Mr. Rigen Can Do No Wrong

prt (phesolo.wordpress.com)sesudah peristiwa Suro Sakmadyaning Wono tempo hari, kehidupan di rumah saya tidak seperti biasanya lagi. Oh … lancar sih tetap lancar. Roda pemerintahan yang dikoordinir oleh direktur kitchen cabinet sang Mr. Rigen dan staf tetap berjalan dengan mulus. Mr. Rigen tetap memelihara halaman rumput di depan rumah bagai memelihara golf course Bob Hasan di Bedugul, Bali. Masakan di dapur tetap merupakan hasil perpaduan antara juru musik improvisasionis pendiri jazz gaya New Orleans di mana temu pokok itu larut dalam melodi yang ora karu-karuan. Tetapi improvisasi jazz yang pating jlekutit dan grombyangan itu enak di dengar, improvisasi di bidang permasakan yang antara pating klenyit dan pating klonyot dari Mr. dan Mrs. Rigen itu … eh, enak juga ! Buku resep masakan Femina kiriman Bu Ageng mereka apkirkan dan diberikan kepada sang jenius Beni Prakosa untuk persiapan text book dari TK Indonesia Hebat.

Jadi dari sudut itu rumah tangga saya oke-oke saja. Yang jadi lain itu cara saya mendudukkan posisi Mr. Rigen sepeninggal tokoh misterius Suro Sakmadyaning Wono itu. Terus terang saya jadi agak minder menatap muka Mr. Rigen yang kadang-kadang, kadang kala, bisa tampil super blo’on. Bagaimana tidak, keluarga besar Mr. Rigen from Pracimantoro itu ternyata bukan sakbaene keluarga besar. Mereka keluarga besar berumah joglo, malah zaman revolusi sanggup jadi koordinator logistik bagi para pejuang dan pengungsi.

Tetapi sekarang, di mana kejayaan itu ? Nasib Suro Sakmadyaning Wono yang meringkik ueh .. eh .. he .. he … bagai jaran kore, kita sudah tahu. Dia sekarang adalah Ulysses yang menjalani Odissey melacak Mas Lesmana Mandrakumara dalam baju Jawa yang compang-camping. Tetapi, generasi pasca revolusi dari Mr. Rigen senior seperti kakak dan adiknya, kenapa juga tidak ikut terangkat di masyarakat ? Anak-anak desa yang datang dari keluarga sederhana telah berhasil berebut naik tangga-tangga karier di kota dan sekarang mungkin juga pada sibuk memapankan diri sebagai para neo-priyayi di ibukota. Tetapi, mengapa Mr. Rigen trimo ikut saya meskipun saya beri pangkat direktur dalam kitchen cabinet saya ? Dan sikapnya pun begitu nrimo dan lembah manah, tidak pernah nggresah dan ngresulo dan tampaknya menerima nasibnya sebagai sudah digariskan begitu oleh Yang Maha Kuasa. Hiburannya dengan pasang lotre buntut dan Porkas mungkin dia perlukan sebagai pelarian sekejap dari garis nasib. Dan kalau sekali-sekali dia berhasil menebak jitu, dia terima itu dengan penuh rasa syukur. Mungkin dia melihat itu sebagai bonus kecil-kecilan dari Tuhan sebagai atensi Gusti Allah kepada wong cilik yang kadang-kadang perlu digembirakan hatinya.

Makanya sejak itu saya memperlakukan dia lebih lembah manah dan toleran. Krompyanggg ! Gelas dan cangkir kiriman dari Jakarta pada pecah gara-gara teknik isah-isah dari Mr. dan Mrs. Rigen masih saja primitif. Ah, wis ben ! Dibanding dengan pengorbanannya pada masa revolusi (meski waktu itu dia belum lahir) apalah arti kehilangan satu lusin cangkir sebulan. Sreett … sreettt … sreett ! Beni Prakosa kampiran roh Eyang Effendi mencoret-coret pintu dan tembok (yang baru saya cat lagi menjelang Idhul Fitri) dengan spidol merah dan hitam. Ah, ya ben ! Anggap saja itu investment bakat jenius dari Beni. Apalah arti satu, dua pintu dan beberapa bidang tembok yang coreng-moreng dibanding dengan pengorbanan mereka saat revolusi ? Tetapi, lho ? Lama-lama kok mereka semangkin ndadra motorik dan kreativitasnya. Rumah saya sekarang tinggal punya cangkir dua pasang, piring tiga biji dan sendok porok tidak sampai setengah lusin.

Bila teman-teman datang makan dan minum di rumah terpaksa diatur kalau makan satu piring dipakai untuk dua orang. Kadum, kata orang Jawa. Dan karena sendok garpu juga tinggal sedikit, ya gantian juga dalam satu piring. Hak-hakan, kata orang Jawa.

Dan, tembok dan pintu rumah saya penuh semua dengan coreng-moreng warna-warni. Mungkin tembok rumah Salvador Dali yang melebihi coreng-morengnya, meskipun itu semua adalah lucu, ah … lama-lama risih juga. Meskipun rumah intelektual sejati seperti saya pantas kalau nyeniman dan bohemian, tapi yakk, kalau begini ya sudah keterlaluan kacaunya.

Saya memutuskan untuk menegur tegas Mr. Rigen sekeluarga ! Memang keluarga besar Mr. Rigen berjasa besar bagi perang kemerdekaan. Tetapi, bukankah para pahlawan kemerdekaan yang paling berjasa pun kadang-kadang perlu ditegur ? Masak kita tidak berani menegur ? Begitulah keputusan saya, tegur dengan tegas ! Dengan berjingkat saya masuk ke dapur. Ternyata mereka sedang reriungan di bawah pohon pisang. Dari jendela dapur mereka kelihatan seperti lukisan Paul Ganguin di Tahiti. Begitu icryllic dan romantis kelihatannya, mereka sedang mengajari Beni Prakosa menghafal buku bergambar peralatan perang dan prajurit-prajurit.

“Siap !” teriak Mr. Rigen. Seketika Beni Prakosa berdiri tegak dan salam hormat.

“Sudah makan ?”

“Siap, jenderal !”

“Dengan apa ?”

“Dengan sega wadhang dan sisa cap cay Pak Ageng, Jenderal !” saya urung mau memarahi mereka. Nun di sana di pojok kecil seberkas noktah secuil keluarga wong cilik sedang mencoba merajut masa depan mereka.

Saya masuk ke kamar tidur untuk merebahkan badan. Angin fan yang semilir menyapu-nyapu tubuh saya. Mata mulai saya pejamkan, tiba-tiba dari belakang ….. krompyangg !!!

Yogyakarta, 30 Agustus 1988

*) gambar dari phesolo.wordpress.com

 

 

 

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

akar rumput

tulisan ala kadarnya refleksi kehidupan dari akar rumput

My not–so–Secret Journal

thoughts, feelings, desires, passion, and some rambling!

PAUS ANTARTIKA

Kita akan bertahan!™

The BroNeo

cerita biasa dari orang biasa

Munajat Sang Pendamba

Tuhanku, gemintang langit-Mu telah tenggelam, Semua mata makhluk-Mu telah tertidur, tapi pintu-Mu terbuka lebar buat pemohon kasih-Mu. Aku datang menghadap-Mu memohon ampunan-Mu, Kasihi daku . . . .

ZeDeen

Rumahku Katanya Sih Surgaku : tentang perjalanan hidup lelaki kecil dan bahteranya

jendelakusam

"Pendar mata Sebuah catatan tolol, tentang perjalanan kehidupan dan segala macam penghidupannya"

lagilagi81.wordpress.com/

KEBAHAGIAAN HIDUP BUKAN SEKEDAR DARI AGAMA

Counting Down

The journey of my life...

Catatan Dahlan Iskan

dahlaniskan.wordpress.com

%d blogger menyukai ini: