PSV Eindhoven, Nacional de Montevideo dan Perkesa Mataram

psv vs nacionalKupon Sumbangan Olahraga Berhadiah (KSOB) tidak selalu merugikan rakyat kecil. Setidaknya buat Mr. Rigen dan sahabat-sahabatnya dari Pracimantoro yang bekerja di berbagai kitchen cabinet di kawasan kami. Karena KSOB itu, di samping mereka kadang-kadang kecipratan sedikit rezeki, mereka menjadi ahli dalam peta bumi dunia persepakbolaan internasional. Nama-nama perkumpulan, seperti ; Hamburg SV, Borussia Dortmund, Hannover, FC Koln dan Bayern Muenchen, mereka hafal semua. Tentu saja dengan cara pengucapan yang mereka karang sendiri. Juga Galatama Inggris, seperti ; Chelsea, Liverpool, Everton, Aston Villa dan Nottingham Forest mereka juga hafal. Tentu sekali lagi dengan ejaan dan pengucapan made in Pracimantoro.

“Seharusnya mereka itu sekali-sekali main di sini ya, Pak.”

“Kok harus ?”

Lha, kita sudah capek-capek bertaruh buat mereka, kok. Rak ênggih adil kalau mereka kita undang main di sini !”

“Lho, kamu itu percaya to kalau mereka itu main betulan ?”

Yakk, ya tidak. Itu kan dolanannya pemerintah buat menghibur kita wong cilik to, Pak. Kita bisa totohan kecil-kecilan dan bisa membayangkan kesebelasan yang hebat-hebat itu.”

“Jadi KSOB itu baik ya, Gen, buat rakyat kecil ?”

“Ya, jelas to, Pak. Kita itu kalau tidak ada dolanan seperti itu harus main apa to, Pak ? Wong gaji ya kecil, tidak turah.”

“Tapi buat totohan KSOB turah ?”

“Yaa, diturah-turahkan, Paakk. Buat ngikat pikiran. Eee … siapa tahu kalau menang sedikit-sedikit kan lumayan. Malah tempo hari saya bisa ngolèh-ngolèhi martabak buat Bapak, lho.”

Saya tertawa ingat martabak yang entah dibelinya di mana waktu itu. Martabak itu sangat klomoh, berminyak, dagingnya sporadis sekali dan bungkusnya dari koran bekas yang maha kumel. Dan dengan bangganya Mr. Rigen mempersembahkan martabak itu sebagai pembagian rezeki yang baru didapatnya dari KSOB. Agar dia tidak kecil hati, saya telan juga beberapa potong martabak itu tanpa memperhitungkan kadar kolesterolnya.

“Terus tadi kamu punya usul cemerlang mau mandatangkan kesebelasan Eropa main di sini itu bagaimana ?”

Ha, ênggih, Liperpul lawan Arseto, Hamburek lawan Niac Mitra, Bayer Munik lawan Pelita Jaya.”

“Wah, élok. Apa menurut kamu kesebelasan Galatama kita akan bisa menandingi mereka ?”

“Ya, tidak. Ning setidaknya kalo mereka mau disuruh main di sini, kita semua bangga lho, Pak. Lha, kabar-kabarnya Bapak itu kenal sama ibu mantri sosial to, Pak ?”

“Yo, kenal. Wong sebelum jadi menteri kita ada hubungan kerja. Ning sekarang beliau itu kan menteri to, Gen. Jadi jaraknya jauuhhh. Kenapa, sih ?”

Mr. Rigen meringis tetapi matanya bersinar nakal.

“Hii ..hiikk. Siapa tahu Bapak kêrso melanjutkan gagasan saya sak konco untuk mendatangkan kesebelasan itu.”

Rupamu ! Kamu kira menteri sosial itu kerjanya cuma mikir lotre apa ? Banyak sekali lho kerja beliau itu. Emoh, Gen, aku rikuh melanjutkan usul itu.”

Mr. Rigen klincutan campur kecewa. Tetapi, waktu dia sudah pergi ke belakang, saya jadi terpikir-pikir juga.Kok fantasi Mr. Rigen kadang-kadang bisa “liar” juga. Mendatangkan kesebelasan-kesebelasan kelas berat internasional untuk diadu lawan kesebelasan Galatama kita dan itu hanya untuk hiburan peragaan pertaruhan kita. Tetapi, bila kita simak lagi kupon-kupon KSOB itu di mana fantasi para strateeg KSOB itu mengarang-ngarang pertandingan antara kesebelasan fiktif seenak perut mereka, kenapa Mr. Rigen cs tidak boleh punya usulan yang dahsyat begitu ?

Dan pada hari Minggu kemarin kami nglésot di tikar sama-sama melihat PSV Eindhoven melawan Nacional de Montevideo. Tentu saja kami menjagoi PSV Eindhoven. Tentu juga karena itu kesebelasan Belanda.

“PSV di depan Enhopen niku singkatan dari apa to, Pak ?”

“Perkumpulan Sepak Vola.”

Yaakk, Bapak kii.”

Lha, kamu dak beri tahu yang sebenarnya coro Londo juga tidak mudhêng, to ?”

“Wah, ning niku tanpa Gullit terus pripun, Pak ?”

“Ahh, menang, mesti menang. Jangan khawatir. Belanda hebat lho, Gen.”

Ha, ênggih.”

Beberapa saat kemudian.

“Wah, sialan. Eindhoven kok kalah, lho.”

“Lho, pripun, Pak ? Enhopen kalah ?! Enhopen kalah ?!”

Kami berdua diam. Sama-sama merenungkan kekalahan itu. Tiba-tiba Mr. Rigen melihat saya. Matanya bersinar nakal lagi.

“Pak ?”

“Apa ? Mau usul to kamu ?”

“Iya. Desember ini KSOB kan mau ditutup to, Pak.”

“Lantas ?”

Lha, mbok buat memperingati KSOB yang dahsyat dan hebat itu pemerintah mengadakan pertandingan ulangan Enhopen lawan Nasional di sini. Sokur kalau di Yogya sini.”

“Kok mesti di Yogya sini, Mister ?”

“Lho, Bapak kii pripun ? Katanya Yogya itu kota repolusi kita. Kota dulu kita lårå låpå waktu mendirikan republik, Pak .”

Lha, iya. Ning hubungannya itu lho apa, Mister ?”

Ha ênggih to, Pak. Ini kota rakyat berjuang. Wajar to, Pak, kalau kita yang dapat hiburan duluan. Dan nanti kalau itu jadi, Enhopen dan Nasional itu kita adu sama Perkesa Mataram dan PSIM. Kalau Arseto iri, ya, boleh kita undang ke sini, Pak.”

“Wah, élok. Cemerlang usulmu, Mister.”

Saya pun lantas masuk kamar kerja saya. Menghadap meja tulis. Menyusun surat usul Mr. Rigen yang saya anggap mewakili rakyat dermawan yang akan menyumbang pembangunan.

‘Ibu Menteri Sosial yang saya hormati …….’

Yogyakarta, 13 Desember 1988

*) gambar dari ebay.co.uk

Iklan

One comment

  1. Mfaisal · · Balas

    Dear blog admin,
    kenapa tulisan umarkayam ini berhenti di bulan desember? saya sangat nantikan series selanjutnya tulisan yang sanggat menghibur dan tiba-tiba jadi sanggat relevan dikeseharian kita hari-hari ini

    salam

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

akar rumput

tulisan ala kadarnya refleksi kehidupan dari akar rumput

My not–so–Secret Journal

thoughts, feelings, desires, passion, and some rambling!

PAUS ANTARTIKA

Kita akan bertahan!™

The BroNeo

cerita biasa dari orang biasa

Munajat Sang Pendamba

Tuhanku, gemintang langit-Mu telah tenggelam, Semua mata makhluk-Mu telah tertidur, tapi pintu-Mu terbuka lebar buat pemohon kasih-Mu. Aku datang menghadap-Mu memohon ampunan-Mu, Kasihi daku . . . .

ZeDeen

Rumahku Katanya Sih Surgaku : tentang perjalanan hidup lelaki kecil dan bahteranya

jendelakusam

"Pendar mata Sebuah catatan tolol, tentang perjalanan kehidupan dan segala macam penghidupannya"

lagilagi81.wordpress.com/

KEBAHAGIAAN HIDUP BUKAN SEKEDAR DARI AGAMA

Counting Down

The journey of my life...

Catatan Dahlan Iskan

dahlaniskan.wordpress.com

%d blogger menyukai ini: