Kemalingan

maling jemuranWAKTU saya baru saja memarkir bagian bawah tubuh saya di kursi jip, Mr. Rigen yang pagi itu menjemput saya .bersama Beni Prakosa di Adisucipto, melapor sedih.

Kêtiwasan, Pak Ageng. Kêtiwasan.”

Wéé … lho, pagi-pagi begini kok kamu sudah men-dhapuk dirimu jadi patih Sengkuni, heh ?”

“Ada maling, Pak Ageng. A-a-ada maling.”

“Elho … ini bagaimana. Bapaknya jadi Sengkuni, anaknya tidak mau kalah jadi Citraksi. Ada apa ?”

Jip dikebut sepanjang jalan Solo. Jalannya agak sléyar-sléyor, tidak seperti biasanya anglêr, mantêp, gaya khas Mr. Rigen, yang katanya meniru sopir Sinuwun Paku Buwono XII.

“Eé … é … é …. Mister, take it easy, to, take it easy. Tenang dulu nyopirnya. Perkara kêtiwasan ditunda dulu kalau nanti sudah nyampai rumah. Yang penting sekarang ini slamêt nyampai rumah.”

Mr. Rigen kukur-kukur, garuk kepala, sembari meringis.

“Saya itu anyêl dan malu kok, Pak. Kok bisa lho, maling masuk halaman kita.”

Anyêl ya anyêl, Gen. Ning jangan mengorbankan nyawa saya.”

Jip pun dikurangi kecepatannya. Jalannya kembali anglêr, gaya sopir Kanjeng Sinuwun. Di rumah langsung saja saya buka sidang pleno kabinet. Waktu saya baru keluar dari kamar tidur untuk ganti pakaian, Beni Prakosa dengan sigap berteriak,

Propesok dokter Pak Ageng memasuki ruangan. Siiiapp !”

Semua anggota kabinet sak prêcilnya yang masih orok kok ya pada sigap, lho. Oh … kitchen cabinet-ku yang pêngung. Beni Prakosa, dengan ngos-ngosan, menarik kursi singgasana saya untuk segera dapat saya duduki.

“Duduk, … duduk. Sidang dimulai. Ada apa to sesungguhnya ?”

Kêtiwasan, Pak Ageng. Kêtiwasan.”

“Lhoo, … itu tadi ‘kan sudah di airport. mBok kosa katamu itu agak diperkaya sedikit, Gen. Aku ini propesok fakultas yang jadi pabrik kosa kata, lho.”

“Ada maling, Pak Ageng. A-a-ada maling, Pak Ageng.”

“Lhoo, … ini juga ! Tadi kamu ‘kan sudah kamisosolên, terbata-bata, persis seperti itu, ! mBok kamisosolên yang lainnya, Lé !

Seketika ruang siding kabinet jadi hening. Bahkan adik Beni Prakosa yang sekarang sudah meningkat pada usia meracau, waktu itu ikut diam. Matanya yang besar bagus itu plola-plolo, tengok kanan tengok kiri. Mr. Rigen, Mrs. Nansiyem dan Beni Prakosa pada duduk khidmat menunduk melihat ke bawah. Wah … gawat !

“Ayo ngomong. Lapor ! Kok kalian seperti pegawai kantor, kalau ada maling jadi kamisosolên bolehnya melapor.”

Akhirnya Mr. Rigen pelan-pelan angkat bicara juga.

“Begini lho, Pak. Tadi malam itu ada maling masuk lewat pagar belakang rumah pagar belakang rumah kosong di sebelah. Sungguh mati, Pak, kami sekeluarga itu tidur pulas nggak dengar apa-apa. Padahal sebelumnya tholé Septian itu juga sudah rewel. Kalau bayi itu rewel tengah malam biasanya ‘kan ada maling ya, Pak. Eh … kok ya kami itu nggak sasmitå.”

“Terus malingnya dapat apa ?”

“Ya jemuran, Pak. Baju-baju kami sekeluarga. Dan, nyuwun sèwu, jaket Bapak cap buaya yang canggih itu juga katut. Nyuwun duka, Pak.”

Mati aku ! Jaket lacoste berwarna biru langit yang dahsyat oleh-oleh dari Perancis dan mungkin tidak ada duanya di kawasan DIY dan Jateng, katut disambar maling !

“Kok ya bisa, Gen. Maling kok enak saja mlumpat pagêr milih jaket saya ?”

Lha ya itu, Pak. Padahal di depan rumah sudah dijaga dua pohon Sri Mahkota, yang menurut Bapak kiriman rudal pun akan bisa dikirim kembali. Lha ini … cuma maling jemuran …. “

“Husyy … jangan membelokkan persoalan kamu. Yang penting maling sudah berhasil masuk dan menyambar jemuran. Sekarang kalian tahu nggak di mana letak kesalahan kalian ?”

Suami istri itu sekarang jadi plola-plolo, seperti anak bayi mereka.

“Wahh … ya kami cuma bisa nyuwun dukå saja, Pak.”

“Lho … nyuwun dukå itu gampang. Itu perkara belakang. Kamu tahu nggak kalau kamu sudah membuat kesalahan strategis maupun taktis dalam menjaga benteng kita ?”

Mr. Rigen, Mrs. Nansiyem dan Beni Prakosa kelihatan berpikir keras mencoba mencari kesalahan strategis dan taktis mereka.

“Wahh … nyuwun sèwu, Pak. Kami tidak tahu kesalahan strategis dan taktis itu. Kami cuma trimo salah saja, Pak.”

Wah cilaka ! Mereka, kitchen cabinet-ku, yang dipercaya, tidak dapat mengenali kesalahan strategis dan taktis mereka ?

“Kamu tidak tahu, toh ! Membiarkan jemuran itu di luar terus, itu kesalahan strategis dan taktis ! Oohh … kitchen cabinet sipil ! Kok belum siap saja lho kalian ini dipercaya mengurus rumah tangga. Apa kêlakon saya mesti mengganti kalian dengan kitchen cabinet satpam atau hansip ?”

Tiba-tiba diluar dugaan saya, Mr. Rigen dan Mrs. Nansiyem itu tertawa nyêkikik. Karuan saja saya naik pitam.

“Apa, … pringas-pringis kamu ! Dimarahi kok malah cêkikikan !

Enggih nyuwun sèwu lagi, Pak. Kami itu cuma ingat yang jadi satpam dan hansip itu juga cuma bocah sipil ndéso dari Praci dan Wonogiri juga lho, Pak.”

Trèmbèlané, aku di-touche oleh bêdhès-bêdhès Praci dan Njati. Sementara itu, jaketku, jaketku ….. oohhh, trèmbèlané tênan !

Yogyakarta, 28 Maret 1989

*) gambar dari eocommunity.com

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

akar rumput

tulisan ala kadarnya refleksi kehidupan dari akar rumput

My not–so–Secret Journal

thoughts, feelings, desires, passion, and some rambling!

PAUS ANTARTIKA

Kita akan bertahan!™

The BroNeo

cerita biasa dari orang biasa

Munajat Sang Pendamba

Tuhanku, gemintang langit-Mu telah tenggelam, Semua mata makhluk-Mu telah tertidur, tapi pintu-Mu terbuka lebar buat pemohon kasih-Mu. Aku datang menghadap-Mu memohon ampunan-Mu, Kasihi daku . . . .

ZeDeen

Rumahku Katanya Sih Surgaku : tentang perjalanan hidup lelaki kecil dan bahteranya

jendelakusam

"Pendar mata Sebuah catatan tolol, tentang perjalanan kehidupan dan segala macam penghidupannya"

lagilagi81.wordpress.com/

KEBAHAGIAAN HIDUP BUKAN SEKEDAR DARI AGAMA

Counting Down

The journey of my life...

Catatan Dahlan Iskan

dahlaniskan.wordpress.com

%d blogger menyukai ini: