Boris Karloff

Boris KarloffDI KOMPLEKS perumahan kami ada sekelompok tukang becak mangkal. Mereka datang dari berbagai latar belakang sosial. Beberapa dari mereka adalah drop-out, jebolan yang ambrol di tengah perjalanan pendidikan SD yang lantas menarik becak. Tetapi, kebanyakan dari mereka adalah pekerja pertanian, semacam drop-out juga yang jebol pertahanan pertaniannya kehilangan tanah mereka, lantas menjadi pekerja tani saja. Pada musim menanam dan menuai padi, mereka akan bekerja memburuh di sawah, pada musim antara itu mereka menggerombol di komplek perumahan kami, menarik becak. Mr. Rigen kenal mereka semua, sedang saya hanya kenal satu dua orang saja dari mereka. Favorit saya adalah Pak Boris, karena tampangnya persis Boris Karloff, itu pemain film horor Holywood yang suka memerankan Frankenstein.

Panjênêngan kok memanggil dia Boris itu bagaimana to, Pak. Wong namanya Karyotani, lho.”

Ha, ya biar to, Mister. Sak sir saya, to. Wong kasih nama tidak bayar saja, lho.”

Ha, ênggih nggak bayar. Ning orang itu ‘kan sudah namanya sendiri-sendiri. Belum tentu wongtuo-nya rilo lho, Pak.”

Ayakk, … kayak kamu itu bapaknya saja. Kamu dak kasih nama Mister Rigen wongtuo-mu ya rilo. Dan yang lebih penting lagi, kamu sak brayat ya sênêng lan malah bangga begitu, lho.”

“Lhoo, … ning waktu Bapak mbaptis saya jadi Mister Rigen saya rak sênêng. Rigên itu kata Jawa yang baik. Artinya terampil, prigêl, gênah tur praktis. Tur malah kebetulan sekali wêton saya sama dengan Presiden Rigen dari Amerika itu. Tentu saja saya seneng dan mau dipanggil Mr. Rigen. Ning kalo Karyotani bisa jadi Boris itu pripun ceritané, Pak ?”

“Ya, nggak apa-apa. Wong Boris Karloff itu orang baik. Lagipula dia itu juga bintang film seperti presiden Rigen lho, Gen. Saya tanggung nama itu akan bawa banyak rejeki buat Pak Karyotani. Saya tanggung pendapatannya mbécak akan lebih banyak dari pendapatan mburuh tani.”

“Wah, Pak, ning apa betul to nama itu bawa rejeki ? Kadang-kadang saya percaya, kadang kala tidak itu, Pak. Karena nama saya ya Mister Rigen itu saya sering dipanggil orang di jalan ‘Mister Rigen, Mister Rigen’. Wah, … mongkok hati saya. Ning kok belum ada yang melempari saya duit atau dompet ya, Pak ?”

Lha, apa kamu ganti nama ? Ini ada usul dari Romo Xaverius Sukodedono Arto Lan Sukonyondo Sasmito Alam, S.J ….”

“Waduhh …! Itu nama orang betul atau nama malaikat, Pak ? Kok panjangnya minta ampun.”

“Huss … iki orangnya ada betul ! Setengah moloékat ! Beliau usul karena sekarang Presiden Amerika itu namanya Bush, bagaimana kalau namamu diganti Busyet saja. Kamu mau apa dipanggil Busyet ?!”

“Waduhh …! Terus di jalan nanti orang akan memanggil saya, Syet, Syet, Busyet ! Begitu ? Pun prèi mawon, Pak. Sekali Mister Rigen tetap Mister Rigen.”

Beberapa waktu sesudah percakapan itu, jip saya, eh … jip kantor saya yang sudah sangat kedaluarsa dan tingkat statusnya sudah setingkat dengan warakawuri, rusak rada berat. Menurut bengkel perbaikannya akan memerlukan waktu yang cukup lama. Wah, … itu berarti saya harus segera mengaktifkan Pak Boris Karloff menjadi sopir pribadi saya.

Segera saya perintahkan Mr. Rigen untuk membuka negosiasi menyiapkan kontrak perburuhan dengan Pak Boris. Sudah tentu Mr. Rigen saya pesan wanti-wanti agar kontraknya nanti mencerminkan hubungan kerja yang Pancasilais. Yaitu, hubungan kerja yang têpo-sliro, yang buruh nrimo yang majikan ora sio-sio. Yang buruh menerima apa adanya, yang majikan tidak semena-mena. Lha, tentang batas nrimo dan batasnya ora sio-sio itu ditentukan oleh adu roso. Lha, adu roso itu ditentukan oleh boleh kita tahu tata krama. Begitulah, akhirnya Pak Boris pun datang ke rumah siap mengantar saya ke mana-mana.

“Selamat pagi, Om. Hari ini rutenya ke mana saja, Om ?”

“Selamat pagi, Pak Boris. Rute hari ini kantor, rumah. Nanti sore Malioboro, rumah.”

“Siap, Om !”

Dan saya pun merasakan debut genjotan Pak Boris sebagai sopir pribadi saya. Ternyata nglênyêr juga. Tidak byayakan, buru-buru. Ternyata, meskipun dia buruh tani dari Kulon Progo, dia tahu bagaimana mênghèndêl irama priyayi. Kalau naik kendaraan maunya mat-matan juga.

“Selamat pagi, Om. Hari ini rutenya ke mana saja, Om ?”

“Selamat pagi, Pak Boris. Rute hari ini kantor, rumah. Nanti sore ke Mister Oberlin, restoran Masih Sepuluh, rumah.”

“Siap, Om.”

Begitulah rutinitas kami mulai menggelinding dengan mulusnya. Sampai pada suatu hari, sekretaris saya, Maria Yosephine Rubinem alias Dhenok, bertanya bercampur nada ora trimo.

“Pak ! Itu tukang becak Bapak itu ….. “

“Namanya Boris Karloff, Nok.”

“Ya, siapa itu. Kok dia seenaknya manggil Bapak dengan ‘Om’. Kami sekantor tidak trimo, Pak ! Panggil orang kok, Om. Memangnya dia keponakan Bapak ?!”

“Lho, siapa tahu to, Nok.”

Ayakk … Bapak kii ndagêl ! Pokoknya kantor ini sentimen sama Pak siapa itu !”

Wah, cilåkå ini ! Kalau Dhenok, pemimpin paduan suara pemudi Katholik di gereja Salam, sudah bersuara demikian ketus itu berarti tidak bisa ditawar lagi. Saya akan tanya sama Pak Boris tentang urusan Om ini.

“Pak Boris, sampeyan kok panggil saya Om itu bagaimana mulå bukané ?

Pak Boris tertawa meringis. Wah, seringainya memang menyeramkan seperti Boris Karloff malih jadi Frankenstein. Suaranya pun dalam seperti keluar dari liang kubur.

“Begini lho, Pak. Saya itu percaya sama ngélmu katurangan dan ngiman supingi. Saya selalu menatap baik-baik wajah langganan becak saya.”

Wèhh, élok tênan sampéyan. Terus pripun wajah turangga-turangga langganan sampéyan itu ?”

Ha, ênggih to. Panjênêngan itu cuma pas dipanggil Om. Bukan lainnya. Wong panjênêngan itu perawakannya gêdhé, dhuwur, pidêksa, rambut brintik, coklat pårå hitam kulit tubuhnya. Panjênêngan itu tidak pantês jadi orang Jowo, meskipun orang Jowo. Jadi, ya pantêsnya dipanggil Om saja.”

Lha, kalau Pak Propésor di sebelah rumah itu kok sampéyan aturi ‘pak’, dan yang di ujung sana kok sampéyan aturi ‘ndoro dosén’ ?

Ha, ênggih to, Pak. Pak Propésor di sebelah itu perawakannya ‘kan pas perawakan wong Jowo. Tidak besar seperti panjênêngan, tidak juga kekecilan. Jan Jowo tênan Pak Propésor itu. Lha, yang di ujung sana itu ya pantêsnya diaturi ndoro.”

“Sebabnya ?”

Lha, beliau itu sênajan belum propésor, tapi ya memang pantês kalau diaturi ‘ndoro’. Jalannya pelan. Perawakannya pas ukuran Jowo. Kalau ngêndikan halus. Kulitnya kuning langsat. Janggutnya rådå maju. Jan ‘ndoro’ tênan beliau itu.”

Wééh, … kalau begitu saya jadi Om itu karena miturut ngélmu katurangga sampéyan karena rådå gêdhé, wagu, briga-brigi tur hitam kulitnya, nggih ?

“Yaa … nggih tidak begitu. Pantês-pantêsnya saja … “

Saya manthuk-manthuk mencoba memahami persepsi stratifikasi. Hebat juga drop-out petani Kulon Progo ini. Canggih dan peka juga pengamatannya. Saya jadi ingat si Pi’i, tukang becak langganan si Gendut di Cipinang Indah. Pi’i adalah pemuda drop-out SD, drop-out petani, drop-out keluarga asal Weleri, Jawa Tengah, sekarang terdampar di Cipinang jadi tukang becak. Kepada semua langganan baik lelaki atau perempuan dia selalu panggil “bos”.

“Becak, Bos ?”

“Kurang, Bos. Tambah sedikit, Bos.”

Bahkan kepada si Gendut, anak saya yang gede itu, Pi’i juga panggil “bos”. Ah, … mungkin karena di Jakarta tidak mungkin atau tidak sempat lagi dilapis-lapis masyarakatnya jadi om, pak dan ndoro. Untuk praktisnya panggil saja semua dengan ‘bos’. Mungkin menurut perhitungan mereka panggilan ‘bos’ akan menyenangkan hati semua langganan. Tidak usah repot om, pak atau ndoro. Betul tidak, Bos ?

Yogyakarta, 7 Februari 1989

*) gambar dari en.wikipedia.org

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

akar rumput

tulisan ala kadarnya refleksi kehidupan dari akar rumput

My not–so–Secret Journal

thoughts, feelings, desires, passion, and some rambling!

PAUS ANTARTIKA

Kita akan bertahan!™

The BroNeo

cerita biasa dari orang biasa

Munajat Sang Pendamba

Tuhanku, gemintang langit-Mu telah tenggelam, Semua mata makhluk-Mu telah tertidur, tapi pintu-Mu terbuka lebar buat pemohon kasih-Mu. Aku datang menghadap-Mu memohon ampunan-Mu, Kasihi daku . . . .

ZeDeen

Rumahku Katanya Sih Surgaku : tentang perjalanan hidup lelaki kecil dan bahteranya

jendelakusam

"Pendar mata Sebuah catatan tolol, tentang perjalanan kehidupan dan segala macam penghidupannya"

lagilagi81.wordpress.com/

KEBAHAGIAAN HIDUP BUKAN SEKEDAR DARI AGAMA

Counting Down

The journey of my life...

Catatan Dahlan Iskan

dahlaniskan.wordpress.com

%d blogger menyukai ini: