Bakpao Di Tangan Kiri, Sate Usus Di Tangan Kanan

rakus makanSUDAH beberapa hari Beni Prakosa ada di rumah. Sekolahnya libur karena kenaikan kelas. Sekarang bêdhès cilik itu tahu-tahu sudah naik ke kelas nol besar. Catatan guru di buku rapornya, ‘belajarlah lebih baik lagi dan jangan suka sembrono’. Saya tidak tahu maksud dengan ‘sêmbrono’ itu.

“Maksudnya dengan ‘sêmbrono’ ini apa to, Gen?”

“Wah, mbotên ngêrtos, Pak.”

“Lho, kok tidak tahu. Apa kamu tidak tanya sama gurunya?”

“Gurunya juga nggak jelas kasih keterangan. Mungkin karena tholé itu kalau di kelas suka jalan-jalan, lihat temannya nulis.”

Mosok cuma begitu saja sudah dibilang ‘sêmbrono’ to, Gen?”

Lha, saya tidak tahu juga, Pak. Kalo menurut saya tidak apa-apa to, Pak, jalan-jalan di kelas. Wong masih bocah saja, lho. Rak ênggih to, Pak?”

“Menurut saya juga tidak, wong baru duduk di kelas nol kecil. Kelas nol kecil ya untuk belajar dolanan. Lha, … kalau nanti sudah kelas nol besar baru sedikit-sedikit dilatih duduk tertib. Mana anakmu itu?”

Beni Prakosa sedang di belakang nguyêl-uyêl adiknya yang baru belajar merangkak. Adiknya lama-lama bosan diuyêl-uyêl begitu, Beni makin senang. Semangkin menjadi dia bolehnya meng-uyêl-uyêl adiknya. Ibunya yang sedang sibuk kerja di dapur karuan saja jadi tambah sewot.

Huayo, Beni ! Kalo nggak mengganggu adiknya kok nggak puas, lho ! Kalo adikmu jerit-jerit begini, kamu bisa nggéndong, apa ?! Kurang kerjaan kamu, ya ?! Disuruh bantu ibu malah ngaco ! Ayo, sini kamu !”

Rupanya Beni langsung mendapat hadiah cubitan dari ibunya. Buktinya sekarang Beni juga menangis jerit-jerit. Melihat kakaknya menangis, sang adik makin menjadi-jadi nangisnya. Di belakang sekarang ada konser musik kamar yang meriah. Mrs. Nansiyem yang menjadi maestro konduktor jadi kebingungan mengayunkan baton-nya. Konser itu jadi konser yang kacau.

“Dasar anak dhêmit semua kamu, ya ! Begini ini lho, Pak, kalo libur. Ribuuttt saja di rumah. Kenapa sih sekolah itu pake libur-libur segala ? Bikin repot orang tua saja !”

“Lho, kok liburnya yang disalahkan ? Wong anaknya itu memang badung, kok !”

Lha, iya. Sudah badung tidak sekolah. Makin badung saja di rumah.”

Wis … wis, Lé. Diam. Sana, kamu dipanggil Pak Ageng !”

Beni Prakosa pun masuk ruang depan. Meng-ucêk-ucêk matanya yang habis menangis.

“Eh, … sudah besar kok menangis, Lé ? Kamu nakal sama ibumu, ya ?”

“Tidak, Pak Ageng. Ibu yang nakal. Beni dicubit.”

“Ya … kamu dicubit karena kamu nakal.”

“Beni cuma main sayang-sayangan sama adik kok dicubit.”

“Tapi, adikmu apa senang kamu ajak main ? Wong terus nangis gitu, kok.”

“Pak Ageng, minta bakpao.”

“Ooo … rupamu ! Masih kecil kok sudah pinter mengalihkan perhatian. Ini taktik dari bapakmu atau dari ibumu ?”

“Bakpao, Pak Ageng. Sudah lama nggak beli.”

“Nggak ! Bakpaonya nggak enak !”

Beni diam. Tetapi masih terus berdiri di dekat saya. Matanya mulai menjelajahi meja, kalau-kalau masih ada kue atau apa. Ternyata meja kosong.

“Pak Ageng.”

“Apa ?”

“Kalau tidak bakpao, beli sate usus Pakde Joyo ya, Pak Ageng ?”

Wee … lha, kok malah naik tuntutanmu, Lé ?

“Sate usus Pakde Joyo, Pak Ageng. Sate usus.”

“Apa kamu sudah mandi ?”

“Belum.”

Wong belum mandi kok sudah nuntut macam-macam. Mandi dulu. Nanti dipertimbangkan.”

“Libur, Pak Ageng.”

“Terus ? Kalau libur tidak mandi ?!”

Beni Prakosa menjulurkan lidahnya. Sambil lari ke belakang berteriak,

“Pak Ageng pelit ! Pak Ageng pelit !”

Saya meneruskan membaca koran. Beni Prakosa kembali. Tampaknya sudah mandi. Rambutnya masih kelihatan basah. Sisirannya awut-awutan.

“Sudah mandi, Pak Ageng.”

“Memangnya kenapa kalau sudah mandi ?”

“Bakpao atau sate usus, Pak Ageng ?”

“Tunggu dulu. Lapor dulu. Kamu kalau di kelas suka jalan-jalan, ya ?”

“Iya. Tapi diajak teman.”

“Lho, kok kamu mau. Terus kalau jalan-jalan ngapain saja ?”

“Ya, nggak apa-apa, Pak Ageng. Bakpao atau sate usus, Pak Ageng ? Beni sudah mandi.”

Eitt … tunggu dulu. Kamu kalo jalan-jalan di kelas suka ngganggu temanmu yang perempuan, ya ?”

“Nggak, Pak Ageng. Cuma ikut-ikutan nulis saja, kok.”

Lha, iya. Itu mengganggu namanya. Kalau sudah kelas nol besar tidak boleh jalan-jalan di kelas lagi, ya ! Mesti duduk tegak-tegak di kursi, mendengarkan bu guru.”

“Kok nggak boleh jalan-jalan ? Kenapa, Pak Ageng ?”

“Coba tanya bapakmu dulu, kenapa nggak boleh jalan-jalan di kelas.”

“Kenapa kok nggak boleh, Pak ?”

“Ya nggak boleh ! Itu sudah peraturan. Kudu diturut, Lé !

“Peraturan itu apa ? Bakpao atau sate usus, Pak Ageng ?!”

Saya kagum dengan determinasi bêdhès cilik satu ini. Bakpao atau sate usus. Bakpao atau sate usus.

“Ehh, Beni. Jalan-jalan di kelas itu nggak boleh karena bikin ribut di kelas.”

“Nggak ribut kok, Pak Ageng. Teman-teman malah ngajak ngobrol itu. Bakpao atau sate usus, Pak Ageng. Bakpao atau … “

Waktu itu memang penjaja bakpao pas kebetulan lewat. Kok ndilalah Pak Joyo juga pas kebetulan lewat.

“Nah, itu Pak Ageng. Dua-duanya datang. Panggil semuanya ya, Pak Ageng.”

“Ya, panggil. Panggil, Le.”

Saya sendiri tidak tahu kenapa tiba-tiba memutuskan untuk menuruti kemauan bêdhès cilik èlèk itu. Mungkin karena diam-diam saya menghargai determinasinya ? Atau karena saya tidak tahan digrêgik, diteror begitu terus ? Atau karena saya memang bodoh saja ?

Beni Prakosa berjalan dengan gagah melewati saya, bapak dan ibunya. Bakpao di tangan kiri, sate usus di tangan kanan. Saya tidak tahu mana yang madu, mana yang racun kalau sudah begitu.

Saya ngunandikå di dalam hati. Alangkah hebat Tuhan Sang Maha Seniman itu. Dia menciptakan makhluk yang kita sebut anak-anak. Dari apa sesungguhnya mereka dibikin ? Toh tidak hanya balung, sumsum, jerohan dan sebagainya itu ? Anak-anak itu ingin jalan-jalan di kelas. Ya jalan-jalan saja ! Ingin Bakpao dan sate usus ! Apa betul anak-anak itu serakah bin nggeragas hanya karena sekali tepuk ingin mendapatkan bakpao dan sate usus ? Atau itu hanyalah bakat terpendam untuk inisiatif, eksploratif dan if-if lainya yang mesti kita baca sejak dini dengan pintar dan peka ?

Yogyakarta, 20 Juni 1989

*) gambar dari monster-bego.blogspot.com

Iklan

2 komentar

  1. Whoaaa… Blog-nya Pak Teddy kereeennn… Mampir ke tempat saya, Pak, monggo…

    Suka

    1. masteddy · · Balas

      lha wong cuman nulis ulang sj lho, mbak lis …. mosok dibilang kerenn ….
      beda sm mbak lis yg emang jago bikin cerpen sendiri …
      kalo cerpen sy cuman ini (http://fiksi.kompasiana.com/cerpen/2015/01/29/di-panti-jompo-itu–704476.html), ini pun hasil mikir 3 bulan 😉
      matur nuwun dah datang berkunjung ….

      Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

akar rumput

tulisan ala kadarnya refleksi kehidupan dari akar rumput

My not–so–Secret Journal

thoughts, feelings, desires, passion, and some rambling!

PAUS ANTARTIKA

Kita akan bertahan!™

The BroNeo

cerita biasa dari orang biasa

Munajat Sang Pendamba

Tuhanku, gemintang langit-Mu telah tenggelam, Semua mata makhluk-Mu telah tertidur, tapi pintu-Mu terbuka lebar buat pemohon kasih-Mu. Aku datang menghadap-Mu memohon ampunan-Mu, Kasihi daku . . . .

ZeDeen

Rumahku Katanya Sih Surgaku : tentang perjalanan hidup lelaki kecil dan bahteranya

jendelakusam

"Pendar mata Sebuah catatan tolol, tentang perjalanan kehidupan dan segala macam penghidupannya"

lagilagi81.wordpress.com/

KEBAHAGIAAN HIDUP BUKAN SEKEDAR DARI AGAMA

Counting Down

The journey of my life...

Catatan Dahlan Iskan

dahlaniskan.wordpress.com

%d blogger menyukai ini: