Debat Tjoet Nja’ Dhien

cut nya' dienSAMPAI hari Minggu kemarin, Tjoet Nja’ Dhien masih terus diputar di Yogya. Itu adalah kabar yang tidak hanya baik bagi yang buat film, tetapi saya kira, juga buat kita semua. Lha, bagaimana tidak ! Wong ing ngatasnya film Melayu, lho, kok bisa bertahan begitu lama. Mas Eros dengan penuh percaya diri sejak semula sudah begitu yakin kalau filmnya itu akan bagus dan sukses. Christine Hakim dan pendukung-pendukung lainnya juga ikut yakin sehingga mereka rela tidak dibayar dulu sampai terbukti sukses. Dan para penonton pun pada ikut terpukau, menikmati dan mengagumi tidak hanya film itu tetapi juga tokoh Tjoet Nja’ Dhien yang tiba-tiba jadi relevan lagi dengan hidup kita sekarang.

nDilalah kêrsaning Allah Tjoet Nja’ Dhien itu, kok ya pada satu hari, beberapa waktu berselang mempertemukan Prof. Dr. Lemahamba dsb, dsb, dsb-nya itu dengan Dr. Legowo Prasodjo di rumah saya. Mr. Rigen yang melihat mereka bersama para permaisuri mak gabrus masuk halaman rumah yang mirip lapangan golf, dengan paniknya menggedor kamar saya.

Kêtiwasan, Pak Ageng, kêtiwasan !

Saya yang jadi ikut panik mendengar gedoran itu, segera membuka pintu kamar.

Kêtiwasan åpå, kêtiwasan åpå, Gen ?”

Lha, mênikå Pak Propesor Lemahamba kok ya rawuh sama Pak Doktor Prasodjo. Tur berbareng dengan ibu-ibu. Wé … lha, kêtiwasan tênan !

Saya jadi tersenyum mendengar alasan Mr. Rigen menyatakan kepanikannya. Pastilah dia ingat perdebatan sengit antara dua raksasa itu di rumah saya tempo hari. Untuk telinga Mr. Rigen, yang tamatan SD Pracimantoro itu, pastilah perdebatan intelektual akademis dahsyat itu terdengar bagaikan pertengkaran, èyèl-èyèlan yang sangat sengit. Oh … dia tidak tahu saja kalau dua intelektual akademis berdebat begitu, emosi itu tidak ikut bicara. Lha, wong sejak di sekolah-sekolah mereka sudah dididik mengembangkan kultur begitu, to. Perdebatan antara intelektual akademis itu tujuannya hanya saling asah pikiran. Setuju atau tidak setuju, itu tidak penting. Yang penting otak mereka sudah saling gèsrèkan sampai berbunyi mak srêk … srêk … srêêkk begitu. Waktu saya coba jelaskan ini kepada Mr. Rigen tempo hari dia langsung bereaksi.

Yakk, Bapak kii. Wong namanya orang kok, Pak. Mana bisa otak digèsrèk mak srêk, srêkk, srêêkk. Pasti ora wurung ya bertengkar, terus padu saèstu dan akhirnya jotakan alias satru.”

Dengan gruwalan, saya buru-buru membuka pintu dan menyilakan tamu-tamu saya masuk kamar depan.

Månggå, månggå ! Pantesan tadi malam saya mimpi kejatuhan srêngéngé kembar. Tahunya yang datang Albert Einstein dan Schumpeter. Månggå, månggå !

“Kalau bukan Ki Ageng pêngung kan tidak ada to yang menyamakan kita dengan Einstein dan Schumpeter ? Lha, terus mbakyu-mbakyumu itu kamu dhapuk jadi apa ?”

Mas Prasodjo Legowo mênjênggung kepala saya. Saya pun meringis.

Lha, kalau mbakyu-mbakyu saya ini ya Dewi Shinta dan Wara Sembodro, begitu.”

Kami pun lantas duduk, berhandai-handai, ngobrol santai ngalor ngidul, ngétan bali ngulon. Saya sendiri kagum dengan saya sendiri, karena ternyata sebagai tuan rumah, saya bisa mengendalikan Einstein dan Schumpeter ini berkoeksistensi secara damai. Mungkin karena topiknya ya hanya topik cèkèrèmès, perkara naiknya harga lauk pauk.

Tiba-tiba Prof Lemahamba dsb, dsb, dsb-nya itu nyeletuk.

By the way, Legowo. Did you see Tjoet Nja’ Dhien ?”

“Tjoet Nja’ Dhien ? Oh, … uwis, uwis, Mas.”

Well, what’s your opinion about the movie. Excellent, good, fair, bad or very bad ?

“Wah, ya bagus, Mas. Film itu bagus semuanya. Ya sinematografi, ya akting. Dan yang paling penting Tjoet Nja’ Dhien hidup lagi di tengah kita. Itu penting, kan ?”

Why penting ?”

“Ya, untuk mengingatkan bahwa perjuangan, keikhlasan dan kesederhanaan itu penting, Mas.”

“Wah, kalau saya, film itu penting karena bisa menelan biaya bermilliar rupiah dan ternyata juga sukses diputar di mana-mana.”

“Nah, tentu itu ada sebabnya kan sukses di mana-mana itu. Menurut saya, ya karena penonton sudah lama menunggu film dengan cerita perjuangan, keikhlasan dan kesederhanaan itu, Mas.”

Well, kau boleh-boleh saja berpendapat begitu. Tapi, tanpa strategi pemasaran dan menejemen yang jitu, pasti film itu sudah berantakan dari kemarin. Wah, kalau tahu bakal sukses begitu, aku ikut modali tempo hari.”

Saya mulai dêg-dêgan. Sebab saya lihat ampere intelektual akademis mereka mulai bergerak ekstrem jarumnya. Waduh, jangan-jangan pendapat Mr. Rigen itu benar. Dan ini kemudian saya jadi lebih yakin waktu mbakyu-mbakyu itu mencoba menenteramkan perdebatan suami mereka.

Zus Lemahamba, sudah tahu kalau rumah makan Masih Sepuluh pindah ke jalan Patuk sekarang ?”

“Rumah makan Masih Sepuluh ? What a strange name for a restaurant ? I’m sorry never heard, Jeng.”

Tiba-tiba Prof. Lemahamba menghardik istrinya.

“Bu, bu, … mbok be quiet, to. Ini kita sedang adu argumen penting !”

Saya tahu sekarang lampu merah memang sudah dekat-dekat menyala. Buru-buru saya ke dapur, mendapati Mr. Rigen yang ternyata nguping di balik pintu. Dengan berbisik dia bilang,

“To, pripun, Pak ? Pripun, Pak ? Penghabisannya mereka rak padu, to ?”

Iyo, iyo. Wis, sekarang kamu cepat ke Samirono beli tongseng empat porsi, satenya empat puluh.”

Mr. Rigen tersenyum lebar. Dengan sigap dia siapkan rantang dan menerima uang dari saya. Mungkin dia bisa membaca strategi mendamaikan mereka. Atau mungkin membayangkan sisa tongseng dan sate kambing itu. Saya hanya tahu siang itu di seputar meja makan rumah saya Alber Einstein dan Nyonya, Schumpeter dan Madam, saya dan sendirian, melahap tongseng dan sate kambing sembari gêr-gêran membicarakan hal-hal cèkèrèmès yang terjadi di dunia …..

Yogyakarta, 24 Januari 1989

*) gambar dari koleksikertasdjadoel.blogspot.com

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

akar rumput

tulisan ala kadarnya refleksi kehidupan dari akar rumput

My not–so–Secret Journal

thoughts, feelings, desires, passion, and some rambling!

PAUS ANTARTIKA

Kita akan bertahan!™

The BroNeo

cerita biasa dari orang biasa

Munajat Sang Pendamba

Tuhanku, gemintang langit-Mu telah tenggelam, Semua mata makhluk-Mu telah tertidur, tapi pintu-Mu terbuka lebar buat pemohon kasih-Mu. Aku datang menghadap-Mu memohon ampunan-Mu, Kasihi daku . . . .

ZeDeen

Rumahku Katanya Sih Surgaku : tentang perjalanan hidup lelaki kecil dan bahteranya

jendelakusam

"Pendar mata Sebuah catatan tolol, tentang perjalanan kehidupan dan segala macam penghidupannya"

lagilagi81.wordpress.com/

KEBAHAGIAAN HIDUP BUKAN SEKEDAR DARI AGAMA

Counting Down

The journey of my life...

Catatan Dahlan Iskan

dahlaniskan.wordpress.com

%d blogger menyukai ini: