Intermeso Kebudayaan

debus bantenDALAM suatu seminar baru-baru ini, sehabis saya cerita tentang budaya korupsi, seorang akuntan senior dari sebuah perusahaan terkenal mengeluh karena selama sekolah dari sekolah dasar hingga universitas belum pernah ketemu yang disebut kebudayaan itu.

“Masak iya, Pak. Betul Bapak belum pernah diajar kebudayaan di sekolah ?”

“Sungguh mati, Pak. Belum pernah ! Kalau sudah ‘kan saya tahu binatang apa kebudayaan itu !”

Lha, … kalau sejarah, bahasa daerah, bahasa Indonesia, kesusasteraan, apa itu ?”

Haaa … kalau itu sedikit-sedikit ya dapat, Pak. Diponegoro kalah karena dikibuli Belanda di Magelang. Pendeknya semua pemimpin kita kalah karena dikibulin Belanda melulu. Coba kalau tidak dikibulin, belum tentu Belanda bisa menang dari kita. Kesusasteraan ? Siti Nurbaya, Layar Terkembang, Chairil Anwar. Yaa … lumayanlah, Pak. Sedikit-sedikit tahu jugalah. Tapi kebudayaan ?”

Lha, … ya itu semua, Pak, yang disebut kebudayaan … “

Dialog itu berhenti hanya sampai di situ. Saya tidak tahu kelanjutannya dengan pak akuntan yang serius itu. Apakah dengan dialog tersebut, beliau lantas banyak baca buku sejarah atau buku sastra, saya tidak tahu.

Dugaan saya, sejak itu beliau sangat serius pula memperlakukan kebudayaan dalam memeriksa keuangan perusahaannya. Habis, saya sudah terlanjur ngêdobos dengan meyakinkan bahwa korupsi itu erat sekali dengan kebudayaan. Ahh … jangan-jangan beliau malah jadi lunak terhadap para maling di perusahaannya. Bisa-bisa beliau akan dengan berlinang air mata mengampuni korupsi potensial itu. Mungkin beliau malah akan berkata,

Yahh … saya mengerti sekarang. Anda korupsi karena kebudayaan bukan karena mau maling. Anda diampuni …”

Wah … cilåkå kalau begitu !

Begitulah. Hari Sabtu kemarin, saya mendapat tugas negara yang bermutu internasional. Saya harus mengantar para peserta seminar SPAFA, proyek bersama antar menteri kebudayaan se- ASEAN, untuk berwisata ke Banten lama.

Para peserta sudah berharap-harap cemas untuk melihat Banten, yang dalam buku sejarah mereka dulu kadang disebut juga Bantam (mungkin istilah adu tinju ‘kelas bantam’ diambil juga dari kata Banten itu). Dan ketika akhirnya para turis budayawan itu turun dari bus, langsung saja sinar matahari Banten yang terik itu menyengat tubuh mereka.

Panas Banten ternyata jauh lebih menusuk dari Jakarta. Dan pemandangan itu persis seperti yang sering kita lihat di buku-buku pelajaran sejarah dulu. Masjid dengan arsitektur gaya Demak yang bercampur dengan unsur-unsur lain. Menara, makam para sultan di halaman masjid. Dan orang masih terus berdatangan untuk berziarah ke makam-makam itu. Ngalap berkah dan sebagainya itu.

Kemudian di sebelah selatan itu alun-alun dan di belakangnya reruntuk tembok-tembok panjang. Istana yang juga benteng Surosowan. Keraton yang dilindungi oleh tembok benteng gaya Eropa. Seperti Intramuros di Manila dan mungkin juga intramuros-intramuros di tempat-tempat lain yang pernah dijamah oleh tangan-tangan Belanda, Portugis atau Spanyol pada abad ke-16 atau 17.

Tetapi tampang keraton dari raja-raja Banten itu sendiri bagaimana ? Tidak ada satu pun sisa yang tampak. Semua reruntuk, reruntuk, reruntuk. Kita hanya dapat membayangkan bagaimana hebat, megah dan mewah keraton itu mengingat akan kekuasaan dan kekayaan Banten sebelum dihancurkan oleh Belanda. Kerajaan itu adalah kerajaan yang kaya, yang menguasai perdagangan merica di kawasan barat Pulau Jawa, selatan Sumatra, pesisir timur dan barat Sumatra waktu Portugis menguasai Malaka. Dan para pedagang Gujarati dan Timur Tengah sudah lebih dulu berhubungan dengan Banten yang Islam. Kita bisa bayangkan grandeur itu. Tetapi terjemahan grandeur dalam ukiran tiang-tiang kayu keraton ? Tidak bisa lagi.

Di museum Banten kita bisa melihat gambar-gambar penguasa Banten zaman itu. Wah, … kok pada tidak memakai baju, kok gligå saja ? Meskipun di bawah ada kain panjang yang tampaknya mewah juga. Tetapi, waktu saya merasakan panasnya matahari Banten, mungkin betul juga mereka (pada zaman itu) merasa tidak perlu pakai baju. Sumuk ‘kan ? Tetapi angin Banten pada waktu itu ? Apa tidak sejahat angin Banten kontemporer ? Sekarang di mana-mana kita pakai baju. Di samping sêtil, takut masuk angin, toh ?

Dan masih ada satu reruntuk lagi yaitu istana atau keraton Kaibon atau ‘tempat ibu’, karena itulah istana ibunda Sultan. Reruntuk itu masih lumayan. Masih ada gerbang candi bentar seperti di Jawa Timur. Tetapi, selebihnya ya reruntuk lagi. Sia-sia saya mencoba membayangkan kecantikan keraton itu. Yang mestinya punya arsitek yang ya rada feminin. Yang mestinya ibunda itu ya pantesnya ayu juga. Ahh …

Mengapa reruntuk-reruntuk peninggalan kebesaran kebudayaan kita masih terus saja tidak cukup terurus ? Tidak cukup dana dan anggaran yang tersedia ? Mungkin karena kita sekarang berpikir perut dulu, warêg dhisik wêtêngé. Nanti kalau sudah cukup uang untuk mengenyangkan perut, naahh ….. gampang, gampang. Yang disebut kebudayaan, kesenian itu nanti akan beres sendiri. Beres sendiri ? Ayakk … !

Lha, sebaliknya dulu Bung Karno berpikir lain. Ekonomi itu tidak usah ndhakik-ndhakik, rumit-rumit, sok canggih-canggih. Seadanya saja dulu. Yang penting bisa bikin toko Sarinah dulu, Hotel Indonesia dulu, stadion temu gelang dulu. Kita harus bangga dulu jadi orang Indonesia. Karena itu perlu bikin proyek mercu suar di mana-mana. Kalau kita sudah bangga, sudah terkikis mental inlander kita, naahh ….. gampang, gampang. Yang disebut perut kenyang, baju cukup, rumah bagus itu akan datang sendiri. Datang sendiri ? Ayakk … !

Sebelum pulang kami disuguhi seni debus. Yaitu seni mèjik, magic, yang sêrêm-sêrêm. Parang yang tajam disabet-sabetkan ke tangan. Tidak apa-apa. Besi berujung lancip dan tajam ditusukkan ke perut. Tidak apa-apa. Benang gulungan kecil dimasukkan lobang hidung kemudian ditarik jadi panjang sekali. Tidak apa-apa. Tidak mimisan. Kemudian mulut dimasuki gulungan koran yang dibakar, ditelan. Eh, … dari mulutnya kemudian mucul beruntun tujuh kali kelelawar hitam. Wah, saudara Dracula, sebaiknya Anda minggir saja. Kelelawar-kelelawar itu, menurut pemimpinnya, pagi-pagi sudah dimasukkan ke dalam perut pendekar yang malang itu. Semalaman dia harus puasa untuk bisa pamer seni mengeluarkan kelelawar itu.

Salah seorang pemimpin lokal Banten dengan seriusnya menerangkan kepada saya,

“Pak, itu bukan ilmu hitam, mèjik atau apa, lho.”

Elho, … lha, terus apa, dong ?”

“Itu ilmu putih. Itu seni dari Gusti Allah, Pak …”

Saya hanya manggut-manggut. Dalam hati saya ngunandikå,

“Gusti Allah yang begitu sibuk mencipta yang besar-besar dan berskala semesta kok ya masih diajak main sulapan, lho. Wong Banten, wong Banten.”

Di dalam bis pulang, waktu lewat keraton Kaibon sekali lagi saya ingat Beni Prakosa yang tempo hari diarak gurunya ke bentang Vredenburgh. Waktu saya tanya kesan-kesannya, matanya berkilat-kilat, melapor,

“Tadi kita jajan bakso sama es tung-tung, Pak Ageng. Enaakk … !”

Yogyakarta, 27 Juni 1989

*) gambar dari metafisik.net

Iklan

2 komentar

  1. apa sih arti kebudayaan ?

    Suka

    1. masteddy · · Balas

      Kebudayaan (kb) 1. hasil kegiatan da penciptaan batin (akal budi) manusia spt, kepercayaan, kesenian dan adat istiadat; 2 (ist. antropologi) keseluruhan pengetahuan manusia sbg makhluk sosial yg digunakan utk memahami lingkungan serta pengalamannya & yg menjadi pedoman tingkah lakunya ……
      menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) …… 😀 😆

      Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

akar rumput

tulisan ala kadarnya refleksi kehidupan dari akar rumput

My not–so–Secret Journal

thoughts, feelings, desires, passion, and some rambling!

PAUS ANTARTIKA

Kita akan bertahan!™

The BroNeo

cerita biasa dari orang biasa

Munajat Sang Pendamba

Tuhanku, gemintang langit-Mu telah tenggelam, Semua mata makhluk-Mu telah tertidur, tapi pintu-Mu terbuka lebar buat pemohon kasih-Mu. Aku datang menghadap-Mu memohon ampunan-Mu, Kasihi daku . . . .

ZeDeen

Rumahku Katanya Sih Surgaku : tentang perjalanan hidup lelaki kecil dan bahteranya

jendelakusam

"Pendar mata Sebuah catatan tolol, tentang perjalanan kehidupan dan segala macam penghidupannya"

lagilagi81.wordpress.com/

KEBAHAGIAAN HIDUP BUKAN SEKEDAR DARI AGAMA

Counting Down

The journey of my life...

Catatan Dahlan Iskan

dahlaniskan.wordpress.com

%d blogger menyukai ini: