Mesak-ake, Kasihan …

ShoppingKadang-kadang pada hari Minggu di Jakarta, saya berfungsi sebagai “Prins Bernhard” kecil-kecilan. Artinya, sebagai kepala keluarga yang baik, angon anak dan istri ditambah menantu dan cucu, grudag-grudug ke sana ke mari. Kalau sudah capek ke sana ke mari, kami jajan bakmi Gadjah Mada atau jajan lainnya yang bermutu murah meriah. Atau, biasanya mampir di Hero Supermarket. Ah … siapa bilang keluarga Ageng keluarga yang tidak bergaya hidup modern ? Sênajan mutu jajannya masih murah meriah dan belanjaannya masih bermutu daging balungan, daging gilingan dan cakar ayam buat si Kenyung, eh … belanjanya di Hero, lho ! Sêtil, to ? Hanya kelas menengah ke atas yang memang berduit dan kelas menengah yang habis-habisan ke bawah tetapi punya nyali dahsyat yang berani menginjak Supermarket tersebut. Selebihnya ? Ohh … lebih baik belanja di Pasar Genjing atau Pasar Ciplak saja.

Begitulah. Hari Minggu kemarin ritual seperti tersebut di atas kami jalani entah untuk ke berapa ratus kalinya. Capek, kepanasan, ngantuk, dengan terseok-seok kami masuk ke Hero Supermarket. Entah mengapa, begitu kaki-kaki itu menginjak Supermarket yang dingin itu, lho … kok jalan kami jadi gagah lagi dengan dada membusung dan mata jêlalatan ke sana ke mari mencari-cari kenalan dengan melempar isyarat, “Hai … ikke juga belanja here, lho !”

Tiba-tiba bahu saya digamit orang. Waktu saya menoleh, saya lihat Gapung. Seorang mantan laksamana di salah armada laut kita, jebolan sekolah perwira laut Den Helder, mantan konco sekolah dasar dan lawan yang ulet bin curang dalam permainan umbul gambar wayang. Meski sudah penuh uban, tapi masih tampak gagah dan fit. Tidak pantes kalau sekarang sudah laksamana pensiunan.

“He, apa kabar ? Masih mbaurêkso Yogya ?”

“Oh, oke-oke saja, Pung. Lha, tentang mbaurêkso itu fifty-fifty. Separo mbaurêkso Yogya, separo lagi mbaurêkso Jakarta. And you ?

“Ya, oke-oke juga.”

Saya amati dua tangannya yang sudah gêntéyongan memegang dua bungkus besar belanjaan. Istrinya sedang sibuk menghitung di depan kasir. Saya kenalkan mereka dengan keluarga saya. Aneh juga sesungguhnya. Gapung, sang konco lama itu, belum pernah sempat ketemu dengan gerombolan saya. Sang waktu, sang ruang, sang pangkat, sang duit, eh … kejam benar kalian semua memisahkan hubungan persahabatan.

“Ayo, ayo, semua kasih salam sam Oom dan Tante Gapung. Juga kamu Kenyung !”

Seperti biasa gaya perempuan Indonesia, perkenalan selalu dengan anggukan dan senyum malu-malu. Saya ceritakan kepada brayat saya bagaimana dahsyat reputasi Oom Gapung itu. Mulai reputasinya sebagai pemain umbul gambar wayang yang urik bin curang, pahlawan tentara pelajar, adelborst Den Helder yang cemerlang sampai laksamana ALRI yang hebat juga.

“Eh, Geng. Kami mau ke Yogya nanti waktu penobatan Sultan yang baru. Bagaimana ya caranya supaya lihat dekat-dekat. Juga waktu kirab. You bisa tolong ? Kabarnya you sekarang kagêm jadi pangeran urusan kebudayaan.”

Sontoloyo ! Pangeran apa ? Aku ini wong cilik van Ngawi, Admiral.”

“Lho ? Lha, itu di koran, Kamu diberitakan gitu, kok !”

Ayakk, wong berita koran gitu saja, kok, kesimpulanmu begitu.”

“Jadi, kau gak bisa tolong, ya ?”

“Wah, kalau bisa mosok tidak saya kasih tahu jalannya. Lha, you mantan admiral, apa gak ada koneksi-koneksi ?”

Hupp, tak usah, ya ! Nggak ada koneksi-koneksian. Sudah mantan, ya sudah mantan. Sekarang rakyat biasa, hidup dari pensiun dan sedikit rejeki dari bantu sana-sini. Yah, … kita akan tetap datang ya, Bu ? Berdiri di pinggir jalan nonton kirab. Habis itu kamu dak traktir nasi goreng. Oke-lah, Geng. Kami mau pulang. Tanganku sudah capek pegang dua bungkus yang gêntéyongan ini. Gara-gara mau sop buntut masakan mbakyumu jadi keberatan gini. Ayolah …”

Pasangan bahagia itu pergi meninggalkan kami, keluar Hero. Berjalan terseok-seok menuju mobil Toyota Corolla mereka yang sudah tua. Semua dikerjakan sendiri. Tanpa ajudan atau pembantu yang membawakan barang atau membukakan pintu. Juga kemudian mobil itu pun dia sopiri sendiri.

“Kok, kasihan ya, Be. Oom Gapung khan laksamana.”

“Lantas ?”

“Kok sekarang begitu sederhana. Begitu biasa.”

“nDut … nDut, wong sederhana dan biasa, kok kasihan. Terus maumu Oom Gapung itu harus bagaimana ?”

“Ya, keren-keren seperti laksamana atau jenderal-jenderal itu, dong.”

Elho, dia itu sekarang sudah pensiun, nDut. Pensiunnya juga berapa ? Sekarang dia itu sudah tidak punya fasilitas apa-apa lagi, nDut. Tapi, dia sekarang kok malah tambah keren, nDut !”

Hah, keren ?!”

“Buat Bapak, dia tambah keren karena Oom Gapung itu sederhana dan biasa. Nggak merengek-rengek, nggak ada sindrom, juga nggak digagah-gagahin. Biasa. Sederhana. Alangkah gagahnya beliau itu !”

Anak-anak saya, mantu saya plus si Kenyung di gendongan ibunya pada melihat Toyota Corolla butut itu pergi semakin menjauh. Mereka, anak-anak Jakarta sekarang. Mungkin akan meng-gêrundêl,

Wong sederhana dan biasa kok gagah …. ”

 Yogyakarta, 21 Februari 1989

*) gambar dari theglos.com

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

akar rumput

tulisan ala kadarnya refleksi kehidupan dari akar rumput

My not–so–Secret Journal

thoughts, feelings, desires, passion, and some rambling!

PAUS ANTARTIKA

Kita akan bertahan!™

The BroNeo

cerita biasa dari orang biasa

Munajat Sang Pendamba

Tuhanku, gemintang langit-Mu telah tenggelam, Semua mata makhluk-Mu telah tertidur, tapi pintu-Mu terbuka lebar buat pemohon kasih-Mu. Aku datang menghadap-Mu memohon ampunan-Mu, Kasihi daku . . . .

ZeDeen

Rumahku Katanya Sih Surgaku : tentang perjalanan hidup lelaki kecil dan bahteranya

jendelakusam

"Pendar mata Sebuah catatan tolol, tentang perjalanan kehidupan dan segala macam penghidupannya"

lagilagi81.wordpress.com/

KEBAHAGIAAN HIDUP BUKAN SEKEDAR DARI AGAMA

Counting Down

The journey of my life...

Catatan Dahlan Iskan

dahlaniskan.wordpress.com

%d blogger menyukai ini: