Wahyu Cakraningrat

wahyu cakrapak joyoboyo yang mangkir datang pada hari Minggu, Senin pagi kemarin mampir. Mungkin mau coba-coba siapa tahu saya masih mau beli juga. Tentu saya beli juga beberapa potong. Meskpun bukan hari Minggu, saya merasa berkewajiban untuk menahannya dan menyilakan dia membeber dan menggelar potongan-potongan ayamnya. Seakan-akan itu sudah merupakan ritual yang tidak boleh lowong. Lagi pula sudah berapa hari Minggu saya absen dari Bulaksumur dan lebih banyak di Cipinang. Alangkah susahnya orang lepas dari ritual !

Mr. Rigen juga sudah ngetepes menyangga piring duduk bersila di dekat tenong. Beni Prakosa dengan mulut klametan mengawasi usus-usus yang tertusuk menjadi sate pada bergelatakan di depannya. Tiba-tiba bapaknya, kurang kerjaan, menggoda anaknya.

Le, minggu depan di Jatisrono kamu tidak bakalan lihat sate usus, lho. Masih tetap mau mudik ke nJati sama ibumu ? Tidak ada satenya Pak Joyo lho, Le !

Beni mendelik matanya. Sebentar dipejamkan. Mungkin mencoba membayangkan hidup tanpa sate usus selama beberapa minggu di desa. Kemudian dengan suara yang digagah-gagahkan dia berseru,

“Biar saja tidak ada sate usus, Pak. Pokoknya saya mau melu ibuk ke ndeso !

Tenan ? Pikiren lho, Le ! Dua minggu tanpa sate usus. Belum lagi oleh-oleh lebaran dari mBak Gendut, Bu Ageng. Hayo priye, Le ?

Beni memejamkan matanya lagi. Kemudian membuka matanya lagi. Melolo.

“Pokoknya saya mau ke ndeso sama ibuk. Biar nggak ada sate usus, nggak ada oleh-oleh dari mBak Gendut sama Bu Ageng. Biar, biar !”

Kemudian sambil menyambar dua sate usus jatahnya, Beni pun lari ke belakang. Kami bertiga tertawa terkekeh-kekeh. Pak Joyo langsung melempar komentar.

“Mas Rigen, anak sampeyan itu kalau dilatih terus bisa kesinungan wahyu pada satu waktu lho, Mas Rigen !”

“Wahyu apa ?”

Elhoo, sampeyan pernah nonton Wahyu Cakraningrat tidak ?”

Ha, inggih. Ning thole Beni niku terus mau sampeyan dhapuk jadi Angkawijaya begitu apa ?”

Elho, nek dilatih prihatin semua anak bisa jadi Angkawijaya, Mas Rigen !”

Pripun ?

Saya, yang meskipun sudah kesiangan ngantor, malah enak-enakan duduk di singgasana. Sangat kepingin tahu bagaimana Begawan Joyoboyo mau medar gagasannya.

“Begini lho, Mas. Waktu itu Lesmana Mandrakumara rak sesungguhnya sudah dapat kesempatan nyedot wahyu dulu, to ?”

Inggih. Terus ?”

Ning bareng dihadap perawan ayu terus tergiur, kepencut, lupa kalau harus nglakoni empat puluh hari lagi. Lha, wahyunya kabur lagi. Begitu juga dengan Samba. Begitu dapat wahyu terus pethenthang-pethentheng, berkacak pinggang, tepuk dada. Eh, begitu dihadap perawan ayu, mak nyuuttt, … nyuuttt, … kepencut juga. Lha, wahyunya terbang lagi.”

Lha, inggih. Kalau Angkawijaya memang kuat betul ya, Mas Joyo. Wahyu masuk, digoda perawan ayu malah menghunus kerisnya. Lha, terus hubungannya dengan thole Beni Prakosa itu apa ?”

Saya tertawa nggleges. Weleh, direktur kitchen cabinet itu kok bolehnya GR, kesusu mau menyamakan anaknya dengan Raden Angkawijaya. Dhapurmu, Geen, Gen !

“Lho, tunggu dulu, Mas Rigen. Tadi saya lihat thole Beni itu sudah tahu milih pendirian. Mau ke ndeso meski sampeyan iming-imingi sate usus dan oleh-oleh. Dan dia tetap puguh, ora mingkuh dari pilihannya. Lho, niku sudah modal, Mas Rigen. Modal pendirian kukuh. Naa, itu bisa dilatih terus, Mas Rigen.”

“Latihannya terus latihan kepala batu, gitu ?”

Yakk, sampeyan itu. Mosok latihan kok latihan kepala batu. Tidak usah ! Dilatih setia sama pendirian. Dilatih milih pilihan macem-macem. Dilatih nimbang-nimbang yang mau dipilih. Begitu pilihan jatuh dia mesti pegang terus. Jangan miyar-miyur lagi. Lha, kalau sudah begitu tinggal gampang dia menghadapi wahyu apa saja, Mas Rigen.”

Saya manggut-manggut lagi, mengagumi kemicaraan Pak Joyoboyo. Inilah kewicaksanaan rakyat kecil, pikir saya. Tetes, titis, cespleng. Dari mana mereka itu dapat kepinteran dan kewicaksanaan begitu ? Mosok dari sekolah yang cuma beberapa tahun itu ? Tak mungkin, tak mungkin ! Saya lihat Mr. Rigen manggut-manggut juga. Cuma manggut-manggutnya orang belum dong.

Lha, terus wahyune niku seperti apa dan mbesuk kapan datangnya, Mas Joyo ?”

Waduh, pikir saya. Lha, sudah jadi direktur kitchen cabinet pirang-pirang tahun dengan SK berlapis pitu, kok Mr. Rigen itu masih bego juga, lho.

“Lho, pripun, Mas Rigen. Wahyu itu kan cuma perlambang to, Mas. Bisa ngelmu, bisa kawruh, bisa pangkat, bisa hadiah, bisa jodoh atau apa saja yang datangnya tiba-tiba, yang tidak kita nyana, pada waktu jatuh jadi milik kita. Lha, kalau sudah jadi milik kita, kita bisa ngopeni, pegang baik-baik apa tidak ? Sudah ah, sudah siang. Saya mesti ngejar target nyonyahe juragan. Salah-salah wahyu cakraningrat ayam panggang melesat dari tubuh saya …. “

Dan suara cempreng yang klasik itu pun terdengar menjauh. Saya lihat Mr. Rigen masih duduk thenger-thenger.

Heisyy, thenger-thenger. Mikir apa, Gen ? Ini sudah siang, lho. Saya kudu kerja, kamu juga kudu kerja. Sana, ayam itu diringkesi ke belakang sana !”

“Saya itu trus mak nyuutt, merasa diingatkan kalo perjalanan membesarkan thole itu kok masih jauuhh sekali lho, Pak.”

Lha, memang begitu, to. Terus mau apa kamu ?”

Lha, kalau nuruti anjuran Mas Joyo itu, lha rak mesakake, kasihan thole itu. Kudu dilatih keras. Belajar milih pendirian. Wah … mpun, tidak tega saya. Biar saja thole tumbuh seperti maunya … “

Di kantor ternyata saya juga duduk thenger-thenger lama mikir konversasi saya dengan kedua orang tadi. Saya jadi ingat anak-anak saya sendiri, si mBak dan si Gendut. Si mBak sudah berkeluarga, si Gendut  baru masuk universitas. Wahyu, meskipun cakraningrat atau makuta rama, kecil-kecilan datang dan pergi di rumah saya. Syukur ngalkamdulillah sampai sekarang anak-anak saya itu slamet-slamet saja. Tanpa harus ngengkeng menahan disiplin besi, eh … mereka kok ya bisa tumbuh lumayan juga. Untung juga waktu saya jadi dirjen dulu uang belum melimpah ruah. Kalau saya tidak keburu dimantankan tempo hari, gek kayak apa anak-anak saya. Dan saya ? Akan mampukah saya melatih disiplin seperti maunya Mas Joyoboyo ? Sokur nDuk, sokur … bapakmu sudah keburu jadi mantan …..

Yogyakarta, 10 Mei 1988

*) gambar dari panjebarsemangat.co.id

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

akar rumput

tulisan ala kadarnya refleksi kehidupan dari akar rumput

My not–so–Secret Journal

thoughts, feelings, desires, passion, and some rambling!

PAUS ANTARTIKA

Kita akan bertahan!™

The BroNeo

cerita biasa dari orang biasa

Munajat Sang Pendamba

Tuhanku, gemintang langit-Mu telah tenggelam, Semua mata makhluk-Mu telah tertidur, tapi pintu-Mu terbuka lebar buat pemohon kasih-Mu. Aku datang menghadap-Mu memohon ampunan-Mu, Kasihi daku . . . .

ZeDeen

Rumahku Katanya Sih Surgaku : tentang perjalanan hidup lelaki kecil dan bahteranya

jendelakusam

"Pendar mata Sebuah catatan tolol, tentang perjalanan kehidupan dan segala macam penghidupannya"

lagilagi81.wordpress.com/

KEBAHAGIAAN HIDUP BUKAN SEKEDAR DARI AGAMA

Counting Down

The journey of my life...

Catatan Dahlan Iskan

dahlaniskan.wordpress.com

%d blogger menyukai ini: