Mas Joyoboyo Dikejar Target

ayam panggangMinggu pagi kemarin Mas Joyoboyo datang setengah protes kepada saya. Tenong-nya digelar di lantai di antara kursi-kursi bambu ruang duduk rumah saya dengan agak demonstratif. Ayam-ayam itu disusun menurut gelar perang klasik. Di sebelah selatan ayam-ayam itu ditaruh dalam gelar Supit Urang. Sedang yang utara menurut gelar Garuda Nglayang. Karena saya duduk di kursi goyang, ayam-ayam panggang yang mau diadu menurut strategi perang Bratayuda itu jadi tampak lebih mengesankan lagi. Itulah cara rakyat kecil Jowo melancarkan protes. Overacting, nylekit, tetapi tidak memarahan hati. Mungkin karena itu protes-protes Jowo tidak pernah terlalu efektif. Yang diprotes malah ketawa cekakakan

Pun, pripun, Pak ! Kalau sudah digelar begini panjenengan tidak kersa mborong, kebangetan tenan, Pak !”

Elhoo .. ! Ayam panggang sak medan Kurusetra mau disuruh mborong, terus yang mau makan itu gek yo siapa to, Mas Joyo ?”

Elhoo .. ! Ya ada saja to, Pak. Mas Rigen sak brayat, ibu panjenengan di Pogung, untuk oleh-oleh Jakarta. Pokoknya akan ada saja yang dapat diberi. Tanggalnya tanggal muda, Pak. Tanggal baik untuk dedane, beramal.”

Wee … lha, Mas Joyo. Pegawai negeri seperti saya ini juga masih harus diberi dedane, je.”

Haa, inggih. Ning nek panjenengan itu dapat dedane ya datangnya dari dewa-dewa di atas sana, di Jakarta sana. Yen kulo ya cukup dari Bapak saja. Nggih Pak, nggih ?

Saya jadi mikir juga. Tidak sari-sarinya Mas Joyoboyo begitu mendesak bolehnya minta ayamnya diborong. Biasanya dia datang dengan rileks menjajakan ayam panggangnya. Dan selalu tampak percaya diri. Tetapi sekarang kok kelihatan desperate, terdesak nyaris putus asa betul. Saya memutuskan membeli agak banyak karena sore itu saya memang mau pergi ke Jakarta.

“Jadi tidak dibeli semua to, Pak ? Tanggung Pak.”

Yakk, sampeyan itu ! Sudah saya beli banyak kok ya masih ngangsek terus, lho. Ada apa sih kok sampeyan maksa saya mborong ?”

Lha, ya ini to, Pak. Saya itu jadi kemrungsung. Di perusahaan ayam panggang itu sekarang ada sistem target atau apa itu. Pokoknya saya harus menghabiskan ayam panggang sak tenong ini. Kalau tidak habis saya kena potong komisi saya. Pun cilaka apa tidak itu ?! Terus anak saya yang ragil, eh … tahu-tahu kok ya sudah mau tamat SMA. Pengeluaran lagi buat persiapan ujian. Sampun to, wong cilik itu tidak hentinya dirongrong pengeluaran.”

Tenong-nya disiapkan. Sisa-sisa Supit Urang dan Garuda Nglayang sudah pada rontok satu demi satu masuk ke dalam tenong. Wajahnya kelihatan pasrah dan memelas.

Lha, tapi ya, Mas Joyo. Yang kena begitu tidak cuma wong cilik, Mas Joyo. Kabeh, semua, kena yang begitun, Mas !”

Ayakk, Bapak.”

“Lho, iya. Target itu untuk efisiensi, untuk ngirit tapi produktif.”

Gek apa lagi itu, Pak Ageng ?”

Lha, perusahaan itu sekarang kan harus bersaing to, Mas Joyo. Jadi …. “

“Jadi harus nyekik lehernya wong cilik, nggih ?

Lha, ya mboten. Supaya wong cilik itu harus lebih pinter jualan. Supaya jadi lebih kaya. Sampeyan tidak mau kaya ?”

mBoten ! Saya cuma mau cukup saja. Hidup sak madya saja.”

“Lho, tidak boleh lagi sekarang hidup sak madya. Harus ngaya, ning tidak usah lekas tua. Kerja keras, efisien, produktif, sugih !

Mas Joyo geleng-geleng kepala. Pelan-pelan mengangkat tenong-nya ke atas kepalanya.

Urip kok semangkin kemrungsung. Terus enaknya jadi wong Jowo di mana ? Wong Jowo itu ya, Pak Ageng, enaknya hidup gliyak-gliyuk, je. mBoten ngaya, mboten dioyak-oyak. Alon-alon waton kelakon. Pelan-pelan ning sampai dengan slamet. Apa itu salah to, Pak Ageng. Kok ini diganti target, pengeluaran anak semangkin aneh-aneh. Wahh, puuunnn ….. we-el-we-el-ka-we-te saja.”

“Lho, apa itu, Mas ?”

Wala wala kuwata, semoga kuat saja. Sampun nggih. Sami donga-dinonga. Saling mendoakan saja supaya semua bisa mencapai target.”

Hampir saja saya mau terus wewejang hukum ekonomi modern yang capet-capet, lamat-lamat, pernah saya ketahui. Tentang Schumpeter, tentang Keynes, tentang Samuelson. Edann ! Kok mak brabat dia sudah lenyap tanpa suara jajaaann-nya yang tersohor itu. Mas Joyo, Mas Joyo … kapan dikau mau developed. Underdeveloped terus, dong, kalau kau begitu.

Liyer-liyer, setengah memejamkan mata, saya bersandar di kursi goyang antik hadiah almarhum Syumajaya. Alangkah damai, maat, nyaman duduk rileks begitu pada Minggu pagi. Burung prenjak yang berkicau semangkin menambah kedamaian pagi itu. Tiba-tiba … bruk-bruk-bruk … Beni Prakosa setengah telanjang lari dikejar-kejar Mr. Rigen.

Saya gragapan, tergagap dari setengah tidur saya. Sialan. Sontoloyo. Trembelane !

“He .. he .. he .. !! Mandeg ! Berhenti !”

Kedua anggota staf itu pun berhenti dan berdiri bagaikan tikus. Tahu Pak Ageng sedang tidak berkenan di hati.

“Tidak tahu ini Minggu pagi, hah ? Semua mesti tenang ! Tidak boleh ganggu Pak Ageng. Pak Ageng mau istirohat !

Beni Prakosa meskipun takut, matanya yang besar-besar seperti kelereng itu masih sempat melirik ke ayam panggang yang tergeletak.

Heitt ! Karena kamu sudah ganggu Pak Ageng pagi ini, tidak ada sate usus buat kamu. Out ! Out !

Kedua anak beranak itu pun kluncrut-kluncrut pergi ke belakang. Saya meneruskan liyer-liyer saya di kursi goyang. Angin semilir dan mestinya saya jatuh tertidur. Wong tidak lama kemudian saya melihat Mas Joyoboyo mengacungkan dada menthok panggang kepada saya sambil berteriak keras-keras, “target, target, target, target, ….”

Yogyakarta, 5 April 1988

*) gambar dari jajalindo.com

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

akar rumput

tulisan ala kadarnya refleksi kehidupan dari akar rumput

My not–so–Secret Journal

thoughts, feelings, desires, passion, and some rambling!

PAUS ANTARTIKA

Kita akan bertahan!™

The BroNeo

cerita biasa dari orang biasa

Munajat Sang Pendamba

Tuhanku, gemintang langit-Mu telah tenggelam, Semua mata makhluk-Mu telah tertidur, tapi pintu-Mu terbuka lebar buat pemohon kasih-Mu. Aku datang menghadap-Mu memohon ampunan-Mu, Kasihi daku . . . .

ZeDeen

Rumahku Katanya Sih Surgaku : tentang perjalanan hidup lelaki kecil dan bahteranya

jendelakusam

"Pendar mata Sebuah catatan tolol, tentang perjalanan kehidupan dan segala macam penghidupannya"

lagilagi81.wordpress.com/

KEBAHAGIAAN HIDUP BUKAN SEKEDAR DARI AGAMA

Counting Down

The journey of my life...

Catatan Dahlan Iskan

dahlaniskan.wordpress.com

%d blogger menyukai ini: