.

Pada waktu perundingan antara republik dan Belanda di Linggardjati itu, saya ingat, kami sekelas berdebat dengan sengitnya tentang peristiwa itu. Kelas kami terbelah dalam dua kubu. Kubu yang bersimpati dengan Persatoean Perdjoeangan dan kubu yang bersimpati dengan Sayap Kiri. Kalau dilihat dari sudut pandangan sekarang, komposisi dua kubu itu jadi sangat aneh. Persatoean Perdjoeangan terdiri dari kelompok oposisi yang mencakup unsur-unsur Masjoemi (Islam), PNI (Nasionalis) dan Moerba (Marxis Trotskyist). Sedang Sayap Kiri adalah kelompok pendukung pemerintah yang mencakup unsur-unsur Partai Sosialis, Partai Buruh dan PKI (yang semuanya adalah partai Marxis).

Pada waktu itu Partai Sosialis belum pecah dan PKI belum diambil alih oleh Muso. Pada pokoknya kelompok Persatoean Perdjoeangan cenderung tidak mau berunding dan berkompromi dengan Belanda. Sedangkan Sayap Kiri yang dipimpin Partai Sosialis memilih jalan berdiplomasi dan berperang. Maka Persatoean Perdjoeangan menolak Linggardjati dan Sayap Kiri yang memerintah tentu saja merestui Linggardjati. Begitulah kami, murid-murid SMA yang baru berumur antara 14-16 tahun, sudah “berpolitik tinggi” ikut ngotot-ngototan tentang Linggardjati. Saya ingat memilih setuju dengan Linggardjati.

“Kamu goblok setuju dengan Linggardjati. Kita dikibuli Belanda dengan mau menerima Sumatra, Jawa dan Madura saja sebagai wilayah republik. Seharusnya kita tolak itu dan terus berperang saja dengan Belanda !”

“Kamu yang goblok bin bénto. Kita perlu adêm-pause, istirahat untuk ambil nafas dalam perjuangan. Lawan kita itu Belanda dan Inggris, lho. Kalau tidak diselang-seling dengan rundingan, kita bisa digebuk terus. Sambil berunding, berdamai sebentar, kita himpun kekuatan dari sana-sini.”

“Ahh, kalian tidak tahu teori revolusi. Revolusi itu tidak tahu ngaso. Harus gebuk terus sampai lawan bertekuk lutut !”

Ayakk, kok bolehnya seru ngomongnya. Gêbak-gêbuk, gêbak-gêbuk. Kalau tahu-tahu kita mrèthèli semua karena senjata kita yang sedikit itu habis dan belum sempat bikin teman dari luar negeri bagaimana, hayoo ?”

“Nah, itu tandanya orang tidak percaya kepada kekuatan sendiri. Ayoo … gebuk terus, Bung !”

Ahh, tahun-tahun yang begitu menegangkan, bergelora, emosional, tetapi juga romantis dan manis. Ke mana saja “lawan-lawan” saya itu sekarang ? Yang kiri, yang kanan, yang tengah, yang pinggir, yang ekstrem, yang lunak. Ahh … anak-anak kucing yang dikarbit revolusi menjadi macan-macan yang galak.

Tahu-tahu mobil kami sudah sampai di depan gedung tempat perundingan di Linggardjati. Tempat itu terletak di bukit, sejuk, indah tetapi lengang. Hanya seorang penjaga yang sudah berambut putih menyambut dan memandu kami. Saksi hidup yang tinggal sedikit, yang masih ingat peristiwa itu dengan baik.

“Di sini pan Muuk, Skemerhoren dan Belanda lainnya tidur. Lha, yang kamar itu Bung Sahrir, Mester Rum. Pak Santo, Amir Saripudin, Ali Budi tempat lain.”

Lha, Bung Karno dan Bung Hatta ? Di mana beliau-beliau itu tidur ?”

“Ohh, di Cirebon, di Kabupaten. Waktu itu Cirebon masih republik, Pak.”

“Lha, yang di kamar itu ?”

“Oh, itu buat bule Inggris jangkung yang bernama Lored Kileren. Wah, saya ingat ikut kerepotan cari tempat tidur yang cocok buat dia.”

Kami berkeliling di antara ruangan-ruangan itu. Delegasi kita yang begitu muda-muda, dan alangkah kecilnya yang bernama Soetan Sjahrir, perdana menteri republik yang konon cemerlang itu. Dan alangkah nglomprot-nya, kumelnya, baju-baju mereka dibandingkan dengan lawan-lawan mereka yang berbaju necis berdasi.

Sjahrir berjas dan berdasi hanya pada waktu pembukaan dan penutupan. Selebihnya sak énak wudêl mereka sendiri pakaiannya. Hanya Bung Karno dan Bung Hatta, sebagai presiden dan wakil presiden, yang kelihatan berpakaian lengkap dan necis. Bung Karno, dalam potret-potret itu, bahkan kelihatan keren banget. Pakai tuxedo, celana panjang hitam, jas putih, dasi kupu putih dan itu dipakai di satu vila, di satu desa, di atas bukit terpencil. Edan tênan presiden kita itu. Dan ngganthêng-nya juga tidak ketulungan.

Ruangan serta perabotan untuk perundingan itu alangkah sempit dan sederhananya. Sekali lagi kami berkeliling mengamati foto-foto peristiwa itu. Bung Kecil, Adnan Kapau Gani dengan topi koboi lebar, Amir Sjarifudin dengan kaos putih saja (dan dalam dua tahun saja sesudah itu ikut PKI Muso, berontak di Madiun) dan prajurit-prajurit kita yang waktu itu masih bernama Tentara Keamanan Rakjat dengan celana yang kedodoran, peci miring, karaben kuno, dengan gagah mengawal perundingan itu. Ahh, … para bapak pendiri republik kita yang kanan, yang kiri, yang tengah, yang ekstrem, yang moderat, yang pinggir, tetapi juga penuh pengabdian itu.

Dalam perjalanan pulang, saya sekali lagi terbayang kelas di SMA, di Jalan Pakem, Yogya itu. Hiruk-pikuk mereka, ngotot mereka, celana-celana mereka yang berwarna tidak kongkret karena sudah luntur wèntêran-nya. Dan juga sesudah itu hiruk-pikuk anak saya, si Gendut, yang beberapa waktu lalu ramai berdebat di rumah Cipinang, dengan teman-teman mereka se-fakultas. Generasi muda yang berumur antara 20-21 tahun. Mereka saling ngotot berdebat tentang tragedi Waduk Kedungombo, untuk kemudian melompat tentang sepatu Nike, kaos Esprit yang sudah buka toko di Ratu Plasa, reuni SMA mereka yang akan diadakan di mana tahun ini dan akhirnya mengeluh mengapa pada hari sial itu bakso dan es buah langganan si Gendut tidak kunjung lewat …

Revolusi (memang) sudah selesai, kata Bung Hatta.

Yogyakarta, 25 Juli 1989

*) gambar dari museumindonesia.com

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

akar rumput

tulisan ala kadarnya refleksi kehidupan dari akar rumput

My not–so–Secret Journal

thoughts, feelings, desires, passion, and some rambling!

PAUS ANTARTIKA

Kita akan bertahan!™

The BroNeo

cerita biasa dari orang biasa

Munajat Sang Pendamba

Tuhanku, gemintang langit-Mu telah tenggelam, Semua mata makhluk-Mu telah tertidur, tapi pintu-Mu terbuka lebar buat pemohon kasih-Mu. Aku datang menghadap-Mu memohon ampunan-Mu, Kasihi daku . . . .

ZeDeen

Rumahku Katanya Sih Surgaku : tentang perjalanan hidup lelaki kecil dan bahteranya

jendelakusam

"Pendar mata Sebuah catatan tolol, tentang perjalanan kehidupan dan segala macam penghidupannya"

lagilagi81.wordpress.com/

KEBAHAGIAAN HIDUP BUKAN SEKEDAR DARI AGAMA

Counting Down

The journey of my life...

Catatan Dahlan Iskan

dahlaniskan.wordpress.com

%d blogger menyukai ini: