Mr. Rigen Menjangkau Langit

anak militer (kabar24)PULANG dari tugas ke luar negeri, saya disambut oleh datangnya warga baru dalam jagad istana saya. Beni Prakosa, sesudah menunggu-nunggu hampir empat tahun, akhirnya mendapat adik. Laki-laki, blengah-blengah seperti bayi Kakrasana.Mr. & Mrs. Rigen, yang pada waktu kelahiran anak mereka yang pertama dulu berharap agar anaknya di kelak kemudian hari bisa menjadi jenderal ABRI, apesnya ya kolonel, menamakan anak itu Beni Prakosa, kali ini agak keteter imajinasinya.Anak yang baru lahir ini datang pada bulan September.Bulan yang tidak merangsang imaji harapan yang menggetarkan.Lain dengan Beni dulu.Dia lahir pada tanggal 5 Oktober, hari ABRI. Tetapi, September ?

“Wah, repot, Pak. September itu rak bulannya Gestapu to, Pak ?”

“Ya, jangan kau ambil yang Gestapu, Gen. Cari hari yang lebih mengandung harapan cerah begitu.”

Lha, pripun.Wong nyatanya peristiwa yang dahsyat, medeni, banjir getih itu dimulai tanggal 30 September itu.Saya jadi judeg cari hari-hari lain yang lebih menggembirakan di bulan September itu, Pak.”

“Yang penting, kamu itu kepingin anakmu yang ini jadi apa ?”

Ha inggih ABRI lagi to, Pak. Mau apa lagi. Jadi ABRi sudah karuan.Pasti mantep jalannya jadi priyayi.”

Lho, tenan to, Gen ?”

Ha, buktinya semua sanak saudara saya yang jadi ABRI itu sekarang mukti semua kok, Pak.”

“Lho, sanak saudaramu itu pada jadi jenderal begitu apa ?”

Lha, inggih mboten.Mosok semua ABRI itu jenderal. Terus prajuritnya siapa ?”

“Karena itu, kamu kok terus ambil kesimpulan semua sanakmu yang ABRI mukti semua.”

“Semua mukti saestu kok, Pak. Ada yang jadi camat, ada yang jadi lurah, ada yang priyagung kantoran.Pun to, pokoknya enak semua.”

“Geen, Geen. Jadi yang kamu inginkan itu anakmu itu akan jadi lurah atau camat, to ? Lha, kalau itu ngapain harus jadi ABRI dulu ?”

“Lho, Pak. Kalau tidak jadi ABRI dulu apa bisa jadi camat atau priyayi dhuwur di kantoran ?”

Oalahh, Le. Dak bilangin, ya. Yang kamu katakan itu kan keadaan darurat. ABRI membantu sipil.Nantinya ya tidak harus begitu, to.Ya kalau mau jadi ABRI, ABRI saja.Mau jadi lurah saja kok mesti jalan-jalan dulu jadi ABRI.”

Inggih, pun.Jadi ABRI saja.Thole Beni nanti jadi jenderal. Adiknya ya jadi jenderal.Kalau tidak nanti adiknya meri, cemburu.Dikira orang tuanya membeda-bedakan kesempatan.Rak inggih to, Pak ?”

Yo wis. Setuju aku. Terus namanya itu lho, siapa ?”

Kami berdua lantas terdiam. Berpikir keras mencari nama. Betul juga kegamangan Mr. Rigen melihat bulan September sebagai bulan berdarah.Tetapi, lho kok dia lupa. Kan yang menang melawan Gestapu itu ABRI sama rakyat. Jadi September itu, meski bulan berdarah, menyedihkan, tapi ABRI rak jaya.

“Gen, September itu bulan ABRI jaya, lho.Jadi ya sudah cocok dengan gegayuhanmu mau melihat anakmu jadi ABRI nanti.”

“Oh, inggih ding. Pun begini saja. Anak saya, saya namakan Septian Jaya.Pripun, Pak ?”

“Sep-ti-an Ja-ya. Yo wis, apik.”

Begitulah nama itu diturunkan kepda si jabang bayi. Sekali saya takjub, terharu, bangga dan tentu saja juga was-was mendengar begitu menggebu-nggebunya Mr. Rigen nggonto, meraih harapan, buat anak-anaknya. Di hadapan saya duduk nglesot seorang jebolan SD desa, mantan anak petani yang cukup berada, tetapi yang jadi korban revolusi hilang kemungkinannya naik tangga sosial dengan cepat. Tetapi, status yang dulu pernah sekejap melintas di rumah Mr. Rigen Senior nun di desa sana rupanya belum padam dan hilang dari ingatan Mr. Rigen. Kayaknya ada dendam kelas. Awas, satu ketika saya akan bisa juga mengejar kekalahan itu. Kalau bukan saya, ya anak saya.Awas. Apakah dia tahu bahwa persaingan itu akan lebih ketat dan keras lagi untuk masuk AKABRI ? Dan sekolah prajurit, kopral, sersan, letnan, kapten, mayor, kolonel dan jenderal itu akan lebih berlapis-lapis lagi dan lebih susah lagi ? Pelajaran dan ketrampilan yang dituntut akan lebih canggih dan modern lagi ? Kok dia masih membayangkan jadi ABRI sebagai camat atau lurah ?

Dari jendela saya lihat Beni Prakosa pulang sekolah dijemput sepupu perempuannya yang kebetulan sedang berada di kota. Beni dengan pakaian seragam TK Indonesia Hebat dengan enak dan nglaras roso duduk di gendongan belakang sepupunya, sembari makan bakmi kering krip-krip.

“Lho, katanya mau jadi ABRI di sekolah Indonesia Hebat kok masih digendong ?”

“Habis, capek Pak Ageng. Panas.Digendong mBak Nimplek enak lho, Pak Ageng.”

Tasnya dilempar ke amben dapur.Baju seragamnya dilepaskan oleh Mrs. Nansiyem dan sepupunya.Juga sepatunya dijulurkannya kepada mereka untuk dilepas.

Madhaang, Buk. Madhang pake endhog, oseng-oseng kacang pake bakso.”

Inggih, Den Bagus.”

Saya melihat pemandangan itu dengan takjub.Saya melirik ke Mr. Rigen.Dia tersenyum.

Wong dia begitu itu yang ditiru, ya anak-anak, adik-adik Pak Ageng.”

“Ah, mosok ?

“Atau putro-putro dosen di sekitar sini.”

“Ah, mosok ?

Lha, terus niru siapa ?”

Lha, kalau begitu terus apa bisa jadi jenderal dia nanti, Gen ?”

“Ah, ya nanti dilihat saja Pak Ageng. Dengan pangestu Pak dan Bu Ageng, dengan pertolongan dan sumbangan dari para priyagung mosok anak-anak saya tidak akanslamet sempulur jalannya. Ya, Le,ya ? Sana makan yang enak dan habiskan ya !”

Ya, dengan do’a restu, dengan pertolongan dan sumbangan dari sana-sini mosok tidak bisa anak-anak maju jadi jenderal, jadi profesor, jadi menteri, jadi …..

Yogyakarta, 20 September 1988.

*) gambar dari kabar24.com

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

akar rumput

tulisan ala kadarnya refleksi kehidupan dari akar rumput

My not–so–Secret Journal

thoughts, feelings, desires, passion, and some rambling!

PAUS ANTARTIKA

Kita akan bertahan!™

The BroNeo

cerita biasa dari orang biasa

Munajat Sang Pendamba

Tuhanku, gemintang langit-Mu telah tenggelam, Semua mata makhluk-Mu telah tertidur, tapi pintu-Mu terbuka lebar buat pemohon kasih-Mu. Aku datang menghadap-Mu memohon ampunan-Mu, Kasihi daku . . . .

ZeDeen

Rumahku Katanya Sih Surgaku : tentang perjalanan hidup lelaki kecil dan bahteranya

jendelakusam

"Pendar mata Sebuah catatan tolol, tentang perjalanan kehidupan dan segala macam penghidupannya"

lagilagi81.wordpress.com/

KEBAHAGIAAN HIDUP BUKAN SEKEDAR DARI AGAMA

Counting Down

The journey of my life...

Catatan Dahlan Iskan

dahlaniskan.wordpress.com

%d blogger menyukai ini: