Mr. Rigen Dituduh Komunis

logo komunisSEHABIS melihat Menteri Ginanjar menjelaskan soal kenaikan tarif listrik di teve, saya langsung merasa lapar. Padahal sudah berhari-hari, gara-gara angin yang tidak kunjung reda, nafsu makan saya berantakan. Ajaib juga. Wong saya kok bisa kehilangan nafsu makan ?! Tetapi, entah karena penjelasan Pak Ginanjar yang ngganthêng itu, perut saya langsung kluruk, keroncongan, mengingatkan kepada saya bahwa malam itu agak terlambat saya makan malam. Saya pun lantas segera memberi komando kepada para anggota kitchen cabinet untuk bergerak menyiapkan makan malam.

Makan malam itu terdiri dari menu klasik Mr. & Mrs. Rigen mantan chef restoran gaya Perancis Chez Praci. Oseng-oseng kangkung yang sudah agak nyonyot karena sudah dipanasi beberapa belas kali, tempe bacêm yang sudah sêmangkin menipis. Habis, tanggal tua ! Setidaknya buat saya, sekarang kok makin terasa saja setiap hari itu tanggal tua, lho !

“Sudah, Mister ? Cuma ini saja ?”

Mr. Rigen melihat saya, meringis campur keheranan.

“Kok Bapak aneh pertanyaannya ? Setiap hari ‘kan ya begini-begini saja dhahar-nya. Malah menurut Bapak menu kerakyatan yang sehat.”

Eee … siapa tahu kamu masih punya kejutan-kejutan. Roast beef yang digrujug jus sampai mak nyus. Lha ini, oseng-oseng kangkung tidak mak nyus, tapi mak plényok.”

Ayakk … Bapak. Wong tadi siang dhahar-nya ya sama begini, saya lihat lahap sekali begitu, kok. Sekarang kok terus ngambek dan ngritik, lho. Ada apa to, Pak ?”

Saya tidak menjawab. Saya mulai saja dengan mengunyah oseng-oseng kangkung itu, yang meskipun sudah agak nyonyot, harus diakui masih cukup pedas menggigit. Mr. Rigen berkat pengalamannya di Chez Praci di pojokan pasar Pracimantoro, harus diakui memang seorang master dalam dunia masakan la nyonyot de nyonyot itu. Ah … mau diapakan lagi ? Wong punyanya juga hanya mereka anak-beranak. Ya diterima sajalah. C’est la vie, to ?

Tempe bacêm itu mulai saya gigit. Eh … masih sedap manis juga, meskipun minyaknya malam itu sudah semangkin merasuk juga. Saya lihat Beni Prakosa glibat-glibêt, ber-sliwêran di dekat meja makan. Bapaknya marah dan mulai membentaknya.

“Beni, ot ! A-ot ! Kalau Pak Ageng lagi dhahar ‘kan tidak boleh glibat-glibêt, to ?”

“Aku cuma mau tanya Pak Ageng, oseng-osengnya pêdhês apa tidak, kok.”

Saya segera menjawab, kira-kira tahu arah pertanyaan itu.

Pêdhês, Lé. Pêdhês. Kenapa ? Kamu masih mau, ya ?”

Beni mengangguk sambil mengatakan bahwa jatah yang diberikan ibunya terlalu sedikit. Dasar anak Praci ! Meski baru empat tahun sudah suka makanan pedas.

Selesai makan malam saya lanjutkan dengan nonton teve. Mr. Rigen duduk nglésot di dekat saya. Berkali-kali saya ingatkan bahwa duduk nglésot di bawah saya, selalu membuat saya risi dan merangsang naluri feodal saya. Mr. Rigen selalu menjawab bahwa buat dia itu enaknya duduk nglésot di bawah. Tidak ada masalah peodal, katanya. Meski duduk di atas sama-sama bos tapi kalau tidak enak bagaimana, katanya. Kalau memang jiwanya abdi dalêm, meski duduk di atas ya tetap nyêkukruk seperti munyuk kena sumpitan, katanya. Wong duduk mat-matan kok dihubung-hubungkan dengan peodal segala macam, gerutunya.

Saya pun hanya bisa manggut-manggut mengagumi prinsipnya yang jelas itu.

“Pak Ginanjar itu masih muda ya, Pak ?”

Lha iya. Jelas kelihatan dari wajah beliau begitu, kok.”

Ngganthêng ya, Pak ?”

Lha, iya ngganthêng. Wong kamu liha sendiri begitu, lho.”

“Orangnya pintêr, cemerlang ya, Pak ?”

Lha, iya. Itu jelas dari cara beliau ngomong to, Gen. Thas, thês, thas, thês. Lagi pula sekolah beliau itu dhuwur bangêt. Di Jepang, lho ! Kenapa sih, kok tiba-tiba kamu tanya tentang beliau, Gen ?”

Mr. Rigen diam sebentar.

“Anu, Pak. Saya itu kok belum srêg saja tentang kenaikan tarif listrik yang dua puluh lima persen itu, Pak.”

“Belum srêg bagaimana ? Wong Pak Ginanjar sudah menjelaskan semua begitu, kok.”

Lha, ênggih sudah jelas. Ning mbok yao dari dulu-dulu itu rakyat dijelaskan to, Pak. Dari sedikit begitu lho, Pak. Wong cilik ‘kan ya sênêng kalau merasa diajak rêmbugan. Wong tidak wurung kita-kita ini ya cuma manut lho, Pak. Karena itu saya tanya yang macêm-macêm itu tadi, Pak. Kalau pemerintah itu pintêr …. “

Hus … hus … huss. Kamu mulai prêkik ini, ya ? Kok kamu tiba-tiba jadi pintêr ngomong soal wong cilik, Gen ?”

Lha, saya ini ‘kan ya wong cilik to, Pak. Jadi ya gampang merasa.”

“Wah, … kamu mulai berbahaya ini, Mister. Saya mulai curiga sama kamu ini. Tunggu dulu ! Pracimantoro. Nah, iya, Pracimantoro.”

“Lho, ada apa dengan Pracimantoro, Pak ?”

“Saya ingat Bapak Sêpuh dulu sering turné, inspeksi ke daerah selatan itu. Termasuk Pracimantoro. Nah, saya ingat sekarang. Bapak Sêpuh, daerahmu itu termasuk basis PKI. Jangan-jangan kamu sekeluarga itu sudah kegarap PKI. Kalau orang ngomongnya sudah perkara wong cilik, itu indikasinya.”

Oalaahh, Paakk. PKI pripun ? Wong PKI tidak pernah menang lho, di sana. Zaman PKI Madiun dulu, menurut Bapak saya, kampung saya ikut ngubêr-ubêr sisa-sisa mereka yang lewat di sana kok, Pak ! Bapak kok terus dengan gampangnya mem-PKI-kan saya, lho ? Kulo mbotên trimo, Pak !”

Saya kaget mendengar suara Mr. Rigen mulai gemetar mau nangis. Wah … mungkin saya sudah kelewat emosi orde baru saya.

Yo wis, yo wis. Kalau ya nggak apa-apa, Gen. Sori, ya ?”

Saya minta maaf.

“Sana kamu masuk kamarmu. Kêlon sama keluargamu sana !”

Mr. Rigen, meskipun masih kelihatan agak bersungut-sungut, kelihatan agak cerah juga. Di ruang itu saya duduk sendirian. Teve terus berpidato dan berpidato. Saya hanya dengar suara-suara tanpa menangkap maknanya. Saya masih tercenung ingat dialog saya dengan Mr. Rigen. Elok, Mr. Rigen tidak trimo karena merasa tidak diajak rêmbugan sama Pak Ginanjar. Elok tênan !

“Geennn …. Mister Rigeennn … !”

Enggih, yes … eh, dalêm, Pak Ageng.”

Napasnya tersengal-sengal karena lari dari kamar belakang.

“Ada apa, Pak ?”

“Nggak apa-apa, Gen. Nggak ada apa-apa. Saya cuma mau bilang sama kamu, merdeka, merdeka, merdeka … !”

Dari belakang saya dengar Beni Prakosa teriak,

“Merdeka. Merdeka, Pak Ageng !”

Mr. Rigen tampak bengong.

“Sudah sana kembali ke kamarmu. Kêlon sama anak istrimu sana … “

Yogyakarta, 11 April 1989

*) gambar dari pkstallo.blogspot.com

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

akar rumput

tulisan ala kadarnya refleksi kehidupan dari akar rumput

My not–so–Secret Journal

thoughts, feelings, desires, passion, and some rambling!

PAUS ANTARTIKA

Kita akan bertahan!™

The BroNeo

cerita biasa dari orang biasa

Munajat Sang Pendamba

Tuhanku, gemintang langit-Mu telah tenggelam, Semua mata makhluk-Mu telah tertidur, tapi pintu-Mu terbuka lebar buat pemohon kasih-Mu. Aku datang menghadap-Mu memohon ampunan-Mu, Kasihi daku . . . .

ZeDeen

Rumahku Katanya Sih Surgaku : tentang perjalanan hidup lelaki kecil dan bahteranya

jendelakusam

"Pendar mata Sebuah catatan tolol, tentang perjalanan kehidupan dan segala macam penghidupannya"

lagilagi81.wordpress.com/

KEBAHAGIAAN HIDUP BUKAN SEKEDAR DARI AGAMA

Counting Down

The journey of my life...

Catatan Dahlan Iskan

dahlaniskan.wordpress.com

%d blogger menyukai ini: