Suro Sakmadyaning Wono

orang tuawaktu saya pulang dari Jakarta untuk tujuh belas agustusan bersama keluarga, saya dapati seorang tua berbaju Jawa lengkap dengan ikat kepala duduk di lincak teras depan. Kumisnya yang sporadis sudah pada memutih. Pastilah rambut yang tersembunyi di dalam iket juga pada memutih semua. Waktu dia menyambut saya, tersenyum sedikit meringis, giginya juga tidak mau kalah sporadisnya dengan kumisnya. Tinggal do, re, mi, fa, sol, blirik semua. Sikapnya gagah, tidak merunduk-runduk, sebagai layaknya wong cilik yang berhadapan dengan seorang priyagung.

Nuwun, Pak. Kenalkan kulo pun Suro Sakmadyaning Wono. Suro itu berani, sakmadyaning wono itu di tengah hutan. Jadi berani di tengahnya hutan. Ueh … eh … he … he …”

Sehabis melempar bunyi ketawa yang seperti ringkik kuda itu, seketika mulutnya tertutup kembali. Sikapnya tegak, kedua tangannya ngapurancang, siap menunggu reaksi saya.

“Ya, baiklah. Kenalkan juga, saya pun Ageng tanpa sakmadyaning apa-apa. Saya yang kebetulan tinggal di rumah ini. Lha, sampeyan ini sesungguhnya siapa ?”

“Ueh … eh … he … he … Saya ini dongkol jagabaya Desa Wonojati, Pracimantoro … “

Uwahh, jadi beliau ini mantan pangkopkamtib mini lokal, to. Dan mengingat bahwa desanya itu masuk laladan Praci, pastilah dia masih mambu-mambu, bau-bau, keluarga Mr. Rigen.

“Dulu, semua hutan, bukit, berikut semua isinya itu di bawah lindungan saya. Dan waktu zaman gegeran Londo dulu, semua tentara dan para priyayi kota yang mengungsi di desa kami juga saya yang melindungi mereka semua. Ueh … eh … he … he … “

Lagi ringkik kuda dan lagi diikuti oleh katup mulut yang semi otomatis. Saya pikir orang tua ini unik juga. Dalam dua tiga kalimat dia sudah dapat memberikan sedikit otobiografinya. Tanpa diminta lagi. Tapi, apa betul dia itu masih sanak keluarga dari Mr. Rigen ? Kalau menilik desanya, ya memper kalau masih saudara direktur kitchen cabinet saya. Tetapi, kalau ditilik dari polah tingkah lakunya, kok begitu jauh dari Mr. Rigen yang, meski pangkatnya sudah top dalam jenjang birokrasi rumah tangga saya, sangat rendah hati.

Tiba-tiba Mr. Rigen datang serentak memboncengkan Beni Prakosa pulang dari sekolah. Mukanya kelihatan gugup serentak melihat saya berhadapan dengan orang tua itu. Mungkin tidak mengira saya pulang hari itu. Buru-buru dia mendekati kami berdua. Dengan malu-malu dia memperkenalkan orang tua itu, yang ternyata masih paman jauh darinya.

“Ini Pakdhe Surodimedjo, Pak Ageng. Pakdhe saya dari pihak kakak kemenakan bapak saya di Praci. Nuwun sewu, dia sudah beberapa hari menginap di sini. Besok sudah mau pulang ke Praci.”

Saya jadi kasihan melihat Mr. Rigen yang begitu gugup menjelaskan itu semua. Saya jadi heran, kok tumben betul dia gugup begitu memperkenalkan saudaranya. Biasanya, saudara-saudaranya datang dan pergi, dia tenang-tenang saja melapor. Eh, kali ini kok tampak agak panik.

Yo wis, gak apa-apa. Tapi, namanya kok agak berbeda dengan yang dia sebutkan sendiri, Gen. Namanya tadi agak lebih panjang itu, Gen.”

“Lho, siapa lagi nama sampeyan, Pakdhe ?

“Suro Sakmadyaning Wono. Ueh … eh … he … he … “

Lha, rak tenan ! Sampeyan kan sudah saya pesan wanti-wanti jangan clometan sama Pak Ageng. Ini sampeyan rak sudah bikin saya kewirangan, malu, sama Pak Ageng, Pakdhe !

Wong nama saja kok bisa bikin malu to, Le … Le … !

“Betul Pakdhe-mu itu, Gen. Buat saya sama baik dan sama kocaknya, apakah Suro itu di meja atau Suro itu di tengah hutan. Sudahlah, Pak Suro, yang enak saja tinggal di sini.”

Tetapi, pada malam harinya, waktu saya sedang membaca di kamar kerja, Mr. Rigen datang dengan berjingkat masuk kamar kerja saya.

“Pak, nuwun sewu mengganggu. Soalnya saya masih belum enak saja kalo saya belum mohon maaf kepada Bapak tentang Pakdhe saya. Juga saya ingin cerita riwayat dia yang sesungguhnya.”

Yo wis. Tidak jadi apa, Gen. Tapi, cerita dia itu bagaimana ?”

“Begini, Pak Ageng. Dia itu, seperti Bapak sudah lihat sendiri, kurang waras.”

Dan Mr. Rigen pun meletakkan jari telunjuknya miring di bathuk-nya. Saya lalu menggeser tempat dudukku agar dapat mendengar cerita Mr. Rigen tentang pakdhe-nya yang misterius itu.

Pak Surodimedjo atau Pak Suro Sakmadyaning Wono atau Pak Suro siapa lagi itu, dahulu tidak begitu. Dahulu dia adalah seorang jagabaya desa yang sangat penuh dedikasi dengan pekerjaannya. Tugas menjaga keamanan desa dan sekitarnya dia kerjakan dengan baik. Entah sudah berapa maling, rampok dan kecu kena diringkusnya. Selain itu Pak Suro juga seorang petani yang boleh dibilang kaya. Sawahnya luas, rumahnya joglo, kebunnya juga tidak sedikit penghasilannya. Pendek kata, Pak Suro itu boleh dibilang juga seorang yang populer di desanya.

Sebagai jagabaya efektif, mrantasi. Sebagai manusia pun dia juga sangat sosial. Banyak sekali bantuan yang sudah dia berikan kepada desa. Masjid dan langgar-langgar di desa dan sekitarnya, dialah yang paling banyak menyumbang. Dan pribadi-pribadi di desanya, oh … tidak terhitung lagi yang berhutang budi kepadanya.

Kemudian datanglah clash kedua. Orang-orang kota tiba-tiba datang menyerbu masuk ke desa-desa untuk menyelamatkan diri. Para pegawai sipil republik, para anggota berbagai kesatuan militer dan semi militer, bergantian datang dan pergi ke Desa Wonojati. Rumah-rumah di desa dikerahkan untuk menampung mereka dan sudah tentu juga untuk mengurus makan mereka. Dengan penuh semangat dan dedikasi, penduduk desa bekerja sekuat tenaga menampung dan mengusahakan agar para priyagung sipil dan militer kota pada kerasan dan aman tinggal di desa. Dan Pak Suro sebagai jagabaya diperintahkan oleh pak lurah agar mengatur keamanan dan ketenteraman para pendatang dari kota itu. Tugas itu diterima dan dilaksanakan dengan gembira. Rumah joglonya disediakan untuk menampung satu peleton prajurit. Belum lagi satu, dua keluarga sipil yang mengungsi di desa itu juga ditampungnya. Milik pribadinya disumbangkan untuk mengongkosi dapur umum.

Sampai pada satu malam, datang musibah yang di kemudian hari mengubah sama sekali hidup Pak Suro. Sumini, anak tunggal Pak Suro, dihamili oleh salah seorang pendatang itu. Bukan main kaget dan tergoncang keluarga Pak Suro mendengar itu. Pak dan Bu Suro yang agaknya tidak pernah menduga dan bersiap untuk menyambut kedatangan bala seperti itu, jadi terguncang benar mental mereka. Bagaimana bisa ?! Orang yang sudah diterima dengan segala keikhlasan dan diurus baik-baik bisa begitu tega berbuat seperti itu.

Tetapi, waktu Sumini mengakui terus terang bahwa dia juga mencintai bintara muda itu dan keluarga Pak Suro dijamin oleh teman-temannya bahwa segera setelah mereka memenangkan kemerdekaan semua akan beres, keluarga Pak Suro pun jadi lega. Sumini akan dijemput ke kota dan satu kehidupan baru yang juga penuh kebahagiaan dan keindahan akan menunggu mereka di kota. Peleton itu pun berangkat meninggalkan desa untuk diganti oleh peleton yang lain. Dan bintara muda, yang mengaku bernama Mas Lesmana Mandrakumara dan tinggal di Yogya, sekali lagi berjanji untuk kembali menjemputnya kelak.

Bagai Jenderal Douglas MacArthur yang mengatakan ‘I Shall Return’, Mas Lesmana pun berangkat meninggalkan desa. Sampai berbulan, bertahun bahkan sampai jauh sesudah kemerdekaan itu dimenangkan. Sumini jadi gila menunggu, anaknya meninggal waktu dilahirkan, Bu Suro pun tidak lama kemudian ikut juga mati negenes. Pak Suro berupaya ke sana-sini untuk mengobati Sumini. Entah sudah berapa dukun dan para waskita dimintai tolong, tidak berhasil. Dan Sumini makin menjadi gilanya. Bahkan jadi berbahaya bagi warga desa karena mulai berteriak-teriak dan sering mengamuk. Pak Suro juga mencoba mencari Mas Lesmana Mandrakumara ke berbagai kota, tidak berhasil. Akhirnya Pak Suro memasung Sumini dalam sebuah gubuk di dalam hutan.

“Jadi, Pak, kalo Pakdhe Suro kadang-kadang ke kota itu untuk mencari Mas Lesmana Mandrakumara itu.”

“Juga kali ini ?”

“Juga kali ini. Cuma saya apusi kalo Mas Lesmana Mandrakumara saya dengar sekarang dinas di luar negeri. Harapan saya Pakdhe akan berhenti mencari Lesmana dan mau mengurus Sumini yang dipasung.”

Saya jadi tercenung. Suro Sakmadyaning Wono. Alangkah rapuh dan mengejutkan kadang-kadang jalan hidup seseorang. Alangkah kadang-kadang terasa tidak asil perang kemerdekaan memperlakukan orang. Dan beberapa malam sebelum itu di kompleks Cipinang, Jakarta, saya baru berceramah tentang makna revolusi dan kemerdekaan kita kepada anak-anak muda di kompleks itu …

Esok paginya, Pak Suro Sakmadyaning Wono pamit. Pagi itu dia masih memakai baju Jawa komplet yang dikenakan kemarin. Cuma kali ini dia memakai lencana merah-putih di dada sebelah kiri.

Nyuwun pamit, Pak. Matur suwun sampun dipun paringi penginepan lan tedha. Ueh .. eh … he … he … “

Saya melihat dia berjalan digandeng Mr. Rigen semangkin menjauh.

Yogyakarta, 23 Agustus 1988

*) gambar dari zonaunik.com

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

akar rumput

tulisan ala kadarnya refleksi kehidupan dari akar rumput

My not–so–Secret Journal

thoughts, feelings, desires, passion, and some rambling!

PAUS ANTARTIKA

Kita akan bertahan!™

The BroNeo

cerita biasa dari orang biasa

Munajat Sang Pendamba

Tuhanku, gemintang langit-Mu telah tenggelam, Semua mata makhluk-Mu telah tertidur, tapi pintu-Mu terbuka lebar buat pemohon kasih-Mu. Aku datang menghadap-Mu memohon ampunan-Mu, Kasihi daku . . . .

ZeDeen

Rumahku Katanya Sih Surgaku : tentang perjalanan hidup lelaki kecil dan bahteranya

jendelakusam

"Pendar mata Sebuah catatan tolol, tentang perjalanan kehidupan dan segala macam penghidupannya"

lagilagi81.wordpress.com/

KEBAHAGIAAN HIDUP BUKAN SEKEDAR DARI AGAMA

Counting Down

The journey of my life...

Catatan Dahlan Iskan

dahlaniskan.wordpress.com

%d blogger menyukai ini: