Piye, Piye, Piye, …

piyeDI RUMAH saya, meja makan tidak hanya berfungsi sebagai tempat Mr. Rigen melampiaskan bakat seni panggungnya mengatur bloking hidangan makan pagi, siang atau malam. Meja makan adalah juga tempat saya melampiaskan bakat seni anarkis saya menyerak-nyerakkan koran, majalah, berbagai makalah dan surat-surat baik yang penting maupun tidak. Untuk cabang seni yang satu ini, saya selalu mendapat bantuan seorang anarkis besar yang tidak lain adalah Beni Prakosa.

Mr. Rigen yang tidak pernah kenal menyerah selalu berusaha agar pemandangan yang berbau anarki itu tidak terlalu dominan, mengatasinya dengan menumpuk rapi koran, majalah, makalah dan surat-surat itu di pinggir meja. Juga mesin tulis yang kadang-kadang nyêlonong meramaikan pemandangan meja makan dipinggirkannya di atas tumpukan kertas-kertas itu.

Sehabis saya makan atau åndråwinå kecil-kecilan bersama kawan-kawan, tumpukan majalah, koran, makalah dan sebagainya itu kami obrak-abrik lagi. Lha, wong saya ini intelektual, ahli, pakar cakar dan sebagainya itu ! Mosok tidak pegang-pegang bacaan di waktu senggang !? Kompas, Kedaulatan Rakyat dak bolak-balik sampai hafal. Minggu Pagi, Kedaulatan Rakyat Minggu, Kompas Minggu dak pandang, dak tatap dengan pênthêlêngan serius. Tempo dan Editor, bacaan yang berat dan perlu itu, dak renungi lama-lama, dak serap isinya karena banyak mengilhami kuliah-kuliah saya. (Tidak ngecap, lho ! Atasan saya di fakultas selalu memuji-muji mutu kuliah saya sebagai kuliah yang “mendalam”,”rich” dan penuh ilham. Beliau tidak tahu kalau itu semua karena saya rajin membaca karya-karya media masa. Dan beliau lebih tidak tahu lagi kalau itu semua karena saya mengikuti nasikat Prof. Dr. Lemahamba, M.Ed, M.A, M.Sc, Drs, …… yang memang selalu resourceful itu. Media masa Indonesia, begitu katanya, adalah sumber yang tiada habisnya untuk kebudayaan modern kita … )

Lha, Mr. Rigen menghadapi pemorakporandaan panorama necis meja makan saya itu dengan keuletan petani Pracimantoro. Majalah, koran dan surat yang berserak-serak itu ditumpuknya lagi dengan rapi, setiap kali saya mengacak-acaknya lagi. Dan saya pun mengacak-acaknya lagi begitu piring-piring lauk-pauk itu diundurkan ke dapur. Begitulah kami berdua bertempur bagaikan dua Sisyphus, tokoh legenda Yunani yang dikutuk dewa untuk selalu harus membawa batu besar ke puncak gunung untuk kemudian digelindingkan lagi begitu dia berhasil mencapai puncak. Dan Sisyphus itu dengan sabarnya akan mulai dari bawah lagi menggendong batu besar itu ke puncak gunung. Wah … satu Sisyphus dari Praci satu Sisyphus dari Ngawi, berebut lahan dan medan di meja makan …

Suatu siang, sehabis makan siang yang agak overacting pemerataan pedasnya. Seperti biasa saya obrak-abrik tumpukan majalah dan koran di pinggir meja. Sembari mencukil-cukil sisa-sisa gestapu-pki, slilit, di sela-sela gigi saya pun mulai melahap media masa. Tiba-tiba, …

Iki piyé ?! Iki piyé, Pakné ?!

“Yang piyé itu apa ?”

Êlho … ! Mrs. Nansiyem kok tiba-tiba menjadi sopran suaranya ! Saya pun lantas segera memasang kuping dialog suami-istri itu di dapur.

“Yang piyé itu, Pak, harga-harga di toko dan di pasar itu, lhoooo !”

Piyé ? Naik semua, to ? Piyé ?

Lha, piyé ?! Lênga wangi naik, lênga mambu naik. Mau wangi naik, mau mambu naik. Sabun, odol, lipsêtik, gosok kèlèk, sikat gigi, wêdhak, kain cita, jarik lurik, pokok-é kabèh. Mak rêgêdêg naik semua ! Piyé, piyé kalau begini ?!”

Beni Prakosa yang rupanya baru selesai makan siang kedengaran nimbrung. Suaranya mencerminkan persaingan ketat antara antara sisa-sisa makanan di mulut dengan volume hawa yang dikeluarkan.

“Kok dari tadi, piyé, piyé, piyé melulu to, Pakné, Buné ?

Héssyy ….. bocah cilik ikutan cerewet. Diam kowé ! Kalo bapak ibukmu nggak bisa beli apa-apa buat kamu, terus …. “

Piyé … ?” sambung Beni Prakosa. Dan dia pun saya dengar gêdêbak-gêdêbuk lari ke halaman sembari teriak-teriak.

Piyé, piyé, piyé … !

Wooo … anak setan tênan ! Kalau tidak turun bapaknya yang turunan lelembut macan Praci, kan tidak mungkin to Beni itu mbêling seperti itu ?!”

Wis to, Buné ! Yang sabar. Wong kita ini wong cilik. Mau apa ? Harga naik, ya kita nggak bisa apa-apa. Harga turun paling kita ya ikut bersyukur. Sudah untung kita masih ndèrèk Pak Ageng. Kalo kita itu kerja mêrdhiko di luaran ? Hayoo, terus piyé ?!

Saya pun melipat Kompas hari itu. Kepala saya jadi ikut mumêt mendengar dialog staf kitchen cabinet saya itu. Begitu peka dan begitu nrimo mereka itu. Kapan mereka bisa bersikap tidak nrimo dan berani marah dengan vokal yang nyaring di jalanan ? Tetapi, ayakk … wong kaum intelektual Korpri seperti saya juga kutuk, tidak berni vokal saja, kok !

Saya pun lantas berhenti berpikir (seorang intelektual kadang-kadang perlu juga berhenti berpikir, lho). Saya pun lantas meraih majalah Matra, saya bawa ke tempat tidur. Saya tatap wajah Poppy Dharsono yang aduhai. Sudah berapa tahun saya tidak pernah ketemu dia lagi, sejak dia meninggalkan bangku LPKJ. Saya mulai liyêr-liyêr, setengah mengantuk. Tetapi, wajah Poppy Dharsono itu, lho, terus saja mencegah kantuk saya. Wajah Poppy, wajah Nansiyem, wajah Poppy, wajah Nansiyem terus bergantian membayang di depan mata. Ah, saya kok harus mencoba tidur siang mengumpulkan tenaga. Buat apa ?. Ah, tidak tahu juga. Yang penting tidur sajalah, meski mungkin agak susah. Well, let’s try …

Sore harinya saya bangun gêragapan, pintu kamar digedor Mr. Rigen. Poppy Dharsono rasanya baru saja meninggalkan saya, ini sudah ada gedoran dari dunia nyata yang pahit. Dengan mênggêrundêl saya sempoyongan ke luar kamar. Harga apa lagi nih yang naik, gerutu saya. Di halaman ternyata Mas Prasodjo Legowo sudah duduk nangkring di Honda bebeknya yang butut.

“Hei, feodal kolonial ! Enak ya tidur siang, sementara seluruh dunia kerja keras terus menerus !”

“Lho, Mas, di dunia ini ada pembagian kerja. Ada yang harus kerja keras seperti sampéyan, ada yang harus berleha-leha nglaras roso seperti saya.”

Dhapurmu !

“Ini dari mana ?”

“Dari mana !? Ya dari kerja, to ! Ini baru saja jam lima sore, Tuan Besar !”

Édyann … ! Jam lima sore masih kerja ? Hebat tênan lho, sampéyan.”

Hésyyyh, … nggak usah muji-muji, seniman malês ! Saya cuma mampir mau kasih oleh-oleh yang sudah kamu impi-impikan. Nih … ! Kaos Polo ukuran XL. Kalo ini nggak cukup, ya berarti belum rejekimu.”

Kaos Polo saya tangkap dari lemparannya. Dak buka bungkusannya. Jrééénggg … ! Di situ terletak kaos Polo biru tua dengan gambar merknya kuda kecil berwarna merah tua. Kaos itu dak gosok-gosokkan ke pipi saya. Halus … milyus …

Lha, gèk berapa ini harganya, Mas ?”

Mas Prasodjo geleng-geleng kepala.

Héissyyyy … nggak usah tanya. Wong kamu juga nggak bakalan ganti saja, lho.”

Kami berdua tertawa cekakakan.

“Lho, saya tanya itu karena sekarang apa-apa naik harganya. Saya kepingin tahu saja berapa tinggi kau hargai saya sekarang.”

“He, he, he, … Kok kamu ikutan mikir harga naik segala. Nggak usah. Mecahin kepala kita mikir itu. Sudah ada yang mikir itu.”

Êlho,… sampéyan sang pemikir, sang intelektual sejati, sang satriyo pinandhito menganjurkan kita nggak usah mikir. Piyé, iki ? Piyé ?

Piyé, piyé, piyé ! Ya, nggak piyé, piyé. Kita trima saja semua. Gaji kita naik 15%, kita trima. Harus membayar pajak macam-macam, kita trima. Kalau uang tidak cukup, ya makan kita yang kita turunin kwalitasnya. Etung-etung tirakat. High thinking, semangkin plain living. Wis, yo.”

Dan dengan èjlèk, èjlèk sekian kali dia pun mendera Honda bebeknya pergi. Wah, piyé, idola intelektual saya kok nrimo persis seperti Mr. Rigen, lho. Sembari mêngêmpit kaos Polo yang dahsyat itu, saya berjalan pelan masuk rumah. Tanpa sengaja saya kok jadi rêngêng-rêngêng lagu kuno zaman ibu saya masih suka menyanyi dulu.

“Mi, mi, mi, mi, mi, sol, fa, mi, re ….. piyé, piyé, piyé, piyé, ora wêruh …

“Re, re, re, re, re, fa, mi, re, do ….. piyé,piyé, piyé, mbuuhh ora wêruuuuhhhh …

Langit semangkin mendung.

Yogyakarta, 17 Januari 1989

*) gambar dari ceritasitelingabulat.blogspot.com

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

akar rumput

tulisan ala kadarnya refleksi kehidupan dari akar rumput

My not–so–Secret Journal

thoughts, feelings, desires, passion, and some rambling!

PAUS ANTARTIKA

Kita akan bertahan!™

The BroNeo

cerita biasa dari orang biasa

Munajat Sang Pendamba

Tuhanku, gemintang langit-Mu telah tenggelam, Semua mata makhluk-Mu telah tertidur, tapi pintu-Mu terbuka lebar buat pemohon kasih-Mu. Aku datang menghadap-Mu memohon ampunan-Mu, Kasihi daku . . . .

ZeDeen

Rumahku Katanya Sih Surgaku : tentang perjalanan hidup lelaki kecil dan bahteranya

jendelakusam

"Pendar mata Sebuah catatan tolol, tentang perjalanan kehidupan dan segala macam penghidupannya"

lagilagi81.wordpress.com/

KEBAHAGIAAN HIDUP BUKAN SEKEDAR DARI AGAMA

Counting Down

The journey of my life...

Catatan Dahlan Iskan

dahlaniskan.wordpress.com

%d blogger menyukai ini: