Menjelang Tahun Baru

terompetMEREKA yang benar-benar penikmat –connoisseur- pijit, pastilah tahu bahwa semua tukang pijit profesional adalah pemijit yang nikmat. Sering kali bahkan sebaliknya. Saya punya langganan seorang tukang pijit prof di Jakarta yang memang seorang prof sejati. Artinya, bukan hanya hidupnya dari pekerjaan memijit, akan tetapi pekerjaan itu ditekuninya dengan sangat seriusnya. Segala macam letak urat, syaraf, tulang belulang dikuasainya. Bukunya tentang pijit memijit dari macam-macam Negara dimiliki dan dikuasainya. Tetapi kalau mau pijit maat-maatan lebih baik kita tidak ke sana. Sebab pijitannya itu, wuaduh … prof sekali alias sakit sekali dan mahal betul ongkosnya. Tetapi, memang sesudah itu tubuh kita terasa segar dan lincah.

Tetapi, apakah orang hidup mesti hanya kesegaran dan kelincahan yang dicari ? Tidak, kan ? Orang hidup di samping mau segar dan lincah bukankah mau macam-macam lagi ? Misalnya, mau hidup laras, santai dan maat. Maka di dunia pijit-memijit mestilah ada yang memiliki keahlian khusus memberi roso maat kepada yang dipijit. Dan sering kali tidak ada hubungannya dengan urusan ilmiah seperti pemijit prof saya yang di Jakarta itu. Ini urusan roso. Ada yang mengisik-isik, mengosok-osok, ada pula yang menggosok-gosok dan menggusuk-gusuk, ada pula yang …. ahh, pokoknya yang ada hubungannya dengan roso-lah !

Mr. Rigen adalah pemijit dari mazhab yang kedua itu. Pemijit roso. Hanya sekali dia diajari oleh sahabat saya yang penyair sekaligus pemijit, pencari batu akik dan pengusir setan itu. Tetapi pada kesempatan berikutnya, Mr. Rigen sudah memijit dengan nikmatnya. Salah satu bonus saya, bila kecapekan habis melembur baik di Yogya maupun di Jakarta, adalah menyerahkan tubuh kepada Mr. Rigen di tikar depan teve.

Demikianlah pada hari Minggu kemarin waktu baru pulang dari Jakarta. Dengan diselingi suara Beni, anaknya, yang ikut-ikutan mengisik-isik sambil berbunyi nyeet-nyeet-nyeet, batas mega-mega di langit maat-maatan itu mulai terjangkau.

“Malam tahun baru di Jakarta itu apa ya hebat dan muahal seperti kata koran itu to, Pak ?”

Saya terkejut dan langsung turun ke  bumi lagi.

Hehh ? Malam tahun baru di Jakarta ? Apanya yang hebat ?”

“Lho, itu lho, Pak. Kalo menurut gotek-nya koran-koran Jakarta itu malam tahun baru di Jakarta itu jan elok saestu !

Lha, coba, kalau menurut bayanganmu malam tahun baru di Jakarta itu kayak apa ?”

Mr. Rigen njegeges, pijitannya dihentikan. Kemudian dia pun mulai ngecepres bercerita tentang apa yang ia bayangkan sebagai malam tahun baru Jakarta.

“Para priyayi kakung putri yang bagus, ngganteng, ayu, gandhes, kewes pada naik Mersedes, BMW, Toyota pergi ke restoran yang mahal-mahal. Dhahar bestik yang kandel-kandel, tebel tapi dagingnya empuk-empuk. Kalau diiris dengan pisau mak nyuss kuahnya dleweran campur sedikit darah. Kentangnya ada yang digoreng, ada yang diongklong, ada yang digodok. Habis dhahar begitu terus disambung dhahar poding. Podingnya merah, ijo, kuning. Susunya juga dleweran ke bawah. Rasanya juga mak nyuuss muanis seger !

Mr. Rigen berhenti sebentar. Saya lihat jakunnya naik turun. Mulutnya klametan.

“Lho, cerita malam tahun baru, baru sampai restoran kok sudah glagepen dan klametan begitu to, Mister.”

Lha, pripun, wong makannya wong-wong sugih itu ya enak-enak tenan lho, Pak. Terus habis dhahar di restoran mereka naik Mersedesnya lagi pergi ke nait kelep.”

“Apa ? Apanya yang kelep, Gen ?”

Niku, lho, Pak. Gedhong-gedhong sing lampunya kecil-kecil, bunder-bunder, panjang-panjang, abang, ijo, kuning, byar-pet, byar-pet. Terus musiknya buanter banget gedobrakan.”

“Oh, itu to. Nait klup.”

Lha, inggih. Nait kelep. Terus ndoro-ndoro yang bagus-bagus dan ayu-ayu itu duduk minum bir kalih ciu. Habis itu mereka pada dangsah.”

Dangsah ? Piye, dangsah-nya?”

Dangsah-nya itu kados mau tinju lho, Pak. Ning tidak jotos-jotosan saestu. Cuma ethok-ethokan jotosannya. Ning ada juga yang dangsahnya cuma kekep-kekepan saja. Asyiikk.”

Mr. Rigen menyudahi ceritanya. Matanya kiyer-kiyer, merem-melek, merem-melek. Dia pun melanjutkan pijitannya lagi.

“Sudah, cuma sampai itu bayanganmu tentang malam tahun baru di Jakarta ?”

Lha, enggih. Wong saya juga cuma nggabung-nggabungkan cerita yang saya dengar dari konco-konco yang pernah nderek di Jakarta kok, Pak.”

Lha, apa menurut kamu di Jakarta itu tidak ada wong cilik to, Gen ?”

Lha, enggih kathah. Berjuta-juta, malah. Ada apa to, Pak ?”

Elho ! Lha, menurut kamu apa wong cilik itu tidak merayakan malam tahun baru ?”

Mr. Rigen tertawa keras banget.

“Huahahahaha … Bapak ndagel lagi ini. Wong cilik itu kerjanya ya cuma ubyang-ubyung, grudak-gruduk. Berdiri atau jongkok di pinggir jalan. Memandang, nyawang, Mersedes-Mersedes itu lewat. Paling mereka cuma tat-tet, tat-tet nylompret slompretan kertas.”

Hushh … mereka itu juga jalan-jalan lho, Gen. Jajan bakso, wedang sekoteng, kuwih pancong, soto mie, es teller. Macam-macam. Apa hati mereka tidak senang ? Mereka pergi ke Ancol, ke Taman Mini.”

Hoalahh … terus mereka itu numpak apa ? Terus duitnya itu bolehnya ngutang to, Pak ?”

“Semua orang juga ngutang, Gen. Apa menurut kamu yang naik Mersedes itu tidak ngutang, apa ? Utangnya guedhiiii banget lho, Gen.”

Lha … lha, Bapak rak ndagel lagi. Wong sugih itu ya sugih. Kalau ngutang ya cepet nyaur-nya. Tapi kalau wong cilik ngutang, ya ngutang terus.”

Mr. Rigen pun selesai memijit. Dibikinnya teh jahe hangat, diletakkan di meja di depan saya.

Lha, Bapak malam tahun baru ini tidak tindak Ngambarukmo to, Pak ?”

“Enggak. Aku mau pulang ke Jakarta. Malam tahun baru di rumah saja sama ibumu nonton teve.”

Hoalahh … apa mboten bosen to, Pak. Lihat tipi sepanjang malam ?”

“Ya, bosen. Wong pilihannya cuma itu kok, Gen. Lha, kamu mau apa ? Kalau kamu mau ubyang-ubyung di Malioboro, ya boleh-boleh saja. Tapi rumah kudu dikunci baik-baik. Banyak maling kalau malam tahun baru begini. Dan, awas kowe kalau pakai jip kantor. Dak kethak tenan, kowe ! Itu jip Negara. Yang boleh pakai itu saya. Orang kantor saja kalau mau pakai minta ijin saya, lho !”

Mr. Rigen pringisan. Mungkin dia tidak mengira kalau saya tahu kadang-kadang dia bersama Mrs. Nansiyem dan si jenius Beni Prakosa suka kya-kya naik jip keliling kota.

“Kalau saya punya duit, malam tahun baru ini saya mau ke Ngambarukmo.

Hah ?! Kamu ke Ngambarukmo ?

“Lho, itu juga umpama punya duit kok, Pak. Saya cuma kepingin lihat Meriam Belina kok, Pak. Waktu dia main jadi Rara Mendut dulu itu, waahhh jiaaannn, kewes saestu !

Rupamu !

“Kalau dipikir ya, Pak. Wong mau ketemu Meriam Belina saja kok ya harus sugih to, Pak.”

“Lho, kamu juga bisa lihat gitu kok di film. Kamu kok tiba-tiba nggrundel to, Gen ?”

“Ya, nggrundel sebentar aja ya boleh-boleh aja to, Pak. Paling-paling saya rak yo kembali lagi jadi pembantu Bapak. Jangan khawatir, Pak. Saya tetap di sini tempatnya.”

Malam pun semangkin larut. Seharian saya tidak istirahat. Malam itu juga tidak sempat kerja apa-apa. Waktu menjelang tidur, di tempat tidur, kok sekilas saya melihat Meriam Belina tersenyum. Saya menguap keras-keras. Mr. Rigen, Mr. Rigen …..

 Yogyakarta, 29 Desember 1987

*) gambar dari indotopinfo.com

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

akar rumput

tulisan ala kadarnya refleksi kehidupan dari akar rumput

My not–so–Secret Journal

thoughts, feelings, desires, passion, and some rambling!

PAUS ANTARTIKA

Kita akan bertahan!™

The BroNeo

cerita biasa dari orang biasa

Munajat Sang Pendamba

Tuhanku, gemintang langit-Mu telah tenggelam, Semua mata makhluk-Mu telah tertidur, tapi pintu-Mu terbuka lebar buat pemohon kasih-Mu. Aku datang menghadap-Mu memohon ampunan-Mu, Kasihi daku . . . .

ZeDeen

Rumahku Katanya Sih Surgaku : tentang perjalanan hidup lelaki kecil dan bahteranya

jendelakusam

"Pendar mata Sebuah catatan tolol, tentang perjalanan kehidupan dan segala macam penghidupannya"

lagilagi81.wordpress.com/

KEBAHAGIAAN HIDUP BUKAN SEKEDAR DARI AGAMA

Counting Down

The journey of my life...

Catatan Dahlan Iskan

dahlaniskan.wordpress.com

%d blogger menyukai ini: