Mas Prasodjo Legowo

motor bebekmungkin karena anyêl kepada saya yang tidak kunjung dapat memenuhi undangan makan di rumahnya, Mas Prasodjo Legowo bersama mbakyu begitu saja datang ke rumah saya. Waktu itu Minggu siang, hari yang panas yang betul-betul cocok untuk bermalas-malasan. Saya klêkaran, tidur di atas tikar, di depan teve hanya dengan celana pendek dan kaos oblong. Kalau klêkaran mingguan begitu, kondisi saya hanya serba setengah. Setengah tidur, setengah mêlèk. Kemudian yang setengah melek itu, yang seperempat untuk membaca mejalah-majalah, lha yang seperempat lainnya untuk teriak-teriak membentak Beni Prakosa yang suka glibat-glibêt mengganggu ketenangan saya dan memanggil Mr. Rigen untuk suplay nyamikan.

Pada hari Minggu itu, di tengah-tengahnya klêkaran mingguan, saya dengar suara Honda bebek masuk halaman rumah. Waktu saya intip dari balik gordijn, saya terkejut melihat yang datang adalah suami-istri Prasodjo Legowo. Saya jadi blingsatan bercampur byayakan bercampur malu. Habis bagaimana, Mas Prasodjo itu adalah salah satu doktor matematika terbaik yang dimiliki negeri ini. Beliau adalah orang yang saya tuakan, yang selalu saya anggap sebagai kakak saya sendiri.

Dulu waktu masih sama-sama belajar di luar negeri, dialah yang selalu dengan sabar mengajari saya ilmu statistik, sebuah ilmu yang sampai sekarang saya tidak kunjung mudhêng itu. Karena bimbingannya itulah saya bisa selamat lulus ujian. Meskipun sepanjang bimbingannya itu, tidak henti-hentinya dia berdecak kagum akan kebodohan saya dalam memahami ilmu yang untuk banyak orang dianggap menentukan hidup matinya peradaban dunia modern. Mungkin di dalam hati Mas Prasodjo heran juga kok akhirnya saya bisa lulus juga dan akhirnya bisa jadi pengajar di universitas terhormat yang selalu bangga memiliki mahasiswa terbanyak di Asia Tenggara.

Dia tidak tahu saja kalau saya bisa lulus itu karena komite pembimbing saya sudah capek membimbing saya dan ingin cepat-cepat melihat saya pulang ke tanah air. Dan dia tidak tahu juga, saya kira, saya bisa diterima jadi guru itu ya hanya di fakultas sastra saja, satu fakultas yang bagi kebanyakan orang tidak ada sumbangsihnya bagi pembangunan peradaban modern. Ah … tentulah ini ngunandikå-nya seorang yang penuh dengan kompleks jiwa yang mindêr. Kolega dan bahkan mahasiswa saya yang cemerlang di fakultas tidak meyakinkan saya bahwa kalau tidak ada fakultas sastra, apa jadinya isi peradaban modern itu. Hampa, kosong, nir budaya, nir refleksi dan nir-nir  lainnya lagi. Kalau sudah begitu hati saya jadi mongkok lagi. Dan Mas Prasodjo justru yang ikut menambah ke-mongkok-an itu.

Dari sekian puluh ahli matematika yang terkenal, dialah salah satu pengecualian yang mengagumkan. Dia membaca Cervantes, Stendhal, Shakespeare. Dan dulu waktu di luar negeri melihat pementasannya meski di kelas kambing, Tolstoy, Dostoyewski, dll. Hampir semua sastrawan modern Amerika dan sudah tentu Indonesia dari Pramoedya sampai Suwarno Pragolapati. Dan puisi ? Oh … ho, dia hafal sajak-sajak Chairil Anwar, Goenawan Mohammad dan Soetardji Calzoum Bachri. Kalau ‘Pengakuan Pariyem’ tidak begitu panjang dan anu, pastilah prosa lirik Linus Ag. Suryadi itu akan diganyangnya habis. Dan kalau saja sajak Darmanto Jt. Tidak bercerita tentang suami yang mencangkul dan membajak istrinya, pastilah Mas Prasodjo akan juga dengan mulus bisa menghafal semua sajak Darmanto yang ajaib itu. Kata Mas Prasodjo,

Lha, priyé … meski itu metafora, saya kok terus terbayang suami yang macul gundhul istrinya. Hii ..”

Dengan rendah hati dia berkata kepada saya bahwa kesusastraan justru telah membuat matematika jadi lebih berarti dan menyenangkan. Lha, apa saya tidak makin besar hati ?

Dengan grawalan saya sambut mereka masuk rumah saya. Saya lihat mbakyu membawa tas yang penuh bungkusan dan satu renteng krupuk ndéså.

“Wah … wah … wah … Mas dan mBakyu, ini tadi dari mana ? Pantas gagaknya kaok-kaok terus.”

“Gagakmu itu. Ya, dari rumah to, Dik. Kalau gunung nggak mau turun ke Muhammad, ya Muhammad yang menaiki gunung itu, ya to ?”

“Wah touche, kena aku ! Yo wis, ngapurané saja yang gêdhé, ya Mas, mBakyu. Saya ini memang adik yang nggak tahu diri. Diundang Kangmas dan mBakyu nggak pernah bisa datang, sekarang malah kalian yang datang. Dari blånjå di pasar to, mBakyu ?

“Ya, nggak. Kita datang memang sengaja mau ngluruk makan. Nggak ada persediaan to, kamu ? Wis ora usah repot. Ini kita sudah bawa lauk-pauk. Tapi kalau nasi putih punya, to ?”

Saya jadi pringisan sendiri melihat serangan yang begitu terencana.

“Wah, tambah terharu saya. Kalau ini tadi saya pas di mBêtawi, lauk-pauk ini bisa jadi mubadzir, dong !”

Mbakyu Prasodjo mengeluarkan bungkusan itu satu per satu dan memindahkannya ke piring yang disediakan Mr. Rigen di meja. Tempe bacêm, gudangan bayêm, kecambah, irisan lobak rebus, gorengan balur roti, sambal terasi yang baunya mengilik lobang hidung, serenteng krupuk ndeså dan dari rantang di-suntak-kan sayur asem daging thèthèlan, kacang panjang dan terong. Itulah menunya. Waktu saya ke belakang sebentar, Mr. Rigen dan istri sempat mengkritik,

Wong niat rawuh mau oleh-oleh dhahar kok begitu saja, lho.”

Huss, diam kowé !

Saya pun lantas duduk makan siang bersama mereka. Nikmatnya bukan main. Semua yang mereka bawa licin tandas tak tersisa. Saya bersyukur panggang ayam Pak Joyoboyo yang saya beli tadi pagi tidak saya perintahkan keluar dari lemari makan. Khawatir akan me-rikuh-kan Mas dan mBakyu Prasodjo. Takut kalau ayam panggang itu keluar akan merusak selera menu mereka.

Belum pernah saya makan begitu nikmat dengan menu seperti itu. Tentu Mr. Rigen sering juga masak seperti itu. Tetapi, rasanya kok tidak senikmat yang mereka bawa. Dan melihat suami-istri itu makan dengan rileks, nikmat, muluk tanpa sendok garpu, saya juga jadi ikut terangsang melicin tandaskan makanan itu.

Di depan saya duduk Dr. Prasodjo Legowo, doktor matematika yang terkenal tidak hanya di dalam negeri tetapi juga di luar negeri. Makalah-makalah yang dibacakan di simposium-simposium internasional serta jurnal-jurnal luar negeri banyak mengagetkan para ahli karena orisinilitasnya. Beberapa kali pula memenangkan award untuk tulisan dan pikirannya yang cemerlang. Toh, dia belum juga diusulkan jadi guru besar. Aneh, katanya kum-nya belum cukup, belum memenuhi syarat. Dan dia diam saja, tidak protes, tidak apa-apa, kecuali mengajar dan mengotak-atik rumus-rumus matematika. Hidupnya sederhana karena pendapatannya juga cuma dari gaji dan sedikit honorarium dari sana-sini.

“Kok masih terus Honda bebek to, Mas. mBok nyicil Volvo. Hakmu kan ?”

Êmoh. Nanti mBakyumu bisa mêcicil !

Dan dengan enaknya dia korèt-korèt sambêl yang masih nyerempet di pinggir piringnya. Dan ini adalah tokoh internasional yang mestinya kalau sedang di luar negeri ganyangannya T-bone steak dengan baked Idaho potato serta buncis dan wortel yang di-ongklok dengan pas sekali sambil sekali-sekali nyewel rell dan diserempetkan mertega yang betul mertega itu.

“Kalau di kandang bule, Dik, ya makan steak dan uba rampé-nya itu. Enak juga. Tapi, kalau di kandang mBakyumu, ya, kayak gini ini. Ngorèti sambêl terasi, thithil-thithil ikan asin. Maknyuss … enak tênan ! Nggak usah aksi-aksian makan di hotel berbintang. Sudah muahal, nggak enak.”

Lha, kalau sedang kangen ?” saya tanya setengah membela diri karena kadang suka makan dengan keluarga di hotel berbintang.

“Enggak pernah kangen, tuh ! Mereka yang bilang kangen steak itu, kan cuma mau aksi-aksian, to !”

Touche lagi ! Saya membayangkan si mBak dan si Gendut, anak-anak saya itu, kalau mereka mendengar pernyataan Mas Prasodjo itu pasti cêngar-cêngir.

Sesudah jam setengah tiga siang, mereka pamit pulang. Saya mengantar mereka sampai jalan.

Wis, lho yo ! Sekarang ganti kamu, syukur sama istri dan anak-anakmu, datang ke rumah kami di ndéså. Kami itu kesepian, lho. Anak dua, satu di Bandung, sekolah tapi nggak pernah kirim surat. Yang satu mentang-mentang ikut suami bule di New York juga jarang kirim surat. Tênan, yo, datang !”

Honda bebek itu di-starter. Jêglek, jêglèk, jêglèk, jêglèk, jêglèk, jêglèk, jêglèk. Tujuh kali di-starter baru mesin itu hidup. Mereka meringis. Jempol mBakyu diacungkan. Saya balas mengacungkan jempol saya. Honda bebek itu berjalan, jlèk-jlèk, jlèk-jlèk, pelan-pelan sêmangkin menjauh ke pinggiran daerah Bangun Tapan, ke rumah mereka yang sederhana yang mereka bangun nyaris bata demi bata. Begitu selesai rumah itu, mereka tinggalkan rumah dinas mereka di Sekip. Biar dosen lain bisa ganti menempati rumah dinas itu, kata mereka.

Itulah Mas Prasodjo Legowo. Selalu tetap prasojo dan berjiwa besar. Mr. Rigen sesudah saya ceritakan riwayat mereka bertanya,

Gèk apa ya banyak dosen atau priyayi seperti itu ?”

Huss … diam kowé !

Yogyakarta, 18 Oktober 1988

*) gambar dari adicuzzy.wordpress.com

Iklan

6 komentar

  1. membaca bukunya “Mangan Ora Mangan Kumpul” di perpus ITB terbitan grafiti selalu membuat hari menyenangkan.

    Suka

  2. Aku seneng tulisane almarhum ini dan senang dengan penggambaran tokoh-tokohnya. Btw, Mas Teddy sampean sik ono hubungan seduluran ta karo Pak Umar Kayam? Suwun uploade Mas. Mugi-mugi Gusti Allah maringi barokah sampean sekeluarga. Aamiin

    Suka

    1. masteddy · · Balas

      ma kasih, mas Harmas …
      aku emang msh ada hub saudara sama pak UK, saudara sebangsa setanah air … 😀

      Suka

  3. mfaisal · · Balas

    Baca tulisan makan siang itu, sungguh minggu siang yang sempurna 😀

    Salam

    Suka

  4. Mas Teddy, ilustrasine mestinya pake gambar honda pitung alias Honda C-70 yg legendaris itu, bukan Yamaha 75 kek punya bapak saya dulu….xixixixi

    Suka

    1. masteddy · · Balas

      hehehe …. sampeyan teliti juga 😀
      sing penting motor bebek jadul, mas
      suwun komen-e …

      Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

akar rumput

tulisan ala kadarnya refleksi kehidupan dari akar rumput

My not–so–Secret Journal

thoughts, feelings, desires, passion, and some rambling!

PAUS ANTARTIKA

Kita akan bertahan!™

The BroNeo

cerita biasa dari orang biasa

Munajat Sang Pendamba

Tuhanku, gemintang langit-Mu telah tenggelam, Semua mata makhluk-Mu telah tertidur, tapi pintu-Mu terbuka lebar buat pemohon kasih-Mu. Aku datang menghadap-Mu memohon ampunan-Mu, Kasihi daku . . . .

ZeDeen

Rumahku Katanya Sih Surgaku : tentang perjalanan hidup lelaki kecil dan bahteranya

jendelakusam

"Pendar mata Sebuah catatan tolol, tentang perjalanan kehidupan dan segala macam penghidupannya"

lagilagi81.wordpress.com/

KEBAHAGIAAN HIDUP BUKAN SEKEDAR DARI AGAMA

Counting Down

The journey of my life...

Catatan Dahlan Iskan

dahlaniskan.wordpress.com

%d blogger menyukai ini: