Terompet Tahun Baru

terompetJONI, anak Tegal yang kêsangsang di Jakarta dan nyangkut di Cipinang Heli yang berbatasan dengan kompleks Cipinang Indah, adalah anak yang penuh inisiatif. Hidup di Jakarta yang keras tidak dibiarkan menerornya habis-habisan. Dilawannya teror itu dengan pagi menjual lontong sayur, sore menjual mi bakso dan pangsit goreng, malam hari mie rebus Tegal. Lontong sayur dia dapat resepnya dari empok Siti di sebelah rumahnya. Katanya, itulah sarapan khas Betawi, lontong dengan sayur. Buat Joni kreatif itu masih ditambahnya dengan telor pindang dan tahu. Pagi-pagi dia sudah akan melakukan invasi ke kompleks gedongan Cipinang Indah. Dengan gerobaknya yang antik dan suara piring yang dipukulnya teng-teng-teng itu semua penghuni kompleks akan langsung mengenalnya.

Dan pada sore hari adalah giliran mie bakso pangsitnya yang dijajakannya. Pangsit gorengnya lebih mirip rêmpèyèk kacang yang sporadis kacang ketimbang pangsit asli yang dilipat membungkus daging. Mungkin itu kreasi lain dari Joni. Yang penting anak-anak suka biar pun pangsit itu cuma tepung digoreng dan bila sudah kecebur di kuah jadi kiwir-kiwir, berkibar kayak bendera.

Malam hari adalah malam Joni yang sesungguhnya. Masakannya adalah masakan yang paling dia kuasai, karena itulah yang dikenalnya sejak dia masih kecil di Tegal sana. Memasak mie agaknya serasa jadi chef di restoran Itali memasak spagetti bagi Joni, begitu meyakinkan dan penuh gusto. Juga bila menjaja di malam hari, dia bisa mampir bercanda dengan anggota PBB cabang Cipinang Indah yang pada malam begitu akan pada ngaso di pinggiran boulevard. Kebanyakan mereka juga hasil rekrutan Tegal, sehingga percakapan dua percandaan itu akan semakin seronok saja.

Di rumah kami di Cipinang Indah, tentunya di samping warga PBB, adalah Gendut yang cukup akrab dengan Joni, bukan karena dia suka ikutan nongkrong di pinggiran boulevard. Yang benar saja. Si Gendut kan anak priyayi gedongan. Mana mungkin malam hari ikutan nglésot bareng warga PBB itu. Meskipun tidak setiap saat Joni lewat Gendut melambailkan tangannya untuk jajan jualan, toh cukup sering juga Gendut memanggilnya untuk melahap masakan Joni. Sering kali, terutama malam hari, kami serumah ikutan nyêruput mie kuah ala Tegal yang dahsyat itu. Mericanya agak overacting bolehnya menabur, ulêkan bawang putihnya agak terlalu low profile, suwar-suwir ikan ayamnya sangat terlalu malu-malu kucing tetapi selebihnya oke-lah.

Hatta di pagi hari tanggal 31 Desember 1988 itu, tiba-tiba kami serumah mengidam sarapan lontong sayur si Joni. Gendut sudah duduk di kursi rotan untuk mencegatnya. Tetapi, sudah lewat pukul sepuluh, suara teng-teng-teng yang khas cemprengnya itu tidak kunjung datang. Akhirnya, kami menyerah dengan nasi goreng ala Madam Belgeduwelbeh yang pagi hari itu nekat di-kêpyuri irisan keju yang cukup meyakinkan penampilannya. Pada kira-kira pukul 12 siang kami melihat Joni lewat dengan memikul segerobak terompet yang berumbai-rumbai warna-warni yang mencolok mata. Gendut segera melompat ke luar.

“Joni, … Joni. Sini bentar, dong !”

Joni datang ke teras, nafasnya ngos-ngosan.

“Lu, ke mana aja, sih ? Serumah nunggu pingin lontong sayur, Lu.”

“Wah, sori, nDut. Hari ini sampai malam nggak ada makan-memakan. Ada proyek yang lebih kakap nih. Lha, ini. Terompet tahun baru. Untungnya berlipêt-lipêt dari lontong sayur, mie bakso pangsit dan mie rebus.”

“Kok lu pasti banget, Jon ?”

“Iya dong, nDut. Kan di koran-koran sudah diberitain, tuh. Mantri Parpostel perintah sama hotel-hotel kudu ngêborong terompet sama topi.”

“Yah, Joni. Remaja Cipin, terutama yang ca-em pada mau ngumpul di sini entar malam, Jon. Kita mau ngêborong mie rebus lu, lho.”

“Wah, sori, nDut. Untungnya kalah gede sama ngêlopêr terompet ke hotel.”

“Iihh … jahat ya, sama pelanggan. Awas, kami boikot baru tahu, lu !”

“Jangan dong, nDut. Setahun sekali aja. Elu kan anak gedongan.”

“Lantas ?”

“Ya, setidaknya lu tiap hari pasti makan. Babe lu orang gede. Proyek ada terus. Kalau aku ini apa ? Proyek ya cuma terompet begini. Ini juga cuma setahun sekali. Besok malam deh, mie rebus jalan lagi. Tapi, jangan pagi, aku mau tidur. Bantalku duit segepok keuntungan terompet. Udah, ya.”

Joni berangkat sembari memikul gerobak terompetnya dan meniup terompet sepanjang jalan. Tet, tet, teeeetttttt, … tet, tet, teeeeettttttt. Kami serumah tersenyum melihat penampilan Joni. Pandangannya tentang orang gedongan berbau revolusi Perancis. Optimismenya tentang rezeki malam tahun baru agak mengerikan.

Esok harinya kami serumah, yang tadinya mau mbangkong menikmati bangun siang untuk menyambut tanggal satu tahun baru, dikejutkan oleh suara khas Joni. Gendut segera lari keluar. Kami mengikuti percakapan mereka dari ruang dalam. Dari dalam kami melihat wajah Joni kelihatan loyo. Di teras kelihatan pikulan terompetnya yang kemarin masih ada separo.

“Wah, sial, nDut.”

“Lho, sial gimana ? Kan Mantri Parpostel kan sudah perintah hotel untuk ngeborong terompet lu ?!”

“Jangan ngêlèdèk, nDut. Hotel beli sih beli. Tapi, yang jual terompet juga berapa gerobak ?! Lagian kami malu dan takut masuk hotel dari depan.”

“Emangnya kenapa ?”

Duilee, nDut. Belum lagi yang turun dari mersedes itu. Waduh ! Yang cewek dandannya menor-menor kagak ketulungan. Bajunya kagak tahu lagi tuh dari bahan apa. Mengkilap. Gemerlap. Sembari menggandeng cowok mereka. Mereka pun senyum sana senyum sini. Basa Inggris. Hai, hai, hai, yes, yes, yes. Terus kita mau berani nerobos gimana ? Satpamnya aja, galaknya melebihi raja lenong. Kami digusah, disuruh ke pintu belakang kalau mau jual terompet. Kami disrempet mersedes-mersedes itu. Waah, susah jadi orang kecil, nDut.”

Kami semua diam membayangkan pengalaman Joni.

“Terus lu mau gimana, Jon ?” tanya si Gendut.

Joni diam sejenak. Matanya kelihatan melirik ke ruang dalam tempat kami duduk.

“Bilang dong, sama Babe lu, suruh ngêborong mie rebus saya entar malam. Dan, juga terompet yang masih separo ni. Ya, nDut, ya ?”

Gendut melirik ke dalam sebentar. Belum lagi kami sempat mengacungkan jempol oke atau menurunkan jempol no, Gendut sudah nyerocos saja,

“Beres, Jon. Jangan khawatir. Lu pulang saja tidur, ngaso. Tapi, nanti malam bawa mie rebusmu satu gerobak.”

Joni dengan girang pergi. Saya dan Nyi Ageng bengong memikirkan dari mana anggaran mesti dirogoh buat proyek maecenas Gendut itu. Di teras terompet-terompet tahun itu sudah loyo bolehnya berkibar …

Yogyakarta, 3 Januari 1989

*) gambar dari indotopinfo.com

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

akar rumput

tulisan ala kadarnya refleksi kehidupan dari akar rumput

My not–so–Secret Journal

thoughts, feelings, desires, passion, and some rambling!

PAUS ANTARTIKA

Kita akan bertahan!™

The BroNeo

cerita biasa dari orang biasa

Munajat Sang Pendamba

Tuhanku, gemintang langit-Mu telah tenggelam, Semua mata makhluk-Mu telah tertidur, tapi pintu-Mu terbuka lebar buat pemohon kasih-Mu. Aku datang menghadap-Mu memohon ampunan-Mu, Kasihi daku . . . .

ZeDeen

Rumahku Katanya Sih Surgaku : tentang perjalanan hidup lelaki kecil dan bahteranya

jendelakusam

"Pendar mata Sebuah catatan tolol, tentang perjalanan kehidupan dan segala macam penghidupannya"

lagilagi81.wordpress.com/

KEBAHAGIAAN HIDUP BUKAN SEKEDAR DARI AGAMA

Counting Down

The journey of my life...

Catatan Dahlan Iskan

dahlaniskan.wordpress.com

%d blogger menyukai ini: