Halo-Halo & Prof. Surapon

halo-halohalo-halo adalah es teler versi Philipina. Tentu saja menurut pendapat saya yang sangat obyektif dan tidak memihak, es teler masih jauh lebih enak ! Lebih seru dan lebih menjanjikan surprise-surprise sepanjang tegukan gelas dan kerongkongan. Lebih banyak ditemukan unsur-unsur seperti pringkilan-pringkilan es, nangka yang nyaris kematangan, duren yang masih setengah matang, dalam satu gelas es teler. Pada halo-halo pengalaman dengan kejutan-kejutan begitu nyaris tidak ada. Tidak lucu ! Wong minum kok ngglenyer saja !

Mr. Surapon, sahabat saya, seorang profesor ilmu komunikasi dan seni tari dari Universitas Chulalongkorn di Bangkok, srupat-sruput meneguk halo-halonya. Tampak sangat maat. Batin saya,

Oalahh mesakake, Le. Wong minuman begitu saja kok bolehnya maat !

“Apakah di Yogya ada minuman yang begini enak ?” tanya profesor kita dari Chula itu.

Saya selalu siap menghadapi pertanyaan seperti itu. Kuda-kuda “Indonesia Uber Alles” selalu siap sedia saya pasang setiap kali saya ke luar negeri. Bukankah para pemimpin kita selalu selalu mengindoktrinasi kita untuk selalu tampil sebagai duta bangsa yang baik ? Dan harus dengan kepala tegak, tidak nyerepeh, merunduk-runduk, merendah-rendah, kayak negeri kita yang hebat lagi dahsyat ini negeri cekeremes yang tidak punya apa-apa ! Tak usah ya !

“Di Yogya ada sedikitnya tujuh belas minuman seperti ini.”

“Astaga ! Tujuh belas macam ? No kidding ?!

No ! Tenan ! Eh, I mean true. Dan rasanya juga tujuh belas kali lebih enak dan lebih seru dari halo-halo.

mBok coba you sebut tiga saja dari minuman itu !”

Yes, Sir ! First, es teler, second dawet, lha sing ping telu cao. Bagaimana ?”

Cao ? Apakah es itu es dari Italia ? Cao di Italia artinya goodbye. Kalau bahasa Indonesia ya selamat tinggal. Apa menurut kamu ada terjemahan yang lebih tepat dalam bahasamu ?”

“Lho, ya ada. Cao itu terjemahannya yang tepat, ya wis yo. Ah, tapi cao itu minuman asli Jawa, lho !”

Kami pun terus ngobrol ngalor-ngidul tentang macam-macam hal. Prof. Surapon adalah pecinta dan pengagum tari, gamelan dan kebudayaan Jawa. Bahkan menurut dia Budha Thailand harus belajar banyak dari Jawa. Sebab bangsa yang bisa membuat Borobudur pastilah bangsa Budha yang dahsyat. Edyaannn ! Masalahnya, apa yang bikin Borobudur itu orang Jawa seperti orang Jawa sekarang ? Menurut dia, kalau toh meleset, pasti tidak banyak melesetnya. Saya pun jadi bangga sampai megar lubang hidung saya, yang biasanya semi tertutup itu. Maka sebagi ganti untuk memberi komplimen kepada sahabat dari Thailand itu saya pun membuka dialog komplimen. Mutual compliments dalam rangka persatuan Asean, to ?

“Wah, saya dengar negerimu sekarang jadi negara Macan Asia yang kelima. Hebat dong !”

“Ah, macan apa ? Biasa saja yang dikerjakan negeraku. Jualan buah-buahan, bunga anggrek, ikan asin dan beras, sedikit-sedikit.”

Lha, kok para pengamat sudah memberi cap kamu Macan Asia ?”

“Ah, orang suka sensasi.”

“Tapi menurut berita-berita bisnis, ekspor bunga anggrek kalian sekarang sudah menyaingi ekspor bunga tulip dari Negeri Belanda.”

“Betul. Kami memang sudah mengirim bunga anggrek ke seluruh dunia. Itu tidak berarti kami sudah jadi macan.”

Setelah itu disruput-nya lagi halo-halo dengan enak.

“Orang Philipina memang pintar bikin minuman,” sambungnya lagi.

Saya jadi panas lagi. Halo-halo cekeremes masih saja dipuji.

“Bagaimana kalian bisa jadi eksportir anggrek begitu ? Anggrek kami bagus dan indah. Kok kami baru bisa jual kecil-kecilan.”

Lagi Prof Surapon menyeruput halo-halo yang tampaknya tidak kunjung habis itu. Kemudian wajahnya yang ganteng seperti Bengawan Solo itu menyungging senyum.

“Anggrek Indonesia memang indah-indah dan bagus-bagus, di hutan dan entah di mana lagi. Tapi tidak di laboratorium penelitian dan tidak di tempat pemasaran dunia.”

Prof. Surapon menyeruput lagi halo-halo yang menjengkelkan itu. Saya pun mulai mengerti sedikit.

“Dengan kata lain, Thailand sudah lama sekali menyiapkan semua itu dengan penelitian, baik tentang anggrek maupun tentang pasarnya ?”

“Ya. Waktu kami mau merebut pasar durian, pemerintah kami memerintahkan kedutaan-kedutaan kami untuk menjajakan durian itu di halaman kedutaan.”

Wah, saya mulai memejamkan mata membayangkan kalau suatu ketika para duta besar kita juga harus jualan mangga dan salak di halaman kedutaan kita. Ah, yang benar saja ! Mosok priyagung kok jualan buah, lho ! Apa tidak ada pekerjaan lain yang lebih penting, to ? Pekerjaan seperti penataran P4, meningkatkan kewaspadaan nasional dan waskat itu !

“Saya sudah kangen Yogya.”

“Apanya yang bikin Anda kangen ?”

“Ya, semuanya. Suasana yang masih alon-alon. Suara gamelan di keraton. Tari-tarian di pendopo Rama Sas. Dan .. ah, Kotagede di mana tukang perak masih benar-benar tukang yang seniman. Istri saya masih terus bicara tentang tusuk konde perak itu … “

Waktu Prof. Surapon terus nyerocos itu, saya memejamkan mata lagi. Saya lihat lalu-lintas yang semrawut, tanpa tata krama dan tanpa toleransi, saya melihat anak-anak muda yang begadang di tempat-tempat billiar. Dan di Crazy House, saya melihat tukang-tukang perak di Kotagede yang masih saja kecil upahnya dan tampak semangkin bongkok punggungnya. Bagaimana Denmas Surapon bisa menangkap Yogya yang begitu lain. Klise idyllic dari para romantikus Barat yang dekaden dan tidak peka melihat perubahan zaman dan penderitaan rakyat ?

“Kalau Bangkok, bagaimana sekarang, Prof ?”

“Ahh … Bangkok semangkin jadi kota dagang. Semua dijadikan barang dagangan. Semua orang jadi pedagang. Lantas orang juga semangkin kaya.”

“Naa … kalau begitu benar kan negaramu mau jadi Macan Asia ?”

“Macan … macan. Anda kok mata-macanen terus. Orang Thai itu cuma kepingin kaya. Kalau jalan untuk jadi kaya itu harus lewat jualan buah, jualan anggrek, jualan ikan asin, ya itu dikerjakan.”

Karena gelas halo-halonya sudah kosong, Prof. Surapon tinggal bisa koret-koret sisa biji-biji jenang mutiara yang masih nempel di dinding gelas.

“Orang Thai, ya Mas, sekarang diindoktrinasi untuk jadi pedagang pertanian. Marketing jadi mata pelajaran penting di sekolah-sekolah. Citra Thailand sebagai petani thok akan hilang.”

“Apa Anda senang dengan perubahan itu ?”

Prof. Surapon tidak menjawab pertanyaan saya. Mulutnya klametan komat-kamit, mungkin masih mau halo-halo lagi.

“Ah … kapan ya saya bisa ke kotamu lagi ? Mungkin tahun depan tabungan kami cukup untuk ke Yogya, ke Kotagede, ke Solo. Kamu ada di Yogya waktu itu ?”

“Tentu. Tentu, Prof. Saya akan menemani kalian berdua.”

Tiba-tiba tuan rumah kami dari University of The Philippines berdatangan mengajak kami makan di kompleks mereka. Cofee Shop tempat kami minum halo-halo, mereka anggap tidak memenuhi syarat. Di restoran kampus yang khusus untuk dosen itu, saya tidak bisa menikmati makanan mereka. Kali ini mungkin tidak ada hubungannya dengan segala uber alles itu.

Tiba-tiba saya kangen restoran “masih sepuluh”. Tiba-tiba saya bingung mengapa saya sekaligus kangen, bangga dan anyel dengan semua yang masih terus saja kumal, lethek, sedep, indah tetapi dari dulu masih di situu saja ! Es teler, dawet dan cao. Mengapa Prof. Surapon from Thailand itu begitu rendah hati menikmati halo-halo dengan sejujurnya. Orang kaya bukankah lebih bisa bersikap jujur dan rendah hati ? Atau tidak ? Orang melarat bukankah lebih membutuhkan gaya yang lebih seru dan melihat sikap penthenthengan sebagai katarsis yang sangat penting ? Atau tidak ?

Tetapi mengapa Prof. Surapon tidak mau menjawab pertanyaan saya, apakah dia senang atau tidak negerinya jadi kaya. Dia cuma dengan mata merem-melek menjawab mau ke Yogya tahun depan dengan uang tabungannya. Dari uang tabungannya ! Trembelane tenan ! Dengan uang itu Prof. Surapon bisa menikmati, melihat kemelaratan kita yang indah.

Mr. Rigen, Mrs. Nansiyem, Beni Prakosa ! Ayo sepulang saya nanti kita mulai dodolan ! Apukat kita yang di belakang dan nangka kita yang di depan, ayo kita jajakan di halaman. Nongko … nongko … apokat … apokat. Es teler … es teler …

Yogyakarta, 13 September 1988

*) gambar dari resepmakananminumancara.blogspot.com

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

akar rumput

tulisan ala kadarnya refleksi kehidupan dari akar rumput

My not–so–Secret Journal

thoughts, feelings, desires, passion, and some rambling!

PAUS ANTARTIKA

Kita akan bertahan!™

The BroNeo

cerita biasa dari orang biasa

Munajat Sang Pendamba

Tuhanku, gemintang langit-Mu telah tenggelam, Semua mata makhluk-Mu telah tertidur, tapi pintu-Mu terbuka lebar buat pemohon kasih-Mu. Aku datang menghadap-Mu memohon ampunan-Mu, Kasihi daku . . . .

ZeDeen

Rumahku Katanya Sih Surgaku : tentang perjalanan hidup lelaki kecil dan bahteranya

jendelakusam

"Pendar mata Sebuah catatan tolol, tentang perjalanan kehidupan dan segala macam penghidupannya"

lagilagi81.wordpress.com/

KEBAHAGIAAN HIDUP BUKAN SEKEDAR DARI AGAMA

Counting Down

The journey of my life...

Catatan Dahlan Iskan

dahlaniskan.wordpress.com

%d blogger menyukai ini: