Oleh-Oleh Mas Prasodjo Legowo

the reckoningmas prasodjo legowo baru-baru ini mampir ke rumah lagi. Kali ini tidak disertai mbakyu. Dan tidak juga ngluruk makan siang seperti tempo hari. Dari tasnya dikeluarkan sebuah buku paperback yang kelewat tebal. Ternyata itu buku David Halberstam, The Reckoning.

“Ini oleh-oleh dari New York. Ini buku dahsyat. Mudah-mudahan kau suka dan terpikir-pikir lama sesudah membaca buku ini.”

Saya tersenyum menerima buku itu. Terpikir-pikir lama, katanya. Itu istilah yang khas untuk menerjemahkan kata Inggris reflection.

“Yaa … cuma buku toh, oleh-olehnya ?”

“Ooo … rupamu ! Cuma buku. Memangnya kau mengharap oleh-oleh apa ?!”

“Ya, kaos Polo, kek. Atau apesnya ya Lacoste yang keren.”

Mas Prasodjo tertawa terkekeh-kekeh.

Ooalahh, Lé, Lé. Kamu itu dari dulu kok ya nggak maju-maju. Orang kok bolehnya bangga jadi batur mèrk-é luar negeri kok nggak sembuh-sembuh. Lha, dengan uang buat beli Polo itu saya kan bisa beli buku tebal macam ini barang tiga atau empat biji !”

“Lho, jadi Mas Prasodjo tahu to harga Polo, Lacoste dan sebagainya itu ?”

“Lho, lha iya. Mosok nggak tahu. Saya kan juga suka blusak-blusuk di departement store yang mewah-mewah itu.”

Lha, kalau begitu, kok saya nggak dibelikan ?”

“Tunggu dulu, Geng. Blusak-blusuk itu tidak sama dengan memborong atau mengobrak-abrik toko seperti anak-anak atau ibu-ibu kelas kakap dari Jakarta itu. Blusak-blusuk itu ya blusak-blusuk. Keluar masuk toko, itu saja. Itu sudah cukup buat saya. Sudah kenyang dan capek. He .. he .. he .. “

Mr. Rigen masuk menghidangkan es strop rosen yang merah menyala dan sepiring emping goreng. Mas Prasodjo langsung menyambar emping satu tangan penuh. Dan segera saja sound effect berkriuk-kriuk terdengar dari mulutnya. Dipandangnya Mr. Rigen lama-lama.

“Kamu kok mundhak cakep, Gen. Mangkin mbois.”

Mr. Rigen meringis malu-malu. Dia tahu kaos oblongnya dengan tulisan Esprit itu menarik perhatian Mas Prasodjo.

Lha, ternyata pembantumu juga sadar fèshiên begitu, kok. Esprit. Di mana kamu beli itu, Mister ?”

Mr. Rigen tertawa terkekeh.

“Ini ? Lha, cuma di loakan Pasar Kembang kok, Pak.”

“Loakan, loakan tapi kan Esprit, Mister. Sêtiiill, to ?

Mr. Rigen masuk ke belakang sambil kukur-kukur kepalanya.

“Eh, Geng. Kamu kepingin betul to, saya olèh-olèhi Polo ?

“Lha, kalau memang dikasih oleh-oleh begitu, ya tidak saya tolak, to. Apa salahnya sih pakai kaos Polo atau Lacoste ?

“Ya, tidak ada. Wong saya kalau dikasih juga mau kok. Keren-keren lho, kaos-kaos itu. Cuma kalau harus beli dengan uang sendiri, nanti dulu.”

“Memangnya uang harian dan honor makalahmu tidak cukup buat beli kaos-kaos yang begituan ?“

“Cukup sih cukup. Cuma uang itu tidak cukup banyak untuk mengulur-ulur keperluan kita yang macam-macam. Buat oleh-oleh mBakyumu yang meskipun tidak banyak dan mewah tapi selalu yang perlu-perlu. Terus buku-buku. Terus buat oleh-oleh kawan sekantor yang pistå, tipis ning råtå. Lha, kan sudah habis uang itu buat yang tètèk bêngèk itu.”

Saya tersenyum takjub. Beliau adalah Dr. Prasodjo Legowo, sang matematikan kebanggaan negeri kita yang mestinya tidak usah harus kesempitan uang buat oleh-oleh. Kok ya tidak terlalu beda jauh bedanya dengan saya yang cuma begini-begini saja mutunya. Maksud saya, kemampuan beli oleh-oleh kalau pergi ke luar negeri. Bahkan mungkin masih akan lebih ‘mewah’ oleh-oleh saya. Pasti lebih banyak tètèk bêngèk yang mewah tetapi yang tidak terlalu perlu yang saya beli. Pasti Mas Prasodjo lebih sederhana, lebih sehat pikirannya dalam membelanjakan dollar-nya.

“Kalau kamu pergi seperti yang baru lalu ini, ada berapa buku yang kamu beli ? Sak abrêg-abrêg ya ?”

“Ya enggak to kalau sak abrêg-abrêg. Sak cukupnya uang lebihan saja.”

Lha, iya, berapa ? Lima, sepuluh, dua puluh ?”

Hussh. Memangnya saya ini bakul buku apa ? Kali ini di luar yang paperback ya ada enam atau tujuh biji begitu. Lha, yang paperback agak banyak.”

Lha, itu sudah seperti kulakan buku, Mas.”

“Yang paperback itu tidak semuanya serius seperti buku Halberstam ini, lho. Yang junk literature, sastra sampah atau picisan juga ada. Saya dan mBakyumu itu kadang-kadang butuh juga bacaan yang begituan. Kamu juga to ? Atau tidak pernah ? Ahh, snob, sok sastra kamu !”

Kami tertawa bersama. Harus saya akui kadang-kadang saya memang snob. Malu membaca sastra hiburan.

Kemudian Mas Prasodjo memberi cicipan isi The Reckoning. Davis Halberstam, mantan wartawan New York Times itu menceritakan perkembangan dan persaingan antara industri mobil di Amerika dan Jepang. Gayanya gaya wartawan yang memikat tetapi isinya gemuk, mendalam, penuh dengan daging. Tidak cêthèk dan cèkèrèmès. Tidak juga diseram-seramkan, meskipun semua didasari dengan penelitian dan interview yang mendalam serta kepustakaan yang cukup panjang juga.

“Saya tanggung kamu akan terus tercekam baca ini. Fantastis. Menurut saya studi ilmu sosial itu mestinya ya seperti ini. Orisinil, mendalam tapi enak dibaca. mBok teman-temanmu ahli sosial itu suruh nulis yang seperti ini. Jangan cuma uplak-uplêk menghafal kamus statistik dan teori-teori yang kelihatannya canggih tapi tidak menjelaskan apa-apa tentang gejala sosial dan budaya negeri kita. Jangan takut dicap tulisannya seperti wartawan. Yang penting isinya bagus atau tidak. Masalah penting atau tidak. Bolehnya cerita meyakinkan atau tidak. Ya to ?!”

Saya cuma memgangguk-angguk saja. Saya membayangkan tesis-tesis, makalah-makalah yang sak abrêg-abrêg di lemari-lemari universitas-universitas negeri ini. Mosok ya seperti itu mutunya ? Maksud saya seperti yang dikritikkan Mas Prasodjo itu.

Waktu dia mau pulang, sebelum mulai men-starter Honda bebeknya yang èbrèk-èwèk-èwèk itu dia masih sempat meledek saya,

“Eh, dua bulan lagi saya mesti ke Berlin. Doakan uang harianku banyak dan sedikit buku menarik yang terpampang di toko buku.”

“Lantas ?”

“Nanti dak olèh-olèhi Polo yang warnanya biru matêng dan kudanya berwarna merah, biar kamu bisa nampang di kampus.”

“Dan kamu sendiri Polo yang warna apa ?”

“Tidak. Saya masih punya kaos oblong Swan putih. Masih ada selusin. Sudah, ya.”

Jêglèk, jêglèk, jêglèk, jêglèk, jêglèk … kali lima kali sudah hidup mesinnya. Tetapi, jalan Honda bebek itu masih jlèk-èjlèk, jlèk-èjlèk, jlèk-èjlèk. Kok saya jadi ingat semboyan Mahatma Gandhi dulu, “high thinking, plain living”, berpikir tinggi, hidup sederhana. Wah, saya juga jadi ingat pertanyaan skeptis Mr. Rigen tempo hari,

“Apa ya banyak dosen atau priyayi seperti itu ?”

Yogyakarta, 6 Desember 1988

*) gambar dari rarwriter.com

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

akar rumput

tulisan ala kadarnya refleksi kehidupan dari akar rumput

My not–so–Secret Journal

thoughts, feelings, desires, passion, and some rambling!

PAUS ANTARTIKA

Kita akan bertahan!™

The BroNeo

cerita biasa dari orang biasa

Munajat Sang Pendamba

Tuhanku, gemintang langit-Mu telah tenggelam, Semua mata makhluk-Mu telah tertidur, tapi pintu-Mu terbuka lebar buat pemohon kasih-Mu. Aku datang menghadap-Mu memohon ampunan-Mu, Kasihi daku . . . .

ZeDeen

Rumahku Katanya Sih Surgaku : tentang perjalanan hidup lelaki kecil dan bahteranya

jendelakusam

"Pendar mata Sebuah catatan tolol, tentang perjalanan kehidupan dan segala macam penghidupannya"

lagilagi81.wordpress.com/

KEBAHAGIAAN HIDUP BUKAN SEKEDAR DARI AGAMA

Counting Down

The journey of my life...

Catatan Dahlan Iskan

dahlaniskan.wordpress.com

%d blogger menyukai ini: