Sang Singa Laut

bayi merangkakTAHU-TAHU Ade Septian, adiknya Beni Prakosa, sudah bisa mbrangkang, merangkak. Berlainan dengan kakaknya yang tidak bisa merangkak tapi me-ngésot, Ade mengembangkan teknik pem-brangkang-an sendiri. Adapun teknik tersebut adalah teknik berjalan seperti singa laut, yaitu dengan bertumpu pada kedua tangannya dan mendorongkan tubuhnya ke depan. Suara kwèk-kwèk dari mulut singa laut serta suara kepak siripnya diganti oleh Ade dengan racauan mulutnya dan suara ngêcès dari ilêr-nya.

Perkembangan dari singa laut kecil itu telah membuat konfigurasi perimbangan kekuatan dalam konstelasi politik rumah saya bergeser secara radikal. Beni Prakosa, yang semula jadi pusat perhatian jagad, sekarang didongkel oleh sang singa laut. Tiba-tiba saja semua orang serumah lebih banyak memperhatikan sang singa laut. Tiba-tiba saja sang singa laut tampak lebih menarik dan lebih lucu dari kakaknya.

Tentu saja hal ini membuat Beni Prakosa tidak berkenan di hati. Status serta privelese yang dinikmati selama ini menjadi porak-poranda. Hatinya mendendam akan tetapi tidak kuasa untuk berbuat apa saja untuk melawan adiknya. Ada sepasang kekuasaan yang jauh lebih dahsyat dari dia. Mereka itu, tentu saja, Mr. Rigen dan Mrs. Nansiyem yang untuk urusan beginian tidak bisa ditawar lagi. Beni Prakosa lantas mengalihkan perhatiannya kepada saya. Setiap kali dia melihat saya duduk sendirian, di ruang tamu atau di ruang kerja sekali pun, dia akan mendekati saya. Kemudian membuka dialog, mulai dari yang paling simpêl hingga yang paling rumit. Misalnya,

“Pak Ageng, Pak Ageng, … langit itu dibuat dari apa, sih ?”

“Lho, ‘kan Pak Ageng sudah berkali-kali bilang tidak tahu !”

“Iya, itu ‘kan dulu. Tapi, sekarang Pak Ageng ‘kan sudah jadi propésok, mosok masih belum tahu juga ?”

“Ya, masih belum tahu juga, Lé. Ha, mbok Propésok Lemahamba yang sudah botak dan termasyur itu juga belum tentu bisa, .”

Beni Prakosa diam sebentar. Kemudian meneruskan lagi.

“Kenapa begitu, Pak Ageng ? Susah ya, mengerti langit ?”

“Iya, susah.”

“Karena langit yang buat Gusti Allah, ya ?”

“Iya !”

Beni Prakosa diam lagi.

“Pisang goreng itu dibuat dari pisang terus digoreng ya, Pak Ageng ?”

“Iya, betul. Dapat seratus kamu !”

“Kok saya tahu, Pak Ageng ?”

“Tentu saja kamu tahu, wong yang nggoreng ibumu begitu, lho.”

“Kalau yang membuat manusia, kita gampang tahu ya, Pak Ageng ?”

Ha, iya.”

“Lha, kalau yang buat adik Septian itu siapa to, Pak Ageng ?”

Wahh, … anak ini mulai gawat pertanyaannya. Ahh, mosok bêdhès cilik yang baru sak upil garing begitu mulai méncos pikirannya ?

“Lha, kalau menurut kamu siapa, Lé ?

“Ya Gusti Allah to, Pak Ageng.”

“Betul. Dapat seratus lagi !”

Lha, kok sekarang saya tahu, Pak Ageng ?”

“Tahu apa ?”

“Tahu dari apa adik Septian dibuat.”

“Dari apa, coba ?”

“Dari ilêr yang ngêcès, dari mata yang tholo-tholo dan dari suara yang hèwèh-hèwèh-hèwèh.”

“Kamu kok jahat sama adikmu, . Adikmu itu ‘kan cakep, pintar dan tidak cengeng.”

Huaahh … Pak Ageng ! Pak Ageng, adik itu tholo-tholo kacang ijo, hèwèh-hèwèh mulutnya blèwèh, ècès-ècès ilêr ngêcès. Adik èlèk, èlèk, èlèk … !

Sekarang Beni kena batunya betul. Mukanya jadi seketika asêm, matanya merah tanda marah dan mau nangis. Langsung saja dia pergi mengundurkan diri. Di belakang, saya dengar Mr. Rigen dan Mrs. Nansiyem menimang-nimang anak bungsunya itu.

“Bocah bagus, bocah bagus. Cepat besar, cepat pintar. Bocah bagus … “

Wah gawat. Situasi revolusioner memang sedang membara agaknya. Baru saja di depan sang Beni Prakosa harus mendengar pujian untuk pendongkelnya itu, sekarang di belakang suara pujaan menggema dengan jelasnya.

Dan benar saja. Sebentar kemudian saya lihat Beni Prakosa lari keluar sambil menangis sejadi-jadinya. Huaa … huaa … huaaaa ! Saya lihat Beni lari kencang berputar-putar tanpa pola di halaman depan. Kemudian, mak srêêtt, dia lari keluar, ke jalan dimana bus-bus kota dan mobil-mobil bersliweran.

“Mr. Rigen, Mr. Rigeenn !”

Yes, ênggih, Pak Ageng !”

“Itu lho, anakmu lari ke jalan. Kencang sekali !”

Dan Mrs. Nansiyem pun ikut berteriak panik.

“Lho, Lé … Léé … ! Paak, cepat kejar anakmu, Pak !”

Dan mak jênggirat, mak brêbêt, Mr. Rigen dengan gesit mengejar anaknya ke jalan. Lima menit, sepuluh menit, dua puluh menit berlalu. Dan yang saling kejar itu belum juga kelihatan pulang. Mrs. Nansiyem sudah mulai mêmbik-mêmbik, matanya memerah dan hujan pun kelihatan akan segera turun dari matanya yang besar-besar itu.

Setengah jam kemudian, datanglah Mr. Rigen dan Beni Prakosa tertawa-tawa. Sang anak digendong bapaknya di belakang sembari klamut-klamut, menjilat-jilat es tung-tung. Hujan pun tak jadi runtuh dari mata Mrs. Nansiyem.

“Kok tadi kamu ngamuk terus lari, kenapa, ?”

Beni Prakosa tidak menjawab. Mungkin karena masih asyik menghabiskan jilatan es-nya.

Héé, … ditanya ibumu kok tidak menjawab. Ayo bilang !”

Beni masih belum menjawab. Baru setelah jilatan penghabisan dilakukan, tangannya yang masih basah bin plikêt itu diusap-usap di bajunya, dia menjawab,

“Seluruh isi rumah ini jelek semua. Nakal semua.”

Dan dia pun lari lagi. Kami semua memandanginya. Kali ini kami tidak khawatir lagi. Dia lari dengan hati puas.

Tetapi, tiba-tiba dari belakang terdengar suara hèwèh-hèwèh-hèwèh. Sang singa laut kecil merangkak dengan gayanya yang khas. Hèwèh-hèwèh-hèwèh. Saya tersenyum ngunandikå. Eh, … kok nggak bocah, nggak orang tua, kok berlaku juga pameo politik itu.

Kekuasaan itu cemburu. Power is jealous ….

Yogyakarta, 11 Juli 1989

*) gambar dari pixabay.com

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

akar rumput

tulisan ala kadarnya refleksi kehidupan dari akar rumput

My not–so–Secret Journal

thoughts, feelings, desires, passion, and some rambling!

PAUS ANTARTIKA

Kita akan bertahan!™

The BroNeo

cerita biasa dari orang biasa

Munajat Sang Pendamba

Tuhanku, gemintang langit-Mu telah tenggelam, Semua mata makhluk-Mu telah tertidur, tapi pintu-Mu terbuka lebar buat pemohon kasih-Mu. Aku datang menghadap-Mu memohon ampunan-Mu, Kasihi daku . . . .

ZeDeen

Rumahku Katanya Sih Surgaku : tentang perjalanan hidup lelaki kecil dan bahteranya

jendelakusam

"Pendar mata Sebuah catatan tolol, tentang perjalanan kehidupan dan segala macam penghidupannya"

lagilagi81.wordpress.com/

KEBAHAGIAAN HIDUP BUKAN SEKEDAR DARI AGAMA

Counting Down

The journey of my life...

Catatan Dahlan Iskan

dahlaniskan.wordpress.com

%d blogger menyukai ini: