Sakit

ortu sakitDulu waktu masih kecil, sakit tidak selalu merupakan satu malapetaka. Sering kali bahkan menyenangkan. Menyenangkan bila masa krisis sudah lewat. Waktu panas sudah mulai terasa ringan dan sudah tentu nafsu makan, yang selama masa teror itu hilang sama sekali, mulai terbit kembali. Wah, itu merupakan bagian yang paling menyenangkan dari masa sakit itu. Saya akan meneror seluruh rumah habis-habisan. Segala macam makanan, seperti; cap cay, bakmi godhog, sate ayam, yang pada hari-hari biasa hanya kadang-kadang saja muncul di meja makan (itu pun untuk dikeroyok seluruh isi rumah), saya tuntut untuk dihidangkan di kamar saya. Dan hanya buat saya sendiri.

Orang tua saya, makhluk-makhluk yang baik itu, tidak bisa lain daripada memenuhi permintaan saya. Anak sakit adalah raja. Adik-adik saya akan saya perlakukan sebagai pelayan-pelayan restoran yang harus bolak-balik antara kamar saya dan kamar makan. Mereka dengan patuh akan melaksanakan perintah-perintah saya. Kalau tidak saya akan hardik dan bentak-bentak mereka. Biasanya mereka akan patuh. Tentu saja bukannya tanpa pamrih.

Sebab bagaimana pun saya sudah ingin melahap semua makanan itu, toh kondisi tubuh sayabelum sepenuhnya pulih untuk menyerap semua makanan itu. Di situlah, adik-adik saya akan memanipulasikan kondisi kesehatan saya. Mereka akan menghasut saya supaya jangan hanya minta dibelikan satu macam makanan. Cap cay dengan sate ayam, bakmi godhog dengan sate ayam dan entah kombinasi apa lagi. Belum lagi kue dan sêtrup. Mereka, adik-adik yang lihai itu, akan dengan sangat cekatan memakai segala kesempatan dalam kesempitan.

Tentu saja orang tua saya tahu belaka akan trick-trick picisan semacam itu. Karena itu orang tua di mana saja akan selalu berdo’a semoga anak-anak mereka selalu sehat-sehat saja dan jangan gampang jatuh sakit. Anggaran ekstra buat thèthèk-bêngèk itu, lho, yang menjengkelkan dan bisa merusak strategi APBN rumah tangga.

Lha, waktu minggu yang lalu saya ambruk kêsambêt angin yang membuat tenggorokan saya menjadi abang-irêng, kok naluri anak-anak saya kembali lagi. Saya teror seluruh isi rumah saya. Si mBak, anak sulung saya yang sekarang sudah berkeluarga itu, saya perintahkan untuk pindah sementara beserta suami dan anak mereka. Si Gendut, Bu Ageng, Madam Belgeduwelbeh semua harus dikonsinyir untuk mengurus sakit saya. Pizza dari Pizza Hut, Lidah Masak Kacang Polong dari Trio, Ikan Asam dari rumah makan Menado Kelapa Gading, ganti berganti saya perintahkan untuk dihadirkan. Semuanya dengan patuh dan gembira melaksanakan perintah sang patriarch. Dan ternyata bukannya tanpa pamrih. Porsi-porsi yang mereka beli itu porsi dobel agar seluruh rumah ikut menikmati sakit saya. Si Gendut, anak saya yang paling jahil dan kreatif di bidang makan-memakan, adalah biang kerok dari segala pesanan makanan itu.

Bokap, tenggorokannya masih sakit, ya ?”

“Sudah agak mendingan, nDut. Emangnya kenapa ?”

“Nah, kalo begitu sudah bisa dimasukin Håagen Dasz atau es puter Kemayoran.”

“Eh, kamu kok ada-ada saja. Kalau kena es kan jadi berabe lagi tenggorokan Babe !

“Lho, katanya waktu dulu sekolah di Amerika, waktu sakit justru dikasih es krim. Kan kata Bokap takut es waktu sakit itu sudah kuno.”

Eh, iya ya, pikir saya. Waktu dulu saya pernah kena sakit gondong dan diopname di rumah sakit di Cornell, saya justru disuruh minum es krim.

“Ya … boleh, deh. Ambil uang di dompet Babe.”

Dan waktu sang Håagen Dasz itu datang tentu saja bukan hanya cukup satu atau dua cup. Barangkali ada kalau satu pint. Kemudian datang si mBak.

“Eh, Be. Masih terasa nggak enak kalau makan ?”

“Ya, sudah tidak terlalu lagi, mBak. Kenapa ?”

“Itu … di Trio bukan cuma lidahnya aja yang yahut. Itu ayam wud kee juga bagus lho, buat orang yang baru habis sakit. Beli, ya ? Wah, sudah berabad-abad saya tidak makan ayam wud kee.”

“Ya, sudah. Beli sana. Ambil uang di dompet Babe.”

Waktu ayam wud kee itu datang, tentu saja tidak hanya satu porsi, melainkan tiga porsi. Lha, wong seluruh rumah harus ikut andrawina, kok.

Dan begitulah, rutin teror-meneror pesan makanan itu berlangsung sampai saya menjelang sembuh. Waktu akhirnya saya sudah merasa agak sembuh, saya dan istri mengecek pengeluaran selama sakit itu. Edyaannn tenan ! Melonjak tinggi melewati garis batas pengeluaran rutin, nyaris tak menyisakan anggaran ekstra yang lain.

“Wah, akhir tahun, tutup tahun, menjelang old and new, kok malah ikat pinggang kêncêng-kêncêng ya, Bu ?”

Istri saya tersenyum.

Gayamu itu, lho. Kayak kita ini selalu langganan old and new di Hilton atau di Mandarin saja. Lha, wong tiap tahun old and new ya cuma klékaran di depan tivi, lho. Sudah jangan bingung. Nanti kan ada saja rejeki buat nutup pengeluaran ekstra sakitmu. Wong kamu juga senang to sakit diperlakukan begitu sama anak-anakmu ?”

Saya tertawa nggêlêgês.

Mestinya Nyi Ageng itu tahu juga to waktu saya sedang sakit-sakitnya itu. Cêkot-cêkot di kepala, panas 39 derajat, ke belakang terus-terusan, mencret seperti seekor burung ménthok. Sakit bertumpuk begitu pada waktu sudah mencapai usia manula seperti saya, ternyata punya dimensi lain. Dimensi seperti, “wah, apa ya sudah waktunya saya game, nih. Kok sumbangan saya buat keluarga dan masyrakat belum apa-apa, nih. Dan sebagainya lagi. Tetapi waktu krisis itu sudah lampau dan mulai bisa meneror dan diteror keluarga saya, wah alangkah nikmatnya hari-hari itu.”

Tuhan Maha Kreatif. Sakit itu diciptakan-Nya untuk mengetes tubuh kita, nyali kita dan roso solidèr kita buat keluarga kita. Dan karena tubuh saya itu sudah rongsokan, nyalinya ya cuma pas-pasan apalagi roso solidèr buat keluarga harus dipertanyakan mutunya. Sakit masuk angin itu (yang membuat kolom ini absen), sungguh merupakan satu kenikmatan tersendiri.

Yogyakarta, 28 Desember 1988

*) gambar dari ramadan.detik.com

Iklan

2 komentar

  1. masteddy · · Balas

    pembaca blog umarkayam.wordpress.com yth,
    saya mohon maaf jika lama gak update tulisan di blog ini
    ada suatu hal yg sangat menguras emosi, tenaga, pikiran dan bahkan finansial sy
    saya akan tetap berusaha update tulisan di blog ini meski tdk bisa secara periodik spt sebelumnya
    ma kasih …. slamat membaca

    Suka

    1. arief · · Balas

      Yang semangat, Mas. Sehat-sehatlah sampeyan ya. :))

      Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

akar rumput

tulisan ala kadarnya refleksi kehidupan dari akar rumput

My not–so–Secret Journal

thoughts, feelings, desires, passion, and some rambling!

PAUS ANTARTIKA

Kita akan bertahan!™

The BroNeo

cerita biasa dari orang biasa

Munajat Sang Pendamba

Tuhanku, gemintang langit-Mu telah tenggelam, Semua mata makhluk-Mu telah tertidur, tapi pintu-Mu terbuka lebar buat pemohon kasih-Mu. Aku datang menghadap-Mu memohon ampunan-Mu, Kasihi daku . . . .

ZeDeen

Rumahku Katanya Sih Surgaku : tentang perjalanan hidup lelaki kecil dan bahteranya

jendelakusam

"Pendar mata Sebuah catatan tolol, tentang perjalanan kehidupan dan segala macam penghidupannya"

lagilagi81.wordpress.com/

KEBAHAGIAAN HIDUP BUKAN SEKEDAR DARI AGAMA

Counting Down

The journey of my life...

Catatan Dahlan Iskan

dahlaniskan.wordpress.com

%d blogger menyukai ini: