Pasca Lebaran

???????????????????????????????PADA HARI kedua lebaran, pagi-pagi, kami serumah dikejutkan oleh suara “penggeng eyem … penggeng eyem .. “ dari Pak Joyoboyo. Terkejut, karena tidak masuk dalam perhitungan dan harapan kami bahwa pada hari kedua lebaran, yang mestinya masih hari reriungan dengan keluarga, Pak Joyoboyo sudah harus berjalan ngukur jalan berkilo-kilo untuk menyunggi tenong di kepalanya. Tentu saja suara cempreng itu kami terima dengan sangat senang. Bagi si mBak, yang datang dengan suami dan anaknya, si Gendut dan ibu anak-anak, kedatangan Pak Joyoboyo itu adalah kesempatan bertatap muka dengan tokoh legendaris tersebut. Bagi Mr. Rigen, yang kali ini tanpa Mrs. Nansiyem dan Beni Prakosa tetapi ditemani oleh Madam yang spesial diimpor dari Gunung Kidul, kedatangan Pak Joyoboyo juga suatu blessing karena mereka tidak perlu terlalu panik lagi kekurangan lauk.

Pak Joyoboyo untuk sekejap kelihatan grogi mendapat sambutan yang demikian hebat. Bayangkan. Lain dari biasanya yang hanya disambut oleh ketiga orang termasuk si bedhes Beni Prakosa. Kali ini tidak kurang delapan orang mengepung dan ngerubung dia. Tetapi, bukan Pak Joyoboyo kalau tidak dapat lepas dari tekanan tatapan dari delapan orang saja. Dengan roso percaya diri yang meyakinkan, tenong itu dengan sebat diturunkan. Lantas dibuka dan sebat pula potongan-potongan ayan itu digelar, disusun menurut gelaran perang Bratayuda, yaitu gelaran Supit Urang ala divisi Hastina versus gelaran Garuda Nglayang ala divisi Pandawa. Bagi saya dan Mr. Rigen, pertunjukan gelaran seperti itu sudah merupakan show of force biasa. Tetapi bagi brayat saya dari Jakarta, pertunjukan itu adalah pertunjukan yang mengagumkan. Si Gendut yang ahli komentator spontan memberikan kesannya yang pertama.

“Wah, keren, lho. Kayak parade senja tujuh belasan di Istana Negara, Jakarta.”

Saya yang selalu peka buat komentar-komentar yang menganggu stabilitas nasional segera membentak dia.

Hush ! Yang benar. Masak ABRI kau samakan dengan penggeng eyem. Ayo, cabut komentarmu. Nanti dak cabut izin makanmu, lho !”

“Eh, sorry … sorry. Kayak parade satpam di Cipinang Indah. Ning pating plethot itu, Pak, kalau parade satpam Cipin.”

Yo ben. Pokoke jangan ABRI. Pokoke ABRI itu, … sudahlah … “

Niki, Den, Pak. Sedaya sudah siap diganyang.”

Maka dengan sebat sekian banyak tangan pada sraweyan nuding-nuding gelaran Perang Bratayuda tersebut. Dalam sekejap susunan barisan, baik yang Kurawa maupun Pandawa, jadi bubrah, berantakan berpindah tangan. Si mBak dan suaminya, Mr. Kebumen, dan anak mereka si Kenyung serta si Gendut segera pindah ke meja makan, langsung sarapan dengan panggang ayam. Meskipun rambut mereka masih dhawul-dhawul dan pojok-pojok mata mereka masih gemerlapan oleh setep-setep mereka. Saya dan istri karena manula-manula, ya harus kalem-kalem duduk nyawang mukti-nya anak-anak yang pada reriungan di seputar meja makan dan nyawang Mr. Rigen, Madam berdialog dengan Pak Joyoboyo.

Ha, inggih, Mas Joyo. Wong hari kedua lebaran kok ya sudah keluar jualan niku, pripun ?

Ha, sampeyan sendiri bagaimana, Bu Madam ? Lebaran-lebaran kok malah di kutha. Dan Mas Rigen juga kok ya nggak nyusul anak istri pulang ke ndeso ?

Wee, lha. Kalau saya tidak sepiksial turun dari Tepus ke sini sida berantakan kerjaan Rigen di sini. Tuwek-tuwek begini saya sepiksial diimport Pak Ageng, lho.”

Lha, kula ya begitu, Mas Joyo. Kalau saya nyusul mbokne thole dan thole Beni, lha kasihan tamu-tamu dari Jakarta mesti isah-isah piring dan cuci pakaian.”

Lha, kan sama saja to dengan saya. Pokoke kalau buat wong cilik seperti kita-kita ini mesti lain etungan-nya !”

Pripun etungane, Mas Joyo ?”

Ha, inggih to, Bu Madam. Nek kula reriungan penuh di rumah, kerjaan keteter, uang tidak masuk dan para bos-bos pada kekurangan lawuh. Mangka anak-anak di rumah habis liburan ini butuh banyak pengeluaran sekolah. Lha, sampeyan berdua kan sama saja, to ? Etungan-nya kalau reriungan di sini kan ya lumayan persen-persen dari keluarga bos sampeyan niku ?

Kedua orang itu tertawa nyekikik merasa kena oleh analisa Pak Joyoboyo yang selalu waskito itu.

“Sudah, to. Reriungan keluarga itu buat kita-kita ini sak cukupnya saja. Wong butuh kita lebih banyak dari bos-bos niku. Kalau beliau-beliau itu memang harus reriungan. Wong hidupnya mencar-mencar dengan keluarganya. Lha, yang tidak mencar-mencar dengan keluarganya, ya tidak harus reriungan. Jeneh bagaimana kalau tidak. Terus yang jualan ketupat, bubuk dhele, ayam, krecek, pete, tholo dan sak uba-rampene makanan lebaran itu terus siapa ? Itu kewajiban para priyayi untuk menyediakan makanan lebaran yang mbruwah begitu. Mangkin mbruwah semangkin baik buat mereka dan yang penting juga buat kita-kita ini wong cilik. Gitu lho, Mas Rigen, Bu Madam, ekonomi-ne lebaran. Makanya sudah betul kita hadir di sini waktu lebaran itu. mPun ah, kula badhe neruskan lampah.”

Dan Pak Joyoboyo pun, sesudah mengantongi uangnya dengan sebat dan gembira, meneruskan perjalanannya dengan disertai suara cempreng nan legendaris, “penggeng eyem … penggeng eyem …”. Saya dan istri masih duduk berpandang-pandangan. Masih thenger-thenger, kamitenggengen mendengar penjelasan Pak Joyoboyo tentang sosiologi dan ekonomi lebaran. Kadang-kadang saya curiga jangan-jangan Pak Joyoboyo itu seorang pakar ilmu sosial tamatan luar negeri yang sedang menyaru sebagai rakyat jelata dan ingin ngece kaum kelas menengah yang feodalnya nggak ketulungan, seperti saya. Atau jangan-jangan malah teoritikus Marxis ! Habis, penjelasannya itu sering kali begitu penuh dengan analisis kelas.

“Wah, Pak Joyoboyo itu hebat tenan lho, Pak. Dia itu bisa kita katakan sebagai filsuf sosial alam, Pak.”

“Eh, betul, Bune. Ahli ilmu sosial dan sekarang filsuf sosial.”

Kami berdua kemudian terdiam. Mungkin kami sama-sama ingat hal yang sama. Kasbon kami di kantor kami masing-masing yang semangkin menumpuk buat lebaran tahun ini. Yah, kalau menurut Pak Joyoboyo, demi  menjaga fungsi reriungan lebaran kaum kelas menengah, to ?

Yogyakarta, 24 Mei 1988

*) gambar dari irafariningsih.blogspot.com

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

akar rumput

tulisan ala kadarnya refleksi kehidupan dari akar rumput

My not–so–Secret Journal

thoughts, feelings, desires, passion, and some rambling!

PAUS ANTARTIKA

Kita akan bertahan!™

The BroNeo

cerita biasa dari orang biasa

Munajat Sang Pendamba

Tuhanku, gemintang langit-Mu telah tenggelam, Semua mata makhluk-Mu telah tertidur, tapi pintu-Mu terbuka lebar buat pemohon kasih-Mu. Aku datang menghadap-Mu memohon ampunan-Mu, Kasihi daku . . . .

ZeDeen

Rumahku Katanya Sih Surgaku : tentang perjalanan hidup lelaki kecil dan bahteranya

jendelakusam

"Pendar mata Sebuah catatan tolol, tentang perjalanan kehidupan dan segala macam penghidupannya"

lagilagi81.wordpress.com/

KEBAHAGIAAN HIDUP BUKAN SEKEDAR DARI AGAMA

Counting Down

The journey of my life...

Catatan Dahlan Iskan

dahlaniskan.wordpress.com

%d blogger menyukai ini: