To Bali with Nya – Nya – Nya …

Lukisan Tarian BaliAIRBUS yang besar itu penuh penumpang. Nyaris semuanya turis Itali. Bisingnya bukan main. Bahasa spageti yang melodius itu serasa belum cukup seru mereka kemukakan. Maka tangan-tangan mereka pun ikut ambil bagian, menggaris bawahi suara-suara yang berlompatan keluar dari mulut mereka.

Sepuluh atau mungkin lima belas tahun yang lalu (wah, sudah begitu lamakah ?) saya juga pernah berada dalam satu pesawat Garuda dengan turis-turis Itali antara Roma dan Singapura. Juga bising begitu. Tangannya juga berlomba-lomba meraih ke atas bagaikan penari kecak (apa sejak zaman Romawi kuno mereka sudah begitu ?).

Ternyata ada sedikit perbedaan dalam pengalaman dengan mereka antara dulu dan sekarang. Dulu setiap pramugari mengucapkan lewat mike,

“Tuan-tuan dan Nyonya-nyonya …..”

Mereka bersorak, tertawa terpingkal-pingkal, sembari menirukan “nyonya-nyonya” dengan “nya-nya-nya, nya-nya-nya”. Mungkin bagi telinga mereka, suara “nya-nya-nya” itu begitu lucunya.

Tapi, sekarang suara “nyonya-nyonya” itu agaknya sudah tidak kedengaran aneh lagi bagi mereka. Buktinya ada beberapa kali pramugari kita menyebut kata tersebut, namun tidak seorang pun dari para turis Itali itu yang menirukan dan menertawakannya. Menggubris pun tidak ! Dengan asyiknya mengobrol dan mengobrol sembari tangan mereka ber-sliwêran ke kiri dan kanan.

Untuk mengenang peristiwa yang sudah lama sekali berlalu itu, saya berniat membalaskan dendam para pramugari Garuda yang dulu pernah mereka tertawakan dengan “nya-nya-nya, nya-nya-nya”. Saya mengucapkan,

Cak-cak-cak-ji, cak-cak-cak-ji,”

setiap saya melihat tangan mereka ber-sliwêran ke atas, kiri dan kanan. Tentu saja mereka tidak mendengar permainan kecak saya. Saya balaskan dendam penghinaan kepada pramugari dan bangsa saya di dalam hati saja. Mau keras-keras saya lampiaskan, terbayang muka Pak Susilo Sudarman yang merah simpatik itu mewejang kita tentang pentingnya Sapta Pesona.

Ke Bali lagi. Kali ini berangkat dari Jakarta langsung ke Den Pasar tanpa harus singgah dulu di Yogya. Sekali lagi, saya terlunta-lunta dari satu seminar ke seminar yang lain. Untuk mencegah ke-anyêl-an saya mendengar bisingnya suara para turis yang sangat menjengkelkan, tetapi juga sangat kita butuhkan (kantongnya) itu, saya buka percakapan dengan turis yang duduk di samping saya.

“Kalian turis-turis ini kerja apa ya, di negeri kalian ?”

Sang turis yang nggantêng bagai Marcello Mastroiani itu agak terkejut juga mendengar ada pribumi berani-beraninya bertanya mengganggu kegembiraan mereka berdua. Tetapi kemudian dia menjawab dengan senyuman yang lebar. Mungkin itu tanda pertama dari kehangatan mediteranean yang tersohor itu.

“Kami pegawai-pegawai kantoran. And you ?

“Ah, … saya guru universitas lokal saja di Jawa.”

“Ah, … profesor, ya ? Kamu suka melancong juga seperti kami ?”

“Ya. Tapi cuma bisa dekat-dekat sini saja.”

“Oh, ya ? Ke mana misalnya ?”

Wah, cilaka ini ! Kok jadinya dia yang mengambil alih inisiatif menginterogasi. Saya jadi ingat ajaran kawan saya seorang perwira intel yang baru saja pensiun itu. Kalau kamu keserobot inisiatif ganti diinterogasi, kau harus cepat gertak.

“Ke Bantool, Sleman, Gunoong Quidoll dan beberapa tempat lainnya.”

Wah, cilaka lagi ini ! Ini teknik menggertak atau dagelan kepepet ?

“Wah, kota-kota mana itu ? Kok kami tidak lihat di peta ? Dan pemandu rombongan perjalanan kami kok nggak cerita apa-apa tentang kota-kota itu ! Pasti bagus ya, tempat-tempat itu ?

Si, si, si, signor. Prego, signor. Kapan-kapan you must come there, si !

“Apakah di kota-kota itu banyak cewek yang cantik-cantik seperti konon di Bali ?”

“Oh, si, si, si. Wanita di situ bella-figura semua deh … “

Saya tidak berani meneruskan ngomong sok Itali dengan mengobral si, si, si lagi, meskipun itu bisa dimasukkan dalam salah satu Sapta Pesona itu. Bukan apa-apa, soalnya flu saya itu lho ! Hidung saya sudah mau mèlèr, sêntlap-sêntlup. Kalau mau terus sok Itali dengan si,si,si, saya sendiri memang kudu sisi (buang ingus). Toh, kemudian saya teruskan bertanya.

“Kalian itu buang-buang duit untuk pergi jauh begini dari Roma yang begitu cantik dan hebat. Yang kalian mau cari itu apa, sih ?”

Ah, saya tahu itu pertanyaan klise pariwisata. Tetapi biar saja. Jawaban pasti klise juga. Ning Pak Joop Ave dan Pak Susilo Sudarman rak senang mendengarnya.

“Lha, Roma yang menurut kamu cantik dan hebat itu tiap pagi dan sore pada hari kerja sudah saya injak-injak sampai bosan. Kalau dua tahun begitu terus, bisa krêg (!), ambrol dong, kepala saya. Makanya saya kudu menabung dan menabung selama dua tahun supaya bisa lari dari Roma. Terus, apa yang saya cari di Bali ? Ya tidak tahu ! Menurut brosur wisata, hebat. Menurut film, dahsyat dan menggiurkan. Pokoknya yang penting lain, to ?”

Saya mengangguk-angguk. Biangané ! Trèmbèlané ! Wong mênus klèrêk kantoran saja kok dua tahun sekali bisa melancong keliling jagad, lho. Begitu kayakah negara-negara barat itu ?

Pramugari memberi tahu bahwa sebentar lagi kita akan mendarat di Ngurah Rai. Tuan-tuan dan nyonya-nyonya … Para turis itu sêmangkin riuh melihat ke jendela. Tangannya ber-sliwêran lagi. Cak-cak-cak-ji, cak-cak-cak-ji !

Waktu taksi saya lewat Kuta, saya terkejut. Tampangnya sudah sêmangkin mirip dengan suburbia di mana saja. Toko-toko yang gumêbyar, supermarket, Kentucky Chicken, Burger King, Pizza Hut plus free Coke dan poster yang memberi tahu bahwa sebentar lagi akan ada kontes rock-dancing. Wah, semoga signor Marcello Mastroiani-ku tadi masih melihat yang berbeda dari Roma di Bali.

Nya-nya-nya, nya-nya-nya. Cak-cak-cak-ji, cak-cak-cak-ji. Sapta Pesona …

Yogyakarta, 18 Juli 1989

*) gambar dari blog-senirupa.tumblr.com

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

akar rumput

tulisan ala kadarnya refleksi kehidupan dari akar rumput

My not–so–Secret Journal

thoughts, feelings, desires, passion, and some rambling!

PAUS ANTARTIKA

Kita akan bertahan!™

The BroNeo

cerita biasa dari orang biasa

Munajat Sang Pendamba

Tuhanku, gemintang langit-Mu telah tenggelam, Semua mata makhluk-Mu telah tertidur, tapi pintu-Mu terbuka lebar buat pemohon kasih-Mu. Aku datang menghadap-Mu memohon ampunan-Mu, Kasihi daku . . . .

ZeDeen

Rumahku Katanya Sih Surgaku : tentang perjalanan hidup lelaki kecil dan bahteranya

jendelakusam

"Pendar mata Sebuah catatan tolol, tentang perjalanan kehidupan dan segala macam penghidupannya"

lagilagi81.wordpress.com/

KEBAHAGIAAN HIDUP BUKAN SEKEDAR DARI AGAMA

Counting Down

The journey of my life...

Catatan Dahlan Iskan

dahlaniskan.wordpress.com

%d blogger menyukai ini: