Mr. Rigen dan Sadisme

pukul-pantat-anak (antosalafy.wordpress.com)SORE-SORE di waktu senggangnya Mr. Rigen suka membaca koran-koran atau majalah yang biasanya bertebaran di meja ruang makan. Sambil menata kembali koran dan majalah yang berantakan itu, dia akan membaca berita penting yang terjadi waktu itu.

Sore itu, saya dapati Mr. Rigen duduk tercenung sambil memegang koran Kompas dan Kedaulatan Rakyat.

“Ada kabar apa lagi, Mister ? Kok kamu kelihatan murung ?”

“Wah, saya ini semakin judhêg mikir bangsa saya ini, Pak ?”

“Lho, bangsamu ? Bangsaku juga, to ?”

Enggih … ênggih. Bangsa kita !”

“Ada apa dengan bangsa kita ? Wong sudah baik-baik ber-Pancasila begitu, lho ?”

Lha, justru ber-Pancasila itu, kok masih tega berbuat yang sadis-sadis begini.”

“Sadis itu kalau menurut kamu yang bagaimana, Gen ?”

“Sadis itu, ya yang kêjêm-kêjêm itu, Pak.”

“Misalnya ?”

Lha, ya ini yang di koran ini contoh yang paling jelas. Orang kok bisa-bisanya, tega-teganya, memotong-motong tubuh sesama manusia, lho ?!”

Saya lantas tahu yang dimaksud Mr. Rigen. Yaitu kabar tentang ditemukannya mayat perempuan yang sudah terpoton-potong. Memang mengerikan berita itu. Celakanya bukan baru pertama kali itu terjadi. Beberapa tahun yang lalu juga pernah terjadi pemotongan yang mirip seperti itu. Dipotong-potong, kemudian dipak dalam kardus. Dan sampai sekarang belum ketahuan baik pembunuh maupun identitas korbannya.

“Mungkin itu bukan manungså ya, Pak ? Tapi, bangsanya setan yang doyan makan orang.”

Hallahh … ya uwong, Gen. Kalau ada yang tidak pantês buat orang, kok lantas yang disalahkan setan. Kasihan setannya ‘kan, Gen.”

“Habis kebangetan betul, Pak. Macan di gunung-gunung gundul desa saya saja masih lebih sopan, Pak. Mayat orang, bukan orang hidup, yang digondol dan terus dimakan di guanya. Dan makannya itu sampai bersih, tinggal tulang-tulangnya. Dan korbannya itu mesti ketahuan. Wong bolehnya nggondhol itu dari kuburan. Jadi, pasti ketahuan siapa orangnya yang digondol itu. Ini malah kayaknya mau pamer kebengisan. Hiiihhh … mêngkorok githok saya !”

“Tapi, apa sadisme itu hanya potong-memotong manusia ? Iya to, Gen ? Sadis itu cuma kalau membunuh orang secara kejam.”

Mr. Rigen diam. Mungkin masih ingat harimau-harimau di pegunungan gundul desanya, yang menurutnya masih jauh lebih harimauwi daripada sang pembunuh misterius yang tidak manusiawi.

“Wah iya lho, Pak. Kalo dipikir-pikir membunuh dengan kejem itu tidak usah harus harafiyah mak dor atau mak jus terus klêkêg-klêkêg begitu ya, Pak ?”

“Misalnya ?”

Lha itu, kalo Pak Lurah sama Pak Carik memotongi pembayaran tanah yang terpaksa mesti dijual karena kena gusur pembangunan ? Itu ‘kan juga sadis to, Pak ? Dan yang tega menggorok gaji dan rapelan guru-guru desa itu kurang sadis apa, Pak ? Juga calo-calo transmigran yang belum tentu berangkat ? Itu rak sak kêjêm-kêjêm-nya, sak têgêl-têgêl-nya manungså to, Pak ?”

“Wah … kalau begitu daftarnya bias panjang banget, Mister.”

Ha, ênggih. Lha mbok Bapak neruskan daftar itu. Kalo saya tadi ambil contoh kêjêm-nya, sadisnya orang pangkat kelas bawahan di desa sana, mestinya Pak Ageng bisa nyambung sadisnya yang priyagung-priyagung.”

Saya jadi kaget. Kok tiba-tiba Mr. Rigen menuntut begitu, lho ? Tiba-tiba kok saya diminta ikut tunjuk hidung !

Lha, Bapak kok terus diam to ? Kalo wong cilik minta priyagung tunjuk hidungnya sendiri mesti terus begitu, lho. Monggo to, Pak. mBok jangan rikuh pakéwuh sama saya.”

Dhapurmu ! Yo wis. Karena ini Negara demokrasi Pancasila, ya priyagung kayak saya mesti tidak boleh malu-malu tunjuk hidungnya sendiri. Untuk adilnya ya, Gen ?”

Ha, ênggih begitu, Pak.”

Tetapi, entah mengapa kok saya tiba-tiba jadi bengong sendiri. Lidah ini rasanya kok jadi kelu. Mengapa ? Apakah itu yang disebut solidaritas kelas ? Gerakan tutup mulut untuk melindungi sesama priyagung. Karena priyagung yang satu pasti, lewat satu dan lain jalan, pernah menikmati hasil curian priyagung lain ? Saya masih terus diam memikirkan situasi yang jadi kikuk begitu.

Dospundi, Pak ? Mosok tidak ada, priyagung yang sadis suka motong-motong seperti maling-maling kecil-kecilan di desa, Pak ?”

Huss ! Diam kowé ! Aku ini lagi mikir ! Sing sabar to, Gen !”

Saya bentak begitu, Mr. Rigen jadi mak klakêp, diam. Tetapi, dia masih duduk nglésot di tikar dekat meja cêki bundar. Mukanya meski kelihatan takut, tetapi masih juga menunggu. Wah, pandangan yang begitu dari wong cilik, takut tapi menunggu, sungguh menggelisahkan saya. Dan saya pun masih saja diam seribu bahasa. Diam terus saja diam. Lidah saya masih kelu.

Tiba-tiba, dari arah belakang saya dengar suara hingar-bingar di sela tangis Beni Prakosa. Mr. Rigen mendengar itu langsung mak brabat, lari ke belakang. Naluri macan pegunungan Pracimantoro langsung mencium hal-hal yang tidak beres pada induk dan anaknya, rupanya masih menular pada Mr. Rigen.

Tetapi, belum sampai lima menit Mr. Rigen sudah kembali menghadap saya.

“Wah, kêtiwasan, Pak.”

“Ada apa ? Ada apa ? Belum-belum kok kêtiwasan. Yang kêtiwasan itu apa ?”

“Anu, Pak. Anu … anu, Pak.”

“Anu, anu … anu apa ? Ngomong yang jelas !”

Nyuwun dukå, Pak. Tholé Beni Prakosa ternyata punya bakat sadis luar biasa. Wah, malu kami, Pak. Malu ! Kecil-kecil kok sudah sadis begitu. Gèk yang ditiru itu siapa ?!”

“Sadis bagaimana ? Kamu kok terus ngaco begitu, Gen ?”

Ha, ênggih, Pak. Bagaimana bêdhès itu tidak kêjêm dan têgêl sama Pak Ageng. Empal daging yang tinggal dua potong untuk makan malam Bapak, sudah dia habiskan. Karuan saja ibunya sewot. Ngamuk. Anaknya dihajar. Nyuwun dukå, Pak. Nyuwun dukå !

Saya jadi terdiam lagi. Malah jadi rikuh sama keluarga Mr. Rigen. Ini ada kasus daging empal yang dicuri anaknya, mereka bolehnya minta ampun tidak kira-kira. Dan berani, tidak kira-kira juga, menyebut anaknya sadis, kêjêm dan têgêl.

Ha, ênggih to, Pak. Tholé itu kalo sudah begitu ‘kan tega namanya. Sadis.”

Hallahhh … kamu itu. Begitu saja kok kêjêm dan sadis. Wong empal saja lho, Gen. Lagian anakmu ‘kan masih kecil. Belum nJowo. Sudah sana ke belakang, rêriungan sama anak bojo-mu sana !”

Dalam jip, di perjalanan ke rumah makan Masih Sepuluh untuk makan malam, saya masih tidak habis pikir mengapa saya jadi kelu menyebut sadisme para priyagung. Sedangkan Mr. Rigen, wakil wong cilik itu, dengan polosnya tunjuk hidung anaknya sendiri sebagai anak yang sadis dan kêjêm. Astaghfirullah hal adziim, sudah begitu bisukah kami kaum priyayi ?

Yogyakarta, 18 April 1989

*) gambar dari antosalafy.wordpress.com

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

akar rumput

tulisan ala kadarnya refleksi kehidupan dari akar rumput

My not–so–Secret Journal

thoughts, feelings, desires, passion, and some rambling!

PAUS ANTARTIKA

Kita akan bertahan!™

The BroNeo

cerita biasa dari orang biasa

Munajat Sang Pendamba

Tuhanku, gemintang langit-Mu telah tenggelam, Semua mata makhluk-Mu telah tertidur, tapi pintu-Mu terbuka lebar buat pemohon kasih-Mu. Aku datang menghadap-Mu memohon ampunan-Mu, Kasihi daku . . . .

ZeDeen

Rumahku Katanya Sih Surgaku : tentang perjalanan hidup lelaki kecil dan bahteranya

jendelakusam

"Pendar mata Sebuah catatan tolol, tentang perjalanan kehidupan dan segala macam penghidupannya"

lagilagi81.wordpress.com/

KEBAHAGIAAN HIDUP BUKAN SEKEDAR DARI AGAMA

Counting Down

The journey of my life...

Catatan Dahlan Iskan

dahlaniskan.wordpress.com

%d blogger menyukai ini: