Nonton Bal-Balan Tengah Malam

ac milan vs steaua bucharestWAKTU TVRI mengumumkan bahwa pertandingan AC Milan melawan Steau Bucharest akan disiarkan, saya dan Mr. Rigen segera menyambut dengan sangat gembira. Sebagai pecandu sepakbola, pertandingan besar seperti ini tidak mungkin kita lewatkan. Tetapi waktu diumumkan bahwa pertandingan itu akan berlangsung pada pukul 01.00 pagi, jadi agak gamang juga saya. Pukul 01.00 pagi adalah waktu sedang nyenyak-nyenyaknya orang tidur dan kadang-kadang juga sedang mimpi yang menyenangkan. Saya memutuskan untuk tidur saja. Tetapi, Mr. Rigen dengan penuh semangat mencegah saya.

“Lho, panjênêngan itu bagaimana. Ini pertandingan sampinyon lawan sampinyon. Orang sak ndonyå pada menyaksikan semua.”

Sampinyon … sampinyon … ! Sampinyon itu jamur yang dimasak, Mister ! Memangnya ini pertandingan antar koki restoran apa ? Champion. Cèmpiyên. Cèmpiyên itu artinya juara. Jadi antara juara lawan juara. Cèmpiyên !

Ha, ênggih niku. Sampiyên. Jadi rak ya penting to, Pak ? Perkara mengantuk, anggap saja ini sahur. Bapak ‘kan masih banyak to, hutang puasanya ?”

Hussy … aku ini waktu itu banyak uzur begitu lho, Mister.”

Halahh, uzur. Sekarang ‘kan sudah tidak uzur lagi. Sudahlah, nanti Bapak saya bangunkan.”

Saya menyerah, lalu menuju ke kamar tidur untuk mulai tidur. Waktu kemudian saya gêragapan bangun, saya lihat jam sudah menunjukkan pukul 01.15. Wahh … cilåkå ini ! Mr. Rigen pasti lupa membangunkan saya. Saya sudah mau tidur lagi saja. Tetapi, kemudian saya lihat lobang-lobang ventilasi kamar makan kok masih gelap. Juga sunyi sepi, tidak kedengaran suara teve. Saya keluar. To, rak betul ! Mr. Rigen masih tidur nyenyak. Dari dapur saja sudah begitu jelas kedengaran dengkurannya yang melodius. Rupanya ia meremehkan beratnya tugas sehari-hari menjadi direktur kitchen cabinet saya. Baik secara fisik maupun mental tugas tersebut sangat melelahkan jebolan SD Pracimantoro itu. Begitu demanding, begitu menuntut segala tugas kitchen cabinet di rumah saya itu.
Pintu Mr. Rigen segera saya gedor. Saya tidak mau disalahkan besok pagi.

“Ayo bangun, bangun ! Ayo, siapa yang kemarin ngotot untuk nonton bola !”

Mr. Rigen meng-ucêk-ucêk matanya yang ber-blobok di sudut-sudutnya.

Wontên kêrså mênåpå, Pak ?”

“Ohh … rupamu ! Yang berkobar-kobar usul kita harus nonton AC Milan lawan Steaua Bucharest kemarin siapa ? Wonten kêrså mênåpå, wontên kêrså menåpå. Jelas situ yang punya kêrså. Ayo bangun, lihat ! Aku sudah terlanjur bangun, nih !”

Mendengar kata AC Milan dan Steaua Bucharest, mak jênggirat Mr. Rigen byayakan lari ke ruang tengah, menghidupkan lampu dan teve.

“Wahh … sudah berapa-berapa, nih ?”

Hayahh … pakai panik segala. Lihat baik-baik di layar, belum main begitu, kok.”

Mr. Rigen langsung duduk bersila ngêdhêpês di tikar, di depan teve. Mukanya cerah tidak mengantuk lagi, meskipun di sudut-sudut matanya masih terlihat blobok-blobok. Meski demikian dia masih menggerutu juga.

Halahh … Edy Sopyan sama Aswar Hamid kok ndobos terus. Tiori, tiori !

“Ehh … pagi-pagi kok memarahi pakar-pakar bola. Mereka itu pakar lho, Gen. Ahli tênan, jangan kau hina !”

Halahh, pakar napa ? Wong ngomongnya tidak me-mudhêngkan rakyat, tur tebakannya mbêlèsèt terus ! Begitu kok pakar. Lha niku, bal-balan sudah mulai kok masih ndobos terus ?!”

Akhirnya kami memusatkan perhatian ke teve. Menonton penuh dengan decak kagum akan kehebatan Gullit dan van Basten. Blêng, blêngg, blêêngg. Secara beruntun Bucharest kebobolan. Tidak nyana, Bucharest yang juga hebat itu bisa remuk oleh dua sinyo Belanda itu. Sesudah blêng satu kali lagi, AC Milan bermain kampungan. Buang-buang bola dan ngênyèk lawan mainnya. Saya jadi kehilangan selera. Kok seperti bal-balan antara PS Mblunyah Cilik lawan Mblunyah Gedhe saja, lho. Jangan-jangan nanti ada yang tiru-tiru Eli Idris me-mlorotkan celana kolornya dan menodongkan pistol banyu-nya.

Paginya, saya menderita habis-habisan. Sudah terbiasa bangun pukul setengah enam, pagi itu ya bangun setengah enam. Sekali lagi, saya mesti membangunkan sang direktur kitchen cabinet. Kalau beliau itu lebih konsisten dengan niat tubuhnya. Mau bangun dan tidur kapan saja, sang tubuh itu akan patuh.

Heh … bangun, bangun. Mr. Rigen, Mrs. Nansiyem, Beni … bangun, bangun !”

Eh … malah si ragil Septian yang menjawab. Meracau pagi minta jatah tetek ibunya. Semuanya bangun dan rutinitas rumah tangga Kiai Ageng pun dimulai.

“Wahh … bal-balan kok seperti itu ya, Pak ?”

“Seperti itu bagaimana, Gen ?”

Ha, ênggih. Wong hebat begitu kok jiwanya tidak Pancasilais lho, AC Milan itu.”

Lha, iya. Wong mereka tidak mendapat penataran P4. Kalau PSSI ‘kan dapat. Malah dulu pernah dicoba bal-balan Pancasila.”

Jaann, heran saya. Meski sudah menang, mbok ya jangan ngênyèk dan menyepelekan lawan ya, Pak ? Tapi, ngomong-omong, Pra Piala Dunia antara PSSI lawan Korea Utara kok tidak disiarkan ya, Pak ? ‘Kan bal-balan bangsa dhèwèk ?

“Nahh … itu aku juga ora mudhêng, Gen. Mungkin karena bukan cèmpiyên lawan cèmpiyên. Ini baru kemungkinan lho, Gen.”

Yogyakarta, 30 Mei 1989

*) gambar dari bigmatchfootballprogrammes.com

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

akar rumput

tulisan ala kadarnya refleksi kehidupan dari akar rumput

My not–so–Secret Journal

thoughts, feelings, desires, passion, and some rambling!

PAUS ANTARTIKA

Kita akan bertahan!™

The BroNeo

cerita biasa dari orang biasa

Munajat Sang Pendamba

Tuhanku, gemintang langit-Mu telah tenggelam, Semua mata makhluk-Mu telah tertidur, tapi pintu-Mu terbuka lebar buat pemohon kasih-Mu. Aku datang menghadap-Mu memohon ampunan-Mu, Kasihi daku . . . .

ZeDeen

Rumahku Katanya Sih Surgaku : tentang perjalanan hidup lelaki kecil dan bahteranya

jendelakusam

"Pendar mata Sebuah catatan tolol, tentang perjalanan kehidupan dan segala macam penghidupannya"

lagilagi81.wordpress.com/

KEBAHAGIAAN HIDUP BUKAN SEKEDAR DARI AGAMA

Counting Down

The journey of my life...

Catatan Dahlan Iskan

dahlaniskan.wordpress.com

%d blogger menyukai ini: