The Rediscovery of … Soto Ayam Kampung

soto ayamTempo hari saya diundang kawan lama untuk dinner di rumahnya. Dinner, lho ! Bukan makan malam. Kalau dinner itu piring makannya ditumpuk. Piring atau mangkok untuk nyruput sop ditaruh di atas sebuah piring cèpèr. Lantas di kiri dan kanan piring itu ada macam-macam sendok, pisau dan garpu. Juga serbet putih mulus dari bahan damast, bukan serbet kertas. Kalau sop sudah habis disruput (dan jangan sampai keluar suara yang ‘srot-srot-srot’ itu), piring atau mangkok lantas diangkat. Nah, lantas piring cèpèr dibawahnya itu, atau kadang-kadang datang piring baru, yang kemudian dipakai untuk makan yang sebenarnya.

Begitulah. Saya dan Bu Ageng siap sedia, looking forward, untuk undangan dinner tersebut. Undangan tersebut dalam bahasa Inggris, persis seperti undangan-undangan para diplomat asing atau kaum elit domestik.

Nah, karena undangannya itu menyebut dinner, kami segera membayangkan suatu makan malam kelas tinggi seperti yang saya bayangkan tadi. Pasti makanannya makanan Barat, ala Perancis atau Holand atau Detslan begitu. Dan yang diundang pasti juga yang ayu-ayu dan keren-keren saja. Juga pasti yang harum-harum belaka parfum mereka. Tapi, kami berdua juga tidak lantas membayangkan akan tampil seperti mereka, the beautiful set itu. Kami cukup rendah hati dan tahu diri. Wong status juga manula. Status sosial juga cuma guru. Status finansial hanya beberapa strip di atas garis kemiskinan. Namun begitu, Bu Ageng mengeluarkan juga gaun batik sutera maut kado sahabatnya dari dalam almari. Dielusnya, diciumnya, dielus lagi, lantas dipasang didadanya. Lantas bertanya kepada saya, seperti berjuta istri lainya di dunia ketika menjelang berangkat ke pesta.

Pantês nggak, Pak ?”

Dan saya, seperti juga berjuta suami lainnya pada saat-saat seperti itu pasti akan menjawab,

Pantês, Bu. Pantês, kok. Kamu masih cakep kok … “

Istri saya akan tersenyum puas dan dengan gaya yang khas mengenakan gaun itu. Gaun itu, para pembaca, hanya dipakai oleh istri saya setiap tahun Dal.

Begitulah, tiba-tiba saja kami sudah berada di rumah kawan yang arsitekturnya angudubilah syaiton rumitnya, tapi sekaligus juga sangat indah. Tahu-tahu kami sudah berada di tengah-tengah the beautiful set itu. Angguk sana, angguk sini. Séngok sana, séngok sini. Wah, kalau sudah begitu itu saya jadi ingat kawan-kawan yang ada di Yogya. Dan kami pun makan di sekitar meja makan panjang yang indah. Kawan dan istrinya yang cantik duduk di ujung-ujung meja. Gelas dipukul, ting-ting-ting. Dan tuan rumah pun berbicara.

“Para sahabat, malam ini kami akan menghidangkan suatu santap malam surprise. Suatu rediscovery, suatu penemuan kembali. Kalau Bung Karno dulu berpidato dengan judul ‘The Rediscovery of Our Revolution’, maka malam ini kami akan menghidangkan our rediscovery of … soto ayam.”

Kami semua berpandang-pandangan. Di rumah Mas Don, sang milyarder, yang biasa menjamu dinner yang serba mewah bin lavish, di ruang makan gaya rumah hacienda, hanya dihidangkan soto ayam ? Wah, kalau cuma soto ayam, di rumah akeh, mas.

“Tunggu dulu, friends. Saya lihat muka-muka cemas di hadapan saya. Ini bukan soto ayam sembarang soto ayam. Ini soto ayam yang dibikin dengan daging ayam kampung, yang disiapkan khusus untuk makan malam ini. Dan dimasak oleh chef spesialis soto ayam. Kami harap Anda semua akan enjoy menyantap soto ayam ini. Sudah tentu red and white wine akan dihidangkan. Dan, ahaa … black forest, mocca rum dan lemon meringue akan kami hidangkan sebagai dessert beserta cognac dan brandy.”

Gelas dipukul lagi, ting-ting-ting. Dan para pelayan dengan seragam all-nusantara dengan gesit datang melayani kami. Saya lihat para tamu tampak cerah dan gembira muka mereka karena ternyata, toh, ubå-rampé dinner modern itu akan dihidangkan mengiringi soto ayam kampung itu. Tetapi, bagi kami berdua yang tidak minum alkohol dan hanya bisa makan dessert yang dahsyat tapi sekaligus juga hamblênêgi (saking banyak botêrnya) satu dua cuwil, jadi kecut juga. Saya lihat istri saya, yang sebentar-sebentar mengelus-elus gaun mautnya. Saya pun mengelus-elus hem tenun Troso jahitan Iwan Tirta yang saya pakai (kado dari sahabat lama saya). Rasanya tidak cucuk makan soto ayam kampung dengan gaun dan hem yang lebih jarang keluar daripada kereta Garudayeksa.

Tetapi, waktu akhirnya kami makan soto ayam kampung itu, lengkap dengan sambal, jeruk nipis, kerupuk dan sebagainya itu, elhoo … kok maknyuss ! Nikmat betul ! Kaldunya itu, lho ! Dan daging ayam yang disuwir-suwir itu. Memang lain rasanya dengan ayam broiler yang biasa kita makan itu. Saya lihat istri saya yang juga tampak cerah mukanya.

Waktu akhirnya kami tiba di rumah malam itu, kami berkesimpulan bahwa malam itu toh masih merupakan dinner yang sukses dari Mas Don. Tidak salah kalau beliau mengatakan bahwa itu suatu rediscovery of soto ayam. Saya ingat malam itu dengan bersandar pada Baby Benz-nya yang hitam mulus, sebelum mengucapkan selamat malam, sembari menepuk bahu saya beliau berkata,

“Ternyata banyak ‘kan yang harus di-rediscover, ditemukan kembali, dalam kultur kita, Dik. Jij sebagai budayawan mesti ingat ini, lho. Contohnya malam ini. Ya, toh ? Soto ayam kampung itu …”

Waktu kembali ke Yogya, saya lantas memanggil Mr. Rigen,

“Mis-ter Ri-geennn !”

Yes, eh … ênggih, Paak.”

Denger ya. Mulai besok kalau bikin soto ayam, ayamnya mesti ayam kampung. Juga irisan êndog-nya mesti êndog kampung. Out dengan yang namanya broiler-broiler itu. Mengerti ?!”

Ayakk … Bapak kii kok terus mau royal, lho. Ayam kampung itu sak kilonya Rp. 3.500,- êndog kampung satu biji Rp. 175,-. Lha, kalau ayam broiler sak kilonya Rp. 2.500,- terus êndog-nya satu biji Rp. 100,-. Pripun ? Masih mau nekat ayam kampung terus ? Jênèh anggaran belanja dapur saya, Pak. Apa sih salahnya ayam broiler, Pak ?”

Ora enak, Gen. Amis !

Ayakk … Bapak kii. Lha, selama ini kok dhahar-nya lahap terus ?”

Husyyy ! Pokoknya ini rediscovery. Rediscovery.”

Lha, apa itu, Pak ? Koperi, koperi. Korpri, to ?”

Husyyy ! Iki penemuan kembali ayam kampung, ngêrti ora ? Kamu itu orang kampung kok malah kagak sênêng ayamnya dimulyakan ?!”

“Lho, saya itu mikir, ngunandikå. Duluuu, waktu ayam itu masih sedikit, ayam kampung disingkang-singkang. Ayam negeri jadi makanan mewah. Sekarang ayam negeri bin broiler pating tlècèk, tersebar di mana-mana sampai kampung, eh … orang-orang kota dan orang-orang sugih kangên sama ayam kampung. Heh … apa ini bukan wolak-walik-é jaman to, Pak ?”

Saya pun kehabisan kata-kata ingin memaksa Mr. Rigen. Saya paling anyêl kalau Mr. Rigen kambuh filsafat ndéso-nya itu. Saya hardik saja dia, sebagai layaknya pemimpin rakyat di mana saja.

“Pokoknya … pokoknya … pokoknya … “

 Yogyakarta, 28 Februari 1989

*) gambar dari warung-fiant.blogspot.com

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

akar rumput

tulisan ala kadarnya refleksi kehidupan dari akar rumput

My not–so–Secret Journal

thoughts, feelings, desires, passion, and some rambling!

PAUS ANTARTIKA

Kita akan bertahan!™

The BroNeo

cerita biasa dari orang biasa

Munajat Sang Pendamba

Tuhanku, gemintang langit-Mu telah tenggelam, Semua mata makhluk-Mu telah tertidur, tapi pintu-Mu terbuka lebar buat pemohon kasih-Mu. Aku datang menghadap-Mu memohon ampunan-Mu, Kasihi daku . . . .

ZeDeen

Rumahku Katanya Sih Surgaku : tentang perjalanan hidup lelaki kecil dan bahteranya

jendelakusam

"Pendar mata Sebuah catatan tolol, tentang perjalanan kehidupan dan segala macam penghidupannya"

lagilagi81.wordpress.com/

KEBAHAGIAAN HIDUP BUKAN SEKEDAR DARI AGAMA

Counting Down

The journey of my life...

Catatan Dahlan Iskan

dahlaniskan.wordpress.com

%d blogger menyukai ini: