Pesta Demokrasi Kenaikan Gaji

terima uangAPAKAH Anda pernah meragukan bahwa negeri kita adalah satu demokrasi ? Satu pemerintahan oleh dan untuk rakyat ? Saya, sedikit pun tidak pernah bimbang dan ragu perkara itu. Meskipun, biarpun, walaupun, meskipun, biarpun, walaupun, …. toh negeri ini semacam demokrasi juga. Buktinya ? Ya sekarang ini, pada waktu Bapak Presiden dengan resmi telah mengumumkan bahwa gaji pegawai negeri naik. Di situlah pesta demokrasi langsung beroperasi. Begini duduk perkaranya.

Pagi itu saya duduk nglésot di depan teve dengan didampingi oleh tangan kanan saya, direktur kitchen cabinet, juru masak plus juru bicara rumah tangga saya, merangkap ajudan saya, Mr. Rigen. Kami duduk mendengarkan pidato Presiden di depan DPR. Saya duduk dengan harap-harap cemas apakah Presiden jadi akan mengumumkan kenaikan gaji pegawai negeri sebesara 15% atau tidak. Sudah sejak beberapa minggu kawan-kawan di kampus mempergunjingkan hal itu. Mutu pergunjingan itu bahkan sudah mencapai tingkat mendatangkan seekor tokek. Otok-otok-otok têkèk, naik, … têkèk, tidak naik, … têkèk, naik, … têkèk, tidak naik, … têk

Akan tetapi, bagaimana halnya dengan bêdhès bangkokan yang bernama Mr. Rigen itu ikut-ikutan nglesot di samping saya, saya sungguh tidak tahu. Kalau acara teve itu pertandingan sepakbola antara Eindhoven melawan kesebelasan dari Montevideo atau tinju antara Elyas Pical melawan petinju Thailand, itu saya bisa mengerti. Sumber-sumber informasi tentang itu banyak yang dia dapatkan. Tetapi, perkara gaji pegawai negeri mau naik ? Lha, dari mana lho dia dapat informasi ? Tahu-tahu dia sudah duduk ngêdhêpês di samping saya. Dan biasanya Mr. Rigen itu paling tidak tahan melihat dan mendengar pidato-pidato yang panjang. Tetapi, kali ini ….

“Wah, kira-kira Pak Harto jadi atau tidak nggih, Pak ?”

“Jadi apa ?”

Ayakk, Bapak kii.”

“Lho, beneran. Aku tidak tahu apa yang kamu maksud !”

“Itu lho, kenaikan gaji pegawai negeri !”

“Kok tahu-tahunya kamu kalau gaji pegawai negeri bakal naik ?”

Ha, ênggih ngêrtos to, Pak. Wong kabar itu sudah sumêbar di seantero anggota PBB dan PJJ kawasan sini lho, Pak.”

“Wah, élok. Terus kalau sudah sumêbar di antara kalian serikat buruh itu mau apa ? Wong ini urusan pegawai negeri, Mister.”

Yakk, Bapak kii. Korpri sama PBB dan PJJ itu kan partner sejati to, Pak. Kalau Korpri seneng, ya PBB dan PJJ juga ikut seneng. Kalau Korpri susah ya kita ikut susah … “

Wis, wis, wis, … Konkritnya itu apa, Mister ?!”

Persis waktu itu Bapak Presiden menyebutkan bahwa gaji pegawai negeri akan naik 15%. Mak bêt ! Dengan trêngginas Mr. Rigen menyambar.

Lha, kongkritnya nggih niku to, Pak. Limolas persen ! Korpri, PBB dan PJJ kan sama-sama to, Pak.”

“Oohh, … dhapurmu ! Druhun kênyut tênan kowé ….. !

Baru saja saya membatin untuk menaikkan gaji mereka atau tidak, Mas Joyoboyo yang sudah berbulan tlisiban, tidak pernah ketemu saya, begitu saja muncul.

Pènggèng èyèm, Pak. Wah, Bapak kii jan tênan bolehnya sio-sio mênjotak saya. Sampai saya hampir memutuskan pindah kerjaan jualan watu atau besi tua.”

Ayakk, sampéyan kok bolehnya main drama. Baru berapa hari lho, kita tidak ketemu.”

“Berapa hari, Pak ? Berapa tahun ngotên lho, Pak ! Nah, sekarang dipundhuti, pumpung belum naik. Mulai minggu depan mungkin naik lho, Pak. Nyonyahe yang bilang begitu !”

“Lho, kok gitu ?!”

Ha, ênggih pemerataan rejeki to, Pak, Pak. Bapak naik gaji limolas persen, saya yang sudah langganan mosok ya nggak diciprati persenannya to, Paak.”

Yoo, … yo … Korpri partner PBB dan PJJ. Sekarang Korpri juga partner PAP, Persatuan Ayam Panggang. Terus bakalnya naik berapa persen, Mas Joyo ?”

Ha, ênggih, ya limolas persen ngotên to, Pak.”

“Yaa, … ya. Terus ikut naik semua !”

Saya pun memborong pènggèng èyèm itu, mengikuti anjuran Mas Joyoboyo. Pumpung belum naik harganya. Perhitungan saya, kalau nanti betul naik 15%, toh kemampuan saya membeli dan meng-entertain sanak-saudara dengan makanan khas Klaten itu akan berkurang banyak sekali.

Pada sore hari pak pos datang membawa surat kilat khusus dari si Gendut, anak wuragil saya di Jakarta. Isinya pendek saja.

“Be, ada slentingan keras gaji Babe bakalan naik, lho ! Saya menuntut uang saku bulanan saya segera dinaikkan. Harga jajanan di Jakarta sudah pada naik semua lho, Be ! Tenan lho, Be. Trims !”

Waduh ! Lha, wong Presiden baru saja pidato tadi pagi, lho. Lha kok si Gendut sudah tahu sebelumnya kalau gaji pegawai negeri mau naik dan harga-harga jajanan di Jakarta sudah pada naik. Trèmbèlané tênan !

Dan esok harinya, pada waktu saya memberi uang belanja harian Rp. 5.000,- kepada Mr. Rigen, dia menerimanya dengan tersenyum sambil menyodorkan lagi tangannya.

“Lho, apa lagi, Mister ?”

Lha, ya nggak cukup lagi, Pak. Saya berani taruhan, pasti harga-harga di pasar naik semua. Mohon ditambah 10% lagi.”

Elho, lha kok banyak sekali, Gen ?!”

Yak, ya nggak. Malah harusnya limolas persen !”

Trèmbèlané tênan ! Saya pun menambahkan Rp. 500,- lagi. Dan pada waktu saya sudah mau naik jip ke kantor, bedhes kecil beni Prakosa sudah mencegat di pintu jip. Wah, apa lagi ini ?

“Pak Ageng, nyuwun tambah pangèstu biar pinter. Juga nyuwun tambah sangu. Harga bihun goreng sak bungkus di sekolah sudah naik.”

Nahh, … lho ! Siapa bilang pemerataan belum jalan di negeri kita ? Siapa bilang rakyat kecil belum tahu menuntut haknya ? Korpri seluruh nusantara bersatulah ! Para bakul di pasar, para pemilik toko di Jalan Solo dan Malioboro, para pedagang sektor informal, bersatulah untuk menaikkan harga ! Kami Korpri akan menaikkan prestasi kerja dan disiplin kami dan …………

Yogyakarta, 10 Januari 1989

*) gambar dari suarapembaruan.com

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

akar rumput

tulisan ala kadarnya refleksi kehidupan dari akar rumput

My not–so–Secret Journal

thoughts, feelings, desires, passion, and some rambling!

PAUS ANTARTIKA

Kita akan bertahan!™

The BroNeo

cerita biasa dari orang biasa

Munajat Sang Pendamba

Tuhanku, gemintang langit-Mu telah tenggelam, Semua mata makhluk-Mu telah tertidur, tapi pintu-Mu terbuka lebar buat pemohon kasih-Mu. Aku datang menghadap-Mu memohon ampunan-Mu, Kasihi daku . . . .

ZeDeen

Rumahku Katanya Sih Surgaku : tentang perjalanan hidup lelaki kecil dan bahteranya

jendelakusam

"Pendar mata Sebuah catatan tolol, tentang perjalanan kehidupan dan segala macam penghidupannya"

lagilagi81.wordpress.com/

KEBAHAGIAAN HIDUP BUKAN SEKEDAR DARI AGAMA

Counting Down

The journey of my life...

Catatan Dahlan Iskan

dahlaniskan.wordpress.com

%d blogger menyukai ini: