Dinasti Belek

belekenwaktu akhirnya Mr. Rigen datang kembali membawa Mrs. Nansiyem dan Beni Prakosa dari cuti lebaran mereka, saya langsung melihat oleh-oleh yang mereka bawa. Oleh-oleh itu tertempel di mata mereka. Bersinar merah, berkelip-kelip seperti batu akik merah delima. Astaga, mereka membawa penyakit belek. Dengan memelas mereka berdiri di depan saya, mata mereka ketap-ketip, mengucapkan selamat lebaran. Beni Prakosa mencium tangan saya sambil mulutnya umak-umik.

“Minal aidin wal paidin, sugeng liyadin, Pak Ageng.”

Iyo, iyo, Le. Sama-sama. Kok kamu belum bisa bilang er. Janjinya pulang dari desa sudah bisa bilang er, to ?”

“Bisa, Pak Ageng. Bisa.  El …

“Coba kamu bilang : dari Jatisrono pulang lewat Pracimantoro …”

“Dali Jatisono pulang lewat Pacimantolo.”

Weh … belum lulus kowe !”

“Saya juga ngaturaken sugeng riyadin, Pak Ageng.”

Iyo, iyo, nDuk. Bagaimana ini, pulang-pulang kok membawa batu akik merah delima. Bisa keberatan rejeki rumah ini.”

Mr. Rigen yang membawa batu akik paling merah, meringis mencoba melaporkan situasinya.

“Begini lho, Pak. Belek itu asalnya bukan dari desa, tapi justru dari Jakarta.”

Ayakk, kamu itu ! Terus yang dituduh kok Jakarta, lho.”

“Lho, saestu kok, Pak. Yang membawa belek itu ke desa itu, ya konco-konco yang pada kerja di Jakarta. Jadi ibukota yang membagi-bagikan belek ke daerah-daerah. Wong lebaran-lebaran kok membagi belek lho, pemerintah pusat itu.”

“Eh, tunggu dulu, Gen. Kamu bilang konco-konco yang membawa belek. Itu sudah bau-bau insinuasi, Mister.”

“Lho, situasi atau bukan kalo ditlusur-tlusur kan enggih begitu to, Pak ?”

“Ya, enggak, Gen. Wong belek itu sejak saya masih kecil sudah ada kok. Dan yang biasanya dapat itu, ya anak-anak kampung di belakang rumah kami. Kalau kami yang tinggal di gedongan, ya tidak pernah dapat penyakit belek. Dus, Gen, belek itu penyakitnya wong cilik. Kalau menurut kamu datangnya dari Jakarta, ya kaum batur di Jakarta itu yang membawa ke Jatisrono. Jangan salahkan pemerintah pusat segala. Pemerintah pusat, je ! Pemerintah pusat itu isinya apik thok ! Maunya cuma memayu hayuning kawula. Tenan kuwi, Gen. Camkan itu !”

Mr. Rigen tersenyum melengos. Mulutnya mencong sedikit ke atas. Itu gaya khas dia kalau meragukan pernyataan saya. Keraguan rakyat kecil kepada pemimpinnya.

“Kalau memang begitu penjelasan Pak Ageng, masa saya mau menyangkal. Inggih, pun. Yang membawa dan jadi sumbernya belek itu, tidak lain dan tidak bukan, ya wong cilik. Kalau begitu, apa perlu kami mengungsi dulu ke pamili di Kentungan. Jangan-jangan nanti Bapak ketularan.”

Saya tertawa cekakakan.

“Tak mungkin, Gen. Tak mungkin. Belek itu penyakit kalian, bukan penyakitku. Jadi, kalian tidak usah mengungsi. Tetap saja di sini. Saya tidak akan ketularan, Gen.”

Waktu mereka sudah masuk ke belakang untuk istirahat di kamar mereka, saya duduk di kursi kerajaan, jadi ingat masa kecil saya saat di Solo dulu. Solo, kota ajaib di samping Yogya, memang banyak membawa kenangan bagi saya. Rumah kami langsung berhimpitan dengan kampung yang agak besar. Maka, meskipun orangtua saya adalah priyayi yang mendapat Hollandsche Opvoeding alias pendidikan walanda yang cukup kenthel, terpaksa tidak dapat menghalangi anak-anaknya untuk bermain dengan anak-anak kampung itu. Meskipun ibu terus-terusan mengomel, “niet te veel met kampong jongens spelen,” alias “jangan kebanyakan dolan sama anak-anak kampung itu” kami terus saja ketewelan alias kebanyakan main sama mereka.

Maka saya ingat Jimin yang kakinya busiken, berbusik-busik seperti sisik. Kemudian Rahanto yang kudisan sekujur tubuhnya. Kami bermain kelereng, gobak sodor (yang katanya berasal dari permainan serdadu Raffles, go back through the door), umbul gambar, cari ikan wader cethul dan kadang-kadang juga ngluruk mencuri tebu di kebon tebu. Pada waktu musim penyakit belek, gatal-gatal, mencret-mencret, semua teman di kampung ikut menikmatinya. Kecuali kami anak gedongan. Saya tidak pernah mudheng, mengapa kami anak gedongan dikucilkan oleh menteri kesehatan di swarga atas sana dari previlese alias hak istimewa tersebut.

Ibu saya menjelaskan bahwa mungkin sudah begitu kersaning Gusti Allah. Menteri kesehatan swarga hanya sekadar melaksanakan saja. Saya manggut-manggut menerima itu sebagai garis takdir yang tidak dapat diganggu lagi. Kami anak-anak gedongan ditakdirkan punya penyakit yang canggih-canggih saja. Penyakit seperti influenza, kinkhoest alias batuk yang berbunyi kuing-kuing dan sebagainya itu.

Beberapa hari berlalu sesudah itu, Mr. Rigen dan family mulai berangsur sembuh. Warna batu akik merah delima berangsur hilang dari mata mereka. Sebagai pekerja yang penuh dedikasi dan tidak mau cengeng, selama mereka beleken pun masih bekerja seperti biasa. Tubuh mereka tidak pernah mereka manjakan untuk dibiarkan terkapar di kamar mereka.

Sementara itu di fakultas, saya mulai melihat tanda-tanda beleken ada di mana-mana. Saya terkejut. Kok sekarang belek sudah berani dan bisa menerobos benteng kelas menengah ? Bukankah para dosen dan mahasiswa adalah lapisan masyarakat pilihan yang mestinya dibebaskan oleh menteri kesehatan swarga untuk terhindar dari penyakit wong cilik itu ? Ah, mungkin kebijaksanaan dari swarga di atas sana sekarang sudah berubah pula.

Akhirnya datanglah pagi hari itu. Waktu bangun tidur, elhoo … kok saya merasa kedua belah mata saya gatal-gatal, sepet dan ngganjel. Cilaka ! Saya pun bergegas ke depan cermin. Cilaka ! Sudut-sudut mata saya mulai kelihatan merah. Saya lari ke Dokter Rusman.

Pripun, Dok ? Kok akhirnya saya kena belek juga ?”

Lha, memangnya tidak bisa apa ?”

Lha, sak umur-umur saya sampai setengah manula begini, baru sekarang lho, saya kena belek.”

Dokter Rusman tersenyum sambil menyorot sudut-sudut mata saya.

“Wah … sampeyan memang kena belek, Pak. Ada yang beleken di rumah ?”

“Ya, orang-orang di belakang itu yang membawa dari desa. Tapi kan saya tidak usah dan tidak bisa ketularan dengan penyakit mereka !”

Dokter Rusman tertawa terbahak.

“Itu menurut hukum kekebalan dari mana, kok sampeyan bisa dibebaskan dari kemungkinan kena belek ?

“Ya, hukum kelas, Dok. Kelas menengah ke atas bebas dari penyakit wong cilik …”

Ayakk … sampeyan itu … “

Saya mendapat salep untuk dioser-oser di mata dan kapsul antibiotik. Trembelane tenan ! Saya, Ph.D dari Cornell, priyagung Depdikbud, mantan ini dan itu, kena sakit belek !? Wee … lha, kewirangan tenan aku ! Tiba-tiba saya ingat tujuan revolusi kita. Membentuk masyarakat egaliter ! Kalau sampai sekarang revolusi itu belum sepenuhnya berhasil, eh, setidaknya di bidang penyakit belek, egaliter itu sudah tercapai. Ah … masih ada harapan revolusi kita berhasil …

Yogyakarta, 31 Mei 1988

*) gambar dari mivt4h.wordpress.com

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

akar rumput

tulisan ala kadarnya refleksi kehidupan dari akar rumput

My not–so–Secret Journal

thoughts, feelings, desires, passion, and some rambling!

PAUS ANTARTIKA

Kita akan bertahan!™

The BroNeo

cerita biasa dari orang biasa

Munajat Sang Pendamba

Tuhanku, gemintang langit-Mu telah tenggelam, Semua mata makhluk-Mu telah tertidur, tapi pintu-Mu terbuka lebar buat pemohon kasih-Mu. Aku datang menghadap-Mu memohon ampunan-Mu, Kasihi daku . . . .

ZeDeen

Rumahku Katanya Sih Surgaku : tentang perjalanan hidup lelaki kecil dan bahteranya

jendelakusam

"Pendar mata Sebuah catatan tolol, tentang perjalanan kehidupan dan segala macam penghidupannya"

lagilagi81.wordpress.com/

KEBAHAGIAAN HIDUP BUKAN SEKEDAR DARI AGAMA

Counting Down

The journey of my life...

Catatan Dahlan Iskan

dahlaniskan.wordpress.com

%d blogger menyukai ini: