Rapor Beni Prakosa

raporbeni prakosa datang pada satu siang memamerkan buku rapornya. Agak terkejut juga saya melihat rapor itu. Lha, wong rata-rata cuma ‘cukup’, bahkan untuk olahraga dan jasmani dia mendapat ‘kurang’. Saya ngunandikå, apakah tuntutan sekolah TK Indonesia Hebat itu begitu dahsyatnya, sehingga Beni Prakosa yang saya kira jenius itu cuma ‘cukup’ saja mutunya ? Wah, mungkin juga. Bukankah taman kanak-kanak yang hebat itu menurut pencetus idenya dulu akan mencetak calon-calon jenius Indonesia yang nantinya akan membereskan segala persoalan negeri kita forever and ever and ever and ever, ever, ewer, ewer and ewer … ?

“Coba, Lé, sini. Bapak ibumu juga suruh ke sini !”

“Bapaak, ibuuuk, adiik, dipanggil Pak Ageng semua !” teriak bêdhès cilik itu.

Mr. Rigen, mak grobyak, meninggalkan pekerjaan di dapur, buru-buru menyeret istrinya yang kelihatannya sedang di tengah proses neteki anaknya. Mereka semua langsung duduk menghadap saya yang seperti biasa ngêdhékrang di singgasana goyang. Jejeran itu mungkin hanya dapat disamakan dengan jejeran pertapaan kecil-kecilan di wayang orang komersial.

“Coba, Ben. Menurut kamu rapormu ini bagus atau tidak ?”

“Bagus !Gud, gud, Pak Ageng.”Tangan bêdhès cilik itu mengacungkan jempolnya.

“Bagus.Lha, kalo menurut kamu, Gen, Yem ?”

Kedua orang itu saling berpandangan sementara anak bayi mereka kroncalan, agaknya minta agar jatah teteknya jangan dihentikan dulu.

Gud, Pak.”

G-g-gud, Pak.”

Woo … bapak sama ibu kok pada jadi beo anaknya. Gud, gud, gud. Tênan, på ?

Sekali lagi mereka saling berpandangan. Kali ini mereka tersenyum malu-malu.

Lha, maunya Bapak bagaimana ? Kami ini kan hanya sakdrêmi ikut panjênêngan saja to, Pak.”

“Lho, kok menurut saya. Saya itu kepingin tahu pendapat kalian tentang rapor anakmu itu. Apik opo ora ? Kok menurut maunya Bapak bagaimana. Itu feodal namanya. Camkan itu, Mister, fe-o-dal !”

Tiba-tiba Mr. Rigen ketawa nyêkikik.

“Hi … hi … hiikk. Peo-dal. Saya kok terus ingat zaman kecil saya dulu lho, Pak.”

“Ada apa dengan zaman kecilmu, Mister ?”

“Dulu waktu masih sekolah SD ada kue merah jambon, namanya péa-péo.Péa-péo, péa-péo. Begitu mereka dulu menjajakan kue itu.”

“Ooo, rupamu ! Yang diingat makanan saja. Feodal itu kalau semua bawahan tahunya cuma manut miturut kepada atasanya.”

Lha, ya baik to, Pak. Bawahan ya harus tunduk dan nurut sama atasan to, Pak. Lha, kalau tidak rak ya kacau, Pak !”

Manut miturut kalau atasan benar. Sering kali atasannya nggak benar itu !”

Lha, mbok mbotên bênêr, wong namanya atasan itu terus jadi bênêr, Pak. Ya harus dituruti.Kalau tidak kan dapat dipecat bawahan itu, Pak.”

“Wah, saya keberatan kalau kamu mbéo saya, Mister. Kalau saya salah, saya mau kamu ingatkan. Jangan dibiarkan dan kamu terus manut saja.Itu men-jlomprong-kan, namanya. Sudah, sekarang saya mau tahu pendapatmu. Menurut kamu rapor anakmu itu bagus atau tidak ?”

“Bagus, Pak.”

Lha, kalau menurut kamu, Yem ?”

Nggih bagus, Pak.”

Sekarang saya yang bengong. Bagus ? Rapor seperti itu bagus ?

“Coba terangkan, Gen. Bagusnya itu bagaimana ?”

“Lho, cukup itu rak tidak jelek to, Pak. Kalau dijadikan angka, rapor tholé itu rata-rata enam to, Pak. Lha, enam itu kalau miturut guru saya di Pracimantoro dulu sudah bagus, Pak. Tidak ditulis dengan tinta merah.”

Lha, kalau menurut kamu, Yem ?”

Ha, inggih bagus, Pak. Wong ing atasé tholé itu anaknya wong cilik. Sekolah di kota. Sekolahnya orang-orang gedongan. Kata ‘cukup’ itu rak nggih bagus to, Pak.”

Waduh ! Ciloko tênan ! Kok begitu, lho, cara mereka berpikir. Padahal taman kanak-kanak itu bukan sembarang taman kanak-kanak. Namanya saja sudah TK Indonesia Hebat. Itu akan menyiapkan anak-anak yang hebat dalam hidup yang penuh dengan persaingan. Hidup dalam dunia modern yang hebat.

Di SD, SMP, SMA dan Universtas, mereka akan terus disaring, disaring dan disaring. Hingga akhirnya tinggal yang paling hebat dan cemerlang yang bakal mengatur negara. Di situlah, kata para pemikir sistem pendidikan saringan itu, republik ini akan tangguh dan hebat dalam semua hal forever and ever, and ever, and ewer, ewer, ewer.

Lha, sekarang jagoan kecil saya yang ‘jenius’ itu masuk di taman kanak-kanak yang dahsyat itu cuma ‘cukup’ saja nilainya ? Dan orang tuanya itu lho bolehnya nrimo ? ‘Cukup’ itu sudah bagus, kata mereka. Oh … inlander-inlander sejati. Oh … orang tua kualitas tempe. Wong mono cukup sakmadyå. Orang cukup sedang-sedang saja prestasinya. Itu kata para leluhur. Ojo ngåyå mundhak gêlis tuå. Jangan memaksakan diri nanti lekas tua. Itu wasiat nenek moyang. Waduh … apakah kita ini keturunannya orang-orang krépo ?

“Oh … jadi begitu ya, menurut pendapat kalian. Rapor Beni yang ‘cukup’ itu sudah bagus.”

Ha, inggih, Pak.”

Wéé … lha, kalau nanti anakmu itu harus pontang-panting harus mengejar kawan-kawannya bagaimana, Mister ?”

“Ah, ya biar saja pontang-panting, Pak. Biar dia rasakan. Wong hidup bapak ibunya juga selalu pontang-panting mengejar macam-macam.”

Saya membayangkan anak yang padat gendut itu lari pontang-panting mengejar kawan-kawannya yang lebih ramping dan beringas. Sebentar-sebentar saya lihat anak itu terjatuh pringisan. Kemudian bangun lagi, lari lagi, mengejar kawan-kawannya yang semangkin jauh jaraknya.

Mosok dia harus pontang-panting terus, Gen. Kalau dia nanti tercecer bagaimana lho, Gen ?”

“Wah, ya diusahakan jangan sampai tercecer to, Pak. Pontang-panting boleh tapi jangan sampai tercecer.”

“Caranya ?”

“Ya, nênuwun, memohon terus kepada Yang Membikin Hidup agar dijauhkan terus dari rintangan dan halangan. Manungsåkan hanya menjalani saja to, Pak Ageng. Kalau garisnya tholé itu cuma akan ‘cukuupp’ saja terus ya kami terima to, Pak Ageng. Mosok mau ngèyèl protes sama yang Kuasa ?”

Oalahh, Geenn … Gen. mBok semangatmu itu jangan cukuuupp saja gitu to, Gen. Yang punya grêgêt gitu, lho. Disiplin anakmu itu diperkeras.Belajar yang lebih ajêg dan tekun. Dunia ini harus bisa dia rêgêm, dia pegang kêncêng-kêncêng di tangannya.”

Yak, Bapak kii. nDonyå, dunia harus dirêgêm ? Lha, bisa kualat kita nanti. Sudahlah, Pak. Kulå sakmadyå mawon. Lagi pula kalau semua orang mau hebat dan cemerlang itu apa ya bisa to, Pak. Wong nyatanya bagian terbesar manusia rak inggih yang sedang-sedang saja to, Pak Ageng. Mereka itu kan juga banyak gunanya to, Pak ?”

Saya jadi termangu-mangu. Di hadapan saya duduk seseorang yang kukuh ora mingkuh mempertahankan filsafat ‘sedang-sedang’ saja. Padahal dunia kita sudah dilecut untuk saling mengejar kehebatan, excellence. Apakah dia tidak tahu itu ? Apakah saya gagal menanamkan pengertian itu ?

Mereka kembali ke belakang meneruskan pekerjaan mereka dengan penuh dedikasi dan etos profesi. Sebentar kemudian mereka dengan sebat mengatur meja untuk makan siang. Sayur bobor bayam dan pepaya muda, sambel tempe bakar dengan sedikit jêlantah, empal daging dan tempe bacêm. Dengan keramahan dan gaya yang elegan, suami-istri itu menyilakan saya makan siang. Di halaman, anak mereka, si bêdhès cilik Beni Prakosa lari-lari sambil berteriak,

Pé-a … pé-o … pé-a …p-éo … pé-a … !

Huss, huss, Lè. Ojo bêngak-bêngok. Pak Ageng lagi dhahar … !

Yogyakarta, 23 Nopember 1988

*) gambar dari untukanakbangsa.blogspot.com

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

akar rumput

tulisan ala kadarnya refleksi kehidupan dari akar rumput

My not–so–Secret Journal

thoughts, feelings, desires, passion, and some rambling!

PAUS ANTARTIKA

Kita akan bertahan!™

The BroNeo

cerita biasa dari orang biasa

Munajat Sang Pendamba

Tuhanku, gemintang langit-Mu telah tenggelam, Semua mata makhluk-Mu telah tertidur, tapi pintu-Mu terbuka lebar buat pemohon kasih-Mu. Aku datang menghadap-Mu memohon ampunan-Mu, Kasihi daku . . . .

ZeDeen

Rumahku Katanya Sih Surgaku : tentang perjalanan hidup lelaki kecil dan bahteranya

jendelakusam

"Pendar mata Sebuah catatan tolol, tentang perjalanan kehidupan dan segala macam penghidupannya"

lagilagi81.wordpress.com/

KEBAHAGIAAN HIDUP BUKAN SEKEDAR DARI AGAMA

Counting Down

The journey of my life...

Catatan Dahlan Iskan

dahlaniskan.wordpress.com

%d blogger menyukai ini: