Sebuah Restoran Yang Hilang

nasigorengberingharjosaya mempunyai sebuah organisasi tanpa bentuk. Heeiittt, … tunggu dulu ! Ini bukan organisasi yang diilhami oleh PKI malam yang suka bergerak tanpa bentuk itu. Ini organisasi yang sudah beyond kiri atau kanan, moderat atau radikal, revolusioner atau evolusioner. Bergeraknya memang kebanyakan malam. Tetapi jelas tidak subversif atau underground. Ini organisasi yang bergerak “above ground” pada waktu malam. Dan seperti organisasi tanpa bentuk lainnya, organisasi kami juga tidak memiliki anggaran dasar, undang-undang dasar atau filsafat. Ini organisasi yang waton bergerak.

Ah, ya … saya lupa atau belum bercerita organisasi ini bergerak di bidang apa atau untuk apa. Organisasi ini didirikan oleh beberapa orang yang terdorong oleh kemauan suci untuk makan enak, mempromosikan makanan enak dan mengawasi makanan enak. Beberapa restoran dan warung makan di kota ini sudah kami masukkan dalam daftar hitam kami. Begitu juga dengan menu-menu dan specialities chef mereka. Tanpa mereka ketahui dan sadari, kekuatan dan kelemahan mereka sudah kita kuasai. Tempat mereka bersih atau jorok, pelayan mereka profesional atau amatiran, mutu bahan mereka segar atau sampah, lantas masakan mereka merupakan manifestasi dari seorang chef yang kreatif atau tidak. Kalau ternyata kreativitas sang chef masih di bawah mutu Mr. Rigen, dengan tegas kami akan coret mereka dari peredaran. Out .. ! Tentu saja itu tidak berarti bahwa mereka akan bangkrut sesudah kami out-kan itu. Kadang-kadang cita rasa massa memang tidak canggih, kan ? Terlalu pinggiran jalan alias pedestrian taste, kata orang Amerika. Maka cita rasa yang pilihan alias discimanating seperti organisasi kami memang jadi terbatas pada restoran-restoran yang sangat, sangat canggih saja. Lho, ini tidak usah harus restoran yang besar, ber-AC, pelayan-pelayannya memakai baju seragam. Bukan ! Restoran yang sederhana pun bisa canggih sekali, ternyata.

Begitulah, pada satu malam, kami sekelompok anggota pleno organisasi mau mengadakan checking rutin pada salah satu restoran favorit kami. Restoran itu sesungguhnya bukan restoran. Hanya sebuah gerobak besar yang menempel pada sebuah toko di bilangan Ketandan. Hanya ada dua pasang bangku panjang dengan dua meja panjang. Larisnya bukan main. Pemiliknya, seorang Tionghoa, adalah seorang chef yang sangat bangga dengan profesinya. Demikian juga dengan reputasinya sebagai spesialis nasi goreng dan cap cay goreng. Bila dia melihat banyak langganannya kehabisan tempat dan berdiri di depan gerobaknya, dia justru tampak berseri-seri. Dan bila kita datang agak terlambat dan bertanya dari dalam jip kanvas kami yang legendaris,

“Masih banyak, Koh ?”

Dengan bangga pula dia akan menjawab,

“Masih sepuluh !”

Padahal belum tentu yang menunggu sepuluh jumlahnya.

Itu mengingatkan saya waktu masih mahasiswa di Yogya. Di depan loket bioskop Indra dulu ada musuh para mahasiswa. Jadi musuh, karena di tangannya selalu siap sebuah tongkat bambu yang sudah pecah, yang akan dipukulkannya tanpa ampun kepada siapa saja yang bergumul di depan loket. Dan bila karcis itu sudah habis dan loket ditutup, dengan berseri pula dia akan berteriak,

“Kar – ciss ha – biss !”

Maka restoran itu kami namakan, “Restoran Masih Sepuluh”.

Dan nama sang chef ?

Wah, buat organisasi yang profesional tanpa bentuk ini nama bukan satu hal yang penting. Buat organisasi tanpa bentuk yang ada cuma kode saja. Maka chef-nya itu pun kami beri nama, “Engkoh Masih Sepuluh”. Hatta, malam itu kami bersiap keluar menuju Restoran Masih Sepuluh. Beni Prakosa, setan cilik yang mulai pinter membaui gelagat orang, langsung bertanya,

“Mau ke restoran ya, Pak Ageng ?”

“Iya, dong.”

Wadhuh, ke restoran ! Wong di rumah masih banyak makanan kok makan di restoran !”

“Lho, kalau Pak Ageng pergi ke restoran itu juga bekerja, Le.”

“Wah … kalo begitu oleh-olehnya ya, Pak Ageng.”

Sambil memberikan satu tendangan kecil di pantatnya, saya pun men-cengklak jip bersama anggota gerombolan yang lain.

Tetapi, waktu kami sampai di bilangan Ketandan, elhoo … kok sunyi senyap tan ana kang katon. Padahal hari itu bukan hari prei-nya, yang biasanya tiap hari Kamis. Wah, ke mana, ya ? Dan waktu minggu-minggu berikutnya kami belum juga melihat gerobak itu diparkir di bilangan Ketandan, kami mulai panik. Panik karena resteron itu sedang kami amati untuk kami masukkan dalam lis resteron terbaik di dunia yang diterbitkan di Paris. Wah, ke mana kami harus mencari tahu nama dan alamatnya ?

Ternyata organisasi kami bukan satu-satunya organisasi tanpa bentuk di bidang makan-memakan yang kehilangan dia. Mereka juga panik seperti kami. Dan cilaka-nya mereka juga tidak mengetahui namanya. Ternyata nama buat mereka juga tidak penting. What’s in a name, tanya salah satu anggota organisasi itu ke-shakespear-shakespear-an. Ternyata name itu penting banget. Kalau begini bagaimana ? Kalau sudah kangen nasi gorengnya yang kadang-kadang garamnya tidak di-uleg halus dan dibiarkan satu, dua, tiga, empat, lima berbongkah-bongkah itu bagaimana ? Wah … kangen betul ! Sanget anggen kulo kapang, Engkoh !

Satu bulan, dua bulan telah lampau. Pada bulan ketiga organisasi kami iseng-iseng lewat sana. Sesungguhnya kami sudah siap mencoret namanya dari list dan kami nyatakan sebagai restoran dan chef yang hilang. Eh … dari jauh kok kelihatan lampu gerobaknya bersinar-sinar dengan megahnya. Jip kami tancap gas untuk mendekatinya. Dan ternyata betul ! Restoran Masih Sepuluh beserta chef Masih Sepuluh sudah kembali. Wajahnya masih berseri-seri. Kebanggaan dan keangkuhannya juga masih hadir.

“Masih berapa, Koh ?”

Dengan berseri sembari menggoreng cap cay, dia menjawab,

“Masih sepuluh, Pak !”

Yo wis, dak tunggu.”

Dia pun berkisah bahwa selama ini dia sakit keras dan diopname di Bethesda.

“Wah … dak kira saya ini sudah mau mati lho, Pak. Dan ngenes-nya kok ya para pelanggan nggak ada yang tilik, to ?”

Saya mau menjelaskan bahwa kami sudah setengah mati mencari tahu ke sana ke mari. Bahwa kami sudah sangat kangen sama nasi gorengnya. Dan bahwa kami belum juga tahu nama dia sesungguhnya. Tapi saya takut dia tersinggung. Lagi pula nasi goreng yang legendaris itu (yang pasti pakai terasi) sudah mengepul-ngepul di depan kami. Kami semua makan dengan berdiam diri, tetapi anehnya, cepat, cepat sekali. Apakah kerinduan telah memacu tempo makan kami ?

“Ini Koh, uangnya. Sudah ya jangan sakit lagi. Kita ini yang kelabakan cari nasi goreng dan cap cay yang yahuudd.”

“Terima kasih, Pak.”

Mukanya berseri, tangannya terus menggoreng dan menjawab pertanyaan seorang pelanggan yang baru datang.

“Masih sepuluh !”

Di jip, waktu sudah mulai jalan, kami baru ingat bahwa kami lupa menanyakan nama dia sesungguhnya. Wah … kalau dia sakit lagi ……

Yogyakarta, 9 Agustus 1988

*) gambar dari kagakribet.com

Iklan

One comment

  1. […] saya kangen restoran “masih sepuluh”. Tiba-tiba saya bingung mengapa saya sekaligus kangen, bangga dan anyel dengan semua yang masih […]

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

akar rumput

tulisan ala kadarnya refleksi kehidupan dari akar rumput

My not–so–Secret Journal

thoughts, feelings, desires, passion, and some rambling!

PAUS ANTARTIKA

Kita akan bertahan!™

The BroNeo

cerita biasa dari orang biasa

Munajat Sang Pendamba

Tuhanku, gemintang langit-Mu telah tenggelam, Semua mata makhluk-Mu telah tertidur, tapi pintu-Mu terbuka lebar buat pemohon kasih-Mu. Aku datang menghadap-Mu memohon ampunan-Mu, Kasihi daku . . . .

ZeDeen

Rumahku Katanya Sih Surgaku : tentang perjalanan hidup lelaki kecil dan bahteranya

jendelakusam

"Pendar mata Sebuah catatan tolol, tentang perjalanan kehidupan dan segala macam penghidupannya"

lagilagi81.wordpress.com/

KEBAHAGIAAN HIDUP BUKAN SEKEDAR DARI AGAMA

Counting Down

The journey of my life...

Catatan Dahlan Iskan

dahlaniskan.wordpress.com

%d blogger menyukai ini: