Ngarsadalem Sudah Seda, Hidup Ngarsadalem !

HB IXSIANG-SIANG waktu memasuki kota terasa ada suasana yang tidak seperti biasa. Bendera-bendera masih pada berkibaran setengah tiang. Wah … kok aneh orang Yogya ini, lho. Pancasila sudah jelas sakti kemarin, kok benderanya masih nglumpruk setengah tiang. Atau masyarakat Yogya begitu nglemprahnya, malas menaikkan bendera mereka ? Tetapi, kalau sepanjang jalan Solo, termasuk Ny. Suharti, Hotel Ambarukmo, mes perwira polisi juga masih mengibarkan bendera setengah tiang, apakah mereka ikut-ikutan nglemprahsemangatnya ?

Di rumah, Mr. Rigen anak beranak yang untuk kesekian kali saya tinggal pergi untuk waktu yang agak lama, tidak seperti biasanya, tidak menyambut kedatangan saya dengan penuh enthusiasm. Bahkan si bedhes Beni Prakosa, yang dalam keadaan seperti itu selalu tidak pernah terlambat menodongkan tangannya menagih oleh-oleh, siang itu kelihatan diam setangah nyekutrut. Elho … ada apa ini ?

“Lho, ada apa ini ?Kok kalian bermuram durja seperti durjana-durjana ?”

Mr. Rigen dan Mrs. Nansiyem, yang menggendong anak oroknya, saling berpandangan. Wah … gawat ini.Setiap kali saya melihat suami-istri itu saling memandang begitu, hati saya jadi ketir-ketir. Itu saling pandang yang biasanya suatu ancang-ancang untuk sebuah resolusi yang ekonomis sifatnya. Akhirnya, Mr. Rigen angkat bicara juga.

“Lho, apa Bapak belum dengar ?”

“Dengar apa ?”

Elho … kados pundi to Pak Ageng ini ?Nga … Ngar-sa da-da-lem seda !

Kowe ojo edan lho, Mister. Wong dua tiga bulan yang lalu saya masih salaman dengan beliau di satu pesta di Jakarta. Dan beliau itu nampak seger-buger, tidak kurang suatu apa, lho.”

Saestu, Pak. Ngarsadalem seda. Makanya kita semua diperintahkan untuk mengibarkan bendera setengah tiang. Waahh … jiiaann, kita semua jadi kaget saestu, Pak. Ngarsadalem kok seda. Tidak bisa itu, Pak !”

“Lho, Ngarsadalem kan manusia juga, Gen.”

Ha, inggih.Ning bukan sakbaene manungsa. Bukan sembarang manusia seperti kita. Tidak boleh begitu saja seda.”

“Kok kamu enak saja bilang ‘tidak boleh’ ? Yang boleh dan kuasa bilang begitu kan cuma Gusti Allah to, Gen.”

Ha, inggih. Tapi, rasanya kok belum waktunya beliau itu pergi sekarang. Lha, wong kita semua masih butuh pengayoman beliau lho, Pak. Rasanya kalau beliau itu masih ada, wong cilik itu kok rasanya ayem, tentrem, mak nyes begitu.”

“Betul apa, Gen. Wong kamu bukan orang Yukja saja, kok bisa ngomong begitu. Kalau kamu wongYukja asli, boleh kamu ngomong begitu.”

Weh … Pak Ageng ini bagaimana, to.Ngarsadalem itu bukan punya orang Yukja saja. Punya orang Jawa semua. Punya orang Indonesia semua. Rak inggih, to, Pak Ageng ?”

Saya manggut-manggut. Lagi-lagi saya merasa kagum oleh pandangan Mr. Rigen, yang kadang-kadang mencuat dengan briliannya. Baru sebulan yang lalu, dia banting setir merayakan malam satu Suro dengan tidak ikut-ikutan mengiring kebo bule Kiai Slamet, tetapi merayakannya dengan prihatin di rumah saja. Dunia Pracimantoro, dunia Solo sudah lama dia lebur bersatu dengan dunia Yogya. Ternyata dunia itu sudah dia lebur menjadi dunia Indonesia. Hamengku Buwono tidak dia dudukkan dalam satu kerajaan yang sempit. Tetapi dalam satu “kerajaan” yang jauh lebih luas lagi.

Saya ngunandika, dari mana datangnya konsep seperti itu pada otak seorang jebolan SD desa di Pracimantoro itu ? Pasti bukan dari pendidikan formalnya, toh ? Pasti bukan dari pergaulannya sesama anggota Persatuan Djongos Djongos dan Persatuan Babu Babu, toh ? Eh, … tunggu dulu. Manungsa tan kena kenira. Manusia tidak dapat diduga. Mungkin bisa saja dialog di antara mereka justru dapat mengangkat mereka pada cakrawala-cakrawala yang luas tidak bertepi.

“Saya dan ibunya Beni sudah sepakat untuk puasa tiga hari, sebagai tanda ikut berduka cita dan prihatin.”

Huss, istrimu baru habis melahirkan begitu, lho. Masih harus menyusui. Kok mau kamu ajak puasa, edan kowe ! Kamu saja yang puasa. Istrimu boleh prihatin dengan cara lain.”

Mr. Rigen tertunduk malu. Mereka bertiga pergi ke belakang. Masih jelas membawa roso berat menerima berita meninggalnya Ngarsadalem. Saya sendiri masih termangu duduk di kursi goyang, tahta saya yang reyot tetapi masih berfungsi menggoyang-goyang punggung saya dengan enak.

Saya jadi ingat waktu masih kecil dulu, waktu baru duduk di bangku SD. Saya ikut eyang putri saya berdiri di pinggir jalan di depan HIS Tungkak. Menunggu berjam-jam datangnya iring-iringan jenazah ayahanda Hamengku Buwono IX menuju ke Imogiri. Masih jelas terbayang bagaimana agung dan khidmatnya iringan itu. Kemudian sesudah itu gambar-gambar beliau sebagai Sultan yang baru. Duduk sinewaka dengan seriusnya. Alangkah muda Sultan yang baru itu, pikir saya waktu itu. Sebab saya selalu membayangkan seorang raja sebagai seorang yang harus berusia lanjut. Tidak terpikir sedikit pun oleh saya bahwa Sultan atau Raja ini, waktu saya bisa menjamah tangannya. Bisa saya jangkau pikiran-pikirannya.

Dan kesempatan itu datang karena revolusi ikut merobohkan tembok protokol yang memisahkan kemungkinan menjamah tangan sang Raja itu. Kesempatan itu datang lebih sering dan akrab lagi pada waktu diskusi-diskusi pada hari-hari pertama Orde Baru. Dengan penuh kesabaran dan keterbukaan beliau mengemukakan pikiran-pikiran dan nasihat-nasihat beliau. Dari jarak yang sangat dekat itu, saya merasa berhadapan dengan seorang pemimpin rakyat biasa. Dengan hem lengan pendek keluar, sepatu sandal, menyeruput kopi dengan caranya yang khas, mengganyang pisang goreng dengan nikmat. Belaiu tampil seperti pemimpin-pemimpin yang lainnya. Tetapi benarkah ? Tidak sepenuhnya.Entah bagaimana, ada sesuatu pada beliau yang somehow, bagaimanapun, kadang-kadang nyelonong sinar kerajaannya. Meskipun sinar itu hanya sekilas saja.

Kemudian kira-kira lima, enam bulan yang lalu waktu kami segerombol pengamat seni diundang ke istana kecil beliau di Bogor. Seorang Hamengku Buwono yang lain tampil pada sore hari itu. Di istananya yang indah dan modern tetapi masih berbau Yogya itu, beliau dengan Ibu Norma, menerima dan meng-entertain kami sebagai tuan dan nyonya rumah yang sangat ramah dan luwes. Dengan sangat kikuk, kami dan istri-istri kami menerima keluwesan tuan dan nyonya rumah kami itu. Saya mencatat suatu suasana yang sangat rileks, ayem dan happy pada pasangan itu. Tanpa satu kompleks apapun beliau mengobrol dan meladeni kami makan. Lagi, seperti dulu, beliau memberikan pendapat dan saran beliau dengan sangat terbuka dan bijaksana.

Barangkali kesahajaan sikap beliau itu yang menjadi kekuatan beliau. Kesahajaan yang bukan hanya charming, memikat hati, tetapi juga memberi roso tenang dan tenteram. Barangkali ini juga yang sempat terasa pada orang-orang seperti Mr. Rigen dan family. Orang-orang yang kalau dihitung dari sudut jarak meter begitu jauh berada dari istana Sri Sultan. Tetapi, jika roso itu ternyata memang telah berhasil menjamah mereka dan sekian juta orang lagi, apakah fenomena itu selain dari cahaya raja namanya ?Ngarsadalem sudah seda, hidup Ngarsadalem !Le roi es mort. Vive le roi !

Yogyakarta, 4 Oktober 1988

*) gambar dari id.wikipedia.org

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

akar rumput

tulisan ala kadarnya refleksi kehidupan dari akar rumput

My not–so–Secret Journal

thoughts, feelings, desires, passion, and some rambling!

PAUS ANTARTIKA

Kita akan bertahan!™

The BroNeo

cerita biasa dari orang biasa

Munajat Sang Pendamba

Tuhanku, gemintang langit-Mu telah tenggelam, Semua mata makhluk-Mu telah tertidur, tapi pintu-Mu terbuka lebar buat pemohon kasih-Mu. Aku datang menghadap-Mu memohon ampunan-Mu, Kasihi daku . . . .

ZeDeen

Rumahku Katanya Sih Surgaku : tentang perjalanan hidup lelaki kecil dan bahteranya

jendelakusam

"Pendar mata Sebuah catatan tolol, tentang perjalanan kehidupan dan segala macam penghidupannya"

lagilagi81.wordpress.com/

KEBAHAGIAAN HIDUP BUKAN SEKEDAR DARI AGAMA

Counting Down

The journey of my life...

Catatan Dahlan Iskan

dahlaniskan.wordpress.com

%d blogger menyukai ini: