Senyum, Kekasihku Senyum

polisi senyumBeni Prakosa menerima tugas itu dengan muka yang amat cerah. Betapa tidak, tugas itu adalah mencegat Pak Joyoboyo untuk mampir ke rumah. Sudah agak lama penjaja ayam panggang Klaten itu tidak singgah karena akhir-akhir ini saya lebih banyak berada di Jakarta. Terutama pada hari-hari persinggahannya, yang biasanya jatuh pada hari Minggu dan kadang-kadang juga pada hari Kamis.

“Beni, ayo sana duduk di lincak depan. Kalau Pak Joyoboyo lewat, panggil ya !”

No, Pak Ageng. Eh … yes, yes, Pak Ageng.”

No, yes, no, yes. No apa yes ?”

Yes, yes. Yes itu inggih, kan ?”

Beni pun njranthal, lari secepat Purnomo*) ke teras depan, langsung duduk bersila di lincak. Matanya memandang ke depan, mulutnya ndremimil menirukan cara Pak Joyoboyo menjajakan ayamnya. Penggeng eyem, … penggeng eyem … Akhirnya suara asli Joyoboyo itu kedengaran juga di kejauhan. Beni pun langsung mlorot ke bawah lari mendapatkan orang yang sudah didambakannya itu.

“Wah, Pak. Kok saya dijotak lagi, tidak pernah ditimbali lagi.”

“Lho, ya tidak to, Mas Joyo. Soalnya kalau sampeyan lewat daerah sini, kebetulan saya ada di Jakarta.”

Beni Prakosa tanpa ditawari atau disilakan sudah membawa piring kecilnya dan mencomot satu tusuk sate usus dibawa lari ke dalam.

Pripun, Mas Joyo. Sampeyan punya cerita-cerita baru apa yang menarik ?”

Mas Joyo cuma tersenyum lebar sambil tangannya cak-cek dengan ketrampilan seperti biasanya membungkus pesanan saya.

“Lho, dimintai dongeng kok sampeyan malah cuma klencam-klencem, senyum-senyum saja, Mas.”

“Begini lho, Pak. Kalau cerita seru dan serem itu, ya saya tidak punya. Tapi kalau cerita ngrasani sing cilik-cilikan, ya selalu ada.”

“Naa, … ya itu yang saya maksud, Mas. Cerita cilik-cilikan yang seperti itu yang biasanya lebih penting dan lebih gayeng.”

“Saya tadi itu klencam-klencem karena ingat adik ipar saya yang jadi polisi, Pak. Dia itu sekarang dapat perintah untuk sebanyak mungkin tersenyum.”

“Lho, perintah kok untuk tersenyum.”

Lha, inggih niku, Pak. Ning itu perintah.”

“Terus ?”

Lha, maksudnya supaya polisi itu ketok tampil ramah, gitu lho, Pak. Lucunya atau ciloko-nya adik ipar saya itu sekarang sedang tengkar terus sama adik ibunya thole. Ditambah lagi giginya itu juga sedang kumat. Wah, jadi ya repot banget melaksanakan perintah mesam-mesem itu.”

Saya jadi dapat membayangkan kerepotan adik ipar Pak Joyoboyo itu. Sedang tengkar sama istri, gigi krowok kumat, cekot-cekot, dapat perintah untuk selalu tersenyum sama rakyat. Mana tanggal tua lagi. Wehh.

Lha, niku, Pak. Kocapo adik ipar saya itu meskipun polisi, rasa solider sama masyarakat niku besar. Dia selalu ikut siskamling. Waktu beberapa malam yang lalu dia diampiri untuk siskamling, dia mangkir karena soal istri dan gigi itu. Eh, kok teman-teman kampung itu malah nggrundel. Katanya adik ipar saya itu solidernya mung lamis saja.”

“Terus, terus ?”

“Ya, terus adik ipar saya itu marah. Kelompok siskamling itu dimarahi dan dipisuhi semua. Lha, esok harinya kedengaran sama kumendan-nya. Ganti dia dimarahi karena lupa perintah “operasi senyum-senyum” itu. Wah, … adik ipar saya itu merasa sial tenan sekarang. Istrinya masih merengut karena belum dibelikan giwang, giginya yang krowok belum sembuh, senyum belum bisa, hati masih kudu anyel terus, sekarang tambah dimarahi kumendan-nya. Saya itu kasihan sama dia, ning ya kudu tertawa saja. Weh … pemerintah, pemerintah, wong perintah kok kudu senyum, lho.”

“Mas Joyo, sampeyan jangan begitu, lho. Perintah itu kan baik-baik saja, to ? Supaya polisi itu tidak ketok medeni, menakutkan, gitu lho.”

Yakk, … Bapak. Polisi itu yang bikin medeni kalau dia mulai aeng-aeng, aneh-aneh sama wong cilik. Kalau tidak aeng-aeng, lha, mbok tidak usah tersenyum ya tidak menakutkan, Pak.”

Lha, yang sampeyan maksud dengan aeng-aeng itu apa to, Mas Joyo ?”

Yakk, … Bapak. Gaharu cendana pula, sudah tahu bertanya pula ….”

Sambil berkata begitu, dengan tersenyum lagi, Mas Joyoboyo pun mengangkat tenong-nya pergi. Weh … rupanya hafalannya di SD dulu tentang peribahasa masih lengket di kepalanya. Lumayan.

Saya tercenung di kursi malas ruang depan itu. Saya lihat di halaman depan, di rerumputan, Mr. Rigen mengaso sehabis menyapu halaman. Mrs. Nansiyem nglesot di sampingnya sehabis mencuci pakaian seisi rumah. Dan sang pangeran, Beni Prakosa masih mengetet-etet sate usus yang tidak kunjung putus. Wajah mereka ceria di pagi hari yang cerah itu. Serba tersenyum. Setahu saya, baik saya atau Mr. Rigen belum pernah melancarkan “operasi senyum” di rumah kami.

 Yogyakarta, 26 Januari 1988

*) Purnomo : sprinter Indonesia yang pernah ikut Olimpiade Los Angeles, 1984

**) gambar dari kabarkampus.com

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

akar rumput

tulisan ala kadarnya refleksi kehidupan dari akar rumput

My not–so–Secret Journal

thoughts, feelings, desires, passion, and some rambling!

PAUS ANTARTIKA

Kita akan bertahan!™

The BroNeo

cerita biasa dari orang biasa

Munajat Sang Pendamba

Tuhanku, gemintang langit-Mu telah tenggelam, Semua mata makhluk-Mu telah tertidur, tapi pintu-Mu terbuka lebar buat pemohon kasih-Mu. Aku datang menghadap-Mu memohon ampunan-Mu, Kasihi daku . . . .

ZeDeen

Rumahku Katanya Sih Surgaku : tentang perjalanan hidup lelaki kecil dan bahteranya

jendelakusam

"Pendar mata Sebuah catatan tolol, tentang perjalanan kehidupan dan segala macam penghidupannya"

lagilagi81.wordpress.com/

KEBAHAGIAAN HIDUP BUKAN SEKEDAR DARI AGAMA

Counting Down

The journey of my life...

Catatan Dahlan Iskan

dahlaniskan.wordpress.com

%d blogger menyukai ini: