Sukses Nggendhong Lali

gepenghari Jum’at kemarin sepulang saya dari kantor, saya memergoki Mr. Rigen anak-beranak pada duduk nglesot di sekitar meja bundar ruang duduk. Mr. Rigen duduk bersila sembari memegang koran, Mrs. Nansiyem nglendhot bahu suaminya ikut memperhatikan apa yang dibaca suaminya. Beni Prakosa juga ikut-ikutan nglendhot di bahu bapaknya. Madu di bahu kanannya, racun di bahu kirinya. Pemandangan rukun reriungan begitu selalu mengharukan hati saya.

Cuma ada sesuatu yang aneh pada pemandangan itu. Mrs. Nansiyem yang pemalu binti clingus itu kok sari-sarinya ikut-ikutan duduk pada siang hari begitu di ruang dalam. Biasanya hanya pada waktu tivi menyiarkan ketoprak saja dia berani ikut muncul di dalam. Tapi pada siang itu, eh, kok elok tenan, dengan enaknya dia duduk menglendhot sang suami di ruang tengah.

“Wah, kok bolehnya rukun siang panas begini pada dhesek-dhesekan duduknya. Tidak sumuk, apa ?”

Mak njenggirat, mereka kaget, sama sekali tidak mendengar kedatangan saya.

“Lho, Bapak rawuh kok kami tidak dengar, ya ..”

“Pak Ageng bisa menghilang. Pak Ageng bisa … “

Hesysy … menghilang apa. Wong pintu depan dibuka lebar-lebar begitu. Tentu saya bisa masuk begini saja. Coba kalau penodong di siang hari yang datang. Mau apa kalian ? Paling kaliang ndredeg ewel-ewelan, to ?”

Mereka bertiga tersenyum tersipu. Mrs. Nansiyem bersiap berdiri mau pergi ke belakang.

“Eh, mau ke mana kamu ? Kamu duduk saja di sini. Saya mau tahu kalian itu kok bolehnya kelihatan asyik. Apa sih yang seru di koran ?”

Mr. Rigen membeber koran-koran yang saya langgani pada hari itu.

Lha, ini lo, Pak. Gepeng itu, lho. Jiaann, bocah kok mesake tenan.”

Lha, kan kamu sudah tahu kalau Gepeng meninggal sejak tadi pagi ?”

Ha, inggih. Tapi berita yang lengkap tenan rak baru siang ini. Saya bacakan cerita meninggalnya itu, kami jann trenyuh betul. Lha, ibune thole itu malah mbrebes mili, air matanya dleweran membasahi bumi.”

Dhapurmu, Gen ! Iyo to, Nan ? Nangis tenan kowe ?

Mrs. Nansiyem tersenyum kemalu-maluan.

Walah, Pak. Wong karangan bapaknya thole saja, lho. Kok panjenengan percaya.”

Lha, wong mesakake betul to, Bune ?

“Yang bikin kalian itu sedih apanya, coba ? Kan biasa, cepat atau lambat orang mesti meninggal ? Apa Gepeng itu masih sanak kalian ?”

“Ya bukan. Ning dia itu sudah kayak sedulur lo, Pak !”

Ayakk, kamu itu.”

Lha, iya to, Pak. Kalau Gepeng tampil di tipi itu kan bikin kita seneng. Suasana jadi seger. Semua pegel linu di badan jadi hilang semua. Lha, jadi Gepeng itu kan dekat sekali sama kita, Pak Ageng.”

“Kalian kehilangan betul, kalau begitu ?”

Lha, inggih to, Pak. Rasanya sekarang tipi jadi sepi tanpa Gepeng.”

Yakk … jangan berlebih-lebihan. Kan masih ada pelawak lain di tipi. Itu ya lucu-lucu, semua, Gen !”

“Ya, betul, Pak. Ini soal sreg sama cocok kok, Pak.”

Sreg-nya itu di mana ? Kalau pelawak itu lucu, ya lucu, Gen !”

Eee … mboten ! Gepeng itu buat kami istimewa lucunya. Dia itu bikin kami yang bodo-bodo ini jadi senang. Jadi tidak minder gitu lho, Pak.”

“Minder itu apa ?”

“Lho, kan Bapak sendiri yang suka ngendika begitu. Jadi orang itu jangan suka minder, Gen ! Lha, minder itu rasa kurang harga diri.”

Saya jadi terbayang wajah Gepeng kalau melawak di teve. Wajahnya memang blo’on, suka ngeyel dan soknya bukan main. Tetapi gabungan unsur celaka begitu jadi ramuan yang membuatnya pelawak yang disayang. Barangkali tiga unsur itu abstraksi dari kebanyakan sifat kita. Kita jadi diingatkan bagaimana kadang-kadang juga bisa konyol. Tetapi bagi Mr. Rigen, dan mungkin bagi teman-temannya yang lain, dagelan Gepeng itu justru memberi harapan-harapan. Mungkin bukan karena blo’on, ngeyel atau soknya. Tetapi suksesnya sebagai pelawak. Tiba-tiba Mr. Rigen nyeletuk.

“Cuma sayang, nggih, Pak. Hidupnya kok awut-awutan begitu.”

Awut-awutan bagaimana ?”

Lha, inggih. Suka minum minuman keras, begadang, lupa anak istri, lupa Srimulat. Lha, jadi jebol semua.”

“Tapi kan akhir-akhir ini dia sudah rukun lagi sama semuanya. Itu harus kita hargai, Gen. Itu membutuhkan keberanian lho, Gen. Mau mengakui kekeliruan kepada orang-orang yang pernah disakiti.”

Mr. Rigen masih thenger-thenger. Mrs. Nansiyem solider thenger-thenger. Beni Prakosa melihat itu semua juga ikut-ikutan, thenger-thenger-nya anak kecil yang mulai lapar dan ngantuk. Tiba-tiba saja dia berteriak,

“Buuukkk … makan ! Sudah siang begini kok Beni belum dikasih makan ?!”

Huss … huss … huss … Ayo, Le, ke belakang.”

Mrs. Nansiyem menggring anaknya ke belakang. Mr. Rigen masih belum beranjak dari tempat duduknya. Masih thenger-thenger.

“Wah, Peng, kamu itu melik nggendhong lali. Terlalu ngongso cenderung lupa.”

Saya ikut-ikutan nambah,

“Bukan, Gen. Gepeng itu sukses nggendhong lali …… “

Yogyakarta, 21 Juni 1988

*) gambar dari jakarta.go.id

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

akar rumput

tulisan ala kadarnya refleksi kehidupan dari akar rumput

My not–so–Secret Journal

thoughts, feelings, desires, passion, and some rambling!

PAUS ANTARTIKA

Kita akan bertahan!™

The BroNeo

cerita biasa dari orang biasa

Munajat Sang Pendamba

Tuhanku, gemintang langit-Mu telah tenggelam, Semua mata makhluk-Mu telah tertidur, tapi pintu-Mu terbuka lebar buat pemohon kasih-Mu. Aku datang menghadap-Mu memohon ampunan-Mu, Kasihi daku . . . .

ZeDeen

Rumahku Katanya Sih Surgaku : tentang perjalanan hidup lelaki kecil dan bahteranya

jendelakusam

"Pendar mata Sebuah catatan tolol, tentang perjalanan kehidupan dan segala macam penghidupannya"

lagilagi81.wordpress.com/

KEBAHAGIAAN HIDUP BUKAN SEKEDAR DARI AGAMA

Counting Down

The journey of my life...

Catatan Dahlan Iskan

dahlaniskan.wordpress.com

%d blogger menyukai ini: