Keranjang Lebaran

parcel-lebaranBEBERAPA relasi mass media telah sangat bermurah hati mengirimkan keranjang-keranjang lebaran. Buat seorang pegawai negeri yang pendapatannya melulu dari gaji sebagai pegawai, tentulah hadiah ekstra begitu saya terima dengan rasa syukur. Eh, … kok masih banyak juga orang yang baik hati di dunia ini, lho !

Tetapi jangan dikira kalau keranjang yang begitu indah, berwarna-warni berisi segala macam kaleng makanan dan botol minuman akan selalu dapat Anda asosiasikan dengan rasa senang melulu. Saya pernah menyaksikan bagaimana keranjang lebaran yang begitu menyenangkan itu pernah membuat seseorang menjadi agak miring kalau tidak miring sekali.

Orang tersebut pernah mempunyai reputasi yang sangat harum dalam revolusi. Penyandang bintang gerilya dan entah bintang-bintang apa lagi. Lama sekali kami tidak pernah bertemu karena masing-masing mengikuti cakra mênggilingan-nya sendiri-sendiri. Eh, … tahu-tahu waktu saya pindah ke Jakarta, kami bersebelahan rumah di satu kompleks perumahan. Tentu saja kami sekeluarga senang. Lha wong ketemu konco lama, lho ! Orangnya masih gêdhê pidhêksa, cuma usia tentu saja dengan kurang ajarnya me-mrèthèli beberapa onderdil tubuhnya.

Ternyata beliau sekarang menjadi salah satu big shot, orang gede, di salah satu departemen. Kalau istilahnya sekarang, eselon pertama. Lha, … kan gede betul itu namanya. Karena saya kenal betul reputasinya serta kemudian slênting-slênting juga kecemerlangan studi dan karirnya, kami sekeluarga menganggap wajar-wajar saja kalau sekarang beliau menduduki jenjang yang begitu tinggi. Kadang-kadang kami sering main juga ke rumahnya yang lumayan juga mewahnya, paling tidak menurut ukuran saya. Dan ukuran itu simple saja, kok. Rumah yang dipenuhi dengan barang-barang elektronik canggih dan segala gadget mutakhir sudah cukup bagi saya untuk mengecap rumah itu mewah. Wong saya tidak pernah memiliki yang begitu-begitu.

Pada waktu Lebaran, saya sebagai kawan lama yang lebih muda, tentu saja kami sekeluarga yang datang ke rumahnya untuk bersilaturahmi, mohon maaf lahir dan batin. Dan itu selalu menyenangkan. Hidangan yang digelar di meja selalu yang sedap-sedap saja. Juru masaknya khusus didatangkan dari Yogya dan Solo. Masakannya khas Jawa Tengah yang nyuusss itu. Gudeg manggar, nasi liwet gaya Baki, gudeg Yogya gaya kering dan gaya basah, sosis Solo, timlo jamur kuping, waahhh … pokoknya siippp tênan ! Tentang kue dan minuman jangan tanya lagi. Spekuk, spekuk, spekuk, black forest, black forest, black forest. Coca-Cola, Fanta , Sprite berkrat-krat. Setrup Marjan, Sarang Sari dan entah apa lagi.

Tetapi, yang juga amat mengesankan adalah hiasan waktu lebaran di ruang tamu mereka. Ruang tamu itu dipenuhi oleh keranjang-keranjang. Semuanya besar dan meyakinkan, baik dari sudut kuantitas dan kualitas. Dari kartu-kartu yang tertempel di keranjang-keranjang tersebut kita bisa melihat bahwa pengirimnya kebanyakan adalah CV ini dan itu, PT ini dan itu, PN ini dan itu.

Waktu itu anak-anak kami masih bersekolah di SD dan SMP. Mereka akan (malu-maluin bênêr) mengamat-amati deretan keranjang itu dan saling berdebat keranjang mana yang paling hebat. Kami benar-benar malu kalau mereka sudah mulai begitu. Tetapi, tuan dan nyonya rumah rupanya malah senang.

“Ayo, ayo, pilih saja mana yang paling kalian sukai. Boleh bawa pulang.”

Mula-mula kami terkejut malu dengan tawaran yang begitu generous.

“Ah, … apa-apaan, Mas. Mosok keranjang kiriman orang kok disuruh mbrêkat.”

Elho … ! Lha, keranjang-keranjang ini apa dan siapa kalau tidak untuk menyenangkan teman, tetangga dan sanak saudara. Mosok kami akan bisa menghabiskan ini semua. Ambil, nDuk. Ambil, cah ayu.”

Dan dasar si Gendut. Tanpa wigah-wigih dia menunjuk pada salah satu keranjang yang paling besar dan mengesankan. Wah, … malunya kami.

“Nah, … begitu, nDuk, pintêr. Ini ada spekuk-nya yang istimewa, lho. Bawa, nDuk, bawa … “

Dan di rumah, waktu kami buka memang tidak mengecewakan keranjang itu. Isinya bermacam-macam dan semuanya serba mak nyusss ! Rasa malu kami sekejap hilang berganti dengan rasa syukur sudah mendapat tambahan rejeki.

Tetapi, menjelang Lebaran tahun berikutnya, tiba-tiba kami mendengar bahwa teman dan tetangga baik kami itu diberhentikan dengan hormat dari jabatannya. Beliau dipercepat masa pensiunnya. Tentu saja kami terkejut. Gèk apa masalahnya ? Mosok mandar terima keranjang-keranjang Lebaran begitu saja dipecat ? Mosok mandar ngono waé …. Ah, dipecat atau tidak, beliau tetap teman baik dan lebih tua dari kami. Dus, kami tetap sowan waktu Lebaran. Wah, … kami sungguh terkejut bukan main. Ruang tamu itu hanya diisi oleh beberapa keranjang Lebaran saja. Itu pun tidak berapa besar. Anak-anak kami bahkan tidak berani berdiri dekat-dekat keranjang tersebut. Kami tetap diterima dengan ramah. Tetapi, saya lihat ada akspresi wajah yang agak lain pada tuan rumah. Matanya sekarang kok banyak berkedip-kedip nervous.

“Coba lihat, Dik, bangsamu itu !”

“Kenapa dengan bangsa kita, Mas ?”

“Ya itu ! Kalau mau tahu jerohannya mental bangsamu itu, lihat saja keranjang-keranjang Lebaran itu !”

Saya melihat kepada keranjang-keranjang itu.

“Ya, ada apa dengan keranjang-keranjang itu, Mas ?”

“Lho, … katanya sosiolog. Kok nggak bisa baca sasmitå, gejala ?!”

“Wah, … kalau gejala keranjang, Mas …. “

“Ya, justru gejala keranjang itu, Dik. Coba, dulu-dulu waktu saya masih kagêm, terpakai oleh departemen, rata-rata 75-77 keranjang memenuhi ruangan ini. Sekarang hitung saja. Tidak lebih dari 7 huah. Itu pun yang kecil-kecil saja !”

Wah, mulai gawat ini. Saya dan Bu Ageng berpandang-pandangan. Anak-anak kami mêngkêrêt di belakang kami dan nyonya rumah pun jadi ikutan nervous.

“Itulah mental bangsamu, Dik ! Itu ! Kalau sedang butuh nyrêpipih, merangkak-rangkak, mau ngelap sepatu kita. Keranjang Lebaran, wooo …. dipakai bal-balan. Begitu saya tidak kagêm lagi, dipecat, mak thêl, … buang muka semua ! Coba, Dik, itu mental apa ?!”

Kami semua terdiam tidak berani menanggapi apa-apa. Mata tuan rumah masih berkedip-kedip, pêndirangan, nyalang ke mana-mana. Tetapi, kemudian melembut setelah memandangi anak-anak kami.

“Tapi, nDuk, kalian masih boleh pilih keranjang mana yang mau dibawa. Ayooo … yang mana ? Yang merah, yang putih atau yang ijo ? Ambil, nDuk. Ambil, cah ayu. Keranjang Oom masih akan datang banyak sekali. Ayo, nDuk … ambil !”

Kami merasa sangat kikuk, rikuh dan entah apa lagi. Dipaksanya kami menerima satu keranjang dengan ancaman kalau kami tidak mau bawa, maka putus hubungan kami. Di rumah, kami masih mendengar sayup-sayup teriakan beliau, spekuk, spekuuk, spekuuuk …

Lebaran tahun berikutnya, kami tidak perlu datang lagi ke rumah mereka. Beberapa bulan sebelumnya, mereka bêdhol jangkar, pindah mudik ke kota kelahiran mereka. Di Magetan atau mana begitu …

Yogyakarta, 9 Mei 1989.

*) gambar dari parcelonline.com

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

akar rumput

tulisan ala kadarnya refleksi kehidupan dari akar rumput

My not–so–Secret Journal

thoughts, feelings, desires, passion, and some rambling!

PAUS ANTARTIKA

Kita akan bertahan!™

The BroNeo

cerita biasa dari orang biasa

Munajat Sang Pendamba

Tuhanku, gemintang langit-Mu telah tenggelam, Semua mata makhluk-Mu telah tertidur, tapi pintu-Mu terbuka lebar buat pemohon kasih-Mu. Aku datang menghadap-Mu memohon ampunan-Mu, Kasihi daku . . . .

ZeDeen

Rumahku Katanya Sih Surgaku : tentang perjalanan hidup lelaki kecil dan bahteranya

jendelakusam

"Pendar mata Sebuah catatan tolol, tentang perjalanan kehidupan dan segala macam penghidupannya"

lagilagi81.wordpress.com/

KEBAHAGIAAN HIDUP BUKAN SEKEDAR DARI AGAMA

Counting Down

The journey of my life...

Catatan Dahlan Iskan

dahlaniskan.wordpress.com

%d blogger menyukai ini: