Bal – Balan Lagi

logo-pssi3MINGGU pagi kemarin, Pak Joyoboyo singgah agak lama di rumah saya. Sesudah melaksanakan ritual penjualan pènggèng èyèm-nya yang tersohor di seantero kawasan, dia minta izin kepada dan Mr. Rigen untuk tidak segera berangkat lagi. Dia ingin duduk-duduk sebentar bersama kami.

Sayah, capek to, Pak Joyo ?”

“Wah, … ha ênggih. Lama-lama mulai terasa juga balung, tulang belulang, tuwo ini.”

Ayakk … sampéyan niku. Wong masih gagah perkosa begitu, lho. Paling tua Pak Joyo itu ‘kan baru tiga puluh tahun lebih sedikit.”

Pak Joyoboyo tertawa nyêkikik.

“Wah … ênggih matur nuwun, Mas Rigen. Wong sudah keropos begini masih dikatakan tiga puluh tahun lebih sedikit. Saya itu sudah mendekati lima puluh tahun, lho.”

Saya ikut nimbrung pembicaraan mereka.

Wong belum lima puluh kok sudah merasa tua to, Pak Joyoo, Pak Joyo. Lima puluh itu masih muda buat orang jaman sekarang. Jangan kêsusu merasa tua, ah.”

“Bukan begitu, Pak Ageng. Saya ini sesudah sekian tahun menjadi penjaja pènggèng èyèm kok mulai merasa capek. Apalagi rute saya itu makin lama makin terasa jauuhhh sekali. Lha, pripun ! Dari Klaten kalo ke timur itu nyampè Ngawi, Magetan, Mediun, malah kadang-kadang nyampè Ngediri. Lha, kalo ke barat ya ke sini, Magelang, Temanggung kadang-kadang ya terus ngalor ke Semarang juga. Bagaimana boyok ini lama-lama tidak terasa sakit to, Pak Ageng.”

Saya mengangguk-angguk.

“Ya, dibikin gembira saja to, Pak Joyo. Ingat kalo kerja sampéyan itu buat anak-bini. Saya sendiri apa tidak begitu ? Semua orang yang kerja itu satu waktu ‘kan kadang-kadang merasa begitu, Pak Joyo. Tapi terus mau gimana lagi ? Pilihan kita wong cilik itu apa to, Pak Joyo ?!”

Wah, lha ini, pikir saya. Mr. Rigen mulai kumat berfilsafat nasib wong cilik-nya. Tapi biar saja. Bukankah itu cara dia atau mereka untuk menyalurkan unêg-unêg mereka ? Kalau berfilsafat nyaring saja tidak kita bolehkan, bisa-bisa meledak seperti mahasiswa Cina di Tiananmen, bagaimana, hayoo ?

“Sudahlah Pak Joyo. Sekarang ngaso saja dulu di sini. Di luar panasnya ngêntak-êntak. Di sini setidaknya ‘kan teduh. Nanti saya bikinkan kopi nasgitêl.”

“Wah … matur nuwun, matur nuwun, Mas Rigen. Kalau roti santên ini bukan barang dagangan pasti sudah saya suguhkan untuk menemani kopi nasgitêl sampéyan, Mas Rigen. Tapi karena … “

“Sudah, sudah … nggak usah repot-repot. Simbok-nya Beni kayaknya tadi nggorèng pisang sama ketela rambat. Dan sebentar lagi ada sepakbola antara Jepang lawan Indonesia. Lumayan buat hiburan, Pak Joyo.”

Pak Joyo ketawa agak keras yang cukup mengagetkan kita semua.

Woalahh, Mas Rigen ! Wong hiburan kok ya nonton bal-balannya PSSI, to ? Tiwas mangkin anyêl saja.”

“Lho, tergantung dari mana kita melihat, Pak Joyo.”

Lha, dari mana, Mas Rigen ?”

“Ya, dari segi lucunya. ‘Kan lucu to PSSI itu, Pak Joyo. Mosok bal-balan kok tidak pernah menang. Mungkin intruksi pelatih dan pengurusnya begitu. Intruksi, Pak Joyo. Intruksi.”

Saya mulai anyêl kalau Mr. Rigen juga kumat memakai kata-kata asing seenak ilat-nya.

“Intruksi … intruksi. Instruksi. In – struk – si ! Ayo betulkan !”

Ha, ênggih. In – truk – si. Intruksi !”

Bal-balan itu pun dimulai. Seperti telah diramalkan oleh mereka, PSSI tampil begitu jelek dan rapuh. Begitu tidak berdaya, begitu ajaib bloonnya. Saya perhatikan reaksi serta komentar Mr. Rigen dan Pak Joyo. Kedua juga kelihatan jengkel, anyêl.

Lha, pripun kalau begini ini, Mas Rigen. Saya ‘kan sudah bilang tiwas anyêl nonton bal-balan PSSI itu. Di-grujuk uang, latihan dan pertandingan di luar negeri. Eh, kok ya begituuu saja, lho. Terus kalo nonton begini ini lucunya di mana, Mas Rigen. Hayooo ?”

Mr. Rigen agaknya anyêl juga dirinya ditunjuk hidung begitu oleh Pak Joyo.

“Lucunya, Pak Joyo ? Lucunya ? Ya, lihat sampéyan anyêl itu lo, lucu !”

Keduanya lantas tertawa bersama-sama. Saya pun lantas ikut-ikutan mencerca PSSI.

“Saya usul untuk sementara PSSI diistirahatkan total dari seluruh pertandingan untuk waktu sepuluh tahun. Kalo ketahuan ada pemain PSSI yang main, dihukum berat seperti menghukum mereka yang salah karena subversi.”

Mereka, mak jênggirat, melihat saya dengan wajah kaget. Kemudian wajah itu membayangkan kejengkelan yang aneh, juga ketersinggungan. Saya kira dengan ikut nimbrung maki-makian mereka terhadap PSSI, akan menambah gêr-nya suasana. Eh, … kok begini reaksi mereka.

Pripun, Pak ? Dospundi, Pak ? Bagaimana, Pak ? PSSI diistirahatkan total ? Ayakk … panjênêngan itu sio-sio, sewenang-wenang namanya. Kami keberatan !”

Elho … ? Saya ‘kan cuma memperkuat kejengkelan kalian saja to, Gen ?”

Ha, ênggih. Ning jangan kêjêm-kêjêm begitu to, Paak. Mentang-mentang panjênêngan itu sudah jumênêngan jadi propésok kok terus begitu, lho ? Ha, mbok gobloknya kayak apa pemain-pemain bola itu ‘kan ya rakyat kecil yang cari makan to, Pak. mBok panjênêngan kasih kesempatan mereka untuk maju.”

Elho … ? Ini bagaimana, to ? Saya pikir saya ini ada di pihakmu ikut ngêrocok PSSI yang tidak becus. Nah … itu, tuh, lihat, bolanya malah dioperkan mungsuh. ‘Kan péngkor-péngkor semua kakinya, to ? Kok sekarang kamu malah berkobar-kobar membela mereka ?”

Ha, ênggih péngkor semua. Ning panjênêngan kok ikut-ikutan kita ?”

Saya terkesima. Ngungun. Terheran-heran. Wah … berat ini. Saya sudah memasuki dunia prive mereka yang sungguh tidak me-mudhêng-kan ! Bertentangan dengan logika. Tapi, betulkah itu bertentangan dengan logika ? Bahwa mereka ingin memiliki dunia mereka yang paling privat, di mana akhirnya mereka bisa bilang,’ini duniaku, lho ! Jangan ikut-ikutan !’
Saya dengar mereka berteriak lagi.

Oalaahhh … PSSI, PSSI ! Bénto, guoblok kok ora uwis-uwis. Sudah masuk saja sekalian sana. Kaki péngkor semua !”

Hampir saja saya ikut-ikutan mencerca, mengerocok PSSI. Tetapi, mata Mr. Rigen dan Pak Joyoboyo melihat kepada saya. Saya pun lantas mengurungkan niat saya. Saya tahu mereka tidak mau diganggu kenikmatan atas kejengkelannya. Wah, … kejengkelan saja, kok ya kenal kelas, lho ….

Yogyakarta, 13 Juni 1989

*) gambar dari solopos.com

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

akar rumput

tulisan ala kadarnya refleksi kehidupan dari akar rumput

My not–so–Secret Journal

thoughts, feelings, desires, passion, and some rambling!

PAUS ANTARTIKA

Kita akan bertahan!™

The BroNeo

cerita biasa dari orang biasa

Munajat Sang Pendamba

Tuhanku, gemintang langit-Mu telah tenggelam, Semua mata makhluk-Mu telah tertidur, tapi pintu-Mu terbuka lebar buat pemohon kasih-Mu. Aku datang menghadap-Mu memohon ampunan-Mu, Kasihi daku . . . .

ZeDeen

Rumahku Katanya Sih Surgaku : tentang perjalanan hidup lelaki kecil dan bahteranya

jendelakusam

"Pendar mata Sebuah catatan tolol, tentang perjalanan kehidupan dan segala macam penghidupannya"

lagilagi81.wordpress.com/

KEBAHAGIAAN HIDUP BUKAN SEKEDAR DARI AGAMA

Counting Down

The journey of my life...

Catatan Dahlan Iskan

dahlaniskan.wordpress.com

%d blogger menyukai ini: