Malam Suro Mr. Rigen

kebo buletidak seperti Suro tahun lalu, tahun ini Mr. Rigen tidak pergi ke Solo untuk menyaksikan arak-arakan pusaka keraton dan kebo bule. Biasanya dia minta izin khusus untuk bermalam Suro di Solo bersama teman-temannya dari desa seasal, yaitu Desa Pracimantoro. Saya pernah bertanya-tanya mengapa mereka menganggap begitu penting peristiwa Suro itu untuk dirayakan di Solo.

Lha, Praci itu kan masuk bawahan Solo to, Pak.”

“Lantas ?”

Ha, inggih. Sebagai kawulo Solo, kita ya setahun sekali harus menyaksikan Suro di Solo to, Pak.”

“Lho, kok aneh. Kamu kan sudah beberapa tahun jadi kawulo Ngayogyakarta, Mister. Kok masih ke Solo saja ?!”

Lha, memang benar saya cari makannya di Yukjo, Pak. Tapi, saya kan masih tetap kawulo Solo to, Pak.”

Elhoo, apa kamu tidak tahu kalau Solo itu bukan kerajaan lagi ?”

Ha, inggih ngertos, Pak. Tapi, pusoko-pusoko keraton itu kan masih tetap ada di Solo to, Pak. Itu artinya roh keraton masih ada di situ terus.”

Lha, kamu itu ngawulo keraton, raja atau pusaka to, Gen ?”

Ha, inggih semua, Pak.”

Wee, lha. Repot ini. Lha terus kalau sama republik, bagaimana kamu itu ?”

Ha, inggih jelas to, Pak. Saya, Bapak dan semuanya rakyat Republik Indonesia.”

“Ohh, begitu to, Gen. Jadi kalau sama keraton, raja dan pusaka itu kamu kawulo. Kalau sama republik kamu itu rakyat.”

Ha, inggih. Kalo sama roh itu kawulo. Kalo sama badan wadah rakyat.”

Saya mengangguk-angguk bercampur ngungun. Alangkah dahsyat pandangan dunianya. Untung belum ada program penataran P4 untuk para pembantu rumah. Kalau sudah ada, apa tidak akan babak belur para penatar itu menghadapi filsuf, sosiolog, antropolog dan sejarahwan seperti Mr. Rigen itu ? Saya berharap program penataran semacam itu tidak akan ada. Tiwas bikin runyam dan menghabiskan uang negara saja. Lagi pula pandangan dan pikiran rakyat yang sering aneh itu bukankah lebih baik dan lucu untuk dibiarkan saja ?

Begitulah. Setiap tahun Mr. Rigen beserta teman-teman sekampungnya, saya biarkan pergi menziarahi pusoko-pusoko keraton beserta kebo bule-nya.

Sampai pada satu hari menjelang Suro, Mr. Rigen tidak kelihatan tanda-tandanya untuk memulai perjalanan pilgrimage alias perjalanan ziarah ke Solo. Yang saya lihat justru tanda-tanda lain. Beberapa hari menjelang Suro itu saya lihat Mr. Rigen anak-beranak justru sangat getol bersih-bersih di halaman tanpa ada instruksi dari bos. Dan bersih-bersihnya itu benar-benar total, habis-habisan. Gerumbul dan perdu-perdu tanpa kecuali dipotong setengah gundul. Bahkan dua pohon Sri Mahkota, pemberian teman saya yang setengah dukun setengah penjual batu akik, yang konon dapat menolak dan menangkal segala macam peluru kendali, tanpa ampun dibabat tinggal separo oleh Mr. Rigen. Edyann, … pikir saya. Kalau nanti ada rudal betulan yang dikirim musuh-musuh saya, bagaimana pohon-pohon itu bisa berfungsi sebagai penangkal ?

“Gen, kok kamu sekeluarga ngamuk babat alas wanamarta tanpa ada instruksi dan komando dari saya ? Dan Sri Mahkota kok juga kamu potong, itu bagaimana ?”

Lha, besok kan Suro, Pak. Saya sekeluarga berniat bersih-bersih betul, Pak. Tidak cuma pepohonan dan halaman. Jangan khawatir, Pak. Juga dalam rumah nanti akan kami bersihkan juga.”

“Nanti meja, kursi dan seprei-seprei kamu potongi juga kayak Sri Mahkota. Ciloko aku !”

Ayakk, Bapak. Ya tidak to, kalo sampai begitu. Kalo Sri Mahkota meskipun tinggal lima senti dari tanah, tetap akan nolak rudal dari mana saja.”

“Kok kamu tahu ?”

Elhoo, Bapak. Dulu dukunnya kan bilang kalo kekuatan Sri Mahkota ini memancar berupa gelombang-gelombang yang tidak kelihatan. Jadi selama masih ada pohonnya ya masih akan kuat terus.”

Yo wis. Aku percaya sama kamu. Cuma kamu kok kayaknya tidak mau ke Solo tahun ini. Betul ya, kamu tidak pergi kali ini ?”

Mr. Rigen diam sejenak. Kelihatan ambil nafas sedikit. Kemudian,

“Betul, Pak. Bulan lalu pada malam Anggara Kasih, saya mimpi dikunjungi Simbah saya yang sudah tidak ada. Saya diberi nasihat supaya Suro ini tidak usah pergi ke Solo. Menurut Simbah, semua tempat itu baik dan keramat serta penuh pusoko, asal semua itu bersih. Yang belum bersih ya dibersihkan. Jadi ya … terus semua saya bersihkan, Pak.”

“Terus apa lagi pesan Simbahmu ?

“Saya harus puasa, melek semalam suntuk dan cukup mengelilingi rumah ini delapan kali. Pusoko itu ada di rumah ini, Pak. Menurut Simbah, ya Bapak itu pusoko-nya …”

Mak dhuer … dher … ! Seketika suara petir sambar-menyambar terdengar di dalam telinga saya dan masuk mlorot ke dalam rongga dada. Aku jadi pusoko, sekarang. Ciloko tenan ! Pasti sebentar lagi pusoko ini harus siap menaikkan gaji …

Begitulah. Pada sore hari itu menjelang Suro, saya lihat Mr. Rigen anak-beranak sudah tampak bersih rapi. Rumah saya pun kelihatan istimewa bersihnya. Di halaman rumput itu tidak kelihatan sehelai daun nangka pun tergeletak. Hijau, rata, sehijau dan serata lapangan sepakbola Wembley. Juga lantai dan meja kursi di dalam rumah. Semua kelihatan mengkilap. Adapun Mr. Rigen memakai hem putih lengan panjang. Belum pernah saya melihat baju dan celananya sebersih itu. Juga Mrs. Nansiyem kelihatan bersih, bersinar dan kelihatan tambah cantik dalam baju hamilnya itu. Sedang Beni Prakosa tampil dalam seragam ABRI lengkap. Ketiga orang itu datang menghadap saya, tiba-tiba nglesot di depan kursi goyang kerajaan saya.

Welehh … ada apa ini ? Idhul Fitri kan masih lama lagi datang ?”

Nuwun, Pak Ageng. Malam ini malam Suro. Malam suci. Malam bersih-bersih jiwa. Kami sekeluarga menghadap nyuwun sawab dan restu dari Pak Ageng.”

Waktu berbicara seperti itu, Mr. Rigen dengan hormat dan khusuk menundukkan kepalanya, begitu juga dengan istrinya. Adapun Beni Prakosa meski duduk rapi bersila, asyik mengelap-ngelap rentetan bintang jasa imitasi yang menempel di dadanya. Rupanya itu penjabaran wangsit, pesan dari Simbahnya dalam mimpi malam Anggara Kasih itu. Wadhuh … saya harus tampil sebagai pusoko atau kebo bule ini. Tetapi, melihat keseriusan Mr. Rigen, perut Mrs. Nansiyem yang semangkin besar dan Beni Prakosa yang pringas-pringis sembari pethitha-pethiti dengan bintang jasa dan gerilyanya, tiba-tiba hati saya jadi trenyuh. Beginikah rakyatku harus menyembahku sebagai pusoko ? Ganti pusoko keraton dan kebo bule yang di Solo itu ? Edyann tenan !

Wis … wis … Mr. Rigen, kau keluarkan jip dari garasi. Kita pergi semua malam ini !”

Saya melihat mata Beni Prakosa yang bundar itu berputar mengeluarkan sinar hijau.

“Ke restoran, Pak Ageng ? Ke restoran ?”

Ya. Malam itu kami serumah makan malam di Kentucky Fried Chicken. Saya lupa mengecek apakah Mr. Rigen jadi puasa dan keliling rumah delapan kali sesudah itu …

Yogyakarta, 16 Agustus 1988

*) gambar dari anisrahmantika.blogspot.com

Iklan

One comment

  1. […] oleh pandangan Mr. Rigen, yang kadang-kadang mencuat dengan briliannya. Baru sebulan yang lalu, dia banting setir merayakan malam satu Suro dengan tidak ikut-ikutan mengiring kebo bule Kiai Slamet…. Dunia Pracimantoro, dunia Solo sudah lama dia lebur bersatu dengan dunia Yogya. Ternyata dunia itu […]

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

akar rumput

tulisan ala kadarnya refleksi kehidupan dari akar rumput

My not–so–Secret Journal

thoughts, feelings, desires, passion, and some rambling!

PAUS ANTARTIKA

Kita akan bertahan!™

The BroNeo

cerita biasa dari orang biasa

Munajat Sang Pendamba

Tuhanku, gemintang langit-Mu telah tenggelam, Semua mata makhluk-Mu telah tertidur, tapi pintu-Mu terbuka lebar buat pemohon kasih-Mu. Aku datang menghadap-Mu memohon ampunan-Mu, Kasihi daku . . . .

ZeDeen

Rumahku Katanya Sih Surgaku : tentang perjalanan hidup lelaki kecil dan bahteranya

jendelakusam

"Pendar mata Sebuah catatan tolol, tentang perjalanan kehidupan dan segala macam penghidupannya"

lagilagi81.wordpress.com/

KEBAHAGIAAN HIDUP BUKAN SEKEDAR DARI AGAMA

Counting Down

The journey of my life...

Catatan Dahlan Iskan

dahlaniskan.wordpress.com

%d blogger menyukai ini: