Tentang Gaya Hidup Jakarta, nJukja dan Ngawi

holidayDi Jakarta kemarin, saya ketemu kawan lama, seorang ekonom tamatan Harvard. Seperti biasanya bila dua orang kawan lama tidak ketemu, percakapan pun merembet ke mana-mana dan merembet ke pribadi-pribadi lain yang juga sudah lama tidak ketemu.

Lha, si Usman itu bagaimana sekarang ? Apa juga masih setia mengajar seperti kamu ?”

Adapun yang saya sebut sebagai si Usman adalah juga seorang kawan lama, seorang tamatan Harvard Business School. Cemerlang, mengajar dengan penuh dedikasi di salah satu universitas negeri, karena itu pas-pasan saja ekonominya. Kayak kata “business” dan “Harvard” itu tidak ada dampaknya yang berarti dalam hidupnya.

“Naahh, itu. Usman, jangan kaget, sudah meninggalkan dunia pendidikan. Keluar dari fakultas kami dan pindah kerja di satu perusahaan raksasa.”

“Pindah kerja ? Ke perusahaan raksasa ? Rasanya kok susah membayangkan si Usman kerja di perusahaan.”

“Susah kalau hanya membayangkan pekerjaannya. Tapi, kalau lu bayangin gajinya barangkali jadi tidak terlalu susah lagi. Mau tahu gajinya sekarang di perusahaan itu ?”

Saya menggelengkan kepala masih membayangkan Usman yang sederhana dan penuh idealisme itu mengabdikan dirinya di luar dunia keilmuan dan pendidikan.

“Lima belas juta rupiah !”

“Setahun ?”

Huss ! Kok setahun ?! Sebulan, dong !”

Astaghfirullah. Gek seberapa banyak uang segitu ?

Uwahh ! Terus untuk apa uang sak pethuthuk, sak hohah dan sak abreg-abreg itu ? Mbayangin banyaknya saja sudah susah. Tunggu, tunggu. Dua belas kali lima belas juta. Jadi berapa ya terimanya si Usman setahun ?”

“Ya, seratus delapan puluh juta rupiah, dong.”

Huwahh ! Lha, itu berarti dia bisa beli dua rumah setahun, gitu !”

Kawan saya tertawa terkekeh-kekeh. Pundak saya dia gaploki beberapa kali.

“Geeng, Geng ! Elu itu kok masih udik nYukja bener, sih. Bahkan mungkin nYukja saja kagak. Ngawi barangkali !”

Elho ! nYukja atau Ngawi atau Cambridge Massachusett, ngelmu aritmatikanya kan sama saja, toh ? Di kompleks tempat saya tinggal, Cipinang, kau bisa beli maisonette lima pulub lima juta sebiji. Kalau si Usman beli dua maisonette setahun itu baru seratus sepuluh juta rupiah. Seratus delapan puluh juta diambil seratus sepuluh masih …. “

“Ha … ha … ha … Ya, itu aritmatika nYukja atau Ngawi. Hitung-hitungan itu kan terkait sama gaya hidup, Bung. Kalau gaya hidup nYukja yang cuma sekitar gudeg dan Ngawi yang cuma tempe, iya lah ! Si Usman bahkan bisa beli tiga rumah setahun dengan gaya hidup dua kampung itu. Tapi kalau kau ukur dengan gaya hidup Jakarta, belum tentu gaji sebesar itu cukup buat si Usman.”

Saya jadi merasa tersinggung dikatakan tidak tahu gya hidup Jakarta. Jelek-jelek begini kan saya punya rumah di Jakarta. Dan gaya hidup ? Eh, sekali-sekali saya kan singgah juga di Pizza Hut melahap pizza yang sebesar nampan dapur. Makan di Teppanyaki di Tokyo Garden dan Shima. Makan sea food di Yun Nyan atau Kingdom. Mendengarkan jazz di Borobudur, Sahid Jaya atau Mandarin, dan hahhh (!), juga es krim Haagen Dasz yang dahsyat itu !

Kurang tahu apa aku dengan gaya hidup Jakarta. Dan orbit perpusaran socialite, kaum elit, di Jakarta, toh aku tidak terlalu asing. Sekali-sekali undangan cocktail, dinner dan lunch dengan para tokoh mancanegara aku juga kecipratan. Kurang apa, kurang apa ?! Eh, trembelane tenan ! Kawan saya itu malah semangkin terpingkal tertawanya mendengar deretan pembuktianku tentang tidak asingnya aku dengan gaya hidup Jakarta.

“Ho … ho … ho … Orang dengan gaji seperti Usman di Jakarta itu sudah punya konsep lain tentang gaya hidup Jakarta. Berlibur weekend atau main golf di Bali itu, seperti kau mau jajan tempe bacem dan jadah ke Kaliurang. Weekend, mereka ke Pulau Phuket di Thailand atau ke salah satu pulau kecil di lepas pantai Malaysia. Dan liburan mereka yang beneran ya ke mana saja. Ke Maldives, Gstaad, Sapporo, ke desa kecil di Swedia atau ke Kepulauan Karibia. Pokoknya ke tempat-tempat yang tidak umum. Setidaknya buat kita.”

“Dan, dia antara mereka itu ada semacam, entah itu, persaingan atau persengkongkolan untuk saling mendahului, menduduki tempat-tempat itu. Singapur, Hong Kong, Tokyo, New York ? Kecil itu, buat mereka. Terlalu ordinaire, terlalu biasa. Belum lagi yang mereka belanjakan. Belum lagi cara mereka meng-entertain, menghibur atau menjamu relasi-relasi mereka. Nah, apa cukup uang lima belas juta sebulan itu ? Apa lagi mereka keluarkan uang itu dengan uang plastik atau credit card itu. Charge … charge … charge … tahu-tahu dapat peringatan dari bank kalau cadangan mendekati garis merah.”

Waktu kami berpisah, saya masih terbayang-bayang tampang Usman. Apa iya Usman akan atau sudah menjalani gaya hidup Jakarta yang kayak begitu ? Saya masih ingat rumahnya di Tebet dulu waktu masih mengontrak. Sekali-sekali kami singgah di rumah kontrakan yang sederhana itu. Kami disuguhi ketoprak, asinan atau gado-gado. Tidak pernah lebih mewah dari itu. Saya ingat pernah ketemu Usman sekeluarga nonton Srimulat di TIM sambil masing-masing mengunyah tahu Sumedang dan menyedot teh Sosro. Itu pun gantian nyedotnya. Sekarang ? Waahhh, apa iya sampai di Gstaad dia main ski. Berenang-renang dengan snorkel di Laut Karibia yang biru itu. Berajojing di Crazy Horse Paris ? Waahh, berantakan semua gambaran saya tentang Usman di benak saya. Seperti kepingan-kepingan kaleidoskop yang berwarna-warni. Ya, semoga happy sajalah kau Usman. Tiba-tiba mulutku mencong tersenyum sendiri. Dapurmu ! Lima belas juta, jee !

Minggu pagi itu, di rumahku di mBulaksumur, seperti biasa Mr. Rigen bertanya menu makan siang.

“Pak, bagaimana kalau siang ini saya masak brongkos ? Sudah lama tidak masak brongkos. Dengan kikil, kacang tholo besar, lombok ijo, tempe dan tahu. Nanti saya pilihkan kluwak-nya yang tua-tua. Nggih, begitu saja, nggih ? Pasti brongkos itu nanti dahsyat dan mlekoh …

Saya mengangguk-angguk saja di kursi malas. Dalam pikiran saya bagaimana kalau si Usman pada waktu pagi itu ikut duduk mendegarkan Mr. Rigen …

Yogyakarta, 1 Maret 1988

*) gambar dari thehypnotherapyteam. wordpress.com

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

akar rumput

tulisan ala kadarnya refleksi kehidupan dari akar rumput

My not–so–Secret Journal

thoughts, feelings, desires, passion, and some rambling!

PAUS ANTARTIKA

Kita akan bertahan!™

The BroNeo

cerita biasa dari orang biasa

Munajat Sang Pendamba

Tuhanku, gemintang langit-Mu telah tenggelam, Semua mata makhluk-Mu telah tertidur, tapi pintu-Mu terbuka lebar buat pemohon kasih-Mu. Aku datang menghadap-Mu memohon ampunan-Mu, Kasihi daku . . . .

ZeDeen

Rumahku Katanya Sih Surgaku : tentang perjalanan hidup lelaki kecil dan bahteranya

jendelakusam

"Pendar mata Sebuah catatan tolol, tentang perjalanan kehidupan dan segala macam penghidupannya"

lagilagi81.wordpress.com/

KEBAHAGIAAN HIDUP BUKAN SEKEDAR DARI AGAMA

Counting Down

The journey of my life...

Catatan Dahlan Iskan

dahlaniskan.wordpress.com

%d blogger menyukai ini: