Si Gendut Sakit Gondongan

penyakit-gondonganupacara untuk tumbuh menjadi besar ternyata tidak harus lewat berbagai macam slamêtan dengan nasi tumpeng dan ingkung iwak pitik. Itu upacara untuk para danyang dan lelembut yang momong kita. Dengan slametan teratur begitu, danyang “yang momong” kita akan selalu bersedia waspada menjaga keselamatan kita. Tetapi, ya itu ! Asal kita selalu waspada juga ingat hari-hari dan menu slamêtan itu. Kalau tidak, wé … lha, ojo takon doså ! Kita bisa ditinggalkan mereka. Nah, itu upacara di bidang spiritual.

Ternyata tubuh kita juga punya skenario upacara untuk mengantar kedewasaan bagian-bagian dalam tubuh kita. Kita semua, tanpa kecuali, harus melewati dan mengalami periode-periode sakit tertentu. Harus pernah mengalami cacar air, tampèk, batuk kuing-kuing, kêringêt buntêt, gatêl anjing merah dan gondongan. Tubuh kita ternyata lebih luwes dalam menuntut upacara tersebut dibandingkan dengan para lelembut yang menjaga kita. Ia menganjurkan agar sebaiknya kita mengalami itu ketika kita masih kecil, ketika kelenjar-kelenjar dalam tubuh kita belum tumbuh. Dengan begitu upacara itu tidak akan terasa terlalu sakit. Tetapi kalau tunggu sampai besar, waduhh … sakit banget.

Saya bisa berkata begitu karena dulu waktu masih mahasiswa (jadi sudah dewasa plus kelenjar-kelenjar), saya kena penyakit gondong. Wah, sakitnya minta ampun ! Panas, pusing, sênut-sênut di sekujur badan dan bengkak. Nah, soal bengkak ini buat kaum lelaki agak memalukan dan merepotkan. Tempatnya itu lho, kok ya di bagian tubuh yang di bawah. Kalau bengkaknya besar jadi seperti nggémbol teko teh. Waktu saya kena musibah itu, ya seperti nggémbol teko teh itu. Dan kalau terpaksa harus turun dari tempat tidur, wah jalan saya benar-benar repot dan memalukan.

Kalau sudah begitu, saya ingat waktu zaman saya masih duduk di SMA, pada saat ada pertandingan olah raga. Cheerleader alias kepala tukang sorak kelas saya menciptakan sorak kekompakan yang berbunyi, “thil konthal kanthil gandhul, thil konthal kanthil gandhul, thil konthal kanthil gandhul.” Untuk menghibur sakit dan repotnya jalan dari kamar tidur ke wc, saya pun menggumamkan, thil konthal kanthil gandhul, thil konthal kanthil gandhul

Nah, waktu saya pulang ke Cipinang Indah, saya temui si Gendut, anak saya yang wuragil, sedang terkapar di tempat tidur kamarnya dengan gondong. Badannya yang subur kelihatannya agak susut kecuali di bagian leher dan rahang. Kepalanya jadi seperti ditiup mirip jambu bangkok raksasa. Dokter yang memeriksanya sama komentarnya dengan dokter yang dulu,

“Tidurlah dan menderitalah, nanti kan sembuh sendiri.”

Barangkali untuk menghadapi virus yang memang belum ada obatnya, ada semacam persengkongkolan kata-kata hiburan antar para dokter.

Si Gendut tahun ini sudah (atau baru) dua puluh tahun. Tampangnya kelihatan menderita betul. Habis, upacara gondong baru terlaksana sesudah berumur dua puluh tahun. Saya, meskipun iba melihat anak bungsu itu menderita begitu, tidak bisa apa-apa selain membeo dokter, tidurlah dan menderitalah nanti kan sembuh sendiri.

“Pak, saya kok sial betul, sih. Dapat gondong kok baru sekarang.”

“Ya, jangan dianggap sial. Anggap saja paringan Gusti Allah.”

“Kok dianggap ? Memang paringan Gusti Allah, kan ?”

Naa, sudah tahu begitu kok masih mengeluh. Sudah terima saja, terima saja.”

Dengan senyum kesakitan karena susah menggerakkan mulut, si Gendut memukul saya.

“Terima saja, terima saja. Enaknya ya, orang sehat itu kalau ngécé orang sakit.”

Untuk menghiburnya, saya ceritakan pengalaman saya sakit gondong dulu lengkap dengan jalan yang thil konthal kanthil gandhul itu. Dia tertawa kesakitan.

“Be, kenapa Gusti Allah memerintahkan tubuh kita punya upacara begini ?”

“Mungkin supaya tubuh kita tidak kaget tumbuhnya. Mungkin juga supaya kita kadang-kadang merasakan sakit yang agak lain.”

“Biar apa ?”

“Ya, nggak tahu. Biar begitu saja barangkali. Mungkin juga supaya kita lebih menghargai rasanya sehat.”

“Gusti Allah itu kok ada-ada saja caranya mencoba orang. Kreatif bener Dia.”

Saya tersenyum. Si Gendut anak saya yang paling religius di rumah. Pada waktu harus menderita di luar rencana, toh masih berani ngêlèdèk Gusti Allah juga. Tapi, untunglah Gusti Allah Maha Mengerti. Jangankan humor kecut dari Gendut, humor yang ora lucu dari para pejabat saja Gusti Allah juga mengerti, kok.

“Be, kita ini harus mengalami sakit anak-anak cuma sekali saja, ya ?”

Ha, iya. Sesudah mengalami semua itu, tubuh kita jadi perkasa selamanya.”

“Itu kalau tubuh, Be. Kalau negeri kita ini dari dulu sakit anak-anak melulu. Nggak sembuh-sembuh, nggak pinter-pinter, nggak perkasa-perkasa.”

“Ah, kamu. Mulai sok pinter, nih.”

Ha, lihat saja, Be. Kereta dari dulu meleset dari rel. Bis terguling. Pilot jet masih nabrak jendela, di Bangkok lagi. Pramugrari-pramugrari Garuda masih saja belum bisa bahasa Inggris. Kadang bahasa Indonesia juga masih blepotan. Tivi juga ikut-ikutan. Nulis perfect strangers saja nggak becus, jadi perfect stranggers. Lha, itu semua kan masuk rumah sakit anak-anak to, Be ? Sudah lebih empat puluh tahun merdeka itu !”

“Eh, tubuh negeri seperti tubuh orang juga, nDut. Ada yang cepat sembuh, ada yang pelan sembuh.”

“Dan ada yang pelan sekali. Bahkan ada yang tidak sembuh sama sekali !”

“Ah, ya tidak to. Namanya penyakit anak-anak. Pasti suatu saat sembuh.”

“Dan itu sakit korupsi. Itu sakit anak-anak yang kayaknya paling disenangi. Dari dulu pejabat itu korupsi melulu dan …..”

Huss … huss … huss … kok terus sewot kowé ! Sabar …”

“Tidak sipil, tidak ABRI, tidak …”

Huss … huss … huss … nDut, tidurlah dan menderitalah, nanti kan sembuh sendiri !”

Dan ajaib, Gendut mendengar ‘nanti kan sembuh sendiri’ kok jadi tertidur sendiri. Pelan-pelan saya selimuti dia. Saya terus menggumam, tidurlah dan menderitalah, tidurlah dan menderitalah, thil konthal kanthil gandhul, thil konthal kanthil gandhul, thil …

Yogyakarta, 1 Nopember 1988

*) gambar dari kliniksehati.com

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

akar rumput

tulisan ala kadarnya refleksi kehidupan dari akar rumput

My not–so–Secret Journal

thoughts, feelings, desires, passion, and some rambling!

PAUS ANTARTIKA

Kita akan bertahan!™

The BroNeo

cerita biasa dari orang biasa

Munajat Sang Pendamba

Tuhanku, gemintang langit-Mu telah tenggelam, Semua mata makhluk-Mu telah tertidur, tapi pintu-Mu terbuka lebar buat pemohon kasih-Mu. Aku datang menghadap-Mu memohon ampunan-Mu, Kasihi daku . . . .

ZeDeen

Rumahku Katanya Sih Surgaku : tentang perjalanan hidup lelaki kecil dan bahteranya

jendelakusam

"Pendar mata Sebuah catatan tolol, tentang perjalanan kehidupan dan segala macam penghidupannya"

lagilagi81.wordpress.com/

KEBAHAGIAAN HIDUP BUKAN SEKEDAR DARI AGAMA

Counting Down

The journey of my life...

Catatan Dahlan Iskan

dahlaniskan.wordpress.com

%d blogger menyukai ini: