Mbandung, Mercedes dan Nasionalis Kiri

Museum-KAA-BandungPULANG dari Bandung untuk tugas rutin, yaitu “jual kecap” alias “jual abab”, saya disambut dengan hangat oleh seluruh staf kitchen cabinet saya. Saat-saat seperti itu selalu mengharukan hati saya. Mereka adalah orang-orang gajian yang selalu saya gaji dengan murah sekali. Begitu murahnya sehingga seharusnya mereka sudah dari dulu meledakkan satu revolusi di rumah saya.

Satu revolusi yang digerakkan oleh kelas buruh yang mampu memaksa kami kaum elite birokrasi yang disebut priyayi untuk menyetujui tuntutan upah minimum mereka. Toh, revolusi itu tidak pernah pecah. Padahal mereka anggota satu bahkan dua gerakan kaum buruh, yaitu Persatuan Djongos-Djongos (PDD) dan Persatuan Babu-Babu (PBB), yang konon sudah didirikan sejak sebelum Gunung Merapi meletus (tentu tidak pernah jelas letusan Merapi yang kapan).

Dua gerakan buruh itu sesungguhnya juga sudah beberapa kali mengadakan rapat untuk menuntut kenaikan gaji mereka. Maksudnya kenaikan yang benar-benar terasa memuaskan. Dan bukan kenaikan yang cuma beberapa rupiah dalam setiap empat bulan Suro itu. Yang mereka tuntut adalah baju baru sekeluarga empat sampai lima kali setahun, ganti sepatu baru dua atau tiga kali setahun serta gelang, kalung, giwang emas yang gandhul-gandhul di tubuh para madam itu. Toh, revolusi mereka tidak pernah sempat pecah. Jangankan revolusi, untuk berpawai dan membacakan resolusi pun tidak pernah sampai terjadi.

Yang saya dengar kemudian dari Mr. Rigen, ada seorang oknum yang dibawa oleh salah seorang anggota gerakan itu yang menyakinkan mereka semua untuk tidak usah melancarkan demonstrasi kenaikan upah. Apalagi revolusi, jangan ! Kata oknum itu,

“Ini bukan jamannya tuntut-tuntutan. Semua bisa dirembuk baik-baik sesuai dengan kepribadian dan budaya kita. Apalagi kata ‘revolusi’ dan ‘demonstrasi’ itu sesungguhnya ciptaan kaum kiri. Salah-salah organisasi ini bisa dituduh organisasi komunis.

“Apalagi pasti ada saja sanak saudara yang terlibat dalam gestok, eh, gestapu to ? Hayoo, yang jujur saja. Ada to ? Naa … !!” Begitu kata oknum itu selanjutnya.

“Daripada dituduh PKI, tidak bersih lingkungan, luwih bêcik ora usah åpååpå. Ini zaman susah cari kerja, susah cari makan. mBok yang nrimo, nggih sêdulur-sêdulur. Majikan-majikan sampéyan semua itu bukan sembarang majikan. Mereka bukan kapitalis, tapi KORPRI. Ingat Kor – pri ! Pasti mereka sudah penuh peri kemanusiaan semua. Lha wong mereka itu ditatar P4 terus, lho ! Sudahlah … serahkan semuanya kepada majikan kalian. Serahkan pada roso kemanusiaan mereka …”

Demikian kisah Mr. Rigen tentang seorang ‘oknum’ dalam organisasi mereka.

Lha, saya yo manggut-manggut setuju saja to, Pak. Wong yang diucapkan itu betul semua, kok.”

“Betul apanya, Gen ?”

“Lho, lha inggih. Panjênêngan itu apa pernah to sio-sio, menyia-nyiakan saya ?”

“Ya êmbuh !

“Nggak pernah. Kenaikan gaji sênajan sithik-sithik setiap inplasi, ya Bapak berikan. Baju lorodan-lorodan, ya terus mengalir. Senajan kaos yang diberikan itu bolong-bolong di sana-sini.”

“Huss … ! Kamu nyentil, ya ! Ngritik, ya !”

mBotên. Cuma matur seadanya saja kok, Pak. Tapi betul kok, Pak. Saya sekeluarga itu merasa cukup kok di sini.”

Lha, rak begitu, Mister !”

“Tapi, kiri itu artinya apa to, Pak ?”

“Kiri ? Kiri itu …..”

Dan saya, karena saking inginnya direktur kitchen cabinet saya itu memahami makna “kiri”, saya jelaskan panjang lebar. Saya mulai dari revolusi Perancis pada waktu kaum Jacobin menduduki kursi-kursi di deretan sebelah kiri. Sampai kemudian jadi salah kaprah diartikan sebagai politik yang selalu membela rakyat kecil identik dengan “kiri”.

Lha, kalau begitu Pak Ageng itu kiri, begitu Pak ? Wong Pak Ageng suka mbéla wong cilik seperti saya itu !”

Huss … ! Ojo bantêr-bantêr, jangan keras-keras. Zaman sekarang dicap kiri itu bisa sangsoro lho, Gen.”

Sangsoro bagaimana ? Wong dicap membela wong cilik kok panjênêngan takut to, Pak ?!”

“Ya, tidak takut begitu, Gen. Ning ya cuma sedikit takut.”

Mr. Rigen ngglêgês. Mungkin sekarang dia tahu kalau nyali bosnya cuma sebesar têngu. Tapi, kemudian saya ingat dengan bekas bos saya di Deppen dulu, yang sekarang kembali jadi wiraswasta dan bos surat kabar. Beliau yang sekarang punya hotel indah bin mewah, ke mana-mana naik Mercedes, dengan tegas tanpa ragu-ragu, tanpa wigah-wigih, menamakan dirinya sebagai nasionalis kiri ! Lho, opo ora hebat ?! Beliau bilang, Mercedes itu cuma alat transportasi yang sangat penting untuk melancarkan tugas-tugas. Tentu yang beliau maksud dengan ‘untuk melancarkan tugas-tugas’, adalah mengurusi dan membela wong cilik. Wah, saya jadi ikut bangga kalau ingat kembali bekas bos saya itu. Tetapi, waktu saya ingat jip rongsokan di garasi yang bos saya di universitas tidak mau ngganti-ngganti, wah, kalau mau ikut-ikutan jadi nasionalis kiri bagaimana itu ? Bagaimana saya bisa lebih baik mengurus nasib wong cilik ?

Waktu saya duduk minum teh panas yang secara kilat disuguhkan Mr. Rigen, Beni Prakosa nyeletuk,

“Eh, Pak Ageng, Pak Ageng … mBandung itu di mana to, Pak Ageng ?”

“Oh, di sana, Lé. Jauuuhhh sekali.”

“Sama jalan Solo, jauh mana ?”

“Masih lebih jauuhh lagi, Lé.”

“Kalau sama Gembira Loka ?”

“Masih lebih jauuuhhh lagi, Lé.”

“Wah, di pinggir langit ya, Pak Ageng ?”

“Ya, hampir nyrèmpèt langit. Apa bapak dan ibumu tahu di mana mBandung itu ?”

Mrs. Nansiyem senyum-senyum saja, menandakan tidak tahu persis di mana Bandung itu. Mr. Rigen kelihatan beringas mau tegas menjawab,

“Saya tahu. Saya tahu, Pak. mBandung itu di nêgoro Sundho nggih, Pak ?”

Nêgoro Sundho gundhulmu amoh ! Propinsi Jawa Barat, Mister !”

Ha, inggih. Rumahnya tiang-tiang Sundho to, Pak ?”

Lha, ya betul. Itu daerah Pasundan, mBandung itu ibukotanya. Itu kota yang sangat penting dalam sejarah kita lho, Gen.”

“Penting pripun ?

Elho, … kamu itu bagaimana ? Sudah tahu cerita kota Paris, revolusi Perancis, kaum Jacobin, kok nggak tahu Bandung ?!”

Ha, inggih. Sing niki belum tahu. Bagaimana ceritanya, Pak ?”

Saya lantas ingat tempat saya jual kecap di Bandung. Tempat itu adalah gedung di mana dulunya Konferensi Asia Afrika diadakan. Saya lantas ingat waktu konferensi dulu masih mahasiswa ingusan tetapi sudah sok tahu politik tinggi. Memang peristiwa yang menggetarkan ! Pemimpin-pemimpin dunia ketiga berkumpul untuk menyatakan diri mereka sebagai kekuatan yang harus diperhitungkan. Nadanya memang nasionalis kiri, tetapi tanpa Mercedes.

Waktu kemarin saya ngomong di situ, yang saya hadapi adalah ratusan mahasiswa dan dosen muda. Mereka juga ingin menyatakan diri mereka sebagai kekuatan baru. Itu juga menggetarkan ! Menggetarkan karena saya cemas ke mana mereka harus cari kerja sehabis tamat kuliah. Kesempatan apa yang saya dan angkatan saya bisa berikan kepada mereka ?

“Geen, tolong siapkan jip. Saya harus segera ke kantor, kerja.”

Jip tua kantorku saya starter. Ègrèk, ègrèk, ègrèk, ègrèk … Wèr, èwèr, wèr, èwèr, wèr …..

Yogyakarta, 25 Oktober 1988

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

akar rumput

tulisan ala kadarnya refleksi kehidupan dari akar rumput

My not–so–Secret Journal

thoughts, feelings, desires, passion, and some rambling!

PAUS ANTARTIKA

Kita akan bertahan!™

The BroNeo

cerita biasa dari orang biasa

Munajat Sang Pendamba

Tuhanku, gemintang langit-Mu telah tenggelam, Semua mata makhluk-Mu telah tertidur, tapi pintu-Mu terbuka lebar buat pemohon kasih-Mu. Aku datang menghadap-Mu memohon ampunan-Mu, Kasihi daku . . . .

ZeDeen

Rumahku Katanya Sih Surgaku : tentang perjalanan hidup lelaki kecil dan bahteranya

jendelakusam

"Pendar mata Sebuah catatan tolol, tentang perjalanan kehidupan dan segala macam penghidupannya"

lagilagi81.wordpress.com/

KEBAHAGIAAN HIDUP BUKAN SEKEDAR DARI AGAMA

Counting Down

The journey of my life...

Catatan Dahlan Iskan

dahlaniskan.wordpress.com

%d blogger menyukai ini: