Sore – Sore Di Beranda

sore hari (panoramio.com)APAKAH Anda meluangkan waktu sore-sore Anda dengan duduk-duduk nglaras di beranda, sembari nyêruput teh nasgitêl, panas-lêgi-kênthêl ? Atau teh dengan kêbo ndêrum, kerbau berendam di air, teh dengan gula batu yang dibiarkan menggeletak tanpa diusik oleh sendok ?

Waktu begitu langit mulai temaram di barat, mulai teduh dan angin semilir sejuk. Anak-anak sudah mandi dan bermain di pelataran rumah. Anda berdua nyêruput lagi sesendok, dua sendok, seteguk demi seteguk, sruup … sruuupp. Kadang-kadang tangan Anda akan merogoh stoples memancing kue kering atau kacang goreng. Terus kriuk … kriuukk … kriuuukkk. Memandang lagi ke palataran. Ah, … anak-anak masih ceria bermain.

Betulkah Anda masih melewati sore-sore Anda dengan panorama demikian ? Kalau masih, berarti Anda adalah sisa-sisa turunan laskar priyayi beambtenstaat, negara teater birokrasi. Bagaimana tidak ?! Itulah modal rileks zaman penjajahan dulu. Tidur siang antara pukul dua hingga pukul setengah empat atau empat sore. Sisa waktu menjelang matahari terbenam itulah waktu nglaras sore-sore gaya para elite birokrasi di negara tropis.

Jelas itu bukan warisan nenek moyang petani tradisional kita. Sore-sore begitu, pak tani berada di sawah mereka untuk ronde kedua sesudah makan siang dan istirahat sebentar mereka. Sore-sore begitu, pak tani turun lagi ke sawah untuk mengecek macam-macam keadaan di sawah mereka. Melihat parit sawah, melihat memedi sawah sarat dihinggapi burung atau tidak, melihat apakah tikus-tikus sawah sudah mulai bermunculan dan sebagainya lagi. Waktu pulang, matahari sudah nyaris terbenam. Kaki dan tangan mereka mungkin masih belepot lumpur. Pasca kerja adalah waktu untuk langsung saja makan malam, yang biasanya juga sederhana. Omong-omong dengan keluarga terus langsung masuk sênthong untuk tidur.

Hidup rutin para petani kita mungkin masih mirip betul dengan dunia Gelombang Pertama dari Alvin Toffler pada awal-awal perkembangannya dulu. Atau tidak ? Sebab sekarang sudah ada KUD, PKK dan sebagainya itu. Mosok rutinitasnya masih begitu saja ? Bagaimana pun kesibukan itu adalah tetap sulit untuk membayangkan pak tani melewatkan sore-sore mereka dengan nyêruput teh nasgitêl sembari memandangi anak-anak mereka main di pelataran rumah.

Saya, Pak Ageng, adalah keturunan êmbah yang setengah petani setengah priyayi (guru desa bukankah sudah terhitung priyayi juga ?) dan keturunan ayah yang sudah jadi priyayi betulan (guru HIS bukankah priyayi betul ?) dan bukan petani lagi.

Maka sore-sore itu, karena saya keturunan priyayi beambtenstaat dan sekarang anggota KORPRI yang taat, adalah juga sore-sore seperti sore-sore orang tua saya. Sore-sore, saya juga akan krêngkêt-krêngkêt bangun pada jan empat sore (kadang-kadang malah jam lima), lantas malas-malasan masuk kamar mandi terus gêbyur-gêbyur mandi, terus duduk di kamar depan nyêruput yang tidak lêgi dan tidak kênthêl tetapi hanya panas saja. Sendiri, sesekali memandang ke pelataran melihat Beni Prakosa pêthakilan, jumpalitan tanpa pola.

Langit memang temaram, angin semilir sejuk, tetapi di mana roso nyês, roso cês, di hati kita memandang semua itu ? Kok seperti memandang pigura lanskap yang dijaja di pinggir jalan itu saja ?

“Gen, … Mister Rigeeennn … !”

Yes, eh .. ênggih. Kulooo, dalêêm !

“Ke sini bentar. Coba duduk di samping sini. Aku mau tanya tentang roso.”

Roso, Pak Ageng ? Roso ?

Yes ! Roso !

Wadhuh ! Roso ?!

Iyo, iyo ! Bêdhès, kii !

“Lho, Pak. Bêdhès ?

Iyo, iyo. Bêdhès ! Ro – so, Geenn. Roso !

Enggih … ênggih. Roso ! Silakan, Pak. Roso.”

“Kalau kita duduk sore-sore begini, langit barat temaram merah. Angin sejuk semilir. Melihat anakmu dolanan di pelataran. Kadang-kadang menyanyi Garuda Pancasila. Bagaimana rosomu, gen ? Roso, Gen. Roso. Terasa mak nyês, mak cês apa tidak ?”

Kemudian saya lihat Mr. Rigen memandang ke depan. Memang langit semangkin memerah, angin terasa sejuk. Beni Prakosa masih pênthalitan. Saya lihat Mr. Rigen memegang-megang dadanya.

mBotên niku, Pak. Tidak terasa mak nyês dan mak cês itu, dada saya.”

Dhapurmu ! Bukan di dada begitu, bénto ! Coba pejamkan pelan-pelan matamu. Terus bayangkan langit itu, roso angin sejuk itu, anakmu dolanan.”

Saya melihat Mr. Rigen memejamkan matanya, tetapi kemudian segera mêlèk lagi.

“Iya, saya melihat semua itu, Pak. Ning tetap tidak merasa mak nyês dan mak cês itu, Pak.”

“Oohh … dasar kamu memang pêkok, kok ! Kamu melihat anakmu dolanan itu sênêng apa tidak ? Bahagia apa tidak ?”

Sênêng, Pak. Ning bahagia itu to, Pak ? Wong lihat anak dolanan saja lho, Pak.”

Lha, kalau lihat langit merah dan angin sejuk semilir itu, apa kamu merasa lam-lamên, takjub atau tidak, Gen ?”

Walaahh … Paakk, Pak. Wong langit itu kalau sore ya sudah dikêrsakaké Gusti Allah dicat warna merah, lho. Apa mau warna lain ? Wong Gusti Allah maunya begitu, lho.”

Gêblêg kowé ! Ya, sudah sana ! Aku mau makan di rumah makan Masih Sepuluh. Kamu jaga rumah !”

Di luar langit semangkin memerah dan memerah. Saya lihat Mr. Rigen berdiri di ambang pintu, didampingi istrinya yang sedang menggendong si orok Septian dan Beni yang sudah selesai main. Dari jip saya lihat di ambang pintu itu ketiga soko guru rumah tangga saya berdiri tegak seakan-akan siap betul menjaga keselamatan seluruh rumah saya. Hati saya ayêm, adhêm. Bahkan terharu. Padahal Mr. Rigen menyatakan tidak merasa apa-apa menjadi bagian dari panorama jagad yang dahsyat itu.

Kalau Mao Zedong gelisah menjelang kematiannya dengan menggumam secara puitis, ‘langit sudah merah semua, tetapi siapa yang akan menjaganya?’ Saya akan menyaingi Mao Zedong, ‘langit semakin merah, Mr. Rigen bersama Beni Prakosa yang akan menjaganya ….’

Jip saya starter. Jrèkk … cêr … blêpp … blêpp … blêpp … mandêg. Saya coba lagi, jrèkk … cêr … blêpp … blêpp … èwèr … èwèr … èwèr ….

Jip saya semangkin tua, siapa yang akan menggantikannya ….

Yogyakarta, 6 Juni 1989

*) gambar dari panoramio.com

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

akar rumput

tulisan ala kadarnya refleksi kehidupan dari akar rumput

My not–so–Secret Journal

thoughts, feelings, desires, passion, and some rambling!

PAUS ANTARTIKA

Kita akan bertahan!™

The BroNeo

cerita biasa dari orang biasa

Munajat Sang Pendamba

Tuhanku, gemintang langit-Mu telah tenggelam, Semua mata makhluk-Mu telah tertidur, tapi pintu-Mu terbuka lebar buat pemohon kasih-Mu. Aku datang menghadap-Mu memohon ampunan-Mu, Kasihi daku . . . .

ZeDeen

Rumahku Katanya Sih Surgaku : tentang perjalanan hidup lelaki kecil dan bahteranya

jendelakusam

"Pendar mata Sebuah catatan tolol, tentang perjalanan kehidupan dan segala macam penghidupannya"

lagilagi81.wordpress.com/

KEBAHAGIAAN HIDUP BUKAN SEKEDAR DARI AGAMA

Counting Down

The journey of my life...

Catatan Dahlan Iskan

dahlaniskan.wordpress.com

%d blogger menyukai ini: