Oh, Listrik Itu …

lampu teplokWAKTU sore-sore saya baru pulang dari berkunjung ke rumah kawan, saya terkejut melihat rumah saya dari kejauhan kelihatan gelap seperti kuburan. Habis bagaimana, bulan yang separo purnama itu justru membuat rumah saya tampak menyeramkan. Rumah saya yang indah itu tampak seperti cungkup kuburan orang kaya.

Waktu saya sêmangkin mendekat sêmangkin sêrêm lagi. Di pagar terpancang oncor-oncor minyak tanah yang berkelip-kelip. Kalau itu terpancang di halaman rumah Tuan Paul Wolfowitz, dubes Amerika Serikat yang sudah habis masa baktinya itu, lain soalnya. Oncor-oncor itu akan kelihatan semarak, berkedip-kedip bagaikan kerlingan gadis-gadis jelita. Oncor-oncor yang dipasang di pagar halaman mereka itu menandakan bahwa malam itu ada pesta dansa yang meriah. Gelak tawa akan terdengar berderai, musik berirama disco akan terdengar hangat merangsang, suara gelas berdenting-denting. Botol-botol sampanye berjos-jos dibuka, busanya tampak mengkilap kena cahaya oncor-oncor itu.

Tetapi, rumah saya pada sore menjelang malam itu ? Sunyi senyap. Tintrim. Adhêm. Suara jangkrik mengerik. Angin mengembus bau bunga kamboja dari kuburan Cina di depan. Kelelawar mengepak sayapnya melintas malam, silhuetnya tampak sekilas kena cahaya bulan. Wéé … lha, ini setting lakon apa ? Drakula akan tumurun di kawasan kampus ?

Di garasi, meski jip sudah berhenti dan persneling sudah prei, gas saya injak keras-keras. Ngung … ngung … nguuungg ! Ngung … nguung … nguuungg ! Pintu saya buka lantas saya banting, mak jêdhèr ! Dengan langkah yang saya gagah-gagahkan, saya masuk rumah. Ciloko ! Teras gelap. Ruang depan hanya disinari lampu sênthir satu. Di meja makan seperti akan ada satu malam candle light dinner, bernyala dua lilin merah sisa pesta ulang tahun kawan bule yang tempo hari mau pulang ke negerinya. Ah …. apakah Mr. Rigen mau menyiapkan satu malam candle light dinner buat saya sendirian ? Yakk, tidak lucu ! Itu namanya dinner untuk seorang Mister Lonely Heart alias Bujang Lapuk Kesepian. Kamar tidur saya juga hanya diterangi satu lampu sênthir. Kamar mandi gelap. Tetapi, kamar kerja saya, lho … lampu listrik 100 watt kêncar-kêncar memencarkan cahayanya. Saya berteriak,

“Geenn, Mr. Rii – geeenn !”

Yes, ênggih, yaa !”

“Ini permainan apa yang sedang kamu persiapkan, heh ?”

Mr. Rigen diam sebentar. Matanya memandang saya, menaksir : mosok tidak tahu yang sedang disiapkan ?

“Ayo jawab. Kok rumah kamu sulap jadi rumah hantu. Nanti kalau dhêmit, gêndruwo cino-cino dari ngêbong depan itu mengira di sini ada resepsi baru tahu kamu !”

Walaah, Paak. Wong begini kok dianggap rumah hantu. Ini rak malah kelihatan asri, seperti rumahnya Tuwan Blek waktu malam perpisahan itu to, Pak ?”

“Lho, lha siapa yang mau perpisahan di rumah ini ? Kamu apa ? Kamu mau pulang ke Praci terus kumat kebarat-baratanmu, mentang-mentang sudah pernah disayang Tuan Blek, Tuan Seng atau Tuan Tio begitu apa ?”

Mr. Rigen tertawa nyêkikik.

mBotên, mbotên, Pak ! Tidak ada rencana pesta atau perpisahan. Saya ini prihatin mikir Bapak.”

Wéé, … lha, terima kasih Mister, sudah mau prihatin. Ning terus yang diprihatini itu apa ? Wong saya ya begini-begini saja, lho. Kesehatan ya stasioner, tidak maju tidak mundur. Atau mungkin maju kena, mundur kena juga. Kekayaan ? Yaa … masih tetap seperti kata almarhum Basiyo dulu. Madhêp ngalor sugih, madhêp ngidul sugih, madhêp ngétan sugih, madhêp ngulon sugih. Terus apa lho, yang kamu prihatinkan ?”

Mr. Rigen memandang saya keheran-heranan.

“Bapak itu bagaimana, to ? Listrik, listrik, Pak ! Listrik itu rak mau naik dua puluh lima persen. Terus bagaimana nanti coba ?”

Woo … itu, to ? Lha wong masih sebulan lagi saja lho, Gen.”

Lha, ya itu, Pak. Mulai sekarang latihan. Latihan ngirit, Pak.”

Ngirit, ya ngirit, Gen. Ning rumah mbok jangan kêsusu kamu sulap jadi markas drakula begini. Saya sendiri jadi mrinding.”

Mr. Rigen nyêkikik lagi.

“Saya itu nggak habis pikir sama pemerintah itu, Pak. Menaikkan gaji Bapak hanya berapa persen, lho. Lha, kok listrik dinaikkan dua puluh lima persen. Belum lainnya nanti. Apa mungkin sudah naik semua, Pak ?”

Lha … ya sudah ada yang naik, ada yang belum. Waktu belanja tempo hari, kamu ‘kan sempat gêro-gêro sama istrimu ?”

Lha, terus bagaimana, Pak, kalau semua naik terus begini ? Apa ya para priyagung itu juga kena to, Pak ?”

“Oh … jelas Gen, jelas. Negeri ini negeri yang percaya sama keadilan, Gen.”

Ayakk. Saèstu to, Pak ? Buktinya Prof. Lemahamba itu ayêm-ayêm saja. Listrik di rumahnya kêncar-kêncar terus. Pompa airnya terus nyedot air buat nyêmproti halaman rumahnya yang indah mulus itu.”

“Lhoo … itu tidak membuktikan kalau Prof. Lemahamba itu tidak terkena kenaikan listrik, Gen. Prof. itu kaya, Gen. Jadi, mbok dinaikan berapa persen, ya ayêm-ayêm saja, Gen.”

Mr. Rigen diam. Wajahnya tampak berpikir keras.

“Saya itu heran. Bapak, Prof. Lemahamba, Pak Doktor Prasodjo Legowo itu rak semua guru to, Pak. Lha … kok gajinya lain-lain. Di sekolah desa Pracimantoro sana, pak mantri guru sama guru-guru yang lain itu kelihatan sama mlaratnya itu, Pak. Di sini kok lain, lho. Sama-sama guru mobilnya saja lain. Yang satu mèrkèdès, yang satu jip kantor, yang satunya lagi Honda bebek. Nggak mudhêng saya, Pak.”

Karena tidak mungkin saya menjelaskan kepada Mr. Rigen tentang teori pendapatan yang muluk-muluk, saya hanya menjawab pendek saja.

“Aku juga ora mudhêng kok, Gen.”

Tiba-tiba saya kok lantas ingat Yogya di zaman revolusi dulu. Semua rumah tangga tanpa kecuali redup, remang-remang, mengirit listrik. Di jalanan orang tetap pating sliwêr naik sepeda memakai upêt, bukan bérko listrik. Restoran, toko, lampunya ya byar-pêt, berkedip-kedip. Tetapi, kok seingat saya semua adhêm ayêm, tenang, gembira saja. Mereka malah menyanyi,

“… kita tetap setia, tetap sedia mempertahankan Indonesia, kita tetap … “

Dan Malioboro itu kelihatan asri, romantis, tidak murung, penuh optimisme. Mengapa ? Apakah karena semua ikhlas sama-sama memikul penderitaan. Malu dan rikuh kalau jor-joran kekayaan ?

Yogyakarta, 4 April 1989

*) gambar dari kartikarahmawati.wordpress.com

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

akar rumput

tulisan ala kadarnya refleksi kehidupan dari akar rumput

My not–so–Secret Journal

thoughts, feelings, desires, passion, and some rambling!

PAUS ANTARTIKA

Kita akan bertahan!™

The BroNeo

cerita biasa dari orang biasa

Munajat Sang Pendamba

Tuhanku, gemintang langit-Mu telah tenggelam, Semua mata makhluk-Mu telah tertidur, tapi pintu-Mu terbuka lebar buat pemohon kasih-Mu. Aku datang menghadap-Mu memohon ampunan-Mu, Kasihi daku . . . .

ZeDeen

Rumahku Katanya Sih Surgaku : tentang perjalanan hidup lelaki kecil dan bahteranya

jendelakusam

"Pendar mata Sebuah catatan tolol, tentang perjalanan kehidupan dan segala macam penghidupannya"

lagilagi81.wordpress.com/

KEBAHAGIAAN HIDUP BUKAN SEKEDAR DARI AGAMA

Counting Down

The journey of my life...

Catatan Dahlan Iskan

dahlaniskan.wordpress.com

%d blogger menyukai ini: