Laporan Perjalanan dari Tokyo

gunung-fujiyamaANEH betul ! Waktu menjelang berangkat ke Tokyo, kerongkongan saya memberi sinyal. Awas ! Saudara flu akan datang lagi ! Sinyal itu berupa gatal-gatal terasa di tenggorokan, bersin-bersin dan hidung terasa tersumbat. Wah sialan ! Baru seminggu merasa bebas dari gangguan flu dan sinus, kok sekarang mau datang lagi. Maka, segala persiapan untuk mencegah kedatangan dua saudara spesialis pengganggu tenggorokan dan hidung itu saya lakukan. Benadryl, Vicks gosok, Refagan, vitamin C dan minyak tawon, saya siapkan.

Waktu pesawat JAL lepas landas, di ketinggian yang sekian puluh ribu kaki itu, nah … rak betul ‘kan, batuk mulai datang dengan nada suara G minor. Huukk … huukk … huukk … ! Kung … kung … kung … ! Cêngking … cêngking … cêngking … ! Pramugari Jepang yang gemulai tapi trêngginas itu langsung mendekati saya.

What can we do to make you comfortable, Sir ? Do you have your medicine with you ?

Saking gugupnya saya diladeni pramugari yang seperti putri porselin tapi trêngginas itu saya hanya bisa menjawab,

Yes … yes … yes, Jêng. I have my vicks and tawon oil …

Semalaman saya tidak bisa tidur diganggu batuk dan kerongkongan yang mulai terasa sakit betul. Saya membayangkan bagaimana ini nanti kalau sudah sampai di Tokyo. Musim semi, musim tetumbuhan dan bunga bersembulan keluar. Tetapi, juga angin mengembus dengan arah yang berbalik-balik, cuaca yang tidak dapat ditebak. Hari ini panas, hari berikutnya dingin mendekati titik nol.

Saya ingat, pada zaman mahasiswa di luar negeri dulu, musim semi adalah juga musim berseminya batuk, bersin dan umbêl. Wah, piyé iki ! Padahal pamitnya dengan para bos dan rekan sekantor berangkat ke Tokyo untuk menghadiri seminar dengan target gawat. Yaitu, mendidik Jepang agar jangan kebangetan bolehnya berkembang jadi kapitalis yang sêmangkin kaya, dan sêmangkin kaya terus. Bagi-bagi dong rezekinya yang terus saja nomplok itu. Ikut tanggung jawab dong menjaga keselarasan Asia, menjaga lingkungan kita, memelihara peninggalan peradaban kita, mendorong perkembangan kita, memberi harapan buat generasi muda Asia, dan sebagainya.

Pokoknya pamit saya kepada yang di atas itu, saya dan kawan-kawan lain mau ndukani, memarahi mereka. Sudah waktunya kita Negara-negara Asia Tenggara dan Asia Timur beramai-ramai dukå, agak murka kepada mereka. Lha, wong sugih kok diambil sendiri, lho ! Tetapi, dengan kondisi tubuh yang ringsek begini, mau keluar suara ndukani yang bagaimana ? Suara saya beberapa nada di bawah suara Louis Armstrong dan beberapa nada di atas kodok bangkong.

Akhirnya, pesawat B 747 JAL itu mendarat di pagi buta di lapangan udara Narita. Lho, lha kok waktu saya keluar dari pesawat dan mulai keluar dari bandara, musim semi yang saya bayangkan akan penuh dengan angin léysus ternyata malah musim semi yang cantik sekali. Cuaca bersih seperti langit itu difilter. Baunya harum segar. Dan, lho (dalam bahasa Inggris lo !) yang namanya pilek, batuk, kerongkongan yang sêngkring-sêngkring kok, lap, ilang ! Hidung jadi bolong-plong. Kepala ringan. Pokoknya saya sehat kembali dengan begitu saja.

Di dalam bus menuju kota, saya memandangi jendela. Mosi-mosi Tokyo-san. Kita ketemu lagi. Hallo, concrete jungle. Pencakar langit, ohayo gosaimasu, ohayo gosaimasu. Selamat pagi, selamat pagi. Haik ! Pokoknya begitu meluap kegembiraan hati saya menyambut musim semi yang tidak jadi jelek itu.

Waktu seminar dimulai di Gotemba, desa kecil di kaki gunung Fuji yang puncaknya masih disaput salju, persis di postcard itu, saya semangkin gembira. Solanya dari balik jendela kita bisa melihat puncak gunung Fuji dan sisa-sisa bunga Sakura yama alias bunga Sakura gunung yang sejak beberapa minggu telah bersembulan. Warna bunga yang jambon kepucatan itu dengan latar belakang gunung Fuji, wah … khas Jepang betul.

Dalam seminar memang betul seperti direncanakan. Kita, wakil Negara-negara kéré dan setengah kéré, beramai-ramai mengkritik bahkan mendekati ngrocok sang Jepang yang kaya raya itu. Absurd juga. Yang mengundang untuk datang, Jepang. Yang membiayai semuanya, Jepang. Yang minta dikritik, Jepang. Dan celakanya, dengan senang hati kita mengeroyok mengkritik Jepang. Para pakar dan intelektual Jepang itu dengan air muka tanpa ekspresi mendengarkan serangan-serangan dari RRC, Vietnam, Taiwan, Hongkong dan Negara-negara Asean. Muka mereka membayangkan keseriusan dan keagungan. Tetapi, kadang-kadang sudut bibir mereka méncong sedikit. Sedikit dan sebentar saja. Buat saya itu sudah cukup. Itu, muka itu mau berkata,

“Apa to, Lé, LéWong kita jadi kaya itu karena kita kerja, kerja dan kerja tanpa istirahat sejak kami kalah perang kok. Kok kalian bolehnya sewot ngiri !

Tetapi, orang Asia Tenggara bukan Asia Tenggara kalau tidak dapat merumuskan suatu himbauan yang simpatik buat Jepang. Soedjatmoko, sang pinanditå wicaksånå dari Indonesia itu, merangkum serangan-serangan nylêkit dari kita semua. Jepang pada waktu itu nyaris satu-satunya Negara Asia yang sangat kaya, yang dengan bantuan kita mesti ikut bertanggung jawab menumbuhkan kembali peradaban Asia yang besar dan modern. Dan muka-muka samurai mirip Toshiro Mifune itu mulai kendur dari ketegangan dan keseriusan yang mengerikan. Mereka tersenyum, bukan lagi méncos-méncos bibirnya. Kita semua mesti sama-sama mencoba membangun idiom budaya Asia modern.

Waktu akhirnya kami pulang dan pesawat mendarat di Singapura, di lapangan udara Changi, saya mulai bersin-bersin lagi. Hidung saya tersumbat lagi. Wah … ini selamat datang pertama dari satu Negara dunia ketiga yang menurut ukuran mana saja masuk modern. Kalau sudah di Yogya ? Dan benar saja. Di lapangan udara Adisucipto dan akhirnya di rumah di mBulaksumur. Wah … bersin, bersin, bersin. Selamat pagi udara negaraku. Huukk … huukk … huukk … ! Kung … kung … kung … ! Cêngking … cêngking … cêngking … !
Beni Prakosa menyambut saya di ambang pintu,

“Pak Ageng, Pak Ageng. Di Jepang ketemu Oshin nggak …. ?”

Yogyakarta, 2 Mei 1989

*) gambar dari anneahira.com

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

akar rumput

tulisan ala kadarnya refleksi kehidupan dari akar rumput

My not–so–Secret Journal

thoughts, feelings, desires, passion, and some rambling!

PAUS ANTARTIKA

Kita akan bertahan!™

The BroNeo

cerita biasa dari orang biasa

Munajat Sang Pendamba

Tuhanku, gemintang langit-Mu telah tenggelam, Semua mata makhluk-Mu telah tertidur, tapi pintu-Mu terbuka lebar buat pemohon kasih-Mu. Aku datang menghadap-Mu memohon ampunan-Mu, Kasihi daku . . . .

ZeDeen

Rumahku Katanya Sih Surgaku : tentang perjalanan hidup lelaki kecil dan bahteranya

jendelakusam

"Pendar mata Sebuah catatan tolol, tentang perjalanan kehidupan dan segala macam penghidupannya"

lagilagi81.wordpress.com/

KEBAHAGIAAN HIDUP BUKAN SEKEDAR DARI AGAMA

Counting Down

The journey of my life...

Catatan Dahlan Iskan

dahlaniskan.wordpress.com

%d blogger menyukai ini: