Sang Anak

childMengajari anak kecil untuk mau makan dengan tenang dan kerasan di meja makan ternyata susah juga. Lha, bagaimana. Baru sesendok dua sendok, dia sudah akan turun dari kursi, lari ke mana-mana. Pada seumur itu duduk di kursi dalam waktu lebih dari satu menit kayaknya sudah merupakan satu siksaan. Kursi adalah tempat persinggahan dan kadang-kadang saja berfungsi sebagai tempat duduk bagi sang anak. Selebihnya kursi menjadi mobil, kereta api, bahkan bola yang boleh ditendang-tendang.

Ini yang oleh aliran ngelmu pendidikan tertentu justru baik, katanya. Kalau anak menganggap kursi itu kereta, ya biar saja. Pada waktu itu memang kursi itu kereta api. Jangan dibilangi kalau itu kursi. Ya baiklah. Tetapi, kalau kursi itu direntengi, dianggap kereta api sedang langsir seperti di Stasiun Lempuyangan, lantas diseret-seret dan anyaman rotan pada udar semua, bagaimana ? Belum lagi kalau kursi itu malih jadi bola, jadi pelampiasan kejengkelan den baguse. Prakk … praakkk … praakkk. Cengerrr, aduh biyung ! Den baguse pun menangis kakinya bengkak. Dan kursinya juga jadi berantakan. Kalau sudah begitu bagaimana Prof. Maria Montessori, penganjur pendidikan yang begitu ?

Dan orangtua ? Orangtua mana yang mampu mengendalikan anak kecil pada waktu makan ? Sesungguhnya tidak ada ! Sebab kalau mereka bisa, pastilah tugas para babu akan diperingan, profesi baby sitter atau suster akan di ujung kepunahan. Dan pasaran selendang penggendong akan merosot. Itu kalau orangtua gedongan. Kalau yang bukan, ya menyerah saja sama sang anak. Pada waktu sang anak makan diikuti saja sambil terseok-seok membawa piring dan sendok sambil tidak henti-hentinya berseru-seru,

“Ayo, hak … hak … haaakk !

Dan tanpa kecuali, pagi itu Mr. Rigen mengejar-ngejar Beni Prakosa untuk makan sarapannya. Sebentar di halaman depan. Sebentar di gang samping rumah. Sebentar lagi di dapur. Dan waktu masuk ke ruang dalam, menyerempet kaki saya yang sedang metengkrang di kursi malas. Tangan Beni saya saut, mak cek.

Heeiitt, … berhenti dulu, Gus !”

“Aduuhh ! Sakit, Pak Ageng !”

“Ayo, bilang apa dulu. Bilang apa dulu !”

“Ampun tuanku. Ampun sang laja. Ampun seli sultan !”

“Bagus ! Makan sama apa itu ?”

“Sama tempe bacem dan sop.”

“Wah, enak. Ayo sekarang makan yang pinter. Duduk di belakang sana.”

“Ya, Pak Ageng.”

Tetapi begitu tangan bedhes cilik itu lepas, dia pun lari-lari ke halaman depan. Mr. Rigen putus asa mengejar anaknya. Piring estafet diserahkan kepada Mrs. Nansiyem. Dan dengan penuh dedikasi ibu itu meneruskan amanat pendahulunya meneruskan perjuangan berlari menghabiskan sarapan anaknya.

Ha, kamu itu dijajah anak, Gen. Pagi-pagi jogging kok mbawa tempe bacem.”

Ha, inggih niku. Ning ya bagaimana, Pak. Wong anak ming satu.”

“Memangnya kalo anak cuma satu boleh njajah wong tuwo apa ?”

Nggih, mboten. Ha ning bagaimana. Ha wong anak itu, Pak.”

“Kamu itu kalau sudah anak bisanya cuma macet, ha wong anak. Kok terus kehilangan akal gitu, Mister.”

Ha, terus pripun, Pak. Ha wong …

“Hayoo, hayoo .. mau macet lagi ?”

Mr. Rigen tertawa. Saya ingat dulu waktu masih kagem di pemerintah pusat, srawung, bergaul dengan para priyayi sipil dan militer. Eh, ternyata para priyagung yang asal Jawa itu kalau deadlock, macet, kebentur masalah gawat biasanya juga cuma, ha ning bagaimana, ha wong … Dan para priyagung dari mBatak dan Minangkabau akan sia-sia belaka menunggu selesainya kalimat priyagung Jawa yang “ha ning bagaimana … ha wong …” Kalimat itu memang tidak dimaksudkan untuk selesai.

“Maksud saya itu begini lho, Pak. Beni itu saya imi-imi, saya pelihara baik-baik, wong dia itu anak …”

“Cuma satu, to ? Hayoo … mau menyangkal ?”

mBoten. Memang ya karena anak cuma satu itu. Gini, lho Pak Ageng. Dan itu bukan karena saya mau menjilat Bapak. Saya ini matur nuwun sekali bisa ikut priyayi seperti Bapak. Gaji cukup, makan minum cukup. Sandang juga cukup dan bisa ikut ngiyup, berteduh …”

Tur kalau saya sedang di Jakarta, kamu bisa gletakan di tempat tidur saya, to ?”

Mr. Rigen pringisan merasa kena touche.

Yakk, … Bapak kok terus prekik, lho. Saya teruskan nggih, Pak ? Lha, pumpung anak saya itu dapat kesempatan begini baik, ya kami turuti semua apa maunya. Sebab, ya kalau nasib saya sama mbokne thole itu baik terus seperti ini, kalau tidak ? Setidaknya dia pernah mengalami masa kecukupan di sini.”

Saya agak bingung mengikuti logika direktur kitchen cabinet saya ini.

Lha, terus kalau umpamanya satu ketika saya harus pindah ke Jakarta dan tidak bisa membawa kalian ? Terus anakmu menuntut sate usus Pak Joyoboyo dan mobil-mobilan baru, padahal kamu belum bisa dapat kerjaan lain, bagaimana ?”

Ha, nggih niku. Ya terpaksa kami ajak hidup prihatin. Terpaksanya mundur dulu ke desa.”

“Lho, masalahnya kan bukan itu. Masalahnya anakmu itu sudah terlalu manja. Dan kalian sudah terlalu lemah sama dia. Saya tidak mendoakan atau mengharap yang jelek buat kalian. Tapi seumpama nasib, seperti kamu bilang tadi, jadi berbalik jelek. Terus bagaimana kamu mendidik Beni jadi prihatin sesudah bermanja-manja sekian lama ?”

Tiba-tiba Mr. Rigen tersenyum aneh sekali. Bukan senyum gembira, bukan senyum lega. Bahkan juga bukan senyum yang memancarkan optimisme. Tetapi, mungkin semacam optimisme juga. Sebab kemudian dia bilang begini,

“Ah, .. nanti ya diajari, Pak. Kalau nanti terpaksa di desa nggak punya apa-apa, ya dikasih tempe bongkrek saja, Pak.”

Huss ! Ngomong clemang-clemong. Kalau ada setan lewat, sido makan tempe bongkrek tenan kamu.”

“Habis, orang makan tempe bongkrek itu kan ya karena kepepet to, Pak. Kalau bisa makan tempe bacem seperti yang dimakan thole pagi itu, ya pilih tempe bacem to, Pak !”

Saya jadi bingung nggak karuan. Ini optimisme, pasrah, nekat, masa bodoh atau apa ? Kok cepat betul dia meloncat ke kondisi kepepet tanpa mempertimbangkan tahap-tahap, atau kalau pakai bahasanya Prof. Lemahamba, nuansa kemungkinan. Kok mak sreett, larinya ke kepepet, terus ke tempe bongkrek, lho ? Sesungguhnya semula saya mau kasih wewejang dia ajaran Gibran Khalil Gibran, anak kamu bukan milik kamu, beri mereka kasih sayangmu tetapi jangan sodorkan bentuk pikiranmu. Saya mau wewejang dia kalau mau memanjakan dia manjakan fantasinya dan pikiran-pikirannya. Biarkan dia tumbuh menurut pengenalan kemampuannya sendiri. Tetapi dengan filsafat kepepet dan embuh ora weruh ini mau dikemanakan Gibran Khalil Gibran ?

“Pak Ageng, makan saya habis.”

Guud.

Tempe bacem lagi ya, Pak Ageng ?”

“Boleh … boleh, Le.

Saya melihat Mr. Rigen senyum dan meringis lagi. Cuma kali ini ya senyum dan meringis saja. Titik.

Yogyakarta, 8 Maret 1988

*) gambar dari seputarduniaanak.blogspot.com

Iklan

One comment

  1. NICE TO TRANSLATE AFTER 5 MONTHS OF STUDY BS INDONESIA

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

akar rumput

tulisan ala kadarnya refleksi kehidupan dari akar rumput

My not–so–Secret Journal

thoughts, feelings, desires, passion, and some rambling!

PAUS ANTARTIKA

Kita akan bertahan!™

The BroNeo

cerita biasa dari orang biasa

Munajat Sang Pendamba

Tuhanku, gemintang langit-Mu telah tenggelam, Semua mata makhluk-Mu telah tertidur, tapi pintu-Mu terbuka lebar buat pemohon kasih-Mu. Aku datang menghadap-Mu memohon ampunan-Mu, Kasihi daku . . . .

ZeDeen

Rumahku Katanya Sih Surgaku : tentang perjalanan hidup lelaki kecil dan bahteranya

jendelakusam

"Pendar mata Sebuah catatan tolol, tentang perjalanan kehidupan dan segala macam penghidupannya"

lagilagi81.wordpress.com/

KEBAHAGIAAN HIDUP BUKAN SEKEDAR DARI AGAMA

Counting Down

The journey of my life...

Catatan Dahlan Iskan

dahlaniskan.wordpress.com

%d blogger menyukai ini: