Mr. Rigen Ditatar Waskat

waskatprof. lemahamba, ilmuwan cemerlang penuh dedikasi tidak saja kepada ilmu tetapi juga masyarakat termasuk tanah-tanahnya, membuat surat edaran di kompleks kami. Surat edaran itu ajakan yang unik juga. Isinya menawarkan jasa baik beliau untuk menatar waskat kepada para pembantu rumah. Dalam menyongsong gaya hidup modern yang sêmangkin kompleks serta birokrasi rumah tangga yang bakal sêmangkin rumit juga, teknik waskat modern sêmangkin perlu pula dikuasai. Dan itu, kata beliau seterusnya, tidak hanya harus dikuasai oleh para majikan, bêndoro dan para priyayi, melainkan juga oleh para pembantu dan para batur serta abdi dalêm.

Karena Prof. Lemahamba adalah orang yang saya kagumi dan percaya, tentulah ajakan beliau yang simpatik lagi sosial itu saya sambut dengan antusias.

“Geen, Mister Rigen. Ini lho kesempatan buat maju.”

“Maju ke mana to, Pak ?”

“Maju ke mana. Ya, maju otakmu itu. Coba, kamu baca dulu surat edaran Prof. Lemahamba ini.”

Mr. Rigen yang drop-out SD Pracimantoro itu membaca surat edaran yang canggih itu dengan kecepatan 30 kilometer per jam. Kemudian dilipatnya kertas itu dan dikembalikan kepada saya.

“Bagaimana, Gen ? Bagus, to ? Kamu ikut saja biar tahu waskat. Lagi pula yang kasih kursus orang yang pinternya menjangkau langit ke tujuh. Ini kesempatan yang jarang lho, Gen. Tidak tiap kompleks beruntung seperti kompleks kita lho, Gen. Sana !”

Mr. Rigen manthuk-manthuk kurang begitu yakin.

Ênggih, ênggih. Ning waskat itu sakjané apa to, Pak ?”

“Lhoo … ya, nanti kamu akan diajari apa itu waskat.”

Lha, saya kira panjênêngan sebagai orang pintêr, temannya pak propésor itu sudah tahu. Jêbul kok belum tahu.”

Êlhoo, saya ya tahu. Mosok waskat saja tidak tahu. Pokoknya ini penting, kamu harus ikut. Titik !”

Ênggih, ênggih, ênggih. Sêndiko dhawuh dalêm.”

Dan dengan gaya Petruk Sriwedari, Mr. Rigen menyembah, pacak gulu, memutar kepala dengan irama, mundur ke belakang.

Lima hari telah berlalu sejak Mr. Rigen mengikuti penataran waskat dari Prof. Lemahamba. Karena kesibukan pekerjaan di Jakarta, saya tidak sempat memantau bagaimana jalannya penataran tersebut. Di Jakarta, sekali-sekali saya berpapasan dengan rekan-rekan eselon satu yang sedang mengikuti penataran waskat. Mukanya kelihatan pucat-pucat, capek tetapi sinar matanya, toh kelihatan berkobar juga.

Waktu saya balik ke Yogya, saya siap bertemu Mr. Rigen dalam kondisi yang demikian. Ternyata waktu saya bertemu di rumah, mukanya justru kelihatan lebih berseri, lebih berwibawa, lebih percaya diri sendiri, pendek kata dia dalam kondisi yang lebih sehat dan memuaskan dari pada mereka yang eselon satu (tetapi, kalau dipikir dalam birokrasi rumah tangga saya, Mr. Rigen sebagai direktur kitchen cabinet, bukankah termasuk eselon satu juga ?).

“Wah, bagaimana, Mister. Waskat sudah selesai ?”

“Sudah, Pak. Saya mendapat nilai A dari Pak Propésor.”

“Wah, hebat. Proficiat !

“Apa itu, Pak ? Mobil fiat ?”

Pro-fi-ci-at. Hebat !”

Mr. Rigen tertawa gembira.

Ning yang ikut ditatar berapa orang ?”

“Empat. Semua dapat nilai A.”

“Wah, élok. Jangan-jangan, Pak Profesor bolehnya memberi nilai kemurahan.”

Wéé, mbotên. Susah lho, Pak, pelajarannya.”

“Misalnya ?”

“Bagaimana mengiris-ngiris daging yang sama tebalnya, lantas menghitung jumlahnya dan mencatatnya. Terus begaimana menimbang secara pas. Terus turahan thèthèlan gajih itu dilipat, ditimbang dan dicatat.”

Edyaann ! Itu semua Pak Profesor yang mangajar ?”

Lha, iya. Serius banget beliau itu kalau mengajar.”

Karena saya belum juga mudhêng ngélmu yang diajarkan itu, saya terus bertanya kepada Mr. Rigen.

“Terus bagaimana lagi, Gen ?”

“Ya segala; dendeng, balur, roti, abon, gula, kopi, trasi dan lainnya. Pokonya semua diajarkan menaksir beratnya, irisannya dan jumputannya.”

Êlhoo, lha waskatnya itu di mana ?”

“Wah, Bapak. Waskat itu pengawasan melekat. Ya, dengan menguasai ngélmu itu semua, kita sekarang bisa dengan cepat menaksir apa daging itu kalong irisannya, apa gajih dendeng itu dipotong, apa abon dalam stoples di-owok-owok, berapa gula dan kopi di-untuti, berapa gram trasi itu di-duliti. Pokoknya sip sekarang pengawasan kita, Pak.”

Wee … sokur, sokur kalau begitu. Jadi tidak rugi kan kamu saya kirim ?”

“Wah … malah matur nuwun sangêt, Pak. Saya betul merasa tambah pintêr sekarang.”

Dan beberapa hari pun berlalu sejak waskat dicanangkan oleh Prof. Lemahamba, tidak habis-habisnya kami para kolega mengagumi kepinteran, kejeniusan, jiwa patriotik dan sosialnya itu. Sampai satu hari sang Profesor datang dengan muka geram.

“Saudara Ageng, tolong Mister Rigen diminta ikut duduk di sini !”

Wah, kalau Prof. Lemahamba sudah memanggil saya dengan ‘saudara’ pasti ada sesuatu yang gawat. Saya segera memanggil Mister Rigen untuk ikut duduk di dekat kami.

“Mister, kamu kenal Paidjo ‘kan, pembantu saya ?”

Ha, ênggih, Pak Propésor. Wong dia itu teman dari Praci dan teman penataran waskat. Wontên mênåpå to, Pak Propésor ?

“Naahh, temanmu itu telah bikin malu alumni penataran waskat, Mister.”

Elhoo, sing malu dan alum itu apanya to, Pak Propésor ?

“Oohh, bénto kamu, Mister. Alumni bukan alum. Alumni itu tamatan sekolah, bego ! Nah, tadi pagi si Paidjo itu saya pecat !”

“Lho ?!”

“Dia itu sekarang justru pinter korupsi. Ilmu waskat yang saya ajarkan secara matematika modern itu telah dia salah gunakan. Dalam lima hari ini istri saya melapor semua persediaan di lemari dapur cepat berkurang.”

Saya ikut nimbrung percakapan mereka, tertarik topiknya.

“Tapi, apa Prop. Sudah pasti kalau dia yang korupsi ?”

“Sudah pasti. Wong dia juga sudah mengaku. Coba, bagaimana itu Mister ?”

Mr. Rigen memperbaiki duduknya. Mulutnya komat-kamit, ancang-ancang mau angkat bicara.

“Begini lho, Pak Propésor, Pak Ageng. Paidjo itu terus terang saja sudah dari dulu rada climut, suka mengambil. Lha, sekarang diajari ngélmu waskat kok malah sêmangkin jadi climut-nya, lho.”

Prof. Lemahamba dengan geram pergi meninggalkan kami. Saya tidak bisa menyalahkannya. Eksperimennya tidak berjalan mulus.

“Kasihan ya, Gen. Pak Profesor. Sudah memberi ngélmu gratis yang begitu canggih kok ya malah disalah gunakan.”

Haa, kalau itu masalah manungså-nya, Pak. Kalau itu sudah dari dulu korkat, mau diapakan lagi.”

“Korkat itu apa, Gen ? Ada-ada saja kamu.”

“Korkat itu koreupsi melekat. Lha, kalau dari sono-nya sudah korkat begitu mbok waskat yang paling melekat pun ya tidak jalan, Pak.”

Wèlèhh, kok pinter kamu, Gen. Bangga aku punya staf kamu. Lha, terus kepinteran waskatmu di rumah ini, kamu salah gunakan apa tidak ?”

Yak, Bapak kii. Ya tidak to, Pak. Di sini tidak ada masalah korupsi, Pak. Wong staf saya ya ibuné tholé dan tholé dhéwé. Semua sanak keluarga sendiri. Mosok korupsi to, Pak. Paling ya thithil-thithil sedikit. Tapi, nggak apa to, Pak. Wong keluarga lho, Pak. Nggak pa-pa to, Pak ?”

Yogyakarta, 29 Nopember 1988

*) gambar dari shnews.co

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

akar rumput

tulisan ala kadarnya refleksi kehidupan dari akar rumput

My not–so–Secret Journal

thoughts, feelings, desires, passion, and some rambling!

PAUS ANTARTIKA

Kita akan bertahan!™

The BroNeo

cerita biasa dari orang biasa

Munajat Sang Pendamba

Tuhanku, gemintang langit-Mu telah tenggelam, Semua mata makhluk-Mu telah tertidur, tapi pintu-Mu terbuka lebar buat pemohon kasih-Mu. Aku datang menghadap-Mu memohon ampunan-Mu, Kasihi daku . . . .

ZeDeen

Rumahku Katanya Sih Surgaku : tentang perjalanan hidup lelaki kecil dan bahteranya

jendelakusam

"Pendar mata Sebuah catatan tolol, tentang perjalanan kehidupan dan segala macam penghidupannya"

lagilagi81.wordpress.com/

KEBAHAGIAAN HIDUP BUKAN SEKEDAR DARI AGAMA

Counting Down

The journey of my life...

Catatan Dahlan Iskan

dahlaniskan.wordpress.com

%d blogger menyukai ini: