Suatu Malam Waktu KSOB Mampir

ksobsuatu malam sehabis mengangkat piring-piring makan malam, Mr. Rigen sembari menyodorkan kopi panas terdengar nggresah, menggerendeng.

“Ada apa to, Gen ? Dari tadi saya perhatikan kok gelisah betul ?”

“Tidak ada apa-apa kok, Pak. Biasa. Nggresah-nya wong cilik pada tanggal tua.”

“Elhoo, wong cilik itu tahu tanggal tua, to ?”

Ha, inggih. Wong cilik ya menungso itu, Pak. Apa cuma kelas priyagung seperti Pak Ageng saja yang mesti punya tanggal tuwo ?

“Lho, wong cilik kan tidak makan gaji bulanan seperti saya ?”

“Lha, wong cilik seperti saya ini, dos pundi, wi ?

Saya tertawa ngakak. Mendengar Mr. Rigen alumnus Pracimantoro asli sekarang sudah pinter memakai kata “wi” seperti priyantun Yogya betul.

“Kok kamu sudah pinter pake ‘wi’ to, Gen ? Apa kamu dapat pacar wong Yukjo atau bagaimana ?”

“Lho, kata guru saya di SD Praci dulu,’masuk kandang kambing mengembik’. Ini saya sudah lama masuk kandang Ngayogyakarta nggih ikut-ikutan mengembik ‘wi’, begitu.”

“Jadi, maksudmu wong cilik sedih tanggal tuwo itu kamu, to ? Lha, ini kan belum tanggal tuwo to, Mister. Malah lebih dekat tanggal muda. Dan Malioboro masih rame ombyaking menungso gitu kok, Gen.”

“Waa … Bapak. Kok seperti tidak tahu saja. Malioboro itu selalu rame menungso seperti saya ini.”

“Wah, kalau begitu kamu tidak pernah kehabisan uang, dong !”

“Lho … Bapak ini mesti pura-pura tidak tahu, lho ! Orang rame ke Malioboro itu kan cuma cari hiburan gratis to, Pak. Hiburan lihat toko. Itu kan hiburan sehat tur gratiiisss !”

“Itu sehat to, Gen ?”

Ha, inggih. Nambah pengetahuan umum, jee ! Lihat barang-barang baru yang elok-elok, bagus-bagus dan muahall-muahall. Buat wong cilik itu sudah cukup, Pak. Naa … kalau suatu waktu nanti kesampluk rejeki nomplok, tinggal beli. Bagitu Pak, cara kami orang kecil mengatur harapan ekonomi.”

“Ha … ha … ha … Gen, Gen. Apa kamu kira yang kamu sebut priyayi itu tidak begitu ? Sami mawon, Gen ! Terus sekarang kembali pada panggerundelanmu. Kamu itu mau apa ? Mau kenaikan gaji atau bagaimana ?”

“Waduh. Saya ini seneng sama panjenengan itu kalo bertanya begini, lho. Tetapi saya tahu kalo ini cuma basa-basi kan, Pak ? Wong saya baca di koran gaji pegawai negeri tidak akan naik, kok. Mosok saya akan tegel nyuwun Bapak.”

Sekali lagi saya kagum akan teknik wong cilik mengelola harapan dan sekaligus menjaga hubungan baik dengan kita yang mengeksploatirnya. Harapan itu selalu dipancing-pancing kepada majikan, tetapi sekaligus juga menanam kredit budi baik. Kalau harapan itu belum bisa terlaksana, setidaknya budi baik itu bisa jadi nilai “kumulatif” untuk rezeki yang akan datang.

Weeepinter kamu Gen membaca basa-basi saya. Tapi jangan khawatir. Satu saat nanti pasti akan saya naikkan gajimu.”

“Naahh, rak tenan ! Basa-basi betul, to ! Tapi tidak jadi apa. Saya masih punya cadangan harapan lain kok, Pak.”

“Lho, apa ?”

Lha, ya ini !”

Sambil bicara begitu, dikibas-kibasnya kertas-kertas KSOB*) ke depan muka saya.

“Lho, kamu masih terus pasang KSOB to, Mister ? Wong tempo hari waktu kamu pasang sama saya, kamu tidak narik begitu, lho ?!”

Lha, kan waktu itu saya pasang K, I, A, G dan N. Harapannya dengan pinjam asma panjenengan Ki Ageng bisa narik. Malah jeblok. Lha, waktu pasang B, E, N, P dan R nyecep rejekinya anak malah menang itu, Pak. Jadi ya masih tetap menaruh harapan buat KSOB, Pak !”

Saya tercenung. Begitu serius Mr. Rigen menghayati KSOB. Sampai-sampai nama saya pun diharapkan dapat memberi sawab kepada loterenya. Kok ya ndilalah kersaning Allah waktu masang nama anaknya menang, lho.

“Tapi, Gen. Ini kan harapan palsu.”

“Palsu pripun ?! Harapan saestu ! Betul-betul harapan ! Wong buktinya saya kadang-kadang juga dapat begitu lho, Pak !”

“Itu namanya judi, Mister. Bahaya ! Bisa ludes uangmu !”

“Judi ? Lha, semua ya judi namanya hidup ini, Pak Ageng. Nyuwun sewu, apa hidup Pak Ageng bukan judi juga ?”

Trembelane ! Touche ! Kena lagi aku.

“Tapi saya kan tidak ikutan masang KSOB. Dulu itu sama kan cuma mau icip-icip, Gen. Dan lagi sak umpama saya ikut terus KSOB ya tidak bakalan bangkrut. Tapi kalau kamu ?!”

“Pak Ageng, priyagung seperti panjenengan jangan judi KSOB. Itu jatah, porsi, kami wong cilik. Hiburan kami ya judi seperti KSOB ini, nebak buntut apa itu. Hiburan panjenengan ya nebak atau judi yang lebih gede-gede dan aneh-aneh.”

“Misalnya ?”

“Ya bikin dolanan seperti KSOB itu ! Tapi bikin, nanam modal di situ. Tidak ikut rame-rame dolanan seperti kami wong cilik. Jadi sampun cocok to, Pak Ageng. Kerja sama antara wong cilik dan panjenengan sadaya !

Edan ! Apa sudah begitu sinis para wong cilik seperti Mr. Rigen ? Saya jadi deleg-deleg membayangkan ramainya penyalur KSOB setiap Minggu malam itu, bahkan di tempat-tempat yang paling terpencil, dikerumuni para, apa yang disebut, wong cilik itu.

Lha, kamu sudah ambil sikap begitu kok masih nggresah, Mister ?”

“Saya tadi khawatir kalo pemerintah mau tega nyabut hiburan kami wong cilik. Tapi saya pupus. Mosok pemerintah tego mencabut. Kalo toh KSOB bakal dicabut, pasti pemerintah tidak akan kurang akal bikin hiburan lain buat wong cilik. Rak inggih to, Pak ?”

Saya cuma dapat mengangguk-anggukkan kepala.

Yogyakarta, 12 Juli 1988

*) KSOB : Kupon Sumbangan Olahraga Berhadiah

**) gambar dari jamesdoel.blogspot.com

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

akar rumput

tulisan ala kadarnya refleksi kehidupan dari akar rumput

My not–so–Secret Journal

thoughts, feelings, desires, passion, and some rambling!

PAUS ANTARTIKA

Kita akan bertahan!™

The BroNeo

cerita biasa dari orang biasa

Munajat Sang Pendamba

Tuhanku, gemintang langit-Mu telah tenggelam, Semua mata makhluk-Mu telah tertidur, tapi pintu-Mu terbuka lebar buat pemohon kasih-Mu. Aku datang menghadap-Mu memohon ampunan-Mu, Kasihi daku . . . .

ZeDeen

Rumahku Katanya Sih Surgaku : tentang perjalanan hidup lelaki kecil dan bahteranya

jendelakusam

"Pendar mata Sebuah catatan tolol, tentang perjalanan kehidupan dan segala macam penghidupannya"

lagilagi81.wordpress.com/

KEBAHAGIAAN HIDUP BUKAN SEKEDAR DARI AGAMA

Counting Down

The journey of my life...

Catatan Dahlan Iskan

dahlaniskan.wordpress.com

%d blogger menyukai ini: