Tentang Ketergantungan

prt (phesolo.wordpress.com)HARI Minggu kemarin, Pak Joyoboyo yang sudah beabad-abad tidak menongolkan diri, tiba-tiba begitu saja berdiri di ambang pintu ruang tamu sambil berteriak,

Pènggèng Èyèm !

Saya dan Mr. Rigen yang sedang duduk bermalas-malasan, tentu saja terkejut,

“Wah, bolehnya bantas seperti mercon long.”

Lha, jênèh Bapak nyatru, njothak, memboikot saya lama sekali.”

“Iya, lho, Pak Joyo. Nggih ngapuranè mawon, Pak Joyo. Mumpung masih dalam hari-hari lebaran, dimaafkan saja, yah ?”

“Oh, nggih. Sami-sami. Tapi, terus dipundhuti to, ayam panggangnya ?”

“Ya, iya. Gen, mana piring-piringnya ?!”

Waktu Mr. Rigen kembali membawa piring, Beni Prakosa ternyata belum lupa dengan kebiasaannya ikut juga masuk dengan membawa piring kecil.

“Lho, untuk apa piring kecil itu, Dhès ? Memangnya kamu ikut diundang ?”

Beni Prakosa pun, seperti biasa penuh dengan rasa percaya diri,

“Lho, kalo Pak Joyoboyo datang, Beni ‘kan dapat jatah sate usus dua to, Pak Ageng. Ini piringnya !”

Dengan tegas pula piring kecil itu disodorkan kepada Pak Joyoboyo,

Niki piringnya, Pak Joyo. Dua sate usus yang gêdhé-gêdhé !

Saya tersenyum dengan rasa anyêl akan keprcayaan dirinya.

Dhapurmu, Lé ! Kamu kira kamu itu siapa to, Lé, Lé !

Beni Prakosa Cuma meringis, tidak tahu apa maksud pertanyaan Bapaknya yang abstrak bin metaforik itu. Mungkin dalam hatinya, Beni hanya mengatakan,

“Pokoknya ‘kan dapat sate usus … !”

Mr. Rigen yang sudah agak lama tidak bertemu dengan rekan sesama filsuf itu mulai membuka dialog.

Wéhhh, Pak, ke mana saja selama ini ?”

Ayakkk … sampéyan itu. Wong saya sering lewat sini teriak-teriak ‘pènggèng èyèm’, sampéyan nggak mau keluar.”

Mr. Rigen tertawa ngakak.

Lha, wong saya itu ‘kan tergantung bos to, Pak Joyo. Kalo bos kasih komando panggil pènggèng èyèm, saya ‘kan pasti akan panggil. Kalo bos sedang pulang ke Jakarta, ya saya mau apa to, Pak Joyo ?”

Pak Joyoboyo manggut-manggut.

“Iya, ya. Kita wong cilik itu hidupnya tergantung sama bos.”

Saya terkejut mendengar pernyataan itu. Begitu tergantungkah mereka sama boss ? Rasa-rasanya Mr. Rigen itu saya beri kebebasan penuh jadi dirjen kitchen cabinet saya. Mau apa saja dia bisa. Tetapi pernyataan Pak Joyo yang semi filosofis itu kok begitu pasrahnya.

“Masa iya, to, Pak Joyo. Sampèyan tergantung betul sama bos, to ? Mosok, to ? Kan sampèyan jualan begini tidak terlalu tergantung sama bos ?”

Ayakkk, Bapak kii, mau ngayêm-ayêmi ati-nya wong cilik. Tidak tergantung pripun, to, Pak Ageng ?”

Wooo … kalau melihat tergantung begitu, ya semua orang tergantung sama bos, begitu. Saya pun tergantung sama bos, Prof. Lemahamba tergantung sama bos, Doktor Legowo Prasodjo tergantung sama bos.”

Lha, memang begitu, Pak Ageng, maksud saya. Cuma bos yang satu tidak sama dengan bos yang lain. Tergantung yang satu tidak sama dengan tergantung yang lain.”

Saya tercenung sebentar. Orang ini boleh juga artikulasinya. Micårå. Pak Joyoboyo meneruskan pidatonya.

“Tergantungnya Pak Ageng, Prof. Lemahamba dan Doktor Legowo itu ‘kan lain dengan tergantungnya saya dan Mas Rigen, Pak. Kalo kami wong cilik ini benar-benar tergantung, tung, tung, tênan, Pak !”

Saya tertawa, ingat bagaimana saya sering kali jengkel betul dan rasa tergantung saya dengan tempat saya bekerja. Tetapi, bagi mereka, wong cilik itu, ketergantungan saya dan rekan-rekan saya itu dianggap ketergantungan nisbi atau bahkan semu.

Woo … Pak Joyo. Saya itu ya tergantung seperti sampèyan. Ning memang saya sering kali masih bisa bolos atau ngibuli kantor saya.”

Lha, rak betul, to ! Kalau kami wong cilik itu sering kali mbolos, terus pripun ? Saya langsung dipecat nyonyahé juragan. Mas Rigen langsung Bapak pecat. Rak ênggih, to ?!”

Loh, kalau Mr. Rigen itu lain lho, Pak Joyo. Dia itu dirjen yang sak bebas-bebasnya. Mau apa saja, dia bisa. Saya malah yang sesungguhnya diperintah dia.”

Sekarang giliran Mr. Rigen yang tertawa ngakak.

Saèstu nåpå, Pak Ageng ? Kalau saya mbolos kerja terus sak brayat dolan ke Praci boleh apa ? Jênèh kalang kabut ekonominya rumah ini !”

Lha, ya itu yang saya sebut dengan tidak tergantung. Kowé menguasai ekonomi rumah ini.”

Lha, ning saya tetap tergantung sama Bapak, kok. Yang punya kuasa itu Bapak. Kami wong cilik itu tahunya hanya harus bertanggung jawab dengan pekerjaan. Tidak kuasa apa-apa. Yang kuasa itu bapak-bapak yang pegang dana itu, to ?!”

Wah ! Saya jadi takjub mendengar dan melihat kedua orang itu. Mereka itu filsuf Marxis atau apa ? Yang mereka omongkan itu ‘kan soal penghisapan kelas yang pegang duit ! Jangan-jangan …..

Hari sêmangkin siang. Saya pun sêmangkin lapar kepingin sarapan.

“Geen, sarapannya diatur. Saya kêpingin sarapan sama panggang ayam. Dhådhå mênthok-nya, ya ?”

“Jangan, Pak. Dhådhå mênthok-nya buat nanti siang saja. Saya sudah terlanjur bikin nasi goreng. Bapak sarapan sama nasi goreng saja !”

Saya kaget. Êlho …. !

Yogyakarta, 16 Mei 1989

*) gambar dari phesolo.wordpress.com

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

akar rumput

tulisan ala kadarnya refleksi kehidupan dari akar rumput

My not–so–Secret Journal

thoughts, feelings, desires, passion, and some rambling!

PAUS ANTARTIKA

Kita akan bertahan!™

The BroNeo

cerita biasa dari orang biasa

Munajat Sang Pendamba

Tuhanku, gemintang langit-Mu telah tenggelam, Semua mata makhluk-Mu telah tertidur, tapi pintu-Mu terbuka lebar buat pemohon kasih-Mu. Aku datang menghadap-Mu memohon ampunan-Mu, Kasihi daku . . . .

ZeDeen

Rumahku Katanya Sih Surgaku : tentang perjalanan hidup lelaki kecil dan bahteranya

jendelakusam

"Pendar mata Sebuah catatan tolol, tentang perjalanan kehidupan dan segala macam penghidupannya"

lagilagi81.wordpress.com/

KEBAHAGIAAN HIDUP BUKAN SEKEDAR DARI AGAMA

Counting Down

The journey of my life...

Catatan Dahlan Iskan

dahlaniskan.wordpress.com

%d blogger menyukai ini: