Musim Bal – Balan

timnas uni soviet di piala eropa 1988pagi-pagi sesudah menonton kesebelasan Uni Sovyet menghancurkan kesebelasan Italia, Mr. Rigen sembari menata meja untuk sarapan pagi mengomel,

Mbok PSSI itu kalo bal-balan seperti londo-londo Eropah itu, lho. Bal-balan kok kakinya pengkor semua. Lawan kesebelasan Pracimantoro saja belum tentu menang …”

Saya yang sudah mandi dan siap untuk mulai dengan ritual makan pagi, rada kaget mendengar pengantar makan itu. Saya lihat Mr. Rigen masih agak bintit matanya karena nonton pertandingan Uni Sovyet lawan Italia, dan pagi-pagi sekali sudah harus bangun menyapu lantai dan menyiapkan sarapan.

“Kamu itu pagi-pagi kok mendahului sarapan saya dengan penggerundelan bal-balan. Ada apa to, Gen ? Kamu kalah taruhan ?”

Ha, inggih mboten, Pak. Saya itu cuma ngungun, terheran-heran, lihat PSSI dilalap Korea empat nol. Sekali jebol kok terus mreteli tanpa bisa melawan apa-apa. Dan lawan Korea, kita itu kok kalah terus to, Pak.”

“Kalah awu barangkali, Mister.”

Awu napa ? Wong tidak ada hubungan darah sama mereka kok ada hubungan awu. Lha, nek badminton kalah sama RRC, nah itu ada hubungan awu.”

Elhoo, Gen. Kamu itu bicara apa ? Kok terus mrembet-mrembet soal badminton sama RRC ?”

Ha, inggih to ! Cina peranakan itu kalo ketemu Cina daratan Tiongkok sana rak jadi kalah awu to, Pak ? Kalah tua ! Lha kalah badmintonnya, wong takut kuwalat .. !”

Huss … huss … Kamu itu kalau ngomong mbok jangan begitu. Semua pemain badminton kita itu warga negara Indonesia. Ya kayak kamu, kayak saya. Sama haknya, sama kewajibannya. Lha, siapa tahu to, Gen, kamu dan saya itu dulu-dulunya ada juga kecipratan darah campuran Cina, Arab atau India. Terus hubungan awu-nya bagaimana ? Rak kacau to ?”

Mr. Rigen tertawa nyekikik.

“Pak Ageng, Pak Ageng. Yang mulai ngendika awu tadi itu siapa ? Rak panjenengan to, Pak ?”

“Ya sudah, saya ngaku salah sudah mulai. Ayo, sambil ngatur makan pagiku, kamu teruskan penggrundelanmu tentang bal-balan.”

Dengan kegesitan seorang pelayan restoran profesional, Mr. Rigen cak-cek mengatur blocking piring, gelas, wijikan, sendok-garpu, lauk-pauk serta nasi yang sesungguhnya sisa-sisa makan malam sebelumnya. Meski sisa-sisa begitu, karena dihangati lagi dan diatur dalam ngelmu tata meja yang canggih, sarapan pagi di rumah saya selalu tampil indah menggiurkan, tidak kalah dengan yang disajikan oleh majalah Femina atau House and Garden.

“Begini lho, Pak. Saya itu ngungun kok bal-balan dan badminton kita itu kayaknya tidak maju-maju. Wong tiap tarikan porkas*) saya ya ikut nyumbang, lho. Gek uang sak pethuthuk banyaknya itu apa ya masih kurang saja untuk menaikkan mutu mereka, Pak ?”

Saya terdiam. Ini pertanyaan klise yang sehari-hari sudah kita dengar tentang kegagalan pembinaan olah raga kita dan tentang hubungannya dengan porkas. Apalagi kalau itu ditambah dengan jumlah penduduk kita yang lebih seratus juta orang dibandingkan dengan negera Eropa yang hanya dua puluh hingga tiga puluh juta orang itu. Juga kalau ditambah lagi dengan keluhan dari para mantan pemain sepakbola atau olah-ragawan tempo doeloe. Yang membandingkan bagaimana mereka dulu lebih idealis, tidak materialis dan lebih gembira dalam melakukan olahraga ketimbang para atlet sekarang. Wah, saya tidak dapat memberikan penjelasan yang memuaskan.

Masing-masing pertanyaan dan keluhan itu ada benarnya, akan tetapi juga tidak dapat begitu dijadikan alat penjelasan yang mutlak memuaskan. Dana yang digrujuk banyak-banyak memang tidak menjamin mutu bal-balan otomatis naik. Akan tetapi, di lain pihak, kesebelasan-kesebelasan terbaik Eropa itu memang selamanya didukung oleh grujukan dana yang banyak. Dan jumlah penduduk yang banyak dari satu negara memang juga tidak menjamin kualitas tinggi dari negera tersebut. Tetapi jumlah penduduk yang banyak, di lain pihak, akan selalu lebih siap memberi cadangan sumber daya manusia. Yang jelas dana yang banyak memang bisa menjadi modal yang menguntungkan. Kalau modal yang menguntungkan itu tidak bisa menggerakkan, mengembangkan dan menaikkan kualitas ketrampilan dan kecakapan manusia, lha mestinya manusianya yang mesti menggerakkan.

Lha, inggih niku lho, Pak. Saya mau bilang manungsa-nya yang menggerakkan itu yang bento kok tidak tegel. Wong saya ini cuma tamatan SD Pracimantoro. Tapi dibilang pinter wong nyatanya ya mutunya merosot terus.”

Saya tersenyum mendengar itu.

“Dan niku lho, Pak. Pemain-pemain kita itu kalo bertanding kok kelihatannya ngoyo, tegang, kenceng tapi tidak seneng dan tidak gembira hatinya. Mungkin itu juga yang menyebabkan mereka kalah terus lho, Pak.”

“Apa pemain londo-londo itu tidak ngoyo dan kenceng begitu, Gen ?”

“Mereka itu srius … “

“Apa ?”

Srius ! Srius, … srius !

“Ohh … serius. Se-ri-us.”

Lha, inggih niku, srius ! Mereka itu srius tapi mboten keberatan beban begitu kayak pemain kita. Padahal kalo mereka mau main rilek tapi srius mungkin menang lho, Pak. Apa mungkin karena awu lagi ya, Pak ?”

Lha, awu lagi. Tidak. Mungkin kamu betul, Mister. Serius tapi rilek, rilek tapi serius … “

Tiba-tiba saya jadi ingat waktu SD dulu di Solo, saya ikut dua perkumpulan bal-balan. Di sekolah ikut perkumpulan O(nze) V(oetbal) C(lub) dan di kampung ikut B(romantakan) V(oetbal) C(lub). Saya menjadi pemain cadangan abadi. Tugas saya di samping jadi pemain cadangan, juga jadi tukang kepruk es prongkol yang akan dibagikan kepada para pemain waktu jeda. Es batu itu saya bungkus dalam serbet besar, lantas saya kepruk-kan ke batu besar sampai es itu berantakan. Lha, mengepruk es batu itu, seingat saya, saya laksanakan dengan serius dan rilek, dengan rilek dan serius. Pruk … pruk … pruk … Dan lagu kebangsaan BVC itu, wah … canggih banget. Sola, fa, mi, sol, si, fa, sol, si, re, do … BVC, Bro-man-ta-kan Voet-bal Club, kumpulannya anak-anak muda …

“Pak, nanti sore saya nyuwun pamit.”

“Lho, mau ke mana kamu ?”

Lha, saya di-bon kesebelasan Pogung mau pertandingan sama Blunyah Cilik … “

“Ya, boleh. Tapi mainnya yang rilek dan serius lho, ya ! Jangan kayak PSSI … “

Wooo … tanggung main kulo mirip Rut Gullit. Setidaknya ya dekat-dekatnya Marko pan Basten.”

Saya sudah siap untuk pergi ke kantor untuk berdikusi soal bal-balan lagi ….

Yogyakarta, 28 Juni 1988

*) Porkas : lotere nasional dng dalih untuk sumbangan olahraga

**) gambar dari republika.co.id

***) Video dari Youtube.com. Pengunggah SiR OMARTV.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

akar rumput

tulisan ala kadarnya refleksi kehidupan dari akar rumput

My not–so–Secret Journal

thoughts, feelings, desires, passion, and some rambling!

PAUS ANTARTIKA

Kita akan bertahan!™

The BroNeo

cerita biasa dari orang biasa

Munajat Sang Pendamba

Tuhanku, gemintang langit-Mu telah tenggelam, Semua mata makhluk-Mu telah tertidur, tapi pintu-Mu terbuka lebar buat pemohon kasih-Mu. Aku datang menghadap-Mu memohon ampunan-Mu, Kasihi daku . . . .

ZeDeen

Rumahku Katanya Sih Surgaku : tentang perjalanan hidup lelaki kecil dan bahteranya

jendelakusam

"Pendar mata Sebuah catatan tolol, tentang perjalanan kehidupan dan segala macam penghidupannya"

lagilagi81.wordpress.com/

KEBAHAGIAAN HIDUP BUKAN SEKEDAR DARI AGAMA

Counting Down

The journey of my life...

Catatan Dahlan Iskan

dahlaniskan.wordpress.com

%d blogger menyukai ini: