Saudara Flu

flumanpada suatu siang bolong minggu lalu, tiba-tiba angin musim bediding yang dingin masuk lewat jendela kamar kerja saya dan langsung menggerayangi seluruh tubuh saya. Syiirr. Langsung seluruh tubuh menggigil kedinginan. Waktu rasa dingin itu masih ngendon untuk lima hingga sepuluh menit di tubuh saya, saya perintahkan Pak Bei Bahurekso, pesuruh-pembuat minum, tukang putar mesin stensil, juru taman, satpam sekaligus direktur pada waktu kantor kosong, lari ke rumah untuk mengambil jas Mao biru saya.

Jas itu memang jas bikinan RRC gaya Mao yang saya beli beberapa tahun yang lalu di toko serba ada di Singapura. Tentu saja jas itu sekarang sudah kedaluarsa modenya. Jangankan para mahasiswa dan kaum intelektual yang sok kiri di negeri kapitalis yang pernah tergila-gila mengenakan jas Mao biru itu, di RRC pun tinggal Deng Xiao Ping yang mau memakainya. Itu pun mungkin cuma buat basa-basi. Untuk sedikit membuat arwah Mao, yang terus-terusan dia kritik itu, sedikit tenteram. Selebihnya para generasi muda RRC konon sudah bersikap cuek terhadap jas potongan begitu. Sama dengan generasi muda belahan dunia yang lain, mereka memakai celana jeans, t-shirt dan rambut di-sliwir. Touche buat simbah Marx ! Berantakan sosialisme sampeyan digasak kathok bluwek dan kaos oblong dan come back-nya kucir China. Tetapi jas itu masih berfungsi bagi saya. Terutama pada saat-saat gawat darurat seperti siang itu. Sangat efektif buat menutup tubuh yang menggigil. Makanya jarang saya cuci. Semangkin jarang dicuci ternyata semangkin ampuh daya hangatnya.

Tetapi waktu Pak Bei Bahurekso datang dan mengrukup tubuh saya dengan jas Mao legendaris itu, saya malah gebres-gebres, bersin-bersin, hampir sepanjang hari. Tahulah saya bahwa saudara flu telah datang kembali.

Di rumah, Mr. Rigen segera saya perintahkan membuat wedang jeruk pecel yang panas dan persediaan Refagan yang cukup.

“Lho, saudara flu sudah rawuh lagi to, Pak ?”

Iya, iya. Gek cepetan sana siapkan semuanya !”

“Lho, tadi pagi Bapak masih seger, menyanyi lagu-lagu Londo. Masih sempat menjewer kupingnya thole Beni. Kok sekarang ….. “

Saya bersin mengikuti gaya almarhum ayah saya. Huuuuurrsyaaahhhh …. Huuuurrsyaaaahhh … !

“Wah, blaik tenan iki. Pak Ageng ketamuan saudara flu tenan iki …. “

Lha, sudah tahu orang mulai wohang-wahing nggak karuan begini kok masih saja berdiri di situ, lho ! Ayo cepetan, siapkan semuanya !”

Flu memang akrab dengan saya. Begitu akrab sehingga kedatangannya yang agak teratur itu menjadi sasmita, isyarat, bagi kami serumah. Bagi Mr. Rigen itu pertanda bahwa untuk hari-hari flu begitu dia mesti hati-hati dalam menebak buntut dan menyusun huruf-huruf KSOB. Dia yang begitu fanatik dengan aura, sinar, kekuasaan majikannya percaya benar bahwa flu akan sangat berpengaruh terhadap gelombang-gelombang yang membangun sinar wibawa saya. Dan pengaruh itu baginya terang pengaruh yang tidak menguntungkan. Sebab gangguan sinar tersebut akan ikut mengganggu susunan nomor dan huruf-huruf yang, menurut Mr. Rigen, akan terbawa lewat getaran gelombang saya menuju otak dia. Maka flu harus dilawan, dicegah agar jangan lama-lama ngendon di tubuh saya.

Alahhh ! Tanpa flu kamu juga jarang dapat pasang buntut sama huruf.”

“Lho, kalo Bapak sehat buktinya saya sering dapat itu, Pak !”

Gombal ! Itu othak-athik mistik kampungan.”

Bagi Mrs. Nansiyem, flu itu membawa sasmita lain lagi. Bagi dia kedatangan saudara flu berarti bakmi godhog panas dan sambel botol sepanjang sarapan pagi, makan siang dan makan malam saya. Hari-hari begitu meskipun menyederhanakan tugasnya, pastilah sangat membosankannya. Daya kreativitasnya di dapur terasa sangat dihina oleh saudara flu itu. Masak cuma mi tiap hari ! Itu pun bukan mi telur tetapi supermi biasa. Tetapi mau bagaimana lagi kalau cita rasa boss kadang-kadang, kadang kala, memang bukan cita rasa kalangan intelektual.

Dan buat Beni Prakosa, kedatangan flu di tubuh Pak Ageng sungguh membawa sasmita petaka yang luar biasa besar. Apalagi kalau flu itu datangnya pada malam hari Kamis atau malam Minggu. Oh … ciloko tenan, Pak Ageng. Hari Kamis dan hari Minggu adalah hari-hari Pak Joyoboyo patroli di kawasan kompleks perumahan kami. Biasanya pada malam Kamis dan malam Minggu sang bagus Beni Prakosa sudah mengingatkan saya akan hari besar itu.

Sesuk Pak Joyoboyo lewat lho, Pak Ageng !”

Saya pun mengerti sendiri bahwa itu berarti sate usus minimum dua tusuk buat dia. Tetapi dengan datangnya saudara flu, tak mungkin itu terjadi ! Seperti telah saya ceritakan, bahwa flu telah merendahkan kualitas makan-memakan saya, menjadi dunia bakmi menjadi mi godhog saja. Penggeng eyem hasil eksperimen budaya masak-memasak yang turun temurun di Klaten itu tidak mempan melawan flu. Tubuh saya langsung merinding melihat santan yang mlekoh bergelimang membungkus dada mentok dan paha. Melihat kelebatannya saja perut terasa dikebur, tenggorokan terasa sesak mau muntah. Dus, no penggeng eyem, yes ? Maka bagi Beni, flu itu benar-benar satu kutukan dewata.

Bagi saya, pada usia yang mulai membayang laruik sanjo ini, aneh sekali flu semangkin jelas peranan spiritualnya ! Kedatangannya semangkin membawa pesan jelas untuk lebih mawas diri. Dulu hal itu tidak pernah saya rasakan

Flu, seperti Anda semua tahu, adalah virus yang tidak tedhas tapak paluning jamu sisaning tablet. Obat yang paling mujarab adalah daya tahan tubuh kita masing-masing. Semangkin kuat daya tahan tubuh kita, semangkin cepat flu itu hengkang dari tubuh kita. Semangkin lemah daya tahan tubuh kita, semangkin lama kita tergeletak di tempat tidur merenungi langit-langit kamar.

Ada pun wedang jeruk pecel, Refagan, bakmi godhog dan sambel botol hanyalah sebatas penguat sugesti bahwa tubuh kita digarap oleh semacam obat yang bisa melawan flu.

Begitulah. Dari pengalaman saya tergeletak di tempat tidur kamar saya yang sunyi sepi karena ditinggal sendiri, muka menghadap ke langit-langit kamar dan mata yang hanya menangkap sepetak eternit yang bagaikan lukisan Mondrin yang belum jadi, saya mulai menangkap sasmita itu. Dimulai dengan merenung apa yang sudah dan belum saya kerjakan hari-hari dan yang akan datang. Lama-kelamaan, saya jadi mawas keterbatasan saya dan menemukan sangat sedikitnya kebisaan dan kebolehan saya.

Saya janjikan satu mobil Mercedes Benz 220 pada usia saya yang ke-40 kepada anak istri saya. Saya janjikan sangu naik-dewasa kepada mBak dan Gendut sebanyak US $ 1.000,00, yang sesungguhnya hanya seper-seribu yang diberikan Yoseph Kennedy kepada anak-anaknya. Saya janjikan baju seragam ABRI kepada Beni Prakosa menjelang ulang tahunnya yang ke-4. Eh, …. tidak satu pun dari jani-janji tersebut mampu saya penuhi. Jangankan di usia yang ke-40, usia sudah merayap mendekati yang ke-60 ini pun janji-janji itu masih berstatus gombal melulu. Nahhh, jadi tahu kan keterbatasan kita ? Itulah fungsi spiritual flu ! Ia berfungsi meng-edit, menyunting janji-janji palsu kita. Dari janji Mercedes Benz 220 pada usia yang ke-40 menjadi Jeep kanvas plat merah. Dari janji US $ 1.000,00 waktu naik-dewasa menjadi slametan murah -tidak begitu- meriah di antara sanak sedulur. Dari janji baju seragam ABRI menjadi dua biji kaos oblong bergambar Superman.

Virus-virus flu seluruh Indonesia, bersatulah ! Berilah sasmita kepada semua pemimpin kita, ABRI atau sipil, yang belum mantan atau yang sudah purnawirawan, yang masih sendiri atau yang sudah warakawuri, yang sudah berjanji ini dan itu. Hinggaplah sewaktu-waktu pada tubuh-tubuh mereka. Biarkan mereka sewaktu tergeletak di tempat tidur, mereka menatap langit-langit, mengingat-ingat janji-janji mereka. Saudara flu, biarkan mereka.

Yogyakarta, 19 Juli 1988

*) gambar dari sangpriabiru.wordpress.com

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

akar rumput

tulisan ala kadarnya refleksi kehidupan dari akar rumput

My not–so–Secret Journal

thoughts, feelings, desires, passion, and some rambling!

PAUS ANTARTIKA

Kita akan bertahan!™

The BroNeo

cerita biasa dari orang biasa

Munajat Sang Pendamba

Tuhanku, gemintang langit-Mu telah tenggelam, Semua mata makhluk-Mu telah tertidur, tapi pintu-Mu terbuka lebar buat pemohon kasih-Mu. Aku datang menghadap-Mu memohon ampunan-Mu, Kasihi daku . . . .

ZeDeen

Rumahku Katanya Sih Surgaku : tentang perjalanan hidup lelaki kecil dan bahteranya

jendelakusam

"Pendar mata Sebuah catatan tolol, tentang perjalanan kehidupan dan segala macam penghidupannya"

lagilagi81.wordpress.com/

KEBAHAGIAAN HIDUP BUKAN SEKEDAR DARI AGAMA

Counting Down

The journey of my life...

Catatan Dahlan Iskan

dahlaniskan.wordpress.com

%d blogger menyukai ini: